
Min Xome beranjak dari kasurnya yang empuk dan membangunkan sang adik yang berada di kamar sebelah. Min Xome mengetuk pintu kamar Min Wungi berkali kali hingga ia terbangun, sang adik membukakan pintu dan menatap datar ke arah kakak laki lakinya.
"Apa yang kau lakukan malam malam seperti ini?." tanya Min Wungi yang merasa kesal karna waktu tidurnya tergantung.
"Adik Ziya meminta bantuan pada kita berdua untuk menjemput Yie Munha sekarang." ucap Min Xome dengan ekspresi panik, ia tak bisa menjelaskan secara rinci apa yang sedang terjadi karna memungkinan besar saat ini Yie Munha benar benar dalam bahaya.
"Baiklah kita berangkat sekarang." ucap Min Wungi yang langsung melesat pergi dari kamarnya disusul oleh Min Xome dibelakang.
Di sisi lain kedua pembunuh bayaran yang disewa oleh Yie Gu sudah mengetahui bagaimana kebenaran dari situasi saat ini, ternyata kondisi Nyonya Yie Weinje baik baik saja dan tetap mendapat perawatan dari tabib. Yie Gu meminta kedua pembunuh bayaran itu untuk menangkap Yie Munha dalam keadaan hidup ataupun mati, jangan sampai Yie Munha berhasil sampai ke wilayah Kerajaan Bulan. Saat ini kedua pembunuh bayaran sedang berada di hutan perbatasan Klan Yuang Yie dengan Kerajaan Bulan, mereka melesat secepat mungkin untuk mengejar Yie Munha.
"Gadis itu sudah terlihat." ucap salah satu dari kedua pembunuh bayaran itu.
"Percepat langkah mu." jawab pembunuh bayaran satunya.
Yie Munha terus berlari tanpa menoleh ke belakang, gadis itu berusaha sebaik mungkin agar tak terkejar oleh para penjahat yang sedang mengincar nyawanya. Jujur Yie Munha sangat kecewa setelah mendengar kisah singkat dari nenek kandung Xiao Ziya yang dibunuh kakek dan neneknya saat ini.
"Sebentar lagi, tolonglah." ucap Yie Munha dengan suara pelan, gadis itu mulai kelelahan ia tak bisa bertahan lebih lama. Yie Munha memiliki kultivasi terlemah diantara anak anak yang lahir di Klan Yuang Yie, itu semua karna Yie Weinje dan Yie Gu yang terlalu memanjakan gadis itu.
Ada sebuah alasan mengapa Yie Munha diperlakukan dengan sangat spesial oleh kakek dan neneknya, akan tetapi ada keanehan yang tak disadari oleh gadis itu. Selama Klan Yuang Yie mendapatkan masalah Yie Gu ataupun Yie Weinje akan memanfaatkan keberadaan Yie Munha sebagai poin mereka, karna gadis itu dikenal sangat keras kepala, pemarah dan egois jadi tak ada yang terkejut lagi dengan hal hal yang dilakukan oleh Yie Munha.
"Berhenti kau gadis sialan!." triak kedua pembunuh bayaran yang tepat berada di belakang Yie Munha, salah satu diantara mereka ingin meraih gaun bagian belakang yang dikenakan oleh Yie Munha.
"Jangan mengejar ku lagi, aku tak ada urusan dengan kalian berdua." triak Yie Munha dengan suara yang cukup kencang.
"Tak ada yang bisa melindungi mu lagi, kakek mu yang meminta kami melakukan ini." ucap salah seorang pembunuh bayaran dengan suara tawa mengejek.
Yie Munha terus berlari dan berlari hingga hampir sampai di gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan, saat gadis itu semakin dekat dengan tujuannya tiba tiba tubuhnya terbanting kebelakang. Ternyata salah satu dari kedua pembunuh bayaran itu berhasil menyusul Yie Munha dan langsung menarik tubuhnya dan dilempar kebelakang agar tak terlihat oleh prajurit penjaga gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan.
"Serahkan semua barang yang kau bawa." ucap seorang pembunuh bayaran yang menatap Yie Munha dengan tatapan tajam.
"Tidak, saya tak akan memberikannya pada kalian. Saya sudah berjanji pada seseorang untuk menjaganya." ucap Yie Munha dengan keras kepala, gadis itu sadar saat ini posisinya sangat tak menguntungkan dan ia bisa saja mati kapanpun.
