Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 131


Mitoni




Mitoni


Tia mengambil ponselnya untuk menghubungi Gunawan.


Tuut ....


Tuut ...


Suara dering memanggil terdengar jelas di ponsel Tia. Hans menatap lembut wajah sang istri. Sore ini di tengah kesibukannya, Hans rela meluangkan waktu untuk sang istri.


"Hallo."


"Hallo, Assalamu 'alaikum, Ayah!" sapa Tia saat ponsel itu sudah diangkat oleh Gunawan.


"Wa'alaikum salam, Tia. Sebentar ayah mencari tempat yang bagus signalnya."


Tia tertegun sejenak, dia merasa aneh mengapa sang ayah seperti sedang menghindari sesuatu. Apa di samping sang ayah ada ibu tirinya?


Pikiran Tia melalang buana menuju ke sang ayah. Benar dugaan Tia, ternyata Gunawan sedang mengobrol sore dengan sang istri di depan teras rumah sembari menikmati secangkir kopi.


"Ada apa, Tia?" tanya Gunawan setelah dirasa cukup aman dari sang istri. Dia beralasan bahwa ada rekan bisnisnya yang meneleponnya. Beruntung Clara sambil menggendong sang cucu, jadi tidak begitu memerhatikan Gunawan.


"Ayah, hari Sabtu nanti Tia akan mengadakan acara tasyakuran tujuh bulanan kandungan Tia. Tia harap, ayah bisa datang memberikan doa restu pada Tia dan calon cucu ayah," ucap Tia dengan tersenyum bahagia.


"Oh, hari Sabtu. Baiklah akan saya usahakan datang. Terima kasih undangannya," ucap Gunawan melirik ke arah Clara yang menguping pembicaraannya.


"Baiklah, Ayah. Terima kasih, ayah tidak apa-apa 'kan?" tanya Tia yang khawatir dengan keadaan sang ayah.


"Oh, Tidak apa-apa. Terima kasih perhatiannya. Saya akan datang untuk memenuhi undangan Anda," ucap Gunawan dengan nada formal.


"Baiklah. Assalamu 'alaikum, Ayah." Tia menutup teleponnya. Dia merasa ada yang aneh dengan sang ayah. Apa mungkin ayahnya takut jika sang istri mengetahui hubungan antara Tia dan Gunawan.


"Kenapa, Sayang?" tanya Hans yang melihat mendung di wajah sang istri.


Sebelum menelepon sang ayah, gurat wajah kebahagiaan menyelimuti wajah istrinya, namun setelah menelepon sang ayah, wajah Tia malah menunjukkan kegelisahan.


"Ayah agak aneh, Mas! Dia berbicara pada Tia seperti berbicara dengan atasannya," jawab Tia sembari memainkan ponselnya.


"Tia, beri waktu pada ayahmu untuk menentukan pilihan. Bagaimana dia akan menghadapi sang istri tentu butuh waktu yang tidak sebentar. Beliau juga membutuhkan kesiapan mental," hibur Hans. Dia tidak ingin sang istri bersedih dan akhirnya memengaruhi kandungannya.


"Mas Hans benar juga, ayah pernah meminta Tia untuk bersabar. Tapii ... Sampai kapan Tia akan bersabar, Mas?" Tia bertanya dengan tatapan putus asa.


"Sabar dan ikhlas itu tidak ada batasnya. Memang sangat menyebalkan jika kita diminta untuk menunggu. Akan tetapi jika kita memaksa maka hasilnya pun tidak akan baik. Tia kamu paham kan maksud mas ini?"


Hans menenangkan istri dengan kata-kata yang lembut dan penuh makna. Tia pun mengangguk lalu tersenyum. Dia berjanji akan tetap sabar menunggu sang ayah.


Saat keduanya saling berpelukan, tiba-tiba seorang pelayan dengan sengaja menumpahkan minuman jus di jas yang dipakai oleh Hans.


"Maaf, Tuan. Maafkan saya. Saya tidak sengaja menumpahkan minuman di jas Anda. Saya siap dihukum, Tuan," ucap sang pelayan wanita dengan raut wajah ketakutan.


