
Akhirnya Xiao Ziya sudah memakan habis semua makanan yang ada di dalam nampan itu, setelah itu Xiao Ziya pergi ke kantin untuk mengembalikan nampan kosong. Ia pergi menuju lapangan yang biasa digunakan sebagai tempat latihan oleh para murid inti, terlihat para murid inti sedang melatih sebuah jurud andalan mereka masing masing.
Xiao Ziya berjalan mendekati Al Xun karna ia merasa pemuda itu belum memaksimalkan jurus yang ia miliki, selain itu caranya melakukan beberapa gerakan juga tampak salah.
"Jurusmu ini bisa lebih hebat dari apa yang pernah kau bayangkan." ucap Xiao Ziya pada Al Xun yang masih mengulagi beberapa gerakan, pemuda itu sedikit terkejut karna Xiao Ziya tak bersuara ketika ia berjalan tadi.
"Benarkah yang guru katakan? saya telah melatih jurus naga api ini dan ayah juga mengatakan bahwa jurus saya sudah sempurna." ucap Al Xun yang mengira bahwa jurusnya sudah sempurna karna ayahnya juga memiliki komentar yang sama.
"Pinjamkan saya kitab jurusmu itu." ucap Xiao Ziya yang ingin meminjam kitab jurus naga api agar ia bisa membacanya dengan teliti kemudian mempraktekkannya langsung di hadapan Al Xun, karna jika ia hanya berbicara tanpa memberikan bukti tak akan ada yang percaya padanya.
Al Xun memberikan sebuah buku berwarna biru tua pada Xiao Ziya, dengan segera gadis itu membaca semua yang ada di dalam buku itu dengan teliti. Setelah memahami semua yang ada di dalam kitab itu Xiao Ziya langsung melakukan semua gerakan yang ada di dalam kitab itu.
Setelah melakukan gerakan dan membaca semua mantra yang ada di dalam kitab, setelah itu Xiao Ziya mulai melakukan pernafasan dengan benar sebuah api keluar dari hidung Xiao Ziya setelah itu ia muncul sesosok naga api yang sangat besar dari hembusan nafas Xiao Ziya.
Melihat naga api yang begitu besar dan kuat tentu saja membuat Al Xun terkagum kagum, ia tak menyangka bahwa jurus yang ia pelajari akan sekuat itu jika dilatih dengan baik dan benar.
"Bagaimana bisa naga apinya sebesar itu?." tanya Al Xun yang sangat penasaran dengan apa saja yang dilakukan oleh Xiao Ziya sehingga bisa membuat jurus yang ia miliki menjadi sempurna.
Xiao Ziya memberikan beberapa arahan pada Al Xun, gadis itu memberitahu gerakan apa saja yang salah dan Al Xun juga harus melakukan pernafasan dengan baik fokus mengeluarkan api menggunakan hidung ataupun mulut. Setelah mendapatkan beberapa arahan dari Xiao Ziya, pemuda itu mulai fokus dan melakukan semua gerakan dengan sempurnya ia juga berhasil menciptakan naga api yang lebih besar daripada sebelumnya.
"Trimakasih guru Ziya berkat bimbingan anda salah satu jurus saya sudah sempurna." ucap Al Xun yang membungkukkan badannya dihadapan Xiao Ziya sebagai tanda terimakasihnya.
Xiao Ziya juga memberikan beberapa arahan pada murid yang lain, hari sudah mulai sore Xiao Ziya memutuskan untuk mengakhiri kelasnya hari ini dan akan bertemu lagi esok pagi dengan materi materi baru. Semua murid inti mulai melangkah keluar dari Akademi Wunyeng. Saat Xiao Ziya ingin pulang ada seseorang yang menepuk pundak gadis itu.
"Ah kau menggagetkanku saja." ucap Xiao Ziya pada Yue Agze.
"Saya akan mengantarkan nona Ziya sampai ke Istana Kerajaan Hitam, walaupun nona sangat kuat namun tak baik jika seorang gadis pulang sendirian." ucap Yue Agze yang sepertinya semakin perhatian padaAeuc Xiao Ziya, tentu saja dengan perhatiannya itu tak membuat hati Xiao Ziya luluh.
"Saya bisa pulang sendiri, kembalilah ke kediamanmu siapa tau ada tugas tugas yang menunggu." ucap Xiao Ziya yang mengatakan bahwa ia tak perlu diantar karna ia bisa pulang sendirian, akhirnya Yue Agze hanya bisa pasrah dan kembali ke kediamannya.
