Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab 84


“Arrgh ..!!”


Clara berteriak kencang. Dia merasa begitu frustrasi akan keadaannya sekarang. “Ini bukan salahku!” teriak Clara masih duduk di kursi rodanya.


Cloe memandang diam ke arah Clara yang mulai terlihat semakin berlebihan. Awalnya Cloe mengira Clara hanya ingin melampiaskan kekesalannya sesaat namun lihatlah sekarang keadaan kamar mereka yang mulai berantakan dengan barang-barang yang sudah berserakan di semua tempat.


“Kak, berhenti sekarang!" ucap Cloe berusaha memegang tangan Clara yang sedang menarik rambutnya sendiri dengan raut wajah marah.


Plak!


Clara menepis tangan Cloe. Ditatapnya dengan sorot mata marah ke arah Cloe. “Diam! Diam!” teriak Clara dengan mata yang melotot sempurna.


Clara memegang kepalanya dan menggelengkannya dengan keras seakan dia mencoba melupakan fakta kehidupannya yang tidak seperti sebelumnya.


Cloe menghela nafas pelan. perasaan kesal mulai menghampirinya ketika melihat Clara yang mengamuk tidak jelas. Padahal awalnya dia cukup senang karena Clara mulai menunjukkan emosinya namun dia juga tidak ingin kamarnya menjadi seberantakan sekarang hanya karena Clara melampiaskan semua perasaannya.


“Kak! Berhenti! Mau sampai kapan Kakak seperti ini?!” seru Cloe memegang kedua bahu Clara.


Mau bagaimanapun saat ini dia harus membuat Clara lebih tenang agar Clara dapat tertidur karena hari yang sudah semakin malam.


“Diam! Lepaskan!” teriak Clara kembali menepis tangan Cloe.


Kali ini pun Clara mendorong tubuh Cloe hingga membuat Cloe kehilangan keseimbangan badannya dan terjatuh ke lantai kamarnya.


“Aw!” pekik Cloe sakit karena dia terjatuh cukup keras ke lantai.


Clara berjalan melewati Cloe dan berjalan ke arah meja rias. Dia lemparnya semua alat make up di atas meja rias itu hingga semuanya tidak berbentuk lagi dan telah tergelatak di atas lantai kamar.


Cloe mengepalkan tangannya. Dia meras asemakin kesal karena Clara mulai bersikpa seenaknya. “Kak! Tolong hentikan kelakuan tidak jelas ini, Kak!”


Cloe bangkit berdiri dan menghampiri ke arah Clara. “Kak!” panggil Cloe sekali lagi dengan tangannya yang memegang salah satu bahu Clara.


“Argh! Semuanya hancur! Aku tidak ingin hidup seperti ini!” teriak Clara yang mulai kehilangan akal sehatnya. Dia bahkan tidak pedulijika barang-barang di dalam kamar itu semuanya rusak dan tidak lagi bisa digunakan.


Emosinya sedang tidak stabil. Semua ingatan mengenai perbuatannya yang gagal dan hidupnya yang mulai hancur kembali berputar di dalam kepalanya.


Clara memegang kepalanya dan berteriak kencang. Bahkan wajahnya sudah memerah karena emosi yang diluap-luapkannya keluar.


Cloe tidak habis pikir dengan Clara yang mulai hilang kendali. Padahal Cloe membawa pulang Clara bermaksud untuk membuat Clara menjadi lebih normal seperti sebelumnya. Namun kelakuan Clara sekarang ini membuat Cloe kehilangan cara untuk membujuk dan menenangkan Clara.


Cloe memandang sekeliling kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Dia menghela nafas pelan dan mengusap kasar wajahnya. “Menyebalkan!” decak Cloe kesal.


Tentu nantinya yang harus membersihkan semua kekacauan itu adalah dirinya sendiri. Sudah sangat malam namun dia dibuat pusing akan kelakuan Clara.


“Kak! Lihat Cloe sekarang!” pekik Cloe marah. Dia tidak tahan lagi akan amukan dari Clara yang semakin tidak terkontrol.


Cloe menarik paksa pergelangan tangan Clara yang sedang memegangi kepalanya sendiri. “Kak Clara!” teriak Cloe tepat di depan wajah Clara.


Seketika teriakan Clara berhenti. Dia menatap ke arah Cloe dengan tatapan kosongnya seakan dia tidak bisa berpikir apapun lagi sekarang.


Cloe mengambil nafas panjang sebelum dihembuskannya perlahan. “Tolong sekarang tenanglah! Mau sampai kapan Kakak mengamuk begini?” tanya Cloe masih berusaha bersabar menghadapi Clara yang sudah terdiam di depannya.


“Diam,” lirih Clara pelan. kepalanya ditundukkannya dan pandangannya mulai menatap ke arah lantai yang diinjaknya sekarang. “Kamu tidak tahu apapun!” teriak Clara kembali setelah tadi sempat terdiam.


Clara terjatuh di atas lantai. Dia memeluk lututnya dengan erat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Ini bukan salahku! Aku tidak salah! Semua salah mereka!” ucap Clara berulang-ulang.


Isakan tangis mulai terdengar di setiap ucapan yang terlontar dari bibir Clara. Bibirnya bahkan bergetar namun kata demi kata yang terucap selalu berulang-ulang dan mengatakan kalau semuanya bukanlah salahnya.


