
Demi untuk membuat sang suami tidur nyenyak, Tia pun akhirnya menuruti keinginan sang suami. Hans pun memegang kata-katanya hanya melakukan satu ronde, mengingat kondisi Tia yang baru capek setelah acara tasyakuran.
Pagi menjelang, hari ini adalah terakhir penantian mereka untuk pesta pernikahan. Hari terakhir pula, Tia menjalani perawatan karena besok dia sudah dirias menjadi pengantin.
"Mas ... bangun, ayo sholat subuh," ajak Tia pada sang suami yang masih tidur nyenyak.
"Entar masih nanggung!" racau Hans tanpa sadar. Entah apa yang dia mimpikan di dalam tidurnya.
Tia membulatkan matanya terheran dengan kata-kata Hans. Tia yang sudah sholat subuh duluan pun membangunkan sang suami dengan mengambil selimut yang menutupi tubuh sang suami.
"Astagaaaa ...!" pekik Tia yang terkejut. Dia pun menutup matanya.
Mendengar sang istri berteriak, Hans pun terbangun.
"Tia, ada apa?" Hans duduk memandang sang istri yang menutup mata dengan kedua tangannya.
"Itu ... Mas!" Tia menunjuk ke arah bagian bawah Hans yang tidak dia tutupi.
Hans melongok ke arah yang ditunjuk oleh Tia. Seketika Hans pun menutupinya dengan bantal sang Cacing gilig.
"Maaf, lupa kemarin belum dikandangin," ucap Hans gugup menahan malu yang luar biasa.
"Mata suciku ternoda, Mas! Tapi kok lucu ya bentuknya?" ucap Tia bikin Hans salah tingkah. Ada-ada saja istri mungilnya itu.
"Lucu? Mau??"
"Tidaaaak ...!"
Tia lari tunggang langgang keluar kamar dengan napas yang tersengal. Badan belum pulih benar, selain hari ini Tia kudu perawatan terakhir.
"Hahaha ...!" Hans bangkit dari tidurnya menuju ke kamar mandi sambil tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya Hans mendapat cara untuk menggoda sang istri. Benih cinta pun mulai tumbuh berkecambah.
Tia dengan napas ngos- ngosan berlari menuju ke dapur. Gegas Tia mengambil segelas air putih lalu meminumnya sampai tandas.
"Astagaa ... Kenapa bentuknya seperti itu sih?" Tia bermonolog sendiri, sembari bergidik geli mengingat apa yang ia lihat di kamar.
"Tia, kamu kenapa? Kok bergidik sendiri?"
Deg ... Deg ....
"Uhuk ...."
Tia yang terkejut tiba-tiba tersedak, dia pun menoleh ke arah sumber suara.
"Oh, Ibu. Tidak ada apa-apa kok," jawab Tia menutupi semua. Tia tidak mungkin menceritakan apa yang baru saja dia lihat.
"Tapi kenapa kau bergidik seperti itu? Apa kau lihat hantu?" tanya Ningsih konyol. Masa iya pagi hari ada hantu yang lewat?
Tia bingung harus menjawab apa. Berusaha mencari jawaban yang tepat. Hal yang sepele tapi membuat malu Tia.
"A ... Anu, Bu. Bukan hantu tapi cacing yang lewat di lantai tadi," jawab Tia sedapatnya.
"Oh, cacing? Paling juga dari kebun belakang. Biasa musim hujan begini banyak cacing yang naik. Oh ya, kamu mau bikin sarapan?" Ningsih bertanya Tia akan membuat masakan apa.
Tia lagi-lagi terdiam, dia tadinya hanya berniat kabur ke dapur lantaran untuk menghindari Hans.
"Belum ada pikiran mau masak apa, Bu. Bingung juga, Mas Hans suka sarapan apa," jawab Tia jujur. Dia hanya tahu kalau Hans suka nasi goreng. Selain itu, Tia belum tahu.
"Hans suka omlet isi sosis. Jika ada itu, masakan yang lain pasti lewat, kalah dengan omlet isi sosis," jawab Ningsih dengan senyum yang bahagia. Sang menantu menunjukkan kalau dia begitu sayang pada anaknya.
"Baiklah, Bu. Tia akan membuatkan omlet untuk mas Hans. Terimakasih sarannya," ucap Tia dengan senyum lega. Ide untuk masak sarapan telah ia dapatkan.
Gegas Tia meracik semua bahan yang ada di dalam lemari es. Mulai dari telur, sosis, dan bahan yang lain ia eksekusi dengan cepat.
"Mmm ... Harum sekali bau masakannya," bisik Hans yang tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya di perut Tia dari belakang.
"Astaghfirullahal adziiim ... Mas!" pekik Tia terkejut saat sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Hmm ... Iya, Sayang. Ini mas Hans, bukan hantu. Jadi tidak perlu teriak ya ...!" bisik Hans di telinga Tia.
Tia mencoba meronta, ingin lepas dari Hans. Namun, semakin meronta maka Hans semakin erat mendekapnya dari belakang.
"Mas ... Aku mau masak dulu!" Tia merasa kesal terganggu masaknya.