RATU IBLIS

RATU IBLIS
Waktu Istirahat


Xiao Ziya kembali kedalam kamarnya, gadis itu hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk memulai permainan di sisi lain Ziya berharap Ratu Jinha Zee adalah orang yang dapat dipercaya untuk memimpin Kerajaan Bulan. Di sisi lain saat ini Yie Munha sedang dalam perjalanan menuju Klan Yuang Yie, ia begitu senang karna bisa bebas dalam kondisi baik baik saja. Yie Munha tak akan membagikan rencananya dengan Xiao Ziya pada orang lain, jika sang kakek mengetahui hal ini pasti kakeknya akan meminta tahta Kerajaan Bulan yang sudah dalam genggamannya.


Perlu waktu yang cukup lama bagi Yie Munha untuk sampai di wilayah Klan Yuang Yie, kemungkinan besar esok pagi ia baru sampai di sana. Di sisi lain saat ini Raja Yongling Zu sedang menulis sebuah surat yang akan ia kirim ke Kerajaan Bulan, di dalam surat itu sang raja mengundang secara khusus pemimpin baru dari Kerajaan Bulan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Kerajaan Bintang Timur. Raja Yongling Zu ingin tau bagaimana wajah, sikap, serta kekuatan dari anak tirinya karna sang raja ingin melihat kelayakan dari anak tirinya tersebut. Tiba tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerja Raja Yongling Zu, sang raja mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Anda masih bekerja?." tanya Ratu Junyi Zu dengan raut wajah murung, wanita itu tak bisa tidur sendirian karna ia selalu mengalami mimpi buruk di setiap malam, karna hal itu Ratu Junyi Zu selalu menunggu sang suami selesai bekerja dan menemaninya tidur.


"Saya akan segera menyelesaikannya, tunggulah sebentar di sini istriku." ucap Raja Yongling Zu dengan senyuman penuh cinta. Sebenarnya sang raja begitu mencintai ratunya, hingga ia melakukan apapun agar sang ratu selalu berada di sisinya.


"Baiklah saya akan menunggu di sini." ucap Ratu Junyi Zu yang duduk di sebuah kursi kosong.


Suasana di ruang kerja Raja Yongling Zu terasa begitu hangat, sesekali sang raja melihat ke arah istrinya yang sedang menahan kantuk. Namun semua tak bertahan lama, pintu ruang kerja Raja Yongling Zu tiba tiba terbuka dengan lebar dan menunjukkan Selir Mue Zu dengan pakaian yang cukup minim.


"Malam ini bisakah anda menemani saya?." ucap Selir Mue Zu dengan suara yang sengaja dibuat genit untuk menggoda Raja Yongling Zu.


Sang raja menatap tajam ke arah selirnya itu, apa apaan pakaian yang digunakan oleh sang selir. Bukannya merasa tergoda, Raja Yongling Zu malah merasa jijik dengan tingkah Selir Mue Zu.


"Pergilah karna saya akan menemani Ratu Junyi Zu malam ini." ucap Raja Yongling Zu yang mengusir selirnya.


"Setiap hari anda tidur dengan wanita itu tanpa memikirkan perasaan saya!." bentak Selir Mue Zu dengan tatapan kesal, ia tak terima jika sang raja sangatlah pilih kasih. Raja Yongling Zu selalu memberi apa yang diinginkan oleh Ratu Junyi Zu, akan tetapi sang raja mengabaikan perkataan maupun keinginan dari Selir Mue Zu.


"Pergilah sebelum saya menendang mu keluar dari sini." ucap Raja Yongling Zu dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang keluar dari tubuhnya.


Dengan terpaksa Selir Mue Zu keluar dari ruang kerja sang suami, ia merasa begitu marah dengan perlakuan Raja Yongling Zu kali ini. Selir Mue Zu ingin menyingkirkan Ratu Junyi Zu, akan tetapi sang raja selalu mengawasi pergerakan sang selir.


"Sebelum wanita itu pergi, aku tak akan pernah bahagia tinggal di istana megah ini." ucap Selir Mue Zu yang berjalan menuju kamar dengan ekspresi marah. Karna bajunya yang cukup minim, beberapa prajurit memandang sang selir dengan tatapan jijik. Prajurit prajurit itu tau bagaimana wanita bernama Mue Zu bisa masuk kedalam Istana Kerajaan Bintang Timur dan dijadikan seorang selir.


Hari begitu cepat berlalu, pagi pun tiba dan semua orang mulai melakukan rutinitas mereka kecuali Xiao Ziya yang masih tertidur nyenyak di dalam kamarnya. Raja Zeus dan Raja Artur sedang mencari keberadaan gadis itu karena mereka ingin berpamitan dan kembali ke kerajaan masing masing, saat bertanya pada beberapa pelayan yang ada di Istana Kerajaan Bulan tak ada satupun yang melihat Xiao Ziya pagi ini.


"Gadis itu masih berada di dalam kamarnya." ucap Raja Artur yang menebak bahwa penerusnya itu masih tertidur lelap di dalam kamar.


