Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP. 2. Bab. 6


Hans, Tia dan Aris berpamitan pada Mbak Yuni untuk keluar sebentar. Mereka bertiga ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Aris.



"Aris, kita mau ke mana?" tanya Hans yang berada di kursi kemudi.



"Kita coba pergi ke tiga tempat, Mas. Yang pertama kita pergi ke cafe, yang kedua kita ke supermarket dan terakhir kita pergi ke masjid. Ketiga tempat itu mana yang akan membawa pengaruh paling besar pada mbak Tia," usul Aris yang mendapat anggukan dari Hans.



"Aris, mengapa harus di tiga tempat yang berbeda?" tanya Tia yang penasaran dengan tujuan Arus membawanya di tiga tempat yang berbeda.



"Mbak, seperti yang aku jelaskan tadi, ketiga tempat itu akan kita nilai mana yang akan membuat mbak Tia terasa pusing dan mengamuk. Jika tidak ada sesuatu yang mengganggu mbak, maka mbak aman. Akan tetapi jika mbak merasa panas, gerah dan marah jika berada di salah satu tempat itu maka jelas mbak sedang kena teluh dari seseorang," tandas Aris.



Tia dan Hans mengangguk, lebih baik dia pasrah pada apa yang dikatakan Aris.



"Kita menuju ke supermarket terlebih dahulu, bagaimana? Biar nanti kalau kita lapar kita bisa ke kafe terdekat," ucap Hans memberikan usul.



"Boleh juga, Mas. Kita ke supermarket terlebih dahulu. Ada yang ingin aku beli untuk keperluan si kembar. Susu mereka bentar lagi habis," jawab Tia. Beberapa hari ini Tia malas membelikan susu untuk anaknya hingga sang anak terkadang tidak minum susu. Untunglah mereka sudah besar jadi mereka bisa mengganti susu dengan yang lain.



"Baiklah, kita ke supermarket terlebih dahulu."



Mobil yang dikemudikan oleh Hans masuk ke halaman parkir sebuah supermarket yang lumayan besar. Mereka bertiga turun dan masuk ke dalam supermarket tersebut.



Tia merasakan hal yang aneh, semangatnya untuk menghabiskan uang sangat kentara sekali. Semua ingin diborongnya. Hans dan Aris yang melihat Tia pun menjadi tercengang.



"Aris, lihatlah ... Mbak mu seperti orang yang lepas kontrol. Apakah itu juga ciri-ciri orang yang kena teluh?" tanya Hans sambil berbisik pada Aris.




"Benar. Dia tidak dalam keadaan sadar. Tia bukanlah wanita yang suka menghamburkan uang seperti itu. Lihatlah barang belanjaannya se-troli penuh," ucap Hans dengan yakin.



"Baiklah, Mas. Sekarang kita ajak dia ke kafe. Kita lihat bagaimana dia makan. Ayo, Mas. Kita bantu mbak Tia bawa barang belanjaannya," ucap Aris.



"Ayo ...." Hans dan Aris pun mendekati ke arah kasir di mana Tia sudah selesai dan sedang membayar barang belanjaannya.



"Mas, aku puas bisa belanja. Dan asal kau tahu, sakitku tiba-tiba hilang," ucap Tia dengan mata yang berbinar. Rasa pusing, capek, lemas dan serba tidak enak di tubuh hilang seketika," ucap Tia di dalam mobil.



Aris dan Hans saling menatap penuh arti. Apa yang mereka sangkakan benar adanya. Tia akan merasa bahagia jika berada di luar rumah.



"Mbak Tia pasti lapar kan?" tanya Aris memancing Tia.



"Kok kamu tahu?" balas Tia dengan senyum yang menandakan apa yang dikatakan oleh Aris adalah benar adanya. Tia saat ini merasakan lapar sekali. Tia pikir karena dirinya berbelanja banyak hingga akhirnya badannya merasa lelah.



"Jelas aku tahu dong, Mbak. Karena seperti pada umumnya, kalau orang setelah belanja pasti akan merasa lapar." Aris menjawab dengan menggunakan akalnya.



"Kita ke kafe tempat kita dulu sering menghabiskan waktu bersama. Bagaimana, Tia?" tanya Hans sambil tangannya mengemudi dengan lincah.



"Boleh juga," jawab Tia cepat. Kafe yang mereka tuju adalah kafe tempat Hans dan Tia menghabiskan waktu week end bersama, sebelum anak semakin besar susah untuk diajak latihan bersama.



Mobil halaman parkir sebuah kafe yang menjadi tempat Hans dan Tia menghabiskan waktu bersama. Mereka bertiga memasuki kafe itu.