Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 96


Steve mengajak Wulan untuk berkencan, namun Wulan tidak ingin terburu-buru karena belum ada untung rugi yang dia dapatkan.


"Maaf, Tuan. Kita belum ada kesepakatan tentang hubungan kita nanti. Aku tidak ingin hanya satu malam tanpa ada ganti rugi yang jelas. Ingat, Tuan. Di dunia ini tidak ada yang gratis," ucap Wulan dengan senyum yang dibuat-buat.


Steve yang merupakan seorang pengusaha sukses merasa permintaan Wulan adalah hal yang biasa. Sedari istrinya hamil dan tidak memberikan jatah untuknya, Steve sudah sering jajan di luar.


"Rupanya kau ingin berbisnis denganku, baiklah berapa harga yang kau inginkan selama satu tahun!" tantang Steve pada Wulan.


"Sebentar, Tuan. Semua itu harus aku bicarakan dulu dengan bos saya, Tuan Ridho. Dia lah yang berhak untuk menentukan semua. Tanpa ijin darinya saya tidak bisa menjalin kerja sama dengan Anda," jawab Wulan yang merasa masih punya ikatan dengan Ridho.


"Sialan, aku harus minta ijin dulu pada mas Ridho, karena aku masih sah menjadi istrinya. Jika nanti aku sudah mendapatkan uang banyak maka aku akan mengajukan gugatan cerai padanya. Sementara ini biar aku tahan dulu sampai uang terkumpul," gumam Wulan di dalam hati dengan perasaan benci pada Ridho.


Steve tersenyum, ternyata itu yang menjadi alasan Wulan tidak bisa segera menyetujui permintaannya.


"Baiklah, kau bisa atur dengan bosmu. Berapapun harga yang kalian ajukan, aku akan mempertimbangkannya," sahut Steve.


Hati Wulan sangat girang, ternyata umpan yang ia pasang mendapatkan mangsa yang sesuai dengan keinginannya.


"Sungguh? Anda tidak berbohong?" tanya Wulan untuk meyakinkan dirinya.


"Tentu saja, aku tidak akan berbohong karena aku ada proyek selama satu tahun di kota ini. Itu artinya aku akan berjauhan dengan istriku dalam jangka waktu yang lama. Paling akhir bulan aku akan kembali menjenguk istri dan anakku terlebih dulu, baru nanti kembali lagi di sibi," jelas Steve lagi.


Wulan sudah tidak peduli lagi dengan pesta Tia dan Hans, baginya dengan mendapatkan Steve maka dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih enak.


"Baiklah, kau boleh panggil suamimu sekarang. Saat ini juga kita buat kesepakatan. Mumpung masih pada menikmati hidangan," ujar Steve setengah memaksa Wulan.


Wulan tertegun, sebegitu inginnya Steve bersama Wulan. Wulan pun akhirnya mengangguk, dia hendak mencari Ridho sang suami.


Saat mencari sang suami, Wulan disuguhkan pemandangan yang membuat dirinya melongo. Dengan sabar, Hans menyuapi makan Tia.


"Mengapa mas Hans bisa begitu perhatian, dulu saat bersamaku dia lebih banyak diam. Sekarang bersama Tia, dia bisa sangat perhatian seperti itu. Dasar lelaki aneh! Paling juga nyesel si Tia dapat Hans yang dingin dan kurang pergaulan!" gumam Wulan sembari meremas gaunnya.


Wulan mengambil napa dalam-dalam, dia harus segera mencari sang suami untuk membicarakan bisnisnya dengan Steve.


"Di mana sih, Mas Ridho. Kenapa dicari tidak ada?" gumam Wulan sembari memerhatikan setiap sudut ruangan mencari keberadaan Ridho.


Wulan terus mencari di bagian minuman, dilihatnya Ridho seperti sedang frustasi. Di tangannya sudah ada minuman keras yang entah dari mana asalnya, sebab di pesta itu tidak ada yang menyediakan minuman keras, mungkin Ridho membawa dari rumah.


"Mas, kamu di sini?! Ini ... Mas minum minuman keras?! Sudah, Mas, nanti bisa ditangkap satpam! Mas gak mau kan dikira penjahat!" tegur Wulan yang tidak ingin Ridho ada dalam masalah.