"Tuan Yie Gu akan memberikan kesempatan agar kau tetap hidup jika menyerahkan barang itu. Kau masih sangat muda, jangan sia siakan kesempatan ini." ucap salah seorang pembunuh bayaran yang berusaha meyakinkan Yie Munha.
Yie Munha sempat terdiam sejenak, ini memang kesempatan yang bagus agar ia bisa tetap melanjutkan hidup akan tetapi tak ada jaminan bahwa kakeknya tak akan membunuhnya suatu hati nanti. Pria yang dengan tega membunuh istrinya sendiri dan merebut semua hak yang seharusnya dimiliki oleh sang istri bukanlah pria yang dapat dipercaya. Satu hal yang ada di fikiran gadis itu untuk saat ini, jika ia mati ditangan kedua penjahat itu setidaknya ia mati tanpa penyesalan apapun.
"Aku tak akan memberikannya pada kalian. Tolong siapapun yang ada di dekat sini tolong saya, mereka berdua ingin menyakiti saya!!!." jerit Yie Munha dengan sangat kencang, gadis itu menggunakan seluruh tenaga yang masih tersisa.
Karna jarak antara mereka bertiga dan gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan tidaklah jauh, ada beberapa prajurit yang mendengar suara jeritan minta tolong dari gadis itu. Beberapa prajurit berlari menuju ke arah hutan perbatasan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana, sedangkan kedua pembunuh bayaran tampak panik. Tanpa berfikir panjang salah satu dari pembunuh bayaran itu menusuk perut Yie Munha menggunakan sebilah pedang, beberapa saat setelahnya muncul sekumpulan prajurit penjaga gerbang masuk Kerajaan Bulan.
"Apa yang kalian lakukan di tempat ini!." triak berapa prajurit secara bersamaan, mereka mengejar para penjahat itu dan sebagian berusaha menyelamatkan Yie Munha.
Min Xome dan Min Wungi datang, mereka merasa bersalah karna terlambat menyelamatkan Yie Munha. Terlihat wajah pucat dari gadis yang kehilangan banyak darah itu, Yie Munha tersenyum ke arah Min Xome dan Min Wungi ternyata Xiao Ziya masih mengkhawatirkan keselamatan gadis jahat sepertinya, Xiao Ziya yang selama ini ia fikir telah merebut banyak hal darinya ternyata seorang lebih baik daripada kakek dan neneknya sendiri.
"Maaf kami terlambat datang." ucap Min Xome dengan tatapan bersalah.
"Terimakasih telah datang untuk membantuku. Berikan cincin ini pada Xiao Ziya setelah ia kembali, katakan padanya bahwa aku telah menebus semua kejahatan yang telah ku lakukan dengan nyawaku sendiri." ucap Yie Munha, konsisi gadis itu semakin memburuk karna pendarahan yang tak kunjung berhenti.
Min Wungi meminta gadis itu untuk diam dan tak terlalu banyak bicara, dengan segera Min Wungi membopong Yie Munha dan membawanya menuju Istana Kerajaan Bulan. Kedua pemuda itu melesat dengan kecepatan penuh, mereka tak peduli lagi dengan beberapa penduduk Kerajaannya Bulan yang jatuh karna tertabrak karna kondisi Yie Munha saat ini benar benar gawat dan membutuhkan pertolongan.
Hanya butuh wakti beberapa menit bagi kedua pemuda itu untuk sampai di Istana Kerajaan Bulan, mereka berdua mengetok pintu kamar orang tuanya dengan sangat kencang hingga pintu tersebut hampir rubuh. Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi mendengar suara bersisik dari luar kamar mereka, mereka berdua membuka pintu kamar.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Raja Min Lunxi dengan raut wajah terkejut.
"Tak ada waktu untuk menjelaskannya ayah, tolong hentikan pendarahan gadis ini." ucap Min Wungi, pemuda itu menerobos masuk kedalam kamar orang tuanya kemudian meletakkan Yie Munha diatas kasur.