"Haruskah kita membangunkannya?." tanya Raja Zeus yang merasa tak enak hati bila harus membangunkan putri angkatnya.


"Jika kita pergi tanpa berpamitan, gadis itu akan sangat marah." ucap Raja Artur yang berjalan menuju kamar Xiao Ziya.


Tok tok tok, suara pintu kamar Ziya yang diketuk oleh Raja Artur dengan cukup kencang namun tak ada jawaban dari dalam. Raja Artur kembali mengetuk dengan lebih keras, akhirnya Xiao Ziya perlahan lahan membuka mata setelah mendengar suara yang cukup bising. Dengan menahan kantuknya Ziya membuka pintu kamar dan menatap datar kedua pria yang ada di hadapannya itu.


"Mengapa anda mengetuk pintu kamar saya dengan begitu keras kakek tua?" tanya Ziya dengan tatapan tajam, waktu istirahatnya yang sangat berharga hancur begitu saja karna kakek tua itu.


"Kami ingin berpamitan padamu, banyak hal yang perlu di urus di kerajaan." ucap Raja Artur dengan menahan tawanya, ekspresi Xiao Ziya saat bangun tidur benar benar lucu.


"Saya ucapkan terimakasih pada kalian berdua karna telah membantu saya, jika dimasa depan kalian membutuhkan bantuan saya maka saya akan datang." ucap Xiao Ziya sembari membungkukkan badan sebentar di hadapan Raja Artur dan Raja Zeus.


"Tak perlu sungkan seperti iyu putriku, ayah senang bisa membantumu." ucap Raja Zeus dengan senyuman tampannya.


"Suatu hari kaulah yang akan memimpin alam neraka, jadi sudah tanggung jawab saya untuk membantumu." jawab Raja Artur.


"Hah sangat merepotkan, baiklah trimakasih banyak semua." ucap Xiao Ziya, gadis itu tak bisa membayangkan semengerikan apa saat ia harus membuang waktu berharga di dalam ruang kerja dan tumpukan dokumen dokumen menyebalkan itu.


Setelah selesai berpamitan dengan Ziya, Raja Artur dan Raja Zeus membawa pasukan mereka keluar dari Istana Kerajaan Bulan dan mereka berdua pulang dengan caranya masing masing. Xiao Ziya kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu, baru saja ia merebahkan tubuh di atas ranjang tiba tiba pintu kamarnya diketuk lagi oleh seseorang.


"Argh, tak bisakah saya tidur dengan tenang." triak Xiao Ziya dengan cukup kencang hingga terdengar oleh sang prajurit yang berada di depan kamar gadis itu.


Dengan sangat amat terpaksa Ziya turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamar untuk yang kedua kali, ternyata ada seorang prajurit yang ingin mengantarkan surat pada gadis itu.


"Maaf karna mengganggu waktu tidur anda nona besar, saya datang untuk mengantar surat dari Raja Kerajaan Bintang Timur." ucap prajurit itu dengan gugup, ia takut jika pemimpin barunya itu marah dan memecatnya.


"Baiklah kau bisa kembali sekarang, saya akan tidur untuk beberapa jam yang akan datang, tolong ingatkan pada yang lain agar tak mengganggu waktu tidur saya." ucap Xiao Ziya dengan nada datar lalu ia langsung menutup pintu kamarnya itu.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini? jika Nona Besar membutuhkan sesuatu panggil saja kami." ucap seorang pelayan yang langsung menghampiri Xiao Ziya dengan raut wajah cemas.


"Saya malas jika harus berteriak teriak untuk memanggil kalian, lagipula kedua kaki saya masih bisa digunakan untuk berjalan." jawab Xiao Ziya dengan santai, gadis itu merasa biasa biasa saja saat ia datang ke dapur istana.


"Anda ingin sarapan nona?." tanya pelayan lain, sedari pagi mereka belum menghidangkan makanan apapun di ruang makan istana.


"Saya ingin segelas susu hangat dan tolong siapkan makanan untuk semua penyihir yang masih berada di sini, perlakukan mereka dengan baik. Bila kalian kekurangan bahan bahan dapur katakan saja pada saya tanpa sungkan, saya akan menggunakan uang pribadi selama mereka tinggal di sini." perintah Xiao Ziya pada semua pelayan dan koki yang ada di sana.


"Baik kami mengerti nona besar, silahkan tunggu sebentar saya akan membuatkan susu hangat untuk anda." ucap pelayan itu.


Di tempat lain tepatnya Klan Yuang Yie, para ketua klan terkejut dengan kembalinya Yie Munha dalam kondisi baik baik saja tanpa luka sedikitpun. Menurut cerita dari Yie Gu dan Yie Laingfu seharusnya gadis itu masih ditahan di dalam penjara bawah tanah Kerajaan Bulan dan mendapat hukuman cambuk sebanyak dua ratus kali.


"Kau kembali dengan selamat?." tanya Yie Fufu dengan tatapan curiga, mungkinkah Yie Munha bersekongkol dengan pihak tertentu untuk membebaskannya dari penjara Kerajaan Bulan?.


