Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP 2 bab 5


Aris menatap wajah kakaknya yang memucat karena kelelahan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan sang kakak perempuannya itu.



"Mm ... Cuman kecapekan saja kok," jawab Tia dengan senyum yang dipaksakan. Dia berjalan menuju ke kamarnya.



"Tunggu, Mbak. Sepertinya ada yang tidak beres dengan mbak Tia," ucap Aris menghentikan langkah Tia.


Tia berhenti dan menoleh ke arah Aris. Aris berjalan mendekat dan memegang tangan sang kakak.


"Mbak, tangan mbak Wulan terasa panas. Aku yakin ada yang tidak beres dengan mbak Tia. Apa mbak Tia akhir-akhir ini tidak bisa tidur?" tanya Aris dengan wajah serius.



Tia mengangguk lalu menjawab, "Mmm ... Iya."Tia menjawab sembari mengernyitkan dahinya.



Aris manggut-manggut, menatap telapak tangan sang kakak.



"Mbak, sepertinya mbak Tia terkena teluh dari seseorang. Telapak tangan Tia dipegang sangat panas oleh Aris. Aris mengetahui sedikit tentang ilmu itu dari temannya satu kantor yang merupakan anak dari seorang ustadz.



"Masa sih? Mbak gak merasa apa-apa. Hanya saja, akhir-akhir ini mbak gak bisa tidur dan merasa cemas saja," jawab Tia yang memang tidak percaya dengan hal seperti itu. Di jaman milenial ini, ilmu itu sudah tidak jaman lagi. Akan tetapi di sebagian lain, ilmu teluh membuang nyata adanya.



"Mbak, sini duduk dulu." Aris menarik lengan kakaknya untuk duduk di sofa.



Tia menurut apa yang diminta oleh sang adik. Adik yang selalu mendukung dirinya saat sang ibu berbuat tidak adil terhadapnya.



"Mbak, apa mbak merasakan ini semua hanya saat ada di rumah saja?"



"Benar, aku merasakan semua ini hanya saat di rumah saja. Jika di luar mbak merasa nyaman dan bisa tidur dengan nyenyak."



"Apa mbak juga merasa kesal dengan mas Hans?"



"Iya, benar sekali. Mbak merasa kesal dan tidak senang jika kakak iparmu itu dekat dengan mbak. Apa itu juga termasuk tanda-tanda kalau mbak kena teluh?"



"Iya jelas, Mbak. Memang tujuan semua itu adalah mbak tidak betah di rumah dan tidak mau dekat dengan mas Hans."



"Mbak tidak punya musuh, siapa yang ingin berniat buruk terhadap mbak mu ini? Selama ini yang paling membenci mbak kan hanya mbak Wulan. Memang ada yang lain?" tanya Tia meminta pendapat Aris.



Aris tersenyum melihat sang kakak begitu polos dalam hal mistis. Tidak berapa lama, Hans datang setelah dia selesai menyelesaikan urusan kantor.



"Assalamu 'alaikum," sapa Hans pada kedua kakak beradik yang sedang menatapnya dengan senyuman.



"Wa'alaikum salam," jawab Tia dan Aris serempak.



"Aris, tumben sekali kau lama di sini, biasanya langsung pulang tuk jaga mama," ucap Hans ikut duduk di sofa.



"Iya, Mas. Aris sekalian jenguk mbak Tia yang katanya sakit. Maaf, Aris sibuk hingga baru sekarang bisa jenguk mbak Tia," tukas Aris.



"Iya, mbak mu beberapa hari ini tidak enak badan. Semenjak wajahnya muncul di layar televisi dan di beranda berita bisnis, mbak Tia mu ini sakit. Sudah mas bawa ke rumah sakit, di sana dia bisa tidur nyenyak dan sehat-sehat saja. Akan tetapi setelah pulang kembali ke rumah, dia merasakan sakit yang sama lagi," ucap Hans memperkuat apa yang dikatakan oleh Tia tadi.




"Maksudmu, mbak mu ini sakit bukan karena penyakit medis seperti biasanya?" tanya Hans dengan wajah yang serius.



"Benar sekali, Mas. Pasti ada yang mengirim teluh atau guna-guna yang membuat mbak Tia merasakan kesakitan setiap harinya. Apa kita coba untuk meyakinkan mas dan mbak Tia, kita kuar dari rumah ini."



