
Perjalanan yang dilalui oleh mereka cukup lancar hingga mereka berenam melewati sebuah desa yang nampak sepi seprti tak ada aura kehidupan di sana. Xiao Ziya mencoba untuk masuk kedalam salah satu rumah warga yang tak terkunci pintunya, saat masuk kedalam rumah itu Xiao Ziya tak menemukan satu orang pun.
"Mengapa tak ada orang di desa ini? kemana perginya semua orang." ucap Xiao Ziya yang sangat keheranan. Wingyan yang sedang melihat Xiao Ziya yang sedang mencari cari orang yang ada di desa itu langsung menghampirinya.
"Sudah lama desa ini tak berpenghuni." ucap Wingyan. Xiao Ziya membalikkan badannya dan menatap ke arah pria itu dengan cepat Xiao Ziya menggelengkan kepalanya.
Entah mengapa walau nampak begitu sepi dan tak ada kehidupan di desa itu Xiao Ziya dapat merasakan aura dari ratusan orang yang sedang berlalu lalang di sekitarnya. Xiao Ziya mencoba untuk memecahkan misteri apa yang membuat warga desa itu tak terlihat oleh mata biasa manusia.
Saat gadis itu sedang fokus untuk merasakan kehadiran di sekitarnya tiba tiba ia merasakan ada yang menarik tangannya. Xiao Ziya meminta kelima pemuda itu untuk tetap menunggu di sana sedangkan Xiao Ziya mengikuti seseorang yang masih menarik tangannya itu. Xiao Ziya masuk kedalam sebuah rumah yang paling besar diantara rumah yang lain.
"Mengapa kau membawaku kesini?." tanya Xiao Ziya yang menyadari bahwa sosok yang menariknya adalah manusia bukan roh.
"Saya tau nona dapat merasakan kehadiran penduduk yang ada di sini, jadi bisakah nona membantu kami?." ucap orang itu yang ternyata seorang wanita, suaranya begitu lembut sehingga Xiao Ziya tau yang sedang berbicara padanya adalah seorang wanita.
"Apa yang bisa saya bantu, dan mengapa kalian bisa tak terlihat seperti ini?." tanya Xiao Ziya yang sangat penasaran dengan cerita dibalik menghilangnya penduduk desa yang ternyata masih ada di desa itu namun mereka tak bisa dilihat oleh orang dari luar desa.
"Semua ini terjadi dua puluh tahun yang lalu, kakek saya bercerita ini semua karna ulah seorang penduduk desa yang dengan sengaja mengusik penyihir yang ada di atas gunung dekat desa ini, lalu karna terganggu dengan kemunculan sang penduduk penyihir itupun membaca sebuah mantra yang membuat penduduk desa itu tak terlihat. Dan ternyata sihir itu juga berpengaruh pada penduduk desa dan juga semua keturunannya." ucap sang wanita yang sedang bercerita dengan suara serak seperti sedang menangis.
Xiao Ziya mencoba untuk mencerna cerita dari sang wanita itu, ia merasa dari ceritanya saja sudah terdengar tak masuk akal dan yang paling membuat Xiao Ziya heran adalah mengapa hanya wanita itu yang bisa memengangnya sedangkan tak ada penduduk lain yang dapat menyentuh tubuh Xiao Ziya. Karna merasa ada keganjilan dari cerita sang wanita akhirnya Xiao Ziya merubah warna matanya menjadi merah.
Benar saja, wanita yang ada di hadapan Xiao Ziya kini terlihat sangat jelas ia juga bisa melihat para penduduk yang sedang menggelengkan kepala mereka sebagai pertanda bahwa Xiao Ziya tak perlu membantu wanita yang ada di depannya itu.
"Bagaimana? apakah nona muda bersedia membantu saya?." ucap sang wanita yang tak menyadari jika kini Xiao Ziya sudah bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Ah bagaimana rupa penyihir itu?." tanya Xiao Ziya yang berpura pura ingin membantu sang wanita.
"Penyihir itu sangat cantik, memiliki lensa mata berwarna hijau cerah, dan senyuman yang sangat menawan." ucap sang wanita dengan sebuah senyuman menawan di bibirnya.
Mendengar perkataan dari sang wanita bisa dipastikan ialah penyihir yang dimaksud karna ciri cirinya sangat mirip sekali. Xiao Ziya yang mulai memahami permainan dari wanita penyihir itu akhirnya mengertu bahwa ia sedang dijebak.
Sebuah api berwarna hitam pekat keluar dari telapak tangan Xiao Ziya, ia melemparkan api itu tepat mengenai wanita yang ada di hadapannya itu, sang wanita yang terkejut tak sempat menghindari serangan dari Xiao Ziya.
"Arrrgh mengapa kau malah menyerangku, aku membutuhkan bantuanmu." ucap penyihir wanita yang menjerit kesakitan karna badannya terbakar.
