
Dengan perasaan kecewa Alya pergi dari kantor Nigam, tidak ada gunanya jika terus ada di sini, karena pada akhirnya ia akan dipermalukan oleh Nigam. Dia benar-benar laki-laki yang berkelakuan seperti hewan.
"Lihat saja, Mas! Aku akan melakukan berbagai macam cara supaya kau mau bertanggung jawab atas apa yang ada di dalam kandunganku ini!" geram Alya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada titik dendam di hati Alya.
Sementara Nigam merasa bodoamat dengan apa yang terjadi, dia tetap melanjutkan pekerjaannya dan melupakan Alya. Sebenarnya Nigam mau memberikan pada Alya uang, supaya Alya mau menggugurkan kandungannya. Tetapi Alya tidak mau, memang Apa untungnya mempertahankan bayi itu? Lagian mau bagaimanapun Alya membujuk, ia tetap tak akan mau bertanggungjawab.
"Kurang ajar!! Mengapa sampai bisa Alya hamil! Apa dia berbohong padaku? Hanya ingin aku menikah dengannya?!" Ucap Nigam bermonolog dengan dirinya sendiri dengan tangan terkepal sedangkan yang satu terdiam dengan gips, tangan Nigam belum seutuhnya kembali sehat.
**
Siang harinya setelah mengantarkan Tia periksa, Hans mengantar Tia untuk bertemu dengan adiknya. Hari kedua si Aris belum masuk kerja. Mendadak suasana hatinya sedang tidak enak. Dia memutuskan untuk tidak masuk kerja lagi.
Saat Tia sampai di rumah, Tia mendapati Aris dengan raut wajah yang sedih duduk di teras seorang diri.
Tia menatap kondisi adiknya yang menyedihkan. Aris memang sedikit lebih pendiam setelah dia memergoki diri calon istrinya bersama dengan pria lain. Tia berusaha untuk membujuk supaya adiknya itu bisa move on. Mau bagaimanapun Tia tidak ingin adiknya larut dalam kenangan Alya.
"Assalamu 'alaikum, Aris. Kamu melamun?" Sapa Tia pada Aris yang sedang duduk melamun..
"Wa'alaikum salam, Mbak Tia. Mbak datang ke sini? Dengan siapa, Mbak?" jawab Aris balik bertanya pada Tia.
"Itu sama mas Hans. Tadi habis periksa ke dokter kandungan, lalu ke sini. Kata sekretaris mas Hans kamu tidak masuk kerja lagi. Sudah dua hari ini kamu tidak masuk kerja. Ada apa, Aris?" tanya Tia duduk di kursi samping Aris.
Hans yang melihat keadaan Aris dari kejauhan pun merasa iba, mau bagaimanapun dia adalah adik iparnya. Rasanya memang menyakitkan, perempuan yang akan kita jadikan sebagai calon istri ternyata telah melakukan hubungan terlarang dengan pria lain dan bahkan di belakang kita. Aris sudah tidak berharap lagi pada Alya. Namun rasa sakit itu masih ada, walaupun Aris sudah berusaha untuk melupakan Alya dan mulai membuka hati untuk wanita lain.
"Tidak apa-apa, Mbak. Aris hanya merasa menjadi lelaki yang paling bodoh di dunia ini. Tidak sadar saat mbak Tia dan mas Hans mencoba untuk membuka mata Aris tentang Alya," ucap Aris dengan nada yang sedih. Bagaimana tidak, semua persiapan pernikahan sudah matang, dan tinggal menunggu surat-surat jadi, tapi malah batal begitu saja.
"Aris, kamu jangan sedih seperti ini. Tuhan sudah memberikan kamu jalan yang terbaik dan kehidupan yang lebih baik, itu artinya kamu dibebaskan dari perempuan yang jahat seperti Alya. Jika Tuhan mengirimkan dia yang terbaik untuk kamu dia tidak akan mungkin melakukan hal itu. Lantas untuk apa kamu bersedih?" tanya Tia.
