Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 94


Wulan mengamuk, menjerit seperti orang kesurupan. Meri dan Cahyo hanya bisa menghela napas, mereka tidak berani masuk ke dalam kamar Wulan.


Tidak berapa lama kemudian, suasana hening di kamar Wulan. Malam merangkak larut, Ridho pun kembali ke rumahnya. Saat dia membuka pintu kamarnya, Ridho terkejut. Kamarnya bersama Wulan sudah menjadi lautan barang berserakan.


"Wulan, kamu kenapa?" tanya Ridho yang melihat Wulan terkulai di lantai. Wulan tidak menjawab pertanyaan Ridho, sepertinya terlalu banyak tenaga dan air mata yang keluar membuat Wulan Tidak sadarkan diri.


Ridho yang merasa kasihan melihat sang istri, dia pun mengangkat tubuh Wulan ke atas tempat tidur.


"Walau aku sangat kecewa dan kesal kepadamu, tapi sebentar lagi kau adalah tambang mas untukku. Tunggulah, besok kau akan aku jual pada para pengusaha kaya di pesta pernikahan mitra kerjaku! Hahaha ...!" Ridho tertawa senang, dirinya sudah memiliki rencana untuk membalaskan dendamnya.


***


Pagi hari yang cerah, kesibukan mulai terlihat di hotel milik Hans yang dijadikan tempat berlangsungnya pesta pernikahan.


"Sayang, owner salon datang jam berapa?" tanya Hans pada Tia yang sudah mandi dan bersiap untuk di make up. Acara akan dilaksanakan nanti pukul sepuluh pagi.


"Ini baru jam lima, Mas. Kata mbak owner-nya mereka akan datang jam enam pagi. Maka dari itu Tia sudah mandi dan mempersiapkan semua. Ibu di kamar sebelah sepertinya juga sudah bersiap," jawab Tia pada Hans yang sedari tadi tidak lepas memandang kecantikan alami sang istri.


Tia melirik ke arah sang suami yang duduk mematung di tepi ranjang.


"Mas kenapa? Ada yang salah dengan penampilan Tia?"


"Tidak ada. Hanya saja aku lihat hari demi hari kau terlihat semakin cantik saja. Aku tidak ikhlas jika wajah istriku menjadi konsumsi lelaki lain," ucap Hans terus memandang ke arah Tia.


Blush ....


Tia memerah pipinya, bahagia ada yang memuji dirinya. Tidak berapa lama kemudian, pintu kamarnya diketuk.


Tok ... Tok ....


"Biar mas yang buka pintunya, kau diam saja di situ ya," ucap Hans bergegas melihat siapa yang mengetuk pintu.


Klik ....


Pintu dibuka dari dalam, Hans membuka pintu kamarnya.


"Assalamualaikum, kami dari tim MUA salon yang merias nyonya," ucap sosok wanita berjilbab dengan tiga orang di belakangnya.


"Wa'alaikum salam, oh silakan masuk, Mbak." Hans mempersilakan masuk ketiga orang yang bertugas merias Tia.


Jam pun berdentang sebanyak sembilan kali, pertanda pesta akan dimulai satu jam lagi. Semua kru WO sudah bersiap dari pagi, semua persiapan sudah sempurna. Ningsih, Mbak Marni dan pak Toni pun sudah bersiap di depan menyambut kedatangan para tamu.


Tamu pun berdatangan membawa masing-masing pasangannya. Termasuk Ridho dan Wulan yang berpenampilan luar biasa. Saat hendak memasuki ruangan, Wulan terkejut saat melihat mantan mertuanya berada di depan pintu untuk menyambut kedatangan para tamu.


"Mana mas tahu, biarkan saja dia. Kita fokus pada klien ku ya g akan menikah," ucap Ridho datar. Ridho lebih mementingkan tujuannya mencari mangsa untuk dijadikan tambang emasnya.


Ridho dan Wulan masuk begitu saja tanpa menyapa Ningsih yang menjadi tuan rumah. Ningsih yang begitu saja dilewati hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin merusak pesta sang anak.


"Hai, Bro. Kau ada di sini juga?" sapa Ridho pada salah satu teman kuliahnya.


"Ridho? Tidak menyangka kita bisa kumpul di sini," jawab lelaki dengan jas berwarna biru metalik. Penampilan glamournya membuat ia terlihat sebagai sosok pengusaha sukses.


"Benar, Steve. Tidak aku sangka kalau kita bisa bertemu di sini," jawab Ridho.


"Bagaimana kabarmu, Ridho? Bisnis apa yang sedang kau kelola? Dan siapa wanita cantik ini?" tanya Steve yang tidak memalingkan pandangannya dari Wulan.


Wulan tersenyum senang, dia pun merapikan penampilannya agar lebih menarik lagi. Di dalam hati Wulan juga ada keinginan bahwa dia harus mendapatkan pengganti Ridho. Sungguh sepasang suami istri yang tidak tahu malu.


"Dia adalah sekretarisku. Perkenalkan namanya Wulan," jawab Ridho berbohong.


Wulan menatap heran ada Ridho, namun sedetik kemudian Wulan merasa diuntungkan.


"Wulan? Kenalkan aku Steve. Pemilik Interprise Group. Senang bertemu dengan Anda, Nona," Steve mengulurkan tangannya, mengajak Wulan berkenalan.


"Hai, Steve. Senang bertemu dengan Anda," jawab Wulan dengan malu-malu, ia pun menerima uluran tangan Steve.


Steve tersenyum genit pada Wulan. Sedangkan Wulan pun membalas senyuman Steve. Ridho merasa bahagia karena menemukan mangsa untuk dijadikan mesin ATM nya.


"Steve, bolehkah aku minta nomer ponselmu? Mungkin kita bisa bisnis bersama," ucap Ridho mulai beraksi. Dengan nomer itu dia akan memulai usahanya.


"Silakan," ucap Steve sembari mengeluarkan kartu namanya.


"Boleh aku minta juga?" Wulan tidak mau kalah, dia juga meminta kartu nama Steve.


"Oh, silakan. Tapi aku ingin juga menyimpan nomer mu, Cantik," ucap Steve dengan manis. Wulan tidak tahu jika Steve sudah memiliki istri. Steve datang tanpa membawa istrinya karena sang istri sedang hamil tua. Perjalanan jauh tidak mungkin bisa ia tempuh.


Wulan merasa mendapat angin segar, dia pun mulai terus menempel pada Steve hingga sang MC acara memulai acara.


Sepasang pengantin akan segera masuk ke pelaminan. Semua tamu undangan pun menoleh ke arah pintu yang akan dilalui oleh kedua pengantin.


Musik pengiring pun mulai terdengar, pertanda iringan pengantin akan memasuki pelaminan. Wulan yang asyik mengobrol dengan Steve tidak terlalu memperhatikan pengantin yang sudah memasuki pelaminan.


Berbeda dengan Ridho, matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang berdiri di tengah pelaminan menghadap ke arah tamu undangan.


"Tia?! Kak Hans?!"