"Anda kira saya bodoh? saya tau bahwa penyihir yang anda maksut adalah diri anda sendiri. Dan mengapa tubuh anda juga ikut transparan seperti penduduk desa ini? itu karna anda juga bagian dari desa ini." ucap Xiao Ziya yang sudah bisa menebak dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi di desa itu. Ia juga sengaja membakar sang penyihir karna ada seorang penduduk yang memberikan isyarat untuk membunuh sang penyihir.
"Sialan bagaimana kau bisa mengetahuinya, padamkan api ini cepat." ucap penyihir wanita yang tampak sangat marah pada Xiao Ziya yang nampak tak peduli dengan triakan kesakitannya.
"Bukankah kau adalah penyihir hebat? mengapa kau tak padamkan sendiri." ucap Xiao Ziya yang semakin membuat hati sang penyihir wanita terbakar amarah.
Wanita penyihir itu membacakan banyak sekali mantra sihir namun api hitam yang membakat tubuhnya tak kunjung padam juga sehingga sang penyihir wanita mulai panik. Perlahan lahan bagian tubuhnya menghilang, yang paling membuatnya tak percaya adalah api itu juga sanggup membakar jiwanya.
"Arrgh aku belum ingin mati cepat padamkan apimu ini bocah." ucap penyihir wanita yang semakin menjadi jadi.
Setengah jam berlalu tubuh sang penyihir wanita terbakar habis, dengan sangat mendadak tubuh para warga desa itu kembali seperti semula. Lima pemuda yang masih menunggu Xiao Ziyapun merasa sangat terkejut saat melihat para penduduk desa yang sedang melakukan aktivitas mereka.
"Dari mana semua penduduk ini muncul?." ucap Ling Yungha yang merasa aneh karna tiba tiba desa yang sepi menjadi sangat ramai.
"Permisi paman dari mana kalian semua datang?." tanya Linseng pada salah seorang pria yang lewat di depannya. Saat ditanyai oleh Lingseng pria itu juga nampak begitu terkejut.
"Kau bisa melihatku anak muda?." tanya pria itu yang nampak begitu senang, namun pertanyaan pria itu membuat Linseng semakin keheranan.
"Tentu saja, saya memiliki mata." ucap Linseng yang sedang berfikir keras mengapa pria itu menanyakan hal yang sangat aneh.
Tiba tiba saja pria itu berteriak dengan sangat keras sehingga para penduduk desa lain datang menghampirinya. Mata para penduduk nampak berbinar binar.
"Kalian bisa melihat kami?." tanya seorang gadis pada kelima pemuda yang merupakan rombongan Xiao Ziya.
"Iya kami bisa melihat kalian." ucap Wingyan yang menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Semua penduduk tiba tiba bersujud di tanah, mereka nampak sangat bahagia karna bisa terlihat lagi oleh orang luar desa itu. Saat kelima pemuda itu sedang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi tiba tiba Xiao Ziya datang bersama beberapa orang dari desa itu dan juga seorang pria tua yang merupakan kepala desa.
"Nona baik baik saja?." tanya Wingyan yang sedikit khawatir pada Xiao Ziya.
Kepala desa itu bertrimakasih pada Xiao Ziya karna gadis itu telah membantu penduduk desanya, dan Xiao Ziya hanya mengatakan bahwa membantu orang lain adalah tugasnya sebagai manusia selama orang itu tak membuat masalah dengan Xiao Ziya maka gadis itu akan siap untuk membantunya.
"Jadi sebenarnya desa ini berpenghuni?." tanya Yao Min salah satu pemuda yang ada di kelompok Xiao Ziya.
"Ia desa ini memang berpenghuni, hanya saja penduduknya tak terlihat karna ulah seorang penyihir wanita." ucap Xiao Ziya yang menjelaskannya secara singkat.
Setelah semuanya selesai dan tak ada lagi masalah di desa itu akhirnya Xiao Ziya dan kelima pemuda pergi untuk melanjutkan perjalanan mereka yang masih sangat panjang.
Kini mereka mulai memasuki wilayah kutub yang ada di selatan, udara dingin mulai menyambut kedatangan mereka, tanah dan tanaman tanaman terlapisi oleh salju. Xiao Ziya yang belum terbiasa dengan tempat yang sangat dingin seperti itu akhirnya menyelimutu seluruh tubuh dengan api berwarna putih yang sangat transparan sehingga tak dapat dilihat oleh siapapun.
"Nona baru pertama kali datang ke wilayah selatan sebaiknya nona menggunakan pakaian tebal." ucap Ling Yungha yang menyarankan agar Xiao Ziya memakai baju tebal agar tak kedinginan.
"Tubuh saya akan selalu hangat jadi kalian tak perlu cemas." ucap Xiao Ziya.