Aris mengajak Tia dan Hans untuk membuktikan semua yang ia ucapkan. Hans dan Tia saling bertukar pandang. Mereka berbicara memalui isyarat mata.



"Memang hal mistis kayak gitu masih ada di jaman sekarang?" Tanya Hans yang sama dengan Tia, kurang percaya pada adanya teluh dan guna-guna yang dikirim oleh orang lain untuk membuat rumah tangganya bubar.



"Mas ... Sampai kapanpun hal seperti itu akan selalu ada, tidak mengenal apakah jaman ini jaman modern atau jaman dahulu. Banyak pejabat yang memakai jasa para dukun yang sekarang berubah menjadi paranormal untuk bisa terus berkuasa dan jaya. Para pemilik restoran juga memakai jasa mereka agar restoran mereka ramai, dan masih banyak yang lainnya," jelas Aris membuka pandangan Hans dan Tia.



Tia mengambil napas dalam -dalam, memang dia akui jika akhir-akhir ini, Tia merasakan sesuatu yang aneh. Tia merasa jika dirinya tidak bisa lama-lama sholat. Setiap sholat selalu terburu-buru dan tidak khusyuk.



"Kalau memang seperti itu, kemana mbak harus berobat?" tanya Tia yang tertarik dengan tawaran Aris.



"Kita sebaiknya buktikan sendiri dulu, Mbak. Agar mas Hans dan Mbak Tia merasa yakin jika ini semua karena ulah jahat seseorang. Jika dibiarkan lama-lama kasihan juga si kembar, Hasna dan Hasan," tandas Aris lagi.



"Apa maksudmu, Aris?" Tia meninggikan suaranya karena dirinya semakin tidak paham dengan penjelasan Aris. Bagaimana bisa si kembar, Hasna dan Hasan ikut terkena. Jika benar pasti itu sangat mengerikan.



"Mbak ... Jika orang yang dituju itu kuat dan tidak mempan dengan gangguan si jin itu, maka jin suruhan itu akan mengganggu orang yang disayanginya. Tidak peduli siapapun, asal orang itu adalah orang yang paling disayang. Misal mbak Tia tidak mempan diganggu, maka jin itu akan mengganggu Hasan atau Hasna. Di antara mereka yang paling mbak sayangi itulah yang akan kena teluhnya."



Aris menjelaskan semua yang ia ketahui. Sedangkan Tia dan Hans menyimak dengan wajah heran bercampur takut. Mereka baru paham jika cara kerja teluh itu seperti itu.



"Mengerikan juga ternyata, mereka tidak punya belas kasihan. Kira-kira siapa yang telah membuat Tia seperti ini? Siapa yang sudah mengirim teluh untuknya," ungkap Hans dengan amarah yang membuncah di dada.



"Mas itu bisa diketahui dengan jalan, pada siapa mbak Tia merasa senang bertemu dengan seseorang. Seperti orang yang lama tidak bertemu lalu sekali bertemu maka akan bahagia sekali. Apa mbak Tia akhir-akhir ini senang bertemu dengan siapa?" Selidik Aris menatap sang kakak dengan serius. Hans pun ikut memandang Tia dengan serius.



"Akhir-akhir ini aku tidak sedang senang bertemu dengan siapapun, tidak ada keinginan untuk bertemu dengan siapapun juga," jawab Tia seraya mengingat semua yang ingin ia temui.



Hans dan Aris saling menatap, ada gurat kelegaan yang tercetak di wajah Hans.



"Baiklah, Mbak. Besok Aris akan mengajak teman Aris datang ke sini untuk melihat semua yang ada di sini," ucap Aris.



"Terima kasih, Aris. Semoga mbakmu bisa sembuh dengan sempurna," ucap Hans.



"Iya, Mas. Oh ya, bagaimana jika kita sekarang pergi untuk makan malam bersama, sambil kita lihat apa mbak Tia baik-baik saja," ajak Aris lagi.



Tia menatap Hans, dan Hans pun menatap Tia. Keduanya saling mengangguk setuju.



"Okey, mari kita bersiap -siap" ucap Tia. Mereka pun mendapat semangat untuk mencoba apa yang dikatakan oleh Aris itu.