
Tanpa sadar Xiao Ziya tertidur di kursi peserta turnamen yang tertuliskan namanya, gadis itu selalu tertidur dimanapun di saat memiliki waktu luang seperti sekarang. Xiao Ziya bisa tidur dengan tenang karna tempat itu juga dijaga oleh banyak prajurit sehingga keamanan sangat tinggi.
Sedangkan saat ini Zo Binje, Zo Jeni, dan juga Zo Ruhi sudah sampai di istana Kekaisaran Binzo. Melihat ketiga anaknya kembali membuat Ratu Zo Binji merasa tenang. Ia sangat cemas ketika anak anaknya bepergian keluar setelah penyerangan yang terjadi padanya semalam, hingga saat ini Ratu Zo Binji masih penasaran dan ingin bertemu dengan gadis yang menyelamatkannya.
"Ibunda." ucap Pangeran Zo Binje yang langsung menghampiri Ratu Zo Binji. Ia merasa bersalah karna tak bisa menjaga adiknya dengan baik.
"Mengapa putraku terlihat sedih?." tanya Ratu Zo Binji yang keheranan dengan tingkah putra keduanya itu.
"Maaf karna saya telah lalai dalam menjaga adik Ruhi, untung saja ada seorang gadis muda yang bersedia menjaganya hingga kami datang." ucap Pangeran Zo Binje yang kemudian menjelaskan dengan detail kejadian yang menimpanya, saudari kembarnya, dan juga adik perempuannya yang paling kecil.
"Seorang gadis kecil cantik? dengan mata dan rambut yang indah." ucap Ratu Zo Binji yang langsung teringat dengan gadis yang membantunya kemarin.
Pangeran Zo Binje dan Putri Jeni tentu saja terkejut saat sang ibunda mengetahui ciri ciro dari gadis yang menolong mereka hari ini. Apakah ibundanya kenal dengan gadis yang sudah membantu mereka.
"Ibunda mengenal gadis itu?." ucap Putri Zo Jeni.
"Tidak, namun sepertinya itu gadis yang sama." ucap Ratu Zo Binji yang merasa bahwa keluarganya memiliki hutang budi pada sang gadis dan ia harus segera menemukannya.
"Dia gadis yang membantu ibunda semalam?." tanya Pangeran Zo Binje yang juga syok bagaimana gadis yang sama bisa menolong keluarga mereka, apakah ini sebuah takdir atau suatu kebetulan tak ada yang mengetahuinya.
Saat ini Xiao Ziya masih terlelap dalam posisinya semula hingga ada seseorang yang mencubit pipi Xiao Ziya hingga gadis itu terbangun dan membelalakkan matanya. Xiao Ziya kaget bukan main untung saja ia tak reflek untuk memukul orang itu.
"Apa yang dilakukan adik manis di sini?." ucap seorang pemuda yang sekiranya berumur tiga belas tahun tak terlalu jauh dari umur Xiao Ziya.
"Tentu saja tidur, dan siapa kamu?." tanya Xiao Ziya yang merasa heran dari mana datangnya pemuda itu.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu, mengapa adik manis bisa di tempat dilangsungkannya turnamen esok hari?." ucap pemuda itu yang lebih penasaran dengan siapa Xiao Ziya daripada menjelaskan tentang identitasnya.
"Saya salah satu perwakilan murid yang akan ikut dalam turnamen esok hari." ucap Xiao Ziya dengan singkat, ia ingin segera kembali ke penginapan dan melanjutkan tidurnya .
"Wah adik manis sepertimu ikut turnamen? bagaimana jika kau terluka nanti." ucap pemuda itu yang tak menyangka bahwa gadis yang ada di hadapannya itu adalaj seorang murid dari sebuah akademi yang berpartisipasi dalam turnamen.
"Saya sudah berjanji pada teman dan saudara saya bawa saya akan kembali dengan selamat, jadi anda tak perlu khawatir. Saya sedang ada urusan lain permisi." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi meninggalkan pemuda itu yang masih penasaran dengan identitasnya.
Matahari sudah digantikan oleh rembulan, diginnya malam menggantikan suasana hangat dari sang mentari. Semua orang sudah tidak sabar untuk menyaksikan turnamen yang akan dilaksanakan esok pagi.
Banyak para perwakilan murid yang berjalan jalan di sekitar tempat penginapan mereka, suasana jalan yang ada di pusat kota Kekaisaran Binzo sangat padat dan ramai. Namun ada satu gadis yang masih terlelap dalam tidurnya dan tak perduli dengan hiruk pikuk yang terjadi di luar penginapannya.