Merekapun terus berjalan melewati wilayah bersalju itu, tak lama lagi Xiao Ziya dan yang lainnya akan sampai di Akademi Merpati karna bangunanya sudah dapat dilihat dengan jelas. Karna sudah tak sabar untuk sampai di sana akhirnya Xiao Ziya meningkatkan kecepatannya hingga ia sampai di gerbang masuk Akademi Merpati.
Empat orang murid akademi yang bertugas untuk menjaga gerbang masuk menghentikan langkah Xiao Ziya.
"Maaf nona, hanya penduduk wilayah selatan dan orang orang yang memiliki izin saja yang diperbolehkan masuk kedalam." ucap salah satu dari keempat murid itu.
Tak lama kemudian kelima pemuda yang sempat ketinggalan di belakang itu menyusul.
"Salam kami pada ketua kedua." ucap keempat murid itu yang menyambut kedatangan ketua kedua Akademi Merpati bersama dengan keempat muridnya.
"Mengapa kalian tak mengizinkan nona ini masuk? ia datang bersama kami." ucap Wingyan yang ingin menjamin Xiao Ziya agar ia bisa masuk kedalam Akademi Merpati.
Namun keempat murid itu tetap melarang Xiao Ziya untuk masuk karna itu adalah perintah dari kepala akademi yang tak ingin menerima murid baru untuk sementara waktu karna ada beberapa bangunan di akademi yang rubuh karna diterjang angin yang sangat kencang.
"Katakan pada Tuan Xi Sunbi bahwa saya Xiao Ziya dari Akademi Kekaisaran Qiyu datang untuk menemuinya." ucap Xiao Ziya yang menyebutkan siapa namanya dan dari mana ia berasal.
Mendengar itu salah satu murid langsung berlari kedalam untuk menemui kepala Akademi Merpati.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang kerja kepala Akademi Merpati yang diketuk oleh salah seorang murid yang berjaga di gerbang masuk. Akhirnya Xi Sunbi mempersilahkan murid itu untuk masuk kedalam ruang kerjanya.
"Ada apa kau datang kemari bukankah hari ini tugasmu menjaga gerbang?." tanya Xi Sunbi yang sedang menanyai muridnya itu.
"Maaf kepala akademi, di luar gerbang ada seorang gadis yang bernama Xiao Ziya dari Akademi Kekaisaran Qiyu ingin bertemu dengan anda, namun karna anda meminta saya untuk melarang orang luar masuk akhirnya ia menunggu diuar." ucap sang murid yang hampir membuat Xi Sinbi mati tersedak ludahnya sendiri.
Dengan segera kepala Akademi Merpati menemui Xiao Ziya yang sedang menunggunya di luar gerbang masuk akademi, wajah kepala akademi sangat pucat karna ia takut akan membuat gadis itu marah. Bagaimanapun juga Xiao Ziya adalah gadis baik yang telah membantu mereka saat turnamen tahunan antar akademi yang ada si dunia bawah.
"Mohon maaf atas ketidak tahuan saya atas kedatangan nona Ziya." ucap Xi Sunbi yang langsung membungkuk hormat dihadapan Xiao Ziya karna ia merasa sangar bersalah.
"Tak apa tuan Xi Sunbi, bolehkah saya masuk kedalam?." tanya Xiao Ziya dengan sopan karna ia tak ingin membuat masalah di sana.
"Tentu saja silahkan nona." ucap Xi Sunbi yang mengantar Xiao Ziya menuju ruang kerja miliknya.
Sedangkan Wingyan berserta keempat muridnya dan empat murid yang menjaga gerbang masuk hanya bisa terdiam saat melihat kepala akademi mereka begitu menghormati gadis muda itu.
"Siapa dia sebenarnya?." ucap Ling Yungha yang sangat penasaran dengan identitas Xiao Ziya.
"Entahlah sebaiknya kalian cepat masuk ke dalam dan kembali ke asrama." ucap Wingyan yang meminta keempat muridnya untuk kembali ke asrama masing masing sedangkan ia harus pergi ke ruang kerja para ketua Akademi Merpati.
Saat ini Xiao Ziya dan Xi Sunbi sudah ada di ruang kerja kepala akademi. Xi Sunbi masih berkeringat dingin karna ia takut Xiao Ziya akan marah karna ketidak sopanan murid muridnya yang sedang menjaga gerbang.
"Maaf atas ketidak sopanan murid murid saya." ucap Xi Sunbi yang meminta maaf pada Xiao Ziya.
"Tidak masalah mereka hanya mematuhi perkataan anda." ucap Xiao Ziya yang merasa tak masalah karna para murid hanya mematuhi apa yang diperintahkan oleh kepala akademi mereka.
Hai hai semua akhirnya aku update lagi, gimana kabar mereka sekarang semoga baik baik aja ya, jangan lupa follow yang belum follow, vote karna hari ini tiket vote kalian udah keisi lagi, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share, tips juga okey guys.