"Mbak, hubungan aku dan Alya berjalan cukup lama. Aku sudah menaruh kepercayaanku kepada dia, tetapi dia malah menghianatiku seperti ini. Sebenarnya dosa apa yang aku perbuat di masa lalu sehingga aku selalu gagal dalam percintaan?" tanya Aris.
"Enggak, Ris. Kamu itu berarti untuk perempuan yang tepat, Alya sekarang sudah mendapatkan ganjarannya. Mbak yakin Nigam tidak akan mau bertanggung jawab atas bayi yang ada di kandungannya, secara Nigam itu hobi sekali bermain-main dengan wanita dan tidak hanya satu wanita saja yang pernah melakukan badan dengan dia. Ada banyak sekali wanita yang sudah bermain ranjang dengan dia, Jadi Mbak yakin dia tidak mau bertanggung jawab atas bayi yang ada di kandungan Alya," ujar Tia.
"Alya hamil, Mbak?" tanya Aris pelan. Tia pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Aris.
"Apa aku terlalu bo doh sampai-sampai aku mengetahui ini baru sekarang? Bahkan aku tidak tahu sejak kapan mereka memiliki hubungan terlarang itu," ujar Aris merutuki kebodohannya sendiri.
Tia begitu sedih melihat kondisi adiknya sekarang ini, siapapun juga pasti akan sedih jika dihadapkan dengan posisi seperti ini. Sudah percaya dengan satu perempuan dan bahkan rela menjaganya dari apapun itu, ternyata perempuan itu yang malah menusuk kita dari belakang dan bahkan membuat kepercayaan itu runtuh hanya sekejap mata.
Aris terlihat lebih kurus, nafsu makan menurun hingga badan Aris terlihat agak kurusan. Tia masih tidak menyangka jika laki-laki sebaik Aris ini telah dikhianati.
"Ris, mbak bawa makanan. Sengaja tadi sebelum datang ke sini, Mbak mampir di warung gudeg yang kau tunjukkan itu. Ternyata enak juga ya. Tadi mbak habis satu piring, dan mas Hans juga habis satu piring lho." Tia mencoba untuk mengalihkan perhatian Aris agar tidak bersedih terus. Padahal baru kemarin dia terlihat ceria, ternyata pengaruh Alya terlihat nyata pada diri Aris.
"Benarkan, Mbak, kalau di sana itu enak gudegnya," jawab Aris mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Tia.
"Benar enak sekali. Ini mbak bawakan satu untukmu," imbuh Tia lagi.
Aris tersenyum, dia pun menerima nasi gudeg yang diberikan oleh sang kakak. Tia dan Hans juga tersenyum melihat Aris mau menerima dan memakan nasi gudeg itu.
"Makan yang banyak, Ris. Kamu harus bersemangat untuk melanjutkan hidup. Wanita bukan hanya Alya saja, masih ada wanita yang lebih baik yang diciptakan Allah untukmu." Tia menunggui Aris yang perlahan memasukkan sesuai demi sesuap nasi gudeg ke dalam mulutnya.
"Ris, kamu tenang saja. Mbak yakin Tuhan sedang menyiapkan hal yang sangat indah untuk kamu, sekarang kamu yang sabar ya. Kamu nggak boleh beranggapan bahwa kamu sendiri. Ada kakak yang akan ada di samping kamu, biarkan dia dengan kehidupannya. Kamu harus fokus dengan kesehatan kamu sendiri, jangan sampai hanya karena masalah ini kamu jadi down."
Tia mengelus kepala adiknya, ia pun menyuapi Aris.Karena jika dia tidak disuapi, maka nasi gudeg itu akan berakhir di Ting sampuah. Tia ingin Aris berusaha sebisa mungkin untuk melupakan Alya yang sudah menyakitinya. Untuk apa meratapi Alya kembali kepadanya, malahan akan membuat ia sakit hati.
Hans sendiri semakin dendam kepada Nigam, karena dia yang telah membuat Aris seperti ini. Aris memang bukan adik kandungnya, tetapi ia juga menyayangi Aris seperti Tia menyayangi Aris. Lihat saja, ia tak akan membiarkan Nigam hidup dengan tenang. Ia yakin Nigam dan Alya akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang dia lakukan.