Permaisuri Zo Nixu adalah seorang gadis yang begitu beruntung, ia bukanlah anak seorang bangsawan, anak seorang raja, apapagi anak dari golongan terpandang. Permaisuri Zo Nixu adalah seorang pelayan yang melayani permaisuri terdahulu saat ia masih berusia 7 tahun. Permaisuri terdahulu sangat menyukainya hingga ia bertunangan dengan putra mahkota yang kini menjadi seorang kaisar di Binzo. Namun sayang cinta dan kasih sayang milik sang kaisar bukan untuknya melainkan tertuju pada seorang wanita bernama Zo Binji. Tak berselang lama setelah ia dinobatkan sebagai permaisuri, Kaisar Zo Linzu menikah dengan wanita yang sangat ia cintai dan menjadikannya sebagai ratu. Permaisuri Zo Nixu melahirkan keturunan pertama dari Kekaisaran Binzo yaitu Pangeran Zo Runjin, menurut silsilah yang ada seharusnya putra pertamanya itu menjadi putra mahkota dan menjadi kaisar selanjutnya namun Kaisar Zo Linzu hingga sekarang tak menobatkan gelar itu pada putranya.
"Cih bagaimana wanita sialan itu bisa selamat, jika seperti ini aku harus bergerak cepat." ucap Permaisuri Zo Nixu yang memiliki ambisi menjadikan pangeran pertama sebagai kaisar dan menyingkirkan semua pion yang akan menggangu rencananya.
Pagipun telah tiba semua peserta yang ada di penginapan kaisar emas sudah bersiap untuk pergi ketempat diadakannya turnamen, mereka sudah tak sabar lagi untuk berkompetisi mendapatkan juara pertama, kedua, dan ketiga.
Tok tok tok
"Nona Ziya apakah anda sudah bangun." ucap Xu Yuan yang mengetuk pintu kamar Xiao Ziya. Namun seperti biasanya tak ada balasan dari gadis itu.
Xu Yuan terpaksa membuka pintu kamar Xiao Ziya dengan paksa karna mereka harus segera berangkat ke tempat turnamen. Namun ia tak menemukan siapapun di dalam kamar itu yang ada hanya secarik kertas yang diletakkan diatas tempat tidur.
Di dalam kertas itu terdapat tulisan bahwa Xiao Ziya sudah berangkat sedari tadi sehingga mereka bisa berangkat tanpa menunggunya.
"Ah ternyata nona Ziya sudah berangkat. Saya harus menyampaikannya pada Kepala Alademi Ling An." ucap Xu Yuan yang langsung keluar dari kamar Xiao Ziya dan turun kebawah untuk menemui yang lain.
"Nona Ziya sudah berangkat lebih awal." ucap Xu Yuan yang menunjukkan surat yang ditinggalkan oleh Xiao Ziya.
"Baiklah mari kita berangkat." ucap Ling An yang mangakak yang lalin untuk segera pergi.
Tanpa ada yang tau Xiao Ziya sudah ada di tempat turnamen antar akademi yang ada di dunia bawah. Para prajurit yang berjaga sudah lumayan akrab dengan Xiao Ziya, pagi ini gadis itu membagikan roti isi daging pada para prajurit yang berjaga.
"Sepertinya saya datang terlalu awal." ucap Xiao Ziya yang langsung duduk di kursi yang bertuliskan namanya. Seperti biasanya ia memejamkan mata sembari menunggu peserta yang lain datang.
Setelah duapuluh menit berlalu satu persatu semua peaerta mulai berdatangan, hal pertama yang menarik perhatian mereka adalah seorang gadis muda yang sedang duduk sambil memejamkan matanya.
"Aataga lihatlah nona Xiao Ziya sudah ada di sana." ucap Yin Yifeng sambil menunjuk ke arah Xiao Ziya.
"Ah nona Ziya memang sangar rajin jika soal turnamen." ucap Xu Yuan yang sedang menahan tawanya, ekspresi Xiao Ziya saat ini memang sangat lucu dan menggemaskan.
"Kalian segeralah cari kursi yang bertuliskan nama masing masing, saya dan juga Yuan Simo akan menjadi juri dalam turnamen kali ini." ucap Ling An yang langsung pergi kesebuah tempat duduk yang sudah dipersiapkan untuk para juri dalam turnamen kali ini.
**Hai hai semuanya gimana kabar kalian, semoga sehat ya guys. Duh aplikasiku aga eror ga tau knp jadi maaf kalau beberapa hari kedepan aku agak telat updatenya.
Jangan lupa follow aku, komen, vote, kasih hadiah ke aku, like, rate, share**