Xiao Ziya yang sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dunia bawah apakah keluarga dan orang orang yang ia sayangi baik baik saja ataukah ada yang membuat mereka terluka parah jika ia maka saat kembali nanti Xiao Ziya pasti akan membalas apa yang orang orang jahat itu lakukan pada keluarganya. Setelah sampai di istana Kerajaan Hitam Xiao Ziya langsung pergi untuk mencari Pangeran Zeeling.
Setelah mencari kemana mana ia tak dapat menemukan Pangeran Zeeling akhirnya Xiao Ziya memilih untuk pergi ke kamar gegenya itu.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Pangeran Zeeling yang diketuk oleh Xiao Ziya. Pangeran Zeeling yang baru saja mandi dan baru menggunakan celananya saja langsung membuka pintu karna ia kira yang sedang mencarinya adalah Raja Zeus atau Pangeran Anz.
"Aaaaaaaaaa apa yang Zeling gege lakukan dengan bertelanjang dada." ucap Xiao Ziya yang berteriak cukup keras karna ia merasa terkejut. Selama dalam kehidupan barunya, ia baru pertama kali melihat hal seperti ini.
"Ah maafkan gege, gege kira Pangeran Anz atau Raja Zeus yang datang, ternyata adik perempuan kesayangan gege yang datang." ucap Pangeran Zeeling tanpa rasa bersalahnya, tubuh Pangeran Zeeling yang sangat bagus tentu saja membuat pemuda itu percaya diri untuk memperlihatkannya di hadapan Xiao Ziya, namun gadis itu tetap memejamkan matanya.
"Gegemu ini bukanlah roh jahat ataupun seorang iblis mengapa kau menutup matamu seperti itu?." ucap Pangeran Zeeling yang sepertinya tak mengerti bahwa adik perempuannya itu sedang malu.
Karna gegenya itu tak mau masuk dan memakai pakaian akhirnya Xiao Ziya memilih untuk membalikkan badannya dan melesat pergi dari sana. Melihat kepergian Xiao Ziya tentu saja membuat Pangeran Zeeling merasa keheranan, tanpa di sadari gadis itu pergi dengan mata yang masih tertutup sehingga ia tak sengaja menabrak sesuatu.
"Apa yang sedang kau lakukan putriku?." tanya Raja Zeus yang keheranan melihat tingkah putri kesayangannya yang sedikit aneh, gadis itu berjalan dengan mata tertutup dan menabrak dirinya.
"Zeeling gege malakukan hal yang sangat sangat aneh ayah." ucap Xiao Ziya yang merasakan bahwa jantungnya berdetak dengan tak sewajarnya, gadis itu takut jika ia terkena serangan jantung secara mendadak.
"Apa yang dilakukan oleh anak bodoh itu apakah ia melukaimu putriku?." tanya Raja Zeus yang mulai cemas pada Xiao Ziya karna tak biasanya gadis itu bertingkah seperti ini. Mungkin saja Pangeran Zeeling telah melakukan hal yang tak baik pada putri kesayangannya itu.
"Tadi saya mengetuk pintu kamar Zeeling gege namun dia membuka pintu dengan bertelanjang dada." ucap Xiao Ziya dengan pipinya yang memerah karna gadis itu sempat melihat enam kotak yang ada di perut gegenya. Walaupun Xiao Ziya tak tertarik dengan rayuan rayuan atau perhatian yang para pemuda tampan berikan padanya gadis itu tetaplah gadis remaja biasa yang akan merasa malu saat melihat hal seperti tadi.
Mendengar cerita Xiao Ziya membuat Raja Zeus mengerti bahwa putrinya itu masih sangat muda untuk melihat hal hal seperti itu sehingga ia memutuskan untuk pergi ke kamar Pangeran Zeeling dan memberikan sebuah pukulan pada putranya itu.
Baru saja Raja Zeus ingin beranjak pergi menuju kamar Pangeran Zeeling, tiba tiba Pangeran Zeeling datang untuk menghampiri Xiao Ziya dan meminta maaf atas apa yang ia lakukan barusan. Setelah berfikir sedikit lama ia baru paham mengapa adiknya itu bertingkah demikian.
"Salam pada ayah handa." ucap Pangeran Zeeling yang memberikan salam pada Raja Zeus sembari membungkukkan badannya.