Ridho menatap Wulan sembari tertawa. "Wulan ... Hahaha, dasar wanita perusak rumah tanggaku! Kenapa kau ada di sini!!" teriak Ridho yang rupanya sudah mabuk.


Wulan tercengang sekaligus malu, pasalnya beberapa tamu undangan tengah menatap ke arahnya. Para tamu berkasak kusuk di belakang Wulan.


"Malu? Kamu yang tidak punya malu! Kau telah merampas suami adikmu sendiri! Wanita macam apa itu!!" racau Ridho semakin tidak terkendali, semua yang hadir pun mulai menatap ke arah Ridho.


Wulan tergagap mendengar perkataan Ridho, namun Wulan tidak mempedulikannya, yang terpenting saat ini dia harus bisa membawa Ridho keluar.


"Maaf, Nyonya. Silakan bawa suami anda keluar dari hotel ini. Kami tidak mengijinkan siapapun membuat keonaran di sini!" tegur beberapa orang berpakaian jas hitam. Mereka adalah petugas keamanan yang menyamar menjadi tamu.


"Mm ... maaf, Tuan. Biar saya bawa pulang suami saya," ucap Wulan sembari menunduk pada petugas keamanan.


Wulan menarik paksa sang suami untuk keluar dari hotel tersebut. Tidaklah mudah mengajak Ridho keluar dari hotel tersebut, karena Ridho terus meronta sembari mengumpat kasar pada Wulan.


"Aku tidak mau pulang! Aku ingin di sini bersama Tia! Kau pergi saja dari hidupku, Wulan!" umpat Ridho kasar sembari menepis tangan Wulan yang menarik lengannya.


Plak!


"Hentikan, Mas!! Aku muak! Sebaiknya kau pulang saja sendiri! Petugas keamanan, tolong bawa lelaki tidak berguna ini pulang! Saya bukan istrinya, saya hanya sekretarisnya saja!" pekik Wulan pada petugas keamanan.


Wulan tidak sadar jika dirinya disaksikan semua yang ada di pesta termasuk Tia dan Hans. Tia dan Hans melongo, menatap tidak percaya pada Wulan yang tidak mengakui Ridho sebagai suaminya.


Petugas keamanan pun membantu Wulan untuk membawa Ridho keluar dari hotel itu.


"Ini alamat rumahnya, Pak. Antar saja lelaki itu pulang ke rumahnya!" Wulan memberikan alamat rumah pada petugas keamanan tersebut.


"Baik, Nyonya. Akan kami antar tuan ini ke rumahnya," jawab sang petugas keamanan.


"Terima kasih, Pak. Ini Tips untuk Anda," ucap Wulan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu pada sang petugas keamanan.


Dengan tersenyum, petugas keamanan itu menerima uang tips dari Wulan, lalu mereka melaksanakan tugasnya membawa Ridho pulang kembali ke rumahnya.


Sementara itu Wulan kembali menuju ke aula dimana pesta Tia dan Hans berlangsung. Wulan kembali hanya untuk Steve. Dia tidak bisa melepaskan begitu saja mangsa yang sudah di tangan.


"Maaf, tuan Steve. Bos saya senang bikin masalah. Kalau mabuk saya dikira istrinya, dasar aneh!" ucap Wulan saat kembali menemui Steve.


Steve tersenyum, dia juga tidak ingin melepaskan wanita yang sudah menjadi incarannya begitu saja.


"Tidak apa-apa, Wulan. Aku tahu, memang seorang bos akan selalu merepotkan sekretarisnya. Apa lagi sekretaris yang cantik sepertimu ini," rayu Steve pada Wulan. Membuat Wulan menjadi tersanjung.


Tia dan Hans bernapas lega, keributan sudah diatasi oleh sang petugas keamanan.


"Aku heran, mengapa mas Ridho bisa mabuk seperti itu. Padahal kita tidak menyediakan minuman keras 'kan, Mas?" tanya Tia lirih pada Hans.


Hans mengerutkan keningnya, apa yang diucapkan Tia ada benarnya, di hotelnya tidak ada minuman keras.