"Nigam, aku yakin kau melakukan ini salah satunya untuk balas dendam kepada ku. Tetapi jangan salah, aku tak akan tinggal diam dengan semua ini!" geram Hans, secara sudah lama Hans diam saja. Kali ini tidak lagi, dia akan bangkit untuk membuat perhitungan dengan Nigam.
Berkat ketelatenan Tia, akhirnya Aris berhasil menghabiskan sebungkus nasi gudeg yang dibawa oleh Tia.
"Alhamdulillah, habis juga. Ingat, Ris. Bersedih itu ada batasnya karena ada tubuh yang harus di jaga kesehatannya. Mbak tidak ingin hanya karena satu wanita, kamu kalah dan larut dalam kesedihan. Mbak ingin kamu ceria seperti kemarin setelah menjemput Hasan dan Hasna. Sepertinya ada yang menarik perhatian mu, tapi karena kau masih memikirkan Alya, jadi hatimu terbelenggu." Tia menasehati adiknya.
Aris mengingat sosok wanita yang kemarin sempat mencuri perhatiannya.
"Benar, Mbak. Mungkin karena hatiku masih terbelenggu oleh rasa cinta maka aku tidak bisa melihat kecantikan dan kebaikan wanita lain. Aris berjanji akan bangkit dan melupakan semua hal tentang Alya," ucap Aris dengan raut wajah yang bahagia.
"Bagus, Aris. Mbak bangga dengan mu, semoga kau menemukan wanita yang cocok untukmu. Oh ya, mbak belum melihat mama. Mbak temui mama dulu ya," ucap Tia.
"Iya, Mbak. Mama ada di kamar, mungkin sedang istirahat. Tadi habis disuapi papa dan minum obat," sahut Aris menjelaskan pada Tia.
"Baiklah, mbak ke sana terlebih dahulu," ucap Tia bangkit dari tempat duduknya.
Hans masih menemani Aris duduk, ada yang ingin ia sampaikan pada Aris.
"Aris, besok kamu sudah masuk kerja bukan?" tanya Hans membuka percakapan.
"Mas ingin kamu menjaga kantor karena mas dan mbak mu ada undangan peresmian kantor cabang relasi kami. Kamu tidak apa-apa kan, jika menghandle semua urusan kantor? Nanti bisa dibantu sekretaris mas di kantor," ucap Hans lagi.
"Siap, Mas. Besok Aris akan usahakan untuk masuk," ucap Aris dengan senyum yang merekah.
"Terimakasih, Ris. Mas senang jika kau bangkit dari keterpurukan hanya karena seorang wanita. Bersedih itu wajar, yang tidak wajar adalah jika hal itu berlarut dan akan menghancurkan diri sendiri," ucap Hans menepuk bahu Aris.
"Sama-sama, Mas. Aris juga berterimakasih pada mas Hans karena berkat mas juga, Aris bisa tahu siapa Alya yang sebenarnya. Aris bersyukur jika ketahuannya sekarang, sebelum Aris menikahinya, jika tidak maka Aris akan mengasuh anak yang bukan darah daging Aris sendiri," tegas Aris yang mensyukuri keadaannya saat ini.
Hans tersenyum bahagia karena adik iparnya bisa mengambil pelajaran dari semua peristiwa ini. Hans juga berharap Aris akan lebih dewasa lagi dalam bersikap dan mengambil keputusan dalam hidupnya.
\*\*\*
Tia yang sudah sampai di kamar sang ibu merasa hatinya lega, karena ibunya tidur dengan nyenyaknya setelah beberapa hari mengeluh tidak bisa tidur dengan lelap.
"Pa, bagaimana keadaan mama? Apa masih sering kambuh?" tanya Tia pada lelaki yang selalu ada untuk mamanya itu.
"Alhamdulillah, mama sudah tidak sering kambuh lagi. Sepertinya apa yang membuatnya gelisah sudah berlalu hingga kini dia merasa lebih baik kan dari sebelumnya," jawab Cahyo sembari mengusap rambut beruban sang istri.