"Cepatlah ibu gadis ini berusaha membantu adik Ziya." ucap Min Xome dengan nada sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Ratu Min Xunzi merapalkan sebuah mantra, sebuah lingkaran sihir berwarna hijau muncul dengan ukuran yang cukup besar. Lingkaran sihir itu mengitari tubuh Yie Munha beberapa kali kemudian masuk kebagian tubuh yang terluka, Yie Munha menjerit kesakitan luka tusukan di perutnya seperti sedang dibakar oleh sesuatu. Jeritan gadis itu terus terdengar dalam beberapa menit lalu suasana menjadi hening, Yie Munha pingsan karna tak sanggup menahan rasa sakit semengerikan itu, cara pengobatan yang dilakukan oleh Ratu Min Xunzi memang memiliki beberapa efek samping seperti pingsan, mengalami kelumpuhan, ataupun kematian sementara.
"Biarkan gadis itu beristirahat untuk beberapa saat, kalian berdua ikut dengan ibu dan jelaskan apa yang sedang terjadi." ucap Ratu Min Xunzi yang mengajak kedua putranya untuk keluar dari kamar. Min Xome dan Min Wungi menuruti perkataan sang ibu, mereka berdua langsung keluar dari kamar.
"Darimana kalian tau gadis bernama Yie Munha itu sedang dalam bahaya?." tanya Ratu Min Xunzi dengan tatapan penuh selidik.
"Adik Ziya melakukan telepati dengan saya beberapa saat yang lalu, ia meminta tolong agar saya menyelamatkan Yie Munha yang sedang dikejar oleh beberapa pembunuh bayaran." jawab Min Xome dengan jujur.
"Mengapa gadis itu tak meminta bantuan padaku saja." ucap Ratu Min Xunzi dengan ekspresi bingung sekaligus kesal, jika ia yang datang mungkin saat ini Yie Munha dalam keadaan baik baik saja.
"Telepati tak bisa dilakukan saat ibu dalam keadaan terlelap, mungkin adik Ziya berusaha melakukan telepati dengan ibu ataupun ayah namun karna tak ada sautan apapun akhirnya adik Ziya melakukan telepati dengan saya." jawan Min Xome lagi, Xiao Ziya adalah gadis dengan penuh perhitungan.
"Ibu memang tidur dengan sangat lelap tadi, lalu bantuan apa yang gadis itu berikan pada sepupu kalian?." tanya Ratu Min Xunzi dengan rasa penasaran tinggi. Bukankah seharusnya Yie Munha berada di penjara bawah tanah Kerajaan Bulan? mengapa tiba tiba gadis itu berada di hutan perbatasan Klan Yuang Yie dengan Kerajaan Bulan dan dalam keadaan sedang dikejar kejar oleh sua pembunuh bayaran.
"Adik Ziya sempat menyampaikan bahwa Yie Munha sudah mendapat beberapa petunjuk tentang siapa nenek kandung dari adik Ziya." jawab Min Xome.
"Baiklah kalian bisa kembali ke kamar kalian masing masing, ibu akan merawat gadis itu hingga dia sadar." ucap Ratu Min Xunzi yang meminta kedua putranya untuk melanjutkan tidur mereka, mungkin sebentar lagi pagi akan datang.
"Kami kembali ke kamar sesuai perkataan ibu, kami permisi terlebih dahulu." ucap Min Xome dan Min Wungi secara bersamaan, kedua pemuda itu berjalan dan masuk ke kamar mereka masing masing.
Di tempat lain saat ini Xiao Ziya masih mondar mandir di dalam kamarnya, gadis itu ingin segera kembali ke Kerajaan Bulan untuk melihat bagaimana kondisi Yie Munha saat ini. Sebenarnya Ziya ingin melakukan telepati dengan Min Xome lagi untuk menanyakan apakah kakak sepupunya itu berhasil menyelamatkan Yie Munha, jika Min Xome gagal maka Xiao Ziya akan datang ke Klan Yuang Yie untuk menghancurkan Yie Gu bersama orang orang yang ada di balik kejadian ini.
Saat perasaan Xiao Ziya sedang tak menentu tiba tiba Ratu Min Xunzi melakukan telepati dengan gadis itu.
"Anda pasti tak bisa tidur dengan nyenyak keponakanku." ucap Ratu Min Xunzi dalam hatinya.
"Saya sangat khawatir dengan kondisi Yie Munha, maaf karna tak memberitahu apapun pada bibi. Semalam saya ingin menghubungi bibi namun bibi sedang dalam tidur yang lelap jadi saya tak ingin mengganggu." jawab Xiao Ziya dengan rasa bersalah karna telah membuat bibinya merasa bingung.
