Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 37


"Selamat datang, Jeng Wulan. Wah, kami sudah lama lho menunggu Jeng Wulan. Kami kira jeng Wulan tidak bisa hadir, benar 'kan jeng Retno?" ucap Sarita yang empunya rumah.



Wulan tersenyum kikuk, demi bisa hadir di acara arisan sosialitanya, Wulan rela meninggalkan sang ibu yang masih dirawat di rumah sakit.



"Maaf, ibu-ibu. Biasa tadi ke salon dulu, perawatan. Istri seorang direktur 'kan kudu tampil memukau, biar tidak malu-maluin suami," jawab Wulan bohong. Padahal dia tadi habis dari rumah sakit.



"Benar, Jeng Wulan. Jeng Wulan memang patut dijadikan teladan bagi ibu-ibu yang lain, selain cantik tapi juga cerdas," puji Retno, sosok yang dijuluki ratu julid. Kebiasaannya menilai dan mengolok teman membuatnya mendapat julukan itu. Semua masalah yang ada di anggota dia jadikan bahan gunjingan.



Mendapat pujian dari sang ratu julid, Wulan berasa terbang ke atas awan. Dia sangat senang mendapatkan pujian dari sang ratu julid. Jarang-jarang ada anggota yang dipuji oleh sang ratu julid itu.



"Baiklah, berhubung jeng Wulan sudah datang mari kita mulai acaranya. Kita kocok siapa yang mendapatkan arisan," ucap Sarita sang pemilik rumah sekaligus ketua arisan.


Semua antusias melihat Sarita mengocok nama siapa yang akan muncul mendapatkan arisan uang sejumlah seratus juta. Arisan yang diikuti oleh dua puluh anggota istri para pengusaha dan direktur perusahaan ternama.


"Wah ... Siapa yang dapat ya? Semoga aku yang mendapatkan arisan kali ini, aku akan membeli satu set perhiasan keluaran terbaru," ucap Sundari--anggota termuda pelan tapi masih bisa di dengar oleh Wulan yang ada di sampingnya.



"Hem ... Aku juga berharap lho, Jeng. Mana arisan hanya dikocok satu saja. Bisa keburu dolar naik jika tidak segera dapat," celetuk Sarita sang ketua perkumpulan.



Semua tersenyum mendengar keluh kesah sosok wanita yang viral karena dia adalah istri dari seorang direktur yang memimpin dua perusahaan sekaligus.



"Jeng Sarita, maaf lho ya ni ... Bukankah suami anda pemilik dua perusahaan yang saat ini sedang berkembang? Nah untuk apa coba duitnya," ucap si Ratu julid dengan nada setengah mengejek.



Sarita terhenyak mendapat teguran dari si ratu julid. Memang keadaan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja. Walaupun sang suami memiliki dua perusahaan besar, namun juga memiliki banyak tangungan yaitu tiga istri dan Sepuluh anak. Masing-masing menuntut utk dibiayai.




Wulan pun tidaklah seceria bulan lalu, dia lebih banyak melamun. Biasanya Wulan lah yang selalu pamer dengan apa yang dia beli dengan duit suaminya.



"Benar, apa yang dikatakan jeng Sarita. Yang namanya sebuah perusahaan pastilah banyak mengalami pasang dan surut. Sepertinya keadaan ekonomi di negara kita sedang tidak baik-baik saja," celoteh Wulan seakan memberi tahu alasan jika suatu saat suaminya akan bangkrut, mengingat kini dirinya sedang mendapat masalah keuangan dari Ridho.



"Seperti itulah kehidupan, kadang ada di atas, kadang ada di bawah. Tapi saya masih tenang karena semua harta yang dimiliki suami atas nama saya. Jadi, mau suami selingkuh pun tidak akan bisa mengganggu harta yang sudah aku miliki," sahut Retno si Ratu julid. Memang dia yang paling cerdas, semua harta sang suami atas nama dirinya.



Glek!



Wulan menelan salivanya kasar, apa yang dikatakan oleh Retno mampu membuat dia menemukan ide cemerlang sebelum dirinya benar-benar didepak oleh Ridho.



"Emak-emak cantik, dengarkan siapa yang mendapat arisan untuk bulan ini. Beruntung banget deh, mana harga emas lagi turun, bisa dibelikan perhiasan ini," ucap Sarita membuyarkan lamunan Wulan.



Semua yang hadir memandang Sarita dengan rasa penasaran. Semua kecuali yang sudah dapat berharap kalau namanya yang keluar dan membawa pulang duit seratus juta.



"Yang disebut namanya, silakan maju ke depan untuk mengambil uang yang didapat," ucap Sarita.



Semua terdiam, mereka menghentikan semua aktivitasnya hanya untuk mendengarkan satu nama yang terucap dari bibir Sarita.