Cetak
Satu jitakan mendarat dengan mulus di jidat Pangeran Zeeling, pemuda itu merasa terkejut karna tiba tiba ayahnya melayangkan sebuah pukulan padanya. Pangeran Zeeling segera mendongakkan kepalanya dan mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Apa yang saya lakukan hingga ayah memukul kening saya?." tanya Pangeran Zeeling yang tak mengerti.
"Lain kali jangan tunjukkan hal seperti itu pada adikmu, lihatlah ia sangat ketakutan." ucap Raja Zeus yang salah mengartikan ekspresi Xiao Ziya. Memang benar adanya bahwa raut wajah Xiao Ziya memang sedikit aneh dengan pipi merah.
Pangeran Zeeling mengalihkan pandangannya ke arah adik perempuan kesayangannya itu, benar apa yang dikatakan oleh sang ayah adiknya nampak seperti ketakutan.
"Maafkan gege karna membuatmu takut seperti itu." ucap Pangeran Zeeling yang juga mengira bahwa Xiao Ziya takut saat melihatnya bertelanjang dada.
"Ah terserah kalian saja, saya datang untuk menanyakan bagaimana kondisi Kekaisaran Qiyu?." tanya Xiao Ziya yang tak ingin mengingat kejadian tadi, yang ia pedulikan saat ini adalah keselamatan orang orang terdekatnya yang berada di Kekaisaran Qiyu.
"Setelah pasukan Kerajaan Hitam dan pasukan neraka datang kondisi berbalik. Kekaisaran Qiyu yang memenangkan peperangan itu namun sepertinya banyak yang terluka parah." ucap Pangeran Zeeling yang menceritakan semuanya dengan jujur tanpa menutupi apapun walau kemungkinan hal itu akan membuat Xiao Ziya merasa sedih lagi.
"Siapa yang terluka paling parah saat peperangan itu selesai?." tanya Xiao Ziya, gadis itu berharap ia tak perlu kehilangan siapapun saat ia kembali ke dunia bawah nanti.
"Baiklah jika begitu terimakasih karna gege telah membatu, saya pergi sebentar." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi keluat dari Istana Neraka. Gadis itu pergi menuju sebuah danau yang letaknya agak jauh dari Istana Kerajaan Hitam.
Setelah sampai di danau itu Xiao Ziya duduk di tepi danau dan memasukkan kakinya ke dalam air danau. Xiao Ziya menghela nafasnya panjang, ia sangat ingin kembali ke Kekaisaran Qiyu dan melihat bagaimana kondisi kakak laki laki pertamanya saat ini. Ini begitu menyesakkan ketika ia tak bisa melakukan apapun secara langsung untuk orang orang yang ia sayangi.
"Semoga Yan gege baik baik saja di sana, Ziya sangat merindukan kalian semua." ucap Xiao Ziya sambil menundukkan kepalanya, tanpa sadar gadis itu mulai meneteskan air matanya punggungnya juga bergetar hebat. Kali ini Xiao Ziya benar benar merasa sangat sedih, ia ingin pulang sekarang juga namun misinya belum selesai.
Setelah menangis cukup lama tiba tiba langit malam yang tadinya tak terlalu gelap tiba tiba menjadi gelap dan sangat pekat disertai rintik hujan yang mulai turun dari atas langit. Xiao Ziya mendongakkan kepalanya dan membiarkan wajahnya terkena air hujan, walau saat itu hujan turun dengan sangat deras bahkan disertai angin gadis itu sama sekali tak berniat untuk kembali ke Istana Kerajaan Hitam atau mencari tempat untuk berterduh.
Raja Zeus, Pangeran Zeeling, dan Pangeran Anz saat ini berkumpul di ruang makan utama mereka sedang menikmati makan malam. Ada satu hal yang kurang yaitu Xiao Ziya yang belum kembali ke Istana Hitam walau cuaca di luar sedang hujan deras.
"Apakah adik Ziya baik baik saja di luar sana?." tanya Pangeran Anz yang merasa khawatir jika Xiao Ziya tak mendapatkan tempat untuk berteduh, jika adik perempuannya itu hujan hujanan maka ia akan terkena demam.
"Semoga saja adik sedang berteduh di suatu tempat." ucap Pangeran Zeeling yang tak kalah khawatirnya dengan Pangeran Anz, meski Xiao Ziya tak memiliki hubungan darah dengan mereka berdua namun kedua pangeran sangat menyayanginya.
Hujan tak hanya terjadi di dunia atas saja, kali ini seluruh lapisan dunia sedang dalam cuaca yang buruk. Di dalam istana Kekaisaran Qiyu banyak orang yang sedang berkumpul, mereka sangat khawatir dengan kondisi Kaisar Yan yang tak kunjung bangun dari masa kritisnya.
"Putraku cepatlah sadar, jika kau terus seperti ini bagaimana cara kami menjelaskannya pada adikmu nantinya." ucap Xiao Cunyu yang sedang duduk di ranjang tempat tidur putranya itu. Ia menatap ke arah Xiao Yan dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Adik Ziya pasti akan sangat sedih jika ia tau kondisi Yan gege sekarang." ucap Xiao Yuna yang tak bisa membanyangkan bagaimana ekspresi Xiao Ziya nantinya jika sesuatu hal buruk terjadi pada Kaisar Yan.
Sedangkan Xiao Yan yang sedang terbaring lemah itu jiwanya seperti masuk kedalam tempat yang asing baginya, ia tak tau dimana ia berada sekarang yang terlihat hanyalah hamparan pepohonan, sebuah danau yang luas, serta hujan yang turun dengan lebatnya.
"Dimana ini? mangapa aku bisa berada di tempat ini?." tanya Xiao Yan yang semakin kebingungan, akhirnya Xiao Yan berjalan menyusuri danau.
Saat berjalan menyusuri danau ia tak sengaja melihat seorang gadis kecil yang sangat familiar baginya, akhirnya Xiao Yan mencoba mendekat benar saja gadis itu adalah Xiao Ziya adik perempuannya yang sudah lama pergi ke dunia atas. Terlihat adiknya itu tampak sedih dan murung, Xiao Yan ingin memeluk adiknya kemudian menenangkannya agar tak perlu bersedih lagi namun jiwa pemuda itu tak dapat memegang tubuh Xiao Ziya.
"Yan gege bertahanlah, Ziya tak mengizinkanmu untuk pergi." ucap Xiao Ziya yang tersenyum dengan pahit kemudian gadis itu berjalan menjauh dari danau, ia duduk di sebuah pohon yang cukup rindang. Bajunya yang sudah basah kuyup membuat angin malam mulai membuatnya kedinginan, wajahnya mulai pucat namun anehnya Xiao Ziya tak merasakan apapun.
"Gege baik baik saja, justru gege yang sedih melihat kondisimu yang seperti ini. Trimakasih telah mengirim bantuan unguk kami, jika tidak mungkin kami semua telah tiada sekarang." ucap Xiao Yan yang kini sedang berdiri di hadapan Xiao Ziya, pemuda itu membungkukkan badannya sebagai tanda ucapan trimakasih, walau Xiao Ziya tak bisa melihatnya namun Xiao Yan nekat melakukan hal itu.
Roh Xiao Yan berjalan mendekati adiknya, ia duduk disamping Xiao Ziya dan menatap dengan lekat wajah adiknya itu.
"Saat Ziya kambali nanti mari kita makan daging sepuasnya, Yan gege dan Xun gege harus menemani Ziya berbelanja." ucap Xiao Ziya yang tersenyum.
Melihat suasana hati Xiao Ziya mulai membaik, roh Xiao Yan lebih tenang. Ia hanya bisa tertawa lirih saat mendengar apa yang adik perempuannya itu katakan, ternyata Xiao Ziya tetaplah sama seperti Xiao Ziya yang ia kenal selama ini.
"Baiklah gege berjanji akan menemanimu berbelanja, cepatlah pulang kami semua merindukanmu gadis cantik." ucap roh Xiao Yan yang tiba tiba saja menghilang dari tempat itu.
Roh Xiao Yan kembali pada tubuhnya, kesadaran pemuda itu perlahan lahan kembali dan ia mulai membuka matanya pelan. Melihat Xiao Yan yang sudah mulai sadar semua orang yang sedang menjaganya merasa sangat senang.
"Akhirnya kau sadar juga putraku." ucap Xiao Cunyu dengan air mata yang berlinang. Ia tak akan sanggup bila harus kelihangan salah satu diantara putra dan putri kesayangannya itu.
"Jika Yan gege tak bangun maka adik Ziya pasti akan menangis." ucap Xiao Yuna yang berusaha menahan air matanya, ia tak ingin menangis di sana karna itu sangat memalukan.