"Sudahlah, cepat bereskan! Tia ... Mas tinggal ke toilet sebentar ya," ucap Hans beranjak dari duduknya hendak menuju ke toilet.


"Iya, Mas," sahut Tia.


Tia memainkan ponselnya sembari menunggu Hans.


"Hai, Tia ... Kau makin cantik setelah hamil," sapa seseorang dengan meletakkan setangkai mawar merah di meja depan Tia.


"Mas Ridho!" pekik Tia terkejut menatap siapa yang mengajaknya berbicara. Tia menoleh ke kanan dan ke kiri takut jika Hans salah paham dengan dirinya jika sedang berbicara dengan Ridho.


"Tia ... Ada yang ingin aku sampaikan! Aku minta maaf Tia," ucap Ridho sambil mengatupkan kedua tangannya.


Tia terperangah melihat sikap Ridho yang menurutnya terlalu berani.


"Mas Ridho! Apa -apaan ini!! Aku harap segera mas tinggalkan aku, jika tidak aku akan teriak kalau kau akan berbuat jahat padaku, lalu kau akan dipecat dari pekerjaan mas Ridho!!"


"Tapi, Tia. Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu," ucap Ridho membujuk Tia agar mau memaafkan dirinya.


"Cepat, Mas! Cepat pergi dari sini! Jika tidak, jangan salahkan aku yang akan membuatmu kehilangan pekerjaan!" ancam Tia dengan suara yang tegas.


Netra Tia sudah merah karena menahan amarah yang ada di dalam jiwa. Dia tidak akan memberikan celah untuk orang ketiga yang akan merusak rumah tangganya lagi. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan dirinya dari sang suami.


"Cepat, Mas!!" ucap Tia setengah berteriak.


Ridho yang ketakutan karena jika ia nekat maka ia akan kehilangan pekerjaannya, segera meninggalkan Tia.


Tia kembali duduk dengan memejamkan matanya. Kedua tangannya menyangga kepala Tia yang tertunduk.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Hans yang sudah tiba dari toilet.


"Mas Hans? Sudah selesai?" tanya Tia mendongakkan kepalanya.


"Kau ini, ditanya malah balik nanya. Mas tanya kamu kenapa? Apa kamu kecapekan?" Hans mengulang kembali pertanyaannya.


"Eh, enggak. Tia enggak capek, hanya saja ini mata kelilipan," ucap Tia bohong. Tia tidak ingin Hans yang cenderung posesif akan membuat keributan di kafe orang.


"Yakin?"


"Iya, Mas. Lihatlah mata Tia merah." Tia menunjukkan matanya yang memerah.


Hans menatap mata Tia yang merah, perlahan Hans meniup mata Tia.


"Sudah, Mas. Sudah cukup. Sudah baikan kok. Ayo kita segera pulang," ajak Tia pada Hans.


"Baiklah, jika itu maumu. Hari juga sebentar lagi maghrib. Tidak baik wanita hamil masih di luar rumah saat maghrib tiba. Lagian dua hari lagi kita akan mengadakan tasyakuran tujuh bulanan. Kamu harus banyak istirahat," ucap Hans membelai surai hitam Tia.


Mereka berdua pun akhirnya pulang, meninggalkan kafe tersebut denah sepasang mata yang menatap dua sejoli itu dengan tatapan marah.


****


Dua hari kemudian, Tasyakuran tujuh bulanan berlangsung di rumah Tia. Pagi yang cerah membuat Tia bersemangat.


"Mas, apakah semua ini tidak berlebihan?" tanya Tia pada Hans sambil menyunggingkan senyum gembira. Pasalnya di luar dugaan Tia, sang suami mengadakan pesta yang begitu megah hanya untuk mitoni–upacara tujuh bulanan kehamilannya. Membuat Tia merasa kian bahagia, sebab merasa diistimewakan.


Hans menyentuh wajah Tia yang sudah dirias begitu cantik. "Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu dan calon anak kita. Aku senang melakukan semua ini. Semoga kamu tidak keberatan." Dia menggenggam kedua tangan Tia penuh sayang.


"Tentu saja tidak, Mas. Aku bahagia diperlakukan sedemikian istimewa. Terima kasih."


