Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 153


Sinta tampak berpikir keras, semua ini membuatnya merasa tertekan dan stres. Dulu sang ayahlah yang selalu ada untuknya, kini dia harus sendiri menghadapi segala masalah yang ada di perusahaan.


Sinta menghubungi beberapa temannya untuk dimintai pendapat.



"Hallo, selamat pagi, Sinta. Tumben Lo menghubungi gue! Ada apa, Sin?" jawab teman Sinta di seberang sana.



"Pagi, Ra. Gue suntuk nih, stres! Habis ditinggal suami, kini ditinggal papa urusin perusahaan mama sendiri. Mana gue belom pengalaman ngurusin perusahaan!" ucap Sinta dengan segala keluh kesahnya.



"Kenapa Lo? Ada masalah di perusahaan mama, Lo? Ya udah tinggalin aja. Ayo kita liburan! Bair gak stres begitu! Sudah lama lho, kita gak hang out bersama!" ucap Rara-- sahabat Sinta semasa kuliah.



"Ck! Kau malah ajak aku jalan-jalan, gimana bisa? Bagaimana dengan anakku?" tanya Sinta yang merasa ide sang sahabat konyol.



"Tenang aja, toh dia kan gak minum ASI. Titipkan aja pada baby susternya. Lagian, kamu itu butuh liburan biar gak stres. Bapak anaknya aja kagak peduli, ngapain kamu harus peduli sendiri sih?" tanya Rara setengah membujuk Sinta.


Sinta terdiam, ternyata jadi single parent itu tidak enak. Sinta juga merasa keenakan Steve jika dibiarkan tidak bertanggung jawab pada anaknya. Apa yang diputuskan sang mama dulu ternyata malah membuat Steve enak, tidak riweh urusin anak.


"Benar sekali idemu, Ra. Aku akan mencoba menghubungi Steve. Biar dia juga mengurus anaknya!"



"Bagus, Sin. Sudah sepatutnya Lo memiliki waktu untuk diri elo sendiri. Bagaimana kalau kita ke Bali saja? Lumayan walah hanya tiga hari. Kita ajak Siska dan Ranti. Tapi elo yang traktir kita, secara elo kan paling kaya di antara kita berempat," bujuk Rara memanfaatkan kondisi Sinta.



"Tapi, Ra. Gue sedang bokek nih, gak ada duit!"



"Masa sih? Perusahaan mama Lo kan paling besar di kota ini, masa iya Lo gak punya duit buat bayarin kita berempat ini? Segitu bangkrutnya kah perusahaan mama Lo?" ejek Rara membuat Sinta menjadi tidak enak.



Sinta terdiam, selama mereka kuliah, Sinta lah yang selalu mentraktir mereka, semua itu ia dapatkan dari Gunawan yang selalu memanjakan Sinta.



"Oke deh! Gue yang akan nanggung semua biaya kalian. Elo hubungi Ranti dan Siska," ucap Sinta yang pada akhirnya menerima ajakan Rara.




"Nah, gitu dong! Masa iya kami keluarkan biaya padahal yang butuh teman kan elo. Siska dan Ranti nanti akan gue hubungi, elo tenang saja.



Sinta tersenyum, dia pun menutup teleponnya. Dia kembali ke ruang kerjanya, dimana sang sekretaris masih di sana.



"Dita, berapa keuntungan total bulan ini?" tanya Sinta pada Dita.



"Bulan ini masih aman, Nyonya." Dita menjawab dengan jujur.



"Baiklah, semua terkirim aman ke rekening perusahaan bukan?" tanya Sinta dengan hati-hati, takut jika Dita curiga.



"Benar, Nyonya. Semua masih aman, dana bisa kita gunakan jika terjadi hal seperti ini, di saat kita butuh modal," jawab Dita menjelaskan guna dari uang yang tersimpan dalam rekening perusahaan.



Sinta tersenyum, di dalam benaknya ada sebuah ide untuk meminjam uang perusahaan.



"Bagus. Okey lah, aku mau makan siang terlebih dahulu. Kabari saja jika ada masalah lain," ucap Sinta sembari memasukkan ponsel dan kartu ATM perusahaan ke dalam dompetnya tanpa sepengetahuan Dita.



"Baik, Nyonya. Sebentar lagi saya juga akan makan siang terlebih dahulu. Mengawasi laju saham membuat perut saya juga lapar," sahut Dita yang juga tidak ingin melewatkan makan siangnya.


Keesokan harinya.


Clara pun kembali ke Lampung, sebenarnya sudah dari kemarin dia ingin pulang. Akan tetapi dia berusaha mencari keberadaan Rai, namun tidak ketemu.



Lain dengan Rustam, dan Gunawan yang semakin laju menuju kesuksesan, lain pula dengan Clara yang makin terpuruk karena keegoisannya sendiri.



Semenjak pertengkaran antara dirinya dengan Gunawan, wanita dewasa satu ini mencoba menyibukkan diri mencari Rai. Dia berpikir jika bisa mendapatkan Rai, maka akan ada yang mengurusi perusahaan sang ayah. Namun bukannya mendapat apa yang dimau, melainkan dia justru semakin pusing melihat grafik perusahaan yang semakin menurun melalui ponselnya.