"Alhamdulillah ya, Pa. Semoga mama selalu sehat dan lebih stabil lagi. Maafkan Tia yang baru bisa menjenguk mama. Kata dokter Tia harus banyak istirahat jadi tidak bisa bolak balik mengurusi mama," ucap Tia dengan senyum merekah.
"Kamu hamil lagi, Tia? Wah selamat ya nak ... semoga cucu papa sehat dan lahir dengan selamat," ucap Cahyo memberikan ucapan selamat pada si Tia.
"Terima kasih ya, Pa. Semua adalah karunia dari Allah. Setelah banyaknya ujian yang melanda, pada akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan juga," ucap Tia dengan senyum yang tidak hilang dari bibirnya.
"Sama-sama, Nak. Semoga kebahagiaan selalu bersama mu. Semua ini buah dari kesabaran mu yang sewaktu kecil selalu merasakan ketidak adilan dari mamamu. Papa minta maaf jika dulu tidak bisa membela mu," ucap Cahyo menitikkan air mata. Mengingat dulu sewaktu Tia kecil selalu diperlakukan semena -mena oleh Wulan dan Mery.
"Baiklah, Tia kembali dulu. Besok -besok Tia akan mampir lagi," ucap Tia berpamitan pada Cahyo.
"Hati-hati di jalan, sampaikan salam papa pada Hasan dan Hasna. Sebenarnya papa sudah rindu pada mereka berdua" kata Cahyo mengiringi langkah Tia menuju ke teras rumah di mana Aris dan Hans berada.
"Mas, Ayo kita pulang. Sudah waktunya untuk menjemput Hasan dan Hasna," ajak Tia pada Hans.
"Iya, Sayang. Baiklah, Ris. Mas pamit pulang dulu. Besok jangan lupa ya," ucap Hans berpamitan pada Aris.
"Iya, Mas. Siap, Insyaallah," jawab Aris dengan menganggukkan kepala.
"Mbak, pulang dulu ya. Ingat tetap semangat, jangan pernah putus asa. Hidup masih panjang, sayang sekali jika hanya digunakan untuk menyesali semua yang sudah terjadi. Masih ada orang yang menyayangi mu dengan tulus, okey."
"Iya, Mbak. Insyaallah Aris akan berubah. Terimakasih untuk semuanya ya, Mbak," ucap Aris mengiringi Tia dan Hans.
Hans dan Tia pun meninggalkan rumahnya yang sekarang dihuni oleh Aris dan kedua orang tuanya. Hans melajukan mobilnya menuju ke sekolahan Hasan dan Hasna. Sebentar lagi adalah jam pulang kedua anaknya, dia tidak mau terlambat dalam menjemput anaknya itu.
"Mas, memangnya apa yang kau bicarakan dengan Aris? Mengapa Aris bilang insyaallah besok siap. Memang ada apa, Mas?" Tia akhirnya bertanya juga untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Oh itu. Besok mas ingin Aris masuk untuk menghandle perusahaan mas dulu, karena kita berdua akan menghadiri acara peresmian kantor cabang perusahaan teman Mas. Kamu tidak keberatan jika mas ajak datang ke acara itu?" tanya Hans pada Tia. Takutnya Tia tidak mau menemaninya menghadiri undangan itu.
"Boleh, Mas. besok jam berapa?" tanya Tia yang senang bisa mendampingi kemana pun sang suami pergi.
"Besok jam 9 pagi. Di hotel Galaxy star. Di sana akan banyak pengusaha buang datang bersama pasangannya. Untuk itu mas juga akan membawa pasangan dong? Secara mas tidak ingin terlihat seperti duda tidak punya istri," kelakar Hans.
"Iiih ... Mas! Jangan ngomong begitu, tidak baik! Kau masih memiliki istri yang cantik ini, dan bisa dipastikan istrimu siap menemani mu kemanapun kau minta," ucap Tia dengan wajah yang dibuat selimut mungkin.
"Hmm ... iya deh ... Percaya, kau memang istri mas yang paling baik."