
Dokter masih mengerutkan alisnya, berulang kali menggerakkan tranduser mengitari perut Wulan.
"Sebentar, Nyonya. Saya sedang memastikan di mana letak calon bayi Anda. Kantung sudah terbentuk, tapi mengapa bakal janinnya belum ada?" ucap sang dokter masih fokus ke arah monitor.
Hati Wulan sudah berdebar tidak karuan, keringat dingin pun keluar. Dia sangat takut jika sesuatu menimpa kandungannya. Kandungan inilah yang akan membuatnya mendapatkan perlakuan istimewa dari kedua suami dan mertuanya.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Dok?" Ridho sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kandungan sang istri.
Dokter pun kemudian meminta pada susternya untuk mengganti alat dengan yang lebih modern. Dokter akan melakukan USG transvaginam, di mana semua akan lebih jelas jika memakai alat tersebut.
Suster pun bergegas menyiapkan alat yang diminta oleh sang dokter. Wulan diminta berpindah tempat.
Dokter mulai memeriksa kembali kandungan Wulan. Benar saja yang dikhawatirkan dokter itu nyata. Wulan mengalami hamil anggur.
"Maaf, Nyonya. Ternyata anda mengalami istilah hamil anggur, di mana kantung janin tidak ada isinya. Perlu dibersihkan agar Anda bisa hamil lagi," ucap sang dokter.
"Apa?!" pekik Wulan dan Satria bersamaan. Mereka terkejut ternyata selama ini, Wulan hanya hamil anggur. Tidak ada bakal calon bayi yang tumbuh di rahimnya.
"Dok, Anda pasti salah. Tidak mungkin saya hamil anggur, Dok!" seru Wulan tidak terima. Dia sangat berharap bahwa kehamilannya kali ini membawa keberuntungan bagi dirinya. Satu hal yang pasti akan bisa dijadikan alat untuk pamer pada Tia.
"Bisa Anda lihat sendiri ke dalam layar monitor itu, Nyonya. Lihat kantung itu tidak ada janinnya sama sekali!" Sang dokter dengan sabar menjelaskan semua pada Wulan.
"Tenang, Sayang. Kita cari dokter lain yang lebih bagus, siapa tahu dokter yang di sini tidak becus memeriksa mu," bisik Ridho lirih.
Dengan wajah menahan kesal Ridho menarik sang istri yang baru saja selesai merapikan bajunya keluar dari ruang praktek sang dokter.
"Ada orang yang seperti itu ya, Dok? Apa dikira seorang dokter akan asal -asalan melakukan diagnosa," ucap sang suster yang ikut kesal dengan apa yang dilakukan Ridho dan Wulan.
"Benar, pasien tidak ada akhlak! Seenaknya bilang tidak becus. Emang dia sendiri becus ngurusin istrinya sendiri? Sampai hamil seperti itu tidak paham gejalanya," jawab sang dokter perempuan manis dan berjilbab itu.
"Sepertinya begitu, istrinya pasti mengalami gejala tapi tidak dia perhatikan. Sudahlah, Dok. Biarkan saja orang aneh macam dia. Tidak bisa menghargai orang lain. Kasihan istrinya," imbuh sang suster.
Ridho membawa Wulan ke ruang administrasi untuk membayar biaya yang harus dia bayar.
"Tuan, kartu kredit Anda tidak bisa untuk membayar tagihan ini," ucap sang petugas administrasi.
"Apa?! Mengapa bisa begitu, Kak?" tanya Ridho penasaran karena baru tahu kalau kartu kreditnya ditolak.
"Limit saldo Anda tidak mencukupi untuk membayar semua tagihan," ucap sang petugas lagi.
"Bagaimana bisa?! Aku selalu isi, mana mungkin bisa?" Ridho terkejut luar biasa. Kepalanya berdenyut, tangannya mengepal kuat. Ridho sama sekali tidak menyangka jika saldo rekeningnya habis.
"Mm ... Mas, maaf. Aku yang ambil uangnya, Mas," celetuk Wulan di belakang Ridho.
"Apa?!" teriak Ridho keras, membuat hampir semua pengunjung menoleh ke arahnya.