Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 110


1 jam kemudian ....


Wulan sudah duduk manis di kafe yang dipilih oleh Clara. Dengan gayanya yang sok artis, Wulan duduk dengan jumawa.


"Sebentar lagi aku akan kaya raya!" Wulan bergumam di dalam hati sembari menikmati segelas es cappucino float. Karena terlalu asyik melamun, Wulan tidak tahu jika Clara sudah datang bersama seseorang.


Clara meminta orang yang dibawanya untuk duduk tidak jauh dari tempat Clara dan Wulan berbicara. Tujuan Clara adalah membuat kejutan untuk Wulan. Clara bukan perempuan yang bod0h, dia sangat cerdik untuk bisa membuat seseorang masuk dalam jeratannya.


Hal yang sama telah Clara lakukan terhadap Gunawan-- suaminya. Clara adalah sosok wanita yang rela melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Kamu Wulan?" tanya Clara tiba-tiba saat dia sudah berada di depan Wulan.


Wulan terkejut, hampir saja minumannya tumpah karena kedatangan Clara yang tiba-tiba.


"Anda siapa, berani sekali mengganggu saya?!" hardik Wulan yang belum tahu wajah Clara.


"Aku adalah ibu wanita yang ingin kau sakiti dengan video tidak bermoral mu itu!" jawab Clara ketus.


"Ooo ... Anda nyonya Clara? Sang mertua kaya raya itu?" Sinis Wulan.


"Cepat katakan apa maksud dari pesan yang kau kirimkan!" Clara duduk tanpa diminta duduk oleh Wulan.


"Tenang, Nyonya. Jangan sampai darah tinggi Anda kumat jika marah-marah seperti itu terus. Seperti yang saya bilang, saya akan mengirim video ini ke publik jika Anda tidak mau memenuhi permintaan saya," jawab Wulan santai.


Clara mencebik kesal, dirinya merasa dipermainkan oleh wanita yang jauh di bawahnya.


"Bagaimana bisa saya yakin jika video itu asli bukan editan?" ucap Clara menanyakan keaslian video yang dimiliki oleh Wulan.


Wulan tersenyum remeh lalu menjawab, "Jelas ini asli, Nyonya. Karen semua ada di ponsel milik menantu Anda sendiri. Suatu keberuntungan bagi saya yang waktu itu ditinggal sendirian saat nyonya menghancurkan malam indah kami," ucap Wulan dengan mata yang menunjukkan kebencian.


"Apa kau yakin itu adalah Steve? Bukan orang lain?" Clara mendesak Wulan agar Wulan ragu.


"Jelas saja, Nyonya. Ini bukan editan, di dalam video tersebut jelas sekali pelakunya adalah menantu Anda!!" geram Wulan karena Clara masih belum yakin juga.


"Perlihatkan, