
Saat ini Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi sudah berada di penginapan tempat Xiao Ziya tinggal. Di dalam kamar Zo Ruhi sedang berbaring di tempat tidur milik Xiao Ziya. Sedangkan Xiao Ziya sedang membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.
Sebenarnya Xiao Ziya merasa heran mengapa banyak anak kecil yang suka menempel padanya, bukankah aura yang ia miliki terlalu menakutkan untuk orang orang dewasa lalu mengapa anak anak kecil begitu menyukainya.
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian Xiao Ziya berbaring di samping Putri Zo Ruhi.
"Kaka cantik cuka tinggal dicini?." tanya Zo Ruhi yang sepertinya tak ingin ditinggal oleh Xiao Ziya lagi.
"Jiejie suka tinggal di sini, namun jiejie juga punya keluarga jadi jiejie harus pulang." ucap Xiao Ziya yang menjelaskannya dengan lembut. Xiao Ziya tau jika perkataanya akan menyakiti gadis kecil yang ada di sampingnya itu. Namun itu lebih baik jika Xiao Ziya harus berbohong.
"Nanti kalau athu uda becal, aku au nengokin kaka cantik." ucap Putri Zo Ruhi yang langsung memeluk Xiao Ziya dari samping.
Karna hari sudah sangat sore dan Xiao Ziya tak ingin terlambat datang ke jamuan makan malam yang diadakan oleh Ratu Zo Binji, Xiao Ziya dan Zo Ruhi berangkat menuju istana Kekaisaran Binzo, saat diperjalanan Xiao Ziya melihat sebuah kios yang menjual hiasan rambut Xiao Ziya berencana memberikan sesuatu pada Zo Ruhi sebagai hadiah.
"Jiejie akan membelikan Ruhi hiasan rambut jadi Ruhi bisa memilihnya sendiri." ucap Putri Zo Ruhi yang ada di gendongan Xiao Ziya.
"Ruhi cuka pilihan jiejie." ucap Putri Zo Ruhi yang menginginkan sebuah hiasan rambut yang dipilihkan oleh Xiao Ziya.
Akhirnya Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi masuk kedalam kios tersebut dan mulai memilih milih hiasan rambut yang cocok untuk seorang tuan putri yang cantik. Akhirnya Xiao Ziya memilih sebuah jepit rambut dengan motif burung phonex berwarna biru yang indah.
"Nah ini hiasan rambut yang jiejie pilihkan untuk Ruhi yang cantik, dan jiejie akan pasangkan ke rambut Ruhi." ucap Xiao Ziya yang langsung memasangkan hiasan rambut itu ke Ruhi. Setelah selesai memilih Xiao Ziya membayar kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju istana Kekaisaran Binzo lagi.
Setelah benerapa saat akhirnya mereka berdua tiba di istana Kekaisaran Binzo, melihat seorang gadis muda yang menggendong Putri Zo Ruhi membuat para prajurit dan penjaga tau bahwa gadis itu adalah tamu undangan dari sang Ratu.
"Salam nona silahkan masuk ratu dan raja sudah menunggu anda dan tuan putri di dalam." ucap seorang pelayan yang langsung menunjukkan jalan pada Xiao Ziya untuk pergi ke paviliun ratu.
Saat diperjalanan menuju paviliun ratu Xiao Ziya bertemu dengan Pangeran Zo Binje dan juga Putri Zo Jeni.
"Salam pada pangeran dan putri." ucap Xiao Ziya tanpa membungkukkan badannya. Walau sikap Xiao Ziya dianggap kurang sopan oleh beberapa pelayan kekaisaran yang ada di sana namun itu bukan masalah bagi Pangeran Zo Binje dan Putri Zo Jeni.
"Salam nona Ziya, nona datang untuk bertemu ibunda? biar kami yang mengantar tamu kehormatan ini kalian bisa kembali bekerja." ucap Pangeran Zo Binje yang meminta para pelayan untuk pergi.
"Ruhi sini ikit dengan Jeni jiejie, pasti nona Ziya kelelahan menggendong Ruhi disepanjang jalan." ucap Putri Zo Jeni yang ingin mengambil alih sang adik karna kasihan pada Xiao Ziya yang sudah menggendongnya di sepanjang jalan.
Namun seperti biasa Putri Zo Ruhi tetap ingin dekat dengan Xiao Ziya ditambah ia tau bahwa jiejienya yang cantik itu akan segera pulang ke tempat asalnya.
"Ruhi cuka kaka cantik." ucap Putri Zo Ruhi sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak apa apa Putri Jeni, saya tidak lelah mari kita segera menemui Yang Mulia Ratu." ucap Xiao Ziya yang memang tak merasa lelah ketika menggendong Putri Zo Ruhi.
Merekapun berjalan menyusuri lorong lorong istana Kekaisaran Binzo. Xiao Ziya bisa melihat bahwa interior dalam istana sangatlah bagus dan memang didominasi oleh warna emas yang terlihat begitu luas. Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di paviliun sang ratu. Di halaman depan terdapat berbagai jenis bunga yang cantik.
"Selamat datang nona Ziya, trimakasih telah memenuhi undangan saya." ucap Ratu Zo Binji yang sengaja menunggu Xiao Ziya di halaman depan paviliunnya.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Ratu." ucap Xiao Ziya sembari membungkukkan badannya.
"Mari masuk kedalam, dan Ruhi ku sayang sini ikut dengan ibu." ucap Ratu Zo Binji yang membujuk putrinya agar mau ikut dengannya.
Akhirnya mereka semua masuk kedalam paviliun milik Ratu di sana sudah disediakan banyak makanan dan juga cemilan. Putri Xi Ruhi walaupun sudah tak digendong oleh Xiao Ziya namun ia terus mengekori Xiao Ziya. Sang Ratu dan saudaranya yang sudah ada di sana hanya bisa menggelengkan kepala saja. Banyak orang orang dari kerajaan lain yang pernah berkunjung kesini namun tak ada yang bisa menarik perhatian dari Putri Zo Ruhi.
Tapi malam ini Raja Zo Linzu tak bisa ikut makan malam bersama dengan mereka karna sang permaisuri yang sudah membuat ulah tadi setelah kembali dari tempat turnamen. Permaisuri Zo Nixu terus saja merengek agar Raja mau makan malam bersama dengannya.
"Maaf nona Ziya, raja tak bisa ikut makan malam bersama kita." ucap Ratu Zo Binji yang merasa bersalah pada Xiao Ziya. Seharusnya sang raja ada di sini untuk menyambut tamu kehormatan mereka.
"Itu bukan masalah Yang Mulia Ratu, yang terpenting anda dan putra putri anda ada di sini." ucap Xiao Ziya yang merasa ketidak hadiran sang raja bukanlah hal yang besar. Ia juga sudah banyak mendengar cerita permaisuri dari penjual roti isi daging yang biasa ia beli.
Akhirnya mereka memulai jamuan makan malam tanpa kehadiran sang raja. Dengan manjanya Zo Ruhi meminta disuapi oleh Xiao Ziya, sang ibu sudah memarahinya namun anak perempuan kecil itu tak ingin mendengarkan.
"Cetelah tulnamen celecai kaka cantik akan pulang ke lumahna jadi Ruhi harus belmanja manja cekalang dan tak ada yang bica menghalangi putri Ruhi." ucap Putri Zo Ruhi yang mengungkapkan keinginanya untuk terus bermanja manja pada Xiao Ziya hingga gadis itu kembali ke tempat ia tinggal.
"Baiklah baiklah ayo Ruhi yang cantik makan lagi ya." ucap Xiao Ziya yang hanya bisa tersenyum saat mendengar keinginan dari gadis kecil itu.
Setelah menyelesaikan jamuan makan malam, mereka berkumpul di halaman belakang paviliun ratu yang sudah di hias dengan cantik.
"Ibunda, mengapa adikku Ruhi begitu dekat dengan nona ini?." tanya Pangeran Zo Linhu yang merupakan anak pertama dari sang ratu.
"Ibunda juga tidak tau coba kau tanya sendiri pada adikmu." ucap sang ratu yang juga menyukai kehadiran Xiao Ziya.
"Ruhi kecilku apakah kau lebih menyukai nona Ziya daripada gegemu yang tampan ini?." tanya Pangeran Zo Linhu dengan alaynya sehingga membuat yang lain tertawa.
"Ruhi cuka Linhu gege, tapi Ruhi lebih cuka Ziya jiejie." ucap Putri Zo Ruhi dengan jujur, seorang anak kecil memang selalu berkata jujur.
Mendengar jawaban dari sang adik membuat Pangeran Zo Linhu patah hati karna adiknya lebih menyukai orang yang baru ia kenal daripada kakak laki lakinya sendiri.
"Baiklah nona Ziya sepertinya menang, oh sangat malang sekali nasib pangeran tampan ini." ucap Pangeran Zo Linhu yang sedang berpura pura sedih.
"Apa yang sedang gege lakukan, sangat memalukan." ucap Putri Jeni yang sangat ingin memukul kepala kakak tertuanya.
"Selamat malam maaf saya baru bisa datang sekarang, wah lihatlah bukankah putri kecil ayah sangat menyukai nona Ziya." ucap Raja Zo Linzu yang langsung terfokus pada Putri Ruhi yang ada di pangkuan Xiao Ziya.
"Ah iya putrimu sedari tadi tak ingin lepas dari nona Ziya." ucap Ratu Zo Binji diselingi gelak tawanya.
Melihat mereka semua berkumpul membuat hati Xiao Ziya menghangat, sebuah keluarga lengkap yang sangat bahagia jangan sampai ada orang jahat yang merusak kebahagiaan mereka.
"Hari ini saya akan membahas masalah yang serius tentang penyerangan ratu beberapa saat yang lalu." ucap Xiao Ziya yang langsung memasang sihir kedap suara disekitar area itu agar tak ada penyusup yang mendengar pembicaraan mereka.
"Apa yang nona lakukan dengan tempat ini?." tanya Zo Xuyen yang belum terbiasa dengan beberapa pola sihir.
"Saya memasang sihir kedap suara disekitar area ini karna saya merasa ada beberapa pelayan yang melayani ratu memiliki niat jahat." ucap Xiao Ziya yang menjelaskan apa yang sedang ia lakukan pada tempat itu dan akhirnya mereka semua mengerti.
"Luar biasa nona Ziya ternyata ahli pola sihir juga." ucap Raja Zo Linzu yang semakin mengagumi gadis itu.
"Baiklah silahkan nona Ziya menjelaskan apa yang anda ketahui tentang penyerangan yang terjadi pada ibu saya." ucap Pangeran Zo Linhu yang sudah tak sabar ingin membalas perbuatan dari orang tak tau diri itu.
**Hai hai semuanya akhirnya aku bisa update lagi nih, alhamdulillah kondisi sama mood ku udah lumayan membaik makasih buat doanya. oh ya hari ini tiket vote kalian udah ada lagi loh jangan lupa di vote in ke novel ini ya.
Jangan lupa juga buat like, komen, like, kasih hadiah ke aku apapun itu author sangat bertrimakasih**.