
Matahari sudah menampakkan diri. Pangeran Kegelapan tengah bersiap untuk pergi ke Akademi Kekaisaran untuk menjemput Xiao Xun.
"Apakah ini keputusan yang baik? bagaimana jika gadis itu marah karna tak dijemput." ucap Pangeran Kegelapan yang tengah berjalan menuju gerbang isatana.
Saat Pangeran Kegelapan berada di luar istana ia tak sengaja bertemu dengan rombongan dari Kerajaan Xingmen. Rombongan mereka terlihat sangat besar jika hanya untuk berkunjung saja. Pangeran Kegelapan memiliki firasat bahwa kedatangan mereka pasti memiliki maksud tertentu.
"Aku harus secepatnya menjemput Xiao Xun." ucap Pangeran Kegelapan yang langsung melesat pergi menuju akademi.
Saat ini murid murid akademi sedang ada di kelas mereka masing masing, brgitupun dengan Xiao Ziya dan taman tamannya mereka kini sedang berlatih pedang di lapangan.
"Saat melihat wajah gadis itu aku benar benar ingin menusuknya dengan pedangku." ucap Zhao Wunjin yang terlihat masih sangat kesal pada Xiao Ziya akibat kejadian kemarin. Karna Xiao Ziya Zhao Wunjin cidera cukup parah.
"Sudahlah, apakah kau tak sayang dengan nyawamu." ucap Zhao Mingen yang menasehati temannya itu.
Menurut Zhao Mingen perbedaan kekuatan antara Zhao Wujin dan juga Xiao Ziya memanglah sangat jauh. Jika temannya itu mengusik Xiao Ziya bisa saja akan terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.
"Tentu saja aku akan membalasnya nanti." ucap Zhao Wujin yang tak ingin mendengarkan nasehat dari temannya.
Saat ini Xiao Ziya sedang fokus dengan latihan berpedangnya. Wen Ciyan adalah guru mereka hari ini, Wen Ciyan sedikit terkejut dengan skill berpedang yang dimiliki Xiao Ziya.
"Kau kemarilah." ucap Wen Ciyan sambil menunjuk ke arah Xiao Ziya yang masih fokus dengan langkah langkah yang ia pelajari semalam.
Dalam berpedang tak hanya mengandalkan kecepatan dan ketajaman saat mengayunkan pedang, namun langkah kaki juga harus diperhatikan agar jurus yang dikeluarkan lebih efektif dan dapat melukai musuh. Jika salah memperhitungkan langkah yang akan diambil bisa saja musuh yang melukai terlebih dahulu.
"Adik, kau dipanggil oleh guru." ucap Xiao Yuna dengan sedikit berteriak karna ia tau saat berlatih seperti itu Xiao Ziya akan sangat fokus dan tak akan menghiraukan panggilan orang lain.
"Ah maaf aku terlalu fokus." ucap Xiao Ziya yang langsung sadar jika sang guru tengah meneriaki namanya sedari tadi.
Dengan cepat Xiao Ziya berjalan ke arah gurunya.
"Mengapa kau sangat lama." ucap Wen Ciyan dengan sedikit menggerutu. Walau ia tau gadis yang ada dihadapannya ini bukanlah gadis biasa. Namun Wen Ciyan ingin mengajari gadis itu untuk hormat pada gurunya.
"Maaf guru Ciyan, saya tadi terlalu fokus berlatih hingga tak mendengar jika anda sedang memanggil saja." ucap Xiao Ziya kemudian gadis itu membungkuk sebagai permintaan maafnya.
Wen Ciyan tadinya mengira gadis itu akan balik memarahinya namun dugaanya salah, Xiao Ziya tak seburuk apa yang ia bayangkan. Setidaknya gadis itu tau bagaimana cara meminta maaf ketika ia menyadari kesalahan yang ia buat.
"Baiklah lain kali jika ada guru yang memanggilmu kau harus cepat datang." ucap Wen Ciyan yang tak ingin mempersalahkan hal itu lagi.
"Baik guru Ciyan." ucap Xiao Ziya sambil mengangguk patuh.
Setelah itu Wen Ciyan menjelaskan mengapa ia memanggil Xiao Ziya. Gadis itu sedikit terkejut saat mendengar permintaan dari gurunya itu.
"Anda ingin bertanding pedang dengan saya? bukankah saya hanya murid luar baru." ucap Xiao Ziya yang merasa keheranan saat mendengar gurunya itu ingin bertanding pedang dengannya.
"Walau kau murid luar baru, namun kemampuan berpedangmu lebih baik dari yang lain." ucap Wen Ciyan.
Mendengar pernyataan dari sang guru membuat murid murid yang lain merasa heran, bagaimana bisa Xiao Ziya memiliki skill berpedang yang mumpuni padahal sebagian dari mereka tau gadis itu jarang berlatih ilmu pedang.
"Bukankah adik Ziya jarang mengikuti kelas berpedang saat di klan." ucap Xiao Xinzo yang merasa ini semua sangat membingungkan.
Apakah Xiao Ziya memang terlahir dengan segudang bakat yang membuat orang lain iri.
"Mungkin saja adik Ziya berlatih pedang secara diam diam." ucap Xiao Feng yang mencoba untuk menebak apa yang dilakukan gadis itu selama ini.
"Baiklah jika begitu saya menerima permintasn guru." ucap Xiao Ziya yang langsung mengambil sebuah pedang yang ada didekatnya.
Wen Ciyan tentunya tak ingin kalah ia juga mengambil sebuah pedang yang ada dalam ruang penyimpanannya. Pedang itu terlihat sangat kuat dengan aura putih yang mengelilinginya.