"Bibi mengerti bagaimana keadaanmu sekarang, tak perlu cemas saat ini Yie Munha sedang dalam perawatan. Gadis itu mengalami luka tusukan yang cukup dalam, untung saja beberapa prajurit penjaga gerbang masuk sempat mendengar suara jeritan gadis itu dan segera menyelamatkannya. Hah, kau tau sendiri bagaimana kepribadian kedua kakak sepupumu itu, mereka akan sangat berhati hati saat melintas di jalan yang padat penduduk. Sepertinya mereka berdua terlambat menyelamatkan Yie Munha karna harus menghentikan ilmu meringankan tubuh saat berada di kerumunan." ucap Ratu Min Xunzi dengan kesal, ia ingin kedua putranya itu mengerti kapan harus mementingkan hal yang bersifat pribadi dan kapan harus mementingkan orang lain.
"Saya merasa sedikit lega karna Yie Munha berada di sana dan sedang bibi rawat, mungkin gadis itu mengalami pukulan yang sangat berat." ucap Xiao Ziya dengan nada datar.
"Jagalah dirimu dengan baik di sana, jika Raja Yongling Zu melakukan sesuatu yang buruk padamu pukul saja kepalanya hingga lupa ingatan." ucap Ratu Min Xunzi dengan suara tawa pelan. Wanita itu mengakhiri telepati nya dengan Ziya, akan menakan banyak energi jika terus melakukan hal itu.
Xiao Ziya duduk di tepi tempat tidurnya, gadis itu melihat ke luar jendela kamar terlihat dengan samar samar matahari mulai menampakkan diri.
"Ternyata semuanya sangat melelahkan, saya ingin tidur dalam pelukan ibu sekali saja untuk menghilangkan semua beban berat ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis kemudian gadis itu membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mencoba untuk tidur di samping Putri Beiling Zu.
Karna hari sudah pagi, satu persatu orang yang tinggal si Istana Kerajaan Bintang Timur mulai terbangun dan melakukan aktifitas mereka seperti biasanya. Putri Beiling Zu membuka mata perlahan dan melihat ke arah samping, sang putri menatap wajah Xiao Ziya yang sedang tertidur dengan lelap. Semalam Putri Beiling Zu sempat melihat adik tirinya itu sedang mondar mandir di dalam kamar dengan wajah cemas, sang putri ingin menanyakan apa yang sedang terjadi hingga adiknya secemas itu akan tetapi Putra Beiling Zu langsung mengurungkan niatnya karna takut terlalu ikut campur dalam masalah pribadi Xiao Ziya.
Putri Beiling Zu beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian ia langsung keluar dari kamar menuju ruang kerjanya yang berada di istana utama. Saat baru keluar dari kamar tanpa sengaja Putri Beiling Zu berpapasan dengan Putri Xilian Zu.
"Bagaimana rasanya tidur dengan seorang anak haram dari ibumu?." tanya Putri Ming Zu dengan senyuman menyebalkan.
"Adik Ziya jauh lebih baik daripada anda dari segi manapun, anda jangan lupa bahwa ibu anda juga seorang wanita murahan yang naik ke ranjang ayah saya saat ayah saya sedang dalam kondisi tak sadar. Jika ayah saya tak menikahi ibu anda maka anda juga anak haram." ucap Putri Beiling Zu penuh dengan emosi. Sejak dulu Putri Ming Zu selalu mencari masalah dengannya, gadis itu selalu iri saat Putri Beiling Zu mendapat kasih sayang dari kakak laki-laki ataupun adik laki-lakinya.
"Ucapan anda terlalu kasar, anda sama sekali tak mencerminkan seorang putri kerajaan yang bertata krama." ucap Putri Ming Zu dengan raut wajah mengejek, sepertinya sang putri tak pernah melihat pantulan wajahnya dari kaca hingga tak menyadari seburuk apa sikapnya selama ini.
"Berkaca lah di cermin bukan di kubangan air." ucap Putri Beiling Zu yang langsung pergi meninggalkan Putri Ming Zu, perdebatan diantara mereka tak akan pernah berakhir jika Putri Beiling Zu tak mengalah dan memilih pergi seperti itu.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa mampir ke novel author yang baru, Jangan lupa juga follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya. Nanti malam kalau ada waktu aku up lagi satu chapter.