Cloe mendengus malas melihat kakaknya yang sudah tidak bisa dia tenangkan lagi. “Salahku karena membawanya pulang. Harusnya aku biarkan saja dia di rumah sakit jiwa,” ucap Cloe mulai menyesali keputusannya membawa Clara pulang dengannya.


Dia terlalu berpikiran naif untuk mengubah Clara menjadi lebih baik. nyatanya dia tidak mampu melakukan apapun ketika Clara mengamuk dengan emosinya yang sedang tidak stabil.


Cloe mendudukkan dirinya di pinggir kasur yang spre-inya sudah terlepas dari kasurnya. Dia menghela nafas berat dan menatap ke arah Clara yang tidak berhenti menangis sejak tadi.


“Berhenti menangis! Berisik!” ucap Cloe kesal karena tidak tahan akan suara tangisan histeris Clara yang semakin kencang terdengar.


“Ck! Menyebalkan! Kakak hanya merepotkan saja! Harusnya Kakak dengarkan aku dan jangan bertindak tidak jelas seperti ini!” Cloe menatap ke lantai kamarnya yang telah dipenuhi oleh barang-barang jatuh dan ada juga pecahan kaca di lantai tersebut. “Lihat! Kakak yang membuat semuanya berantakan seperti ini!”


Clara semakin menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.


Cloe sebenarnya cukup frustrasi dengan keadaan Clara yang benar-benar mirip orang sakit jiwa. Bahkan Clara seakan tidak lagi mengenali Cloe yang masih menatap ke arah Clara sekarang.


“Kalau begini, mungkin aku harus bawa Kakak kembali ke rumah sakit jiwa lagi. Aku kira kakak sudah banyak kemajuan, tapi nyatanya kakak belum bisa mengendalikan diri. Kakak tidak bisa terima kenyataan hidup!” ucap Cloe yang sudah kehilangan cara untuk membuat Clara menjadi seperti orang normal lainnya.


Cloe berdecak muak dan bangkit dari duduknya. Dia berjalan keluar kamar dengan pintu yang ditutupnya kasar, memperlihatkan seberapa marah dan kesalnya dia saat ini terhadap semua perbuatan Clara yang mengacaukan kamarnya itu.


Cloe mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia menghela nafas pelan sebelum mencoba mengetikkan nomor rumah sakit jiwa yang biasa Cloe memeriksakan Clara. Walau sesekali Cloe harus ke rumah sakit umum terdekat dimana sang dokter psikiatri juga praktek di situ.


“Halo, bisakah kirimkan ambulan sekarang? Ada pasien sakit jiwa yang harus dirawat,” ucap Cloe setelah panggilan darinya dijawab oleh pihak rumah sakit jiwa itu.


Cloe pun memberikan alamat rumahnya dan setelahnya panggilan itu pun berakhir. Dia menyimpan kembali ponselnya lalu menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup.


Brak!


Prang!


Suara barang yang berjatuhan kembali terdengar dari dalam kamar. Cloe menghela nafas malas. Dia sudah tahu kalau Clara lagi-lagi kembali mengamuk dan melempar barang-barang miliknya.


Cloe sudah cukup muak dan jengah menghadapi Clara yang tidak bisa diajak bicara baik-baik saat ini. Satu-satunya cara yaitu dia mengirimkan Clara untuk kembali dirawat di rumah sakit jiwa hingga emosinya bisa kembali stabil.


“Aku tidak punya pilihan lain, Kak. Ini semua juga demi kebaikan Kakak. Aku tidak mau Kakak jadi orang gila kalau tidak segera diobati dengan baik,” ucap Cloe seraya mendudukkan dirinya di sofa. Dia hanya perlu menunggu hingga ambulan rumah sakit jiwa datang menjemput Clara.


Pupus sudah harapan Cloe untuk bisa membuat sang kakak kembali normal. Clara ternyata rapuh dan terlalu dalam tenggelam dalam masa lalu yang sangat menyakitkan.



Tidak berapa lama kemudian sebuah ambulans dari rumah sakit jiwa. Dua petugas berseragam putih turun membawa perlengkapan berjaga adanya perlawanan dari pasien.



"Maaf, Nona. Di mana pasien itu berada?" tanya petugas yang dikirim dari rumah sakit jiwa.


"Mari ikut saya, Pak. Pasiennya ada di dalam," ungkap Cloe membukakan pintu dua petugas tersebut.


"Baik, Nona," ucap petugas itu mengekor di belakang Cloe.



Klek!



Cloe membuka pintu kamar Clara sembari mengernyitkan alisnya. Suara barang pecah sudah tidak ada, dan suara teriakan Clara sudah berhenti.



"Bapak masuk saja, pasiennya ada di dalam. Tapi hati-hati sewaktu-waktu pasien mengamuk lagi," ujar Cloe berdiri di depan pintu, dia tidak berani masuk. Takut jika sang kakak akan melemparinya dengan barang yang bisa Clara raih.



Dia petugas itu saling memberi komando. Berjaga jika Clara tiba-tiba mengamuk.



Braak!



Praaang ....!



"Pergi ...! Pergiiii ...! Jangan mendekat!! Atau aku akan bunuh kalian!" teriak Clara. Cloe yang berada di luar kamar pun terkejut dan bergidik ngeri.



"Untung saja kau tidak ikut masuk! Jika tadi aku masuk, pastilah tidak akan luput dari lemparan kak Clara!" ujar Cloe dengan tangan yang bersedekah di dada. Membayangkan saja Cloe sudah bergidik ngeri, apalagi jika benar -benar berada di dalam kamar tersebut.