"Lain kali tolong perhatikan keselamatanmu Kaisar Yan." ucap Xiao Xun yang sedang menasehati kakak laki lakinya itu.
"Yayaya saat adik Ziya pulang nanti kita berdua harus menemaninya berbelanja." ucap Xiao Yan sembari memukul pundak Xiao Xun pelan. Mereka yang mendengar perkataan Xiao Yan hanya menatap pemuda itu dengan kebingungan apakah selama ia tak sadar Xiao Yan memimpikan banyak hal? mungkin itu yang ada di dalam fikiran mereka semua.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya masih bersandar di sebuah pohon yang ada di dekat danau, gadis itu menatap ke arah danau dengan lekat. Ia merasa bahwa tadi ada yang sedang memandanginya dan duduk di sebelahnya namun kenyataanya tak ada siapapapun di sana. Hujan tak kunjung reda dan hari semakin malam.
Xiao Ziya memutuskan untuk berjalan menuju Istana Kerajaan Hitam walau tubuhnya sudah sedikit menggigil, gadis itu mulai melewati benerapa jalan setapak dan gang gang kecil hingga ia sampai di sebuah pasar yang tak jauh dari istana, terlihat kedai, toko, dan kios yang ada di pasar itu tutup karna hujan yang begitu lebat disertai angin.
Tak lama kemudian akhirnya Xiao Ziya sampai di gerbang masuk Istana Kerajaan Hitam, para penjaga gerbang terkejut melihat nona muda mereka pulang dengan kondisi basah kupup seperti itu. Seorang penjaga gerbang ingin meminta pelayan untuk membawakan kain kering agar nona mereka dapat mengeringkan badannya, namun Xiao Ziya melarang penjaga gerbang itu dan mengataka bahwa ia baik baik saja.
Dengan segera Xiao Ziya masuk kedalam istana dan pergi menuju kamarnya, karna bajunya yang basah kuyup saat menginjak lantai Xiao Ziya meninggalkan jejak genangan air beberapa pelayan yang melihat hal itu langsung mengambil kain lap dan membersihkan lantai.
"Mengapa nona muda basah kuyup seperti ini, kami akan menyiapkan air hangat untuk nona." ucap seorang pelayan wanita yang ingin membuatkan air hangat untuk Xiao Ziya mandi.
"Tidak perlu saya baik baik saja, maaf telah merepotkan kalian. Saya hanya ingin masuk ke kamar dan beristirahat." ucap Xiao Ziya yang langsung masuk kedalam kamarnya, gadis itu langsung masuk kedalam ruangan yang khusus untum tempat pemandiannya. Xiao Ziya dengan segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaian dengan sebuah gaun panjang yang cukup tebal.
"Ah ini sangat melelahkan." ucap Xiao Ziya yang langsung mambaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.
"Apa yang sedang terjadi pada nona muda kita? memgapa ia terlihat sangat sedih." ucap salah seorang pelayan yang masih membersihkan lantai yang basah.
"Entahlah namun sejak pagi tadi sepertinya suasana hati nona memang sedang tidak baik." jawab pelayan yang lain.
Saat para pelayan sedang membicarakan Xiao Ziya yang terlihat lesuh dan pulang dalam konsisi basah kuyup tanpa mereka sadari Pangeran Anz sedang melintasi mereka dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Apa yang sedang kalian katakan? apa yang terjadi pada adik Ziya?." tanya Pangeran Anz dengan nada bicara yang sedikit kasar, pemuda itu benar benar sedang khawatir pada adiknya.
"Ah nona Ziya baru saja kembali pangeran, namun nona kembali dengan wajah murung, mata sembap, dan tubuhnya yang basah kuyup. Saat kami menawarkan untuk membuatkan air hangat nona Ziya menolaknya. Kami sangat khawatir jika seperti ini nona akan terkena flu atau demam." ucap seorang pelayan yang menceritakan apa yang terjadi pada Xiao Ziya, mendengae cerita dari pelayan itu Pangeran Anz langsung pergi menuju kamar sang adik.
Saat Pangeran Anz mengetuknya beberapa kali tak ada jawaban dari dalam ia berfikir bahwa adik perempuannya itu sudah tertidur lelap, akhirnya Pangeran Anz memutuskan untuk mengunjungi Xiao Ziya besok pagi.
Hai guys author update lagi, semoga kalian sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum follow, vote ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate, share juga.