"Guru bukankah itu senjats tingkat tinggi." ucap Xiao Yuna yang sedikit terkejut dengan tindakan gurunya.
Karna bagaimanapun pertandingan yang akan berlangsung tidaklah adil. Perbedaan tingkatan senjata sangatlah mencolok bisa saja guru mereka nanti akan melukai Xiao Ziya.
"Sudahlah ini bukan masalah besar untukku." ucap Xiao Ziya sambil tersenyum. Ia mengisyaratkan pada teman temannya bahwa semua akan baik baik saja.
"Cih gadis itu terlalu percaya diri, akan lebih baik jika guru Ciyan memberinya sedikit pelajaran." ucap Zhao Wujin yang bisa didengar oleh semua orang.
Saat ini pertandingan antara Xiao Ziya dan juga Wen Ciyan akan segera dimulai. Mereka berdua sudah siap di posisi masing masing. Wen Ciyan menyerang Xiao Ziya terlebih dahulu. Serangan demi serangan tak ada celah bagi Xiao Ziya untuk membalasnya.
Untung saja gadis itu dapat menahan setiap serangan yang gurunya berikan sehingga ia tak terluka. Xiao Ziya mulai fokus dengan pola serangan yang dilakukan gurunya dan mulai mencari celah untuk melakukan perlawanan.
Akhirnya ada sebuah kesempatan tentu saja Xiao Ziya tak akan menyia nyiakannya. Gadis itu langsung melakukan serangan balik. Bahkan jurus pedang milik Xiao Ziya jauh lebih tajam dan juga cepat.
"Apakah dia itu masih manusia?." ucap Migumi yang tertegun dengan keahlian berpedang milik Xiao Ziya.
Setelah beberapa saat perlawanan demi perlawanan dilakukan. Pedang milik Xiao Ziya dan juga Wen Ciyan saling bersilangan. Mereka berdua mulai menekan satu sama lain hingga terdengar suara gesekan yang sangat nyaring.
Dan tiba tiba saja pedang milik Wen Ciyan yang merupakan senjata tingkat tinggi patah begitu saja. Xiao Ziya tersenyum miring dan mengakhiri pertarungan itu dengan ia yang menjadi pemenang.
"Bagaimana ini bisa terjadi? kualitas pedangku jelas lebih bagus darimu." ucap Wen Ciyan yang sedikit tak terima dengan hasil pertandingan itu. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang guru sudah hancur.
Wen Ciyan sengaja menggunakan senjata tingkat tingg agar bisa menang dari Xiao Ziya, namun ia tak pernah menyangka bahwa pedang biasa ditangan gadis itu bisa berubah menjadi senjata yang sangat kuat.
"Ilmu berpedang bukan tentang seberapa tinggi level pedang yang kau miliki, namun seberapa jauh kau memahami ilmu berpedang itu." ucap Xiao Ziya dengan nada dinginnya, sejak awal Xiao Ziya tau bahwa gurunya mengajaknya bertarung untuk menaikkan statusnya.
"Ah maafkan aku." ucap Wen Ciyan yang meminta maaf pada Xiao Ziya karna merasa bersalah.
Setelah pertandingan itu selesai semua murid luar baru bisa beristirahat terlebih dahulu, sedangkan Wen Ciyan memilih untuk kembali ke tempat tinggalnya yang ada di dalam akademi.
"Adik apakah kau sering berlatih pedang?." tanya Xiao Feng yang sangat penasaran dengan skill Xiao Ziya yang terlalu luar biasa.
"Tidak juga, aku berlatih pedang jika aku sempat." jawab Xiao Ziya dengan santai.
Jika gadis itu berlatih pedang saat ia sempat saja dan kemampuannya sudah luar biasa bagaimana jika ia berlatih setiap hari, bukankah hasilnya tak akan bisa dibayangkan.
Sedangkan ditempat lain saat ini Pangeran Kegelapan sudah berada di kantor kepala akademi, ia sedang meminta izin libur beberapa hari untuk Xiao Xun.
"Apakah kau benar benar tak akan meminta izin untuk nona Xiao Ziya?." ucap Ling An dengan wajahnya yang sedikit pucat.
"Kaisar memintaku untuk meminta izin untuk adik laki lakinya saja." ucap Pangeran Kegelapan.
"Baiklah kalau begitu saya akan mengantarmu ke tempat berlatih Xiao Xun, dan kau bisa menjemputnya." ucap Ling An yang segera bangun dari kursinya dan pergi menuju suatu tempat.
Murid inti Akademi Kekaisaran memiliki ruangan khusus sebagai tempat berlatih mereka. Saat ini Xiao Xun sedang berlatih dengan teman temannya yang lain.
"Guru Ma Ejiu bisakah anda panggilkan Xiao Xun kemari." ucap Ling An saat ada di depan pintu sebuah ruangan.
Mendengar namanya disebut Ma Euji menengok sebentar, setelah tau kepala akademi yang memerintahnya tadi ia langsung berjalan menghampiri Xiao Xun.
"Xun, kepala akademi mencarimu. Kau bisa menemuinya." ucap Ma Euji pada muridnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu guru." ucap Xiao Xun membungkuk sebentar kemudian ia pergi.
Saat ada di depan pintu ia melihat ke arah Pangeran Kegelapan, mengapa pria itu bisa ada di sini.
"Jendral muda datang kesini untuk menjemputmu pulang, kaisar membutuhkanmu." ucap Ling An yang menjelaskan situasinya saat ini.
Hai semua apa kabar, semoga sehat terus ya. Jangan lupa vote, komen, like, rate, share ya