"Kau terlihat sangat tak senang karna saya kembali denhan selamat, jangan samakan saya dengan orang tua bodoh yang tak bisa melakukan apapun itu." jawab Yie Munha dengan ketus, perkataan gadis itu tertuju pada Yie Gu.


"Tolong jaga perkataan mu , saat ini kakek dan ayah mu sedang dirawat di ruang kesehatan." ucap Yie Jungso.


"Cuih, kalian kira aku peduli dengan mereka berdua?." ucap Yie Munha yang langsung pergi begitu saja.


Yie Fufu dan Yie Jungso menatap kepergian gadis itu dengan tatapan dingin, mereka berdua akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi hingga Yie Munha bisa kembali ke Klan Yuang Yie dalam konsisi baik baik saja. Yie Munha berjalan menuju ruang kesehatan untuk bertemu dengan sang nenek, ia perlu mencari tau siapa nenek kandung dari Xiao Ziya untuk mendapatkan tahta Kerajaan Bulan sekaligus pil darah demi kesembuhan neneknya. Saat masuk kedalam ruang kesehatan, Yie Laingfu dan Yie Gu menatap ke arah gadis itu dengan mata yang sangat lebar.


"Kau sudah kembali !!" ucap Yie Gu dengan suara yang cukup kencang, pria tua itu seakan akan tak terima karna cucunya tak mendapat luka apapun saat ia harus kehilangan tangan kanannya.


"Ayah sangat senang kau kembali dengan selamat putriku, maaf ayah tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan mu." ucap Yie Laingfu dengan sorot mata sedih.


"Saat itu ayah pingsan, wajar saja jika ayah tak bisa melakukan apapun." jawab Yie Munha dengan ekspresi tak senang.


"Dimana luka dua ratus cambukan yang seharusnya ada di tangan, kaki, dan punggung mu itu?." tanya Yie Gu lagi, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di sana.


"Itu bukan urusanmu kakek." jawab Yie Munha yang langsung berjalan menuju ranjang tempat neneknya di rawat.


Yie Munha menatap ke arah sang nenek dengan cukup lama untuk memastikan apakan sang nenek benar benar tidur atau sedang pura pura tidur karna keberadaan Yie Gu di ruang kesehatan. Yie Munha tersenyum saat mengetahui neneknya hanya pura pura tidur saja, gadis itu membisikkan sesuatu ke telinga Yie Weinje hingga wanita tua itu terkejut.


"Dimana aku bisa mendapat informasi tentang nenek kandung Xiao Ziya?." bisik Yie Munha ke telinga neneknya.


"Kau yakin gadis itu akan memberikan pil darah sebagai imbalan?." bisik Yie Weinje dengan sangat pelan.


"Seorang gadis seperti Ziya selalu menepati kata katanya, nenek tenang saja aku akan mendapatkan pil darah itu untukmu." bisik Yie Munha.


Yie Weinje memberitahukan pada cucunya mengenai catatan penerus Klan Yuang Yie dari generasi ke generasi yang ada di gudang perpustakaan Klan Yuang Yie, setelah mendapatkan petunjuk dari sang nenek, Yie Munha segera pergi dari ruang kesehatan agar tak menimbulkan kecurigaan.


"Apa yang sedang direncanakan oleh cucumu itu?." ucap Yie Gu yang sempat melihat istri dan cucunya sedang mengobrol dengan suara yang sangat pelan.


"Dia hanya menceritakan bagaimana bisa keluar dari sana dalam kondisi baik baik saja." ucap Yie Weinje, wanita tua itu langsung melanjutkan tidurnya agar tak ditanyai lagi oleh sang suami.


Saat Yie Munha sedang sibuk mencari tau siapa nenek kandung dari Xiao Ziya, Xiao Ziya sendiri sedang sibuk membaca surat yang dikirimkan oleh Raja Yongling Zu untuknya. Ziya mengangkat sedikit alisnya saat membaca bagian tengah dari surat tersebut, untuk apa Raja Yongling Zu mengundangnya makan malam di Istana Kerajaan Bintang Timur?.


"Untuk menjalin hubungan yang lebih baik antara dua kerajaan, alasan kuno macam apa yang pria itu gunakan. Haruskah saya datang kesana dan melihat bagaimana kondisi ibu saya?." tanya Xiao Ziya pada dirinya sendiri, siapkah ia melihat sang ibu tak mengenalinya sebagai seorang anak?.


Setelah berfikir cukup lama, Xiao Ziya memutuskan untuk datang ke Kerajaan Bintang Timur. Mungkin ini jalan terbaik yang dapat gadis itu pilih, siap ataupun tidak Xiao Ziya harus menerima fakta bahwa sang ibu tak akan mengenalinya.


"Mari bersiap untuk pergi ke sana." ucap Xiao Ziya yang pergi mencari Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi, untuk sementara waktu ia akan menitipkan Kerajaan Bulan pada mereka berdua.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. up yang satu lagi nanti sore ya wkwkwk, Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.