"Sama-sama." Hans mengecup kening Tia. "Melihat kamu seperti ini, rasanya aku ingin mengurungmu seharian di kamar." Dia tersenyum jahil yang langsung dihadiahi pukulan oleh Tia.


Hans tergelak mendapatkan pukulan manja dari istrinya. "Kita keluar sekarang? Orang-orang pasti sudah menunggu."




"Boleh, Mas."


Hans pun memegang tangan Tia, berjalan bersisian menuju taman belakang rumah mereka yang sudah didekorasi sedemikian rupa untuk memeriahkan acara.


"Sayang," sapa Ningsih–ibunya Hans seraya menghamburkan pelukan kala melihat anak dan menantu kesayangannya tiba di ujung tangga. "Kamu cantik banget."


Tia tertawa kala mendengar pujian dari sang mertua, tetapi masih menjaga sopan santun.


"Terima kasih, Bu. Alhamdulillah."


Ningsih melekukkan senyuman. "Gimana keadaanmu hari ini? Apa semuanya baik?"


"Alhamdulillah, Bu. Aku lumayan bugar."


"Alhamdulillah," ucap Ningsih menggandeng tangan Tia yang lain lalu menoleh pada Hans. "Ayo kita ke sana!"


Tia dan Hans pun memanggutkan kepala bersamaan. Tampak kentara kebahagiaan terpancar dari raut wajah ketiganya. Ningsih sangat menyayangi Tia yang baik dan rendah hati.



Ningsih bangga menjadi ibu mertua wanita tersebut. Dia juga bahagia karena melihat sang anak yang pula terlihat bahagia setelah memperistri Tia. Ningsih yakin kalau dia bisa memercayakan Hans padanya. Tia wanita yang baik dan tentu akan bisa menjaga anaknya dengan baik.



Segera nuansa mitoni adat jawa menyambut kedatangan ketiganya. Aneka bunga hidup yang menghiasi setiap sudut taman menguarkan aroma wewangian yang khas. Beberapa tamu yang sudah hadir segera menghampiri Hans dan Tia, memberikan ucapan selamat serta doa.



Sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu pun membalas dengan terima kasih setiap untaian kata baik yang diucapkan orang-orang tersebut untuk keluarga mereka dan anak dalam kandungan.


"Tia," panggil Meri yang segera dihampiri Tia–mencium tangan ibunya takzim.


"Ma, terima kasih sudah datang."


"Sama-sama." Setelah melalui banyak sekali peristiwa, kini hati Meri mulai terbuka untuk Tia. Dia mulai bisa menerima keberadaannya sebagai takdir. Meski belum sepenuh hati, tetapi setidaknya sikapnya saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Ma." Hans mencium tangan Meri dengan sopan.


"Selamat, ya." Meri menepuk bahu menantunya itu. Hans benar-benar pria yang baik. Sangat disayangkan Wulan dahulu malah bertingkah kala masih menjadi istrinya.



Kalau saja Wulan bersikap baik, mungkin kini yang berdiri di samping pria itu adalah dirinya. Namun ya, mau gimana lagi? Toh itu semua tak lepas dari kesalahannya pula yang dahulu dengan mudah termakan hasutan sang anak dan menyetujui perceraian mereka. Padahal dilihat sisi manapun, Hans jelas jauh lebih unggul dari Ridho segala-galanya. Sepertinya nasib Wulan memang kurang beruntung.


"Selamat pagi, Tia," sapa Clara yang mengalihkan atensi Tia, Hans, dan ibunya yang tengah bercengkrama. Wanita itu berdiri dengan anggun seraya membawa sebuah kotak kado besar.


"Bu Clara." Tia tampak merasa kurang nyaman melihat kehadirannya. Namun, Tia berusaha terlihat biasa aja, menyambut Clara dengan baik, karena dia adalah tamunya sekarang. Dia menghampirinya lalu mencium tangannya takzim dilanjutkan dengan cium pipi kanan dan kiri. "Terima kasih sudah datang," ucap Tia sopan.


"Sama-sama. Bagaimana keadaanmu?" tanya Clara berbasa basi.


"Alhamdulillah baik, Bu Clara Mari silakan duduk." Tia mengajak Clara duduk di salah satu meja tamu.


"Terima kasih sudah datang, Bu Clara." Hans turut menyalami dengan santun.


"Hans." Clara tersenyum ramah. "Sama-sama."


"Di mana Pak Gunawan. Apa beliau tidak ikut?"


"Dia ikut, Hans. Mungkin sebentar lagi menyusul ke sini. Tadi dia bilang ponselnya ketinggalan di mobil, makanya balik lagi ke parkiran." Clara beralih pada Meri.


"Selamat pagi, Nyonya, apa kabar?" sapa Clara pada Meri.


"Alhamdulillah baik, Nyonya." Meri tersenyum kaku. Meri merasa gugup saat berhadapan dengan Clara, yang berarti Gunawan pun ada di sana. Seketika Meri merasa kurang nyaman, pasalnya dia akan bertemu dengan sang pelaku kejahatan.


Selesai beramah tamah pada Clara dan tamu lainnya, Hans dan Tia pun memulai prosesi mitoni. Dibuka dengan doa lalu dilanjutkan dengan sungkeman. Tia bersimpuh di hadapan sang suami.


"Aku belum bisa menjadi istrimu yang sempurna, Mas. Maaf karena selalu merepotkanmu. Hari ini aku meminta doa dan keridaanmu, semoga saat melahirkan nanti diberikan kelancaran dan keselamatan," ucap Tia saat mencium tangan sang suami.


"Amin. Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk jadi istriku, Tia. Cukup jadi dirimu sendiri saja. Insyaallah aku akan selalu mendoakanmu dan calon anak kita. Terima kasih sudah menjaga kandunganmu dengan baik." Hans mengelus puncak kepala Tia yang dihiasi banyak bunga melati lalu mencium keningnya.


Setelah sungkeman kepada suami, acara pun dilanjutkan sungkeman oleh calon ayah dan calon ibu kepada Ningsih–orang tua Hans.



Pemandu acara mengucapkan beberapa kalimat pengiring yang membuat Tia dan Hans terharu. Tak ketinggalan pula Ningsih mendoakan Tia dan cucu dalam kandungan wanita itu, lalu beralih pada Hans, memberikan dia nasihat supaya lebih sabar menghadapi Tia, karena hormon kehamilan memang terkadang menjengkelkan.



Selesai dengan Ningsih, sepasang suami istri itu lantas sungkem di kaki Meri dan Cahyo. Keduanya meminta doa dari mereka untuk kelancaran prosesi lahiran nanti serta kebaikan si jabang bayi dalam kandungan. Rangkaian acara mitoni itu berlangsung khidmat dan syahdu, membuat siapa pun terharu, kecuali Clara. Dia terus memerhatikan wajah Tia dari kejauhan, lalu melirik sang suami yang kini tengah duduk di sisi.



Clara dapat melihat wajah bahagia Gunawan–suaminya saat menyaksikan sungkeman tersebut, penuh curiga. Itu membuat dia penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan sang suami.



Gunawan terlihat sangat tertarik dengan rangkaian acara yang tengah berlangsung, hingga tak sedetik pun memalingkan pandangan dari Hans dan Tia. Di benak, dia tengah membayangkan dirinya duduk di sana menerima sungkem dari Tia dan Hans. Namun itu hanya khayalan yang mustahil, kini hanya doa yang bisa dipanjatkan dalam hati. Semoga anak dan calon cucunya selalu dalam lindungan Tuhan dan senantiasa sehat serta bahagia.


"Tia cantik ya?" tanya Clara memancing Gunawan. "Matanya mirip sekali denganmu."


Deg!


Gunawan seketika menoleh pada sang istri. "Kesamaan bentuk anggota tubuh manusia itu tidak mustahil, Ma. Yang memiliki mata seperti itu bukan hanya Papa dan Sinta. Orang lain juga mempunyai kemungkinan kemiripan."


"Ya tapi tetap saja, Pa. Kenapa yang mirip harus banget kebetulan Tia. Aneh kan?" Clara melirik suaminya sinis.


Kedatangannya kemari memang tidak murni untuk menghadiri undangan, melainkan ingin mencari tahu tentang hubungan Gunawan dan Tia. Dia sangat penasaran, ada apa di antara mereka? Kenapa Gunawan selalu diam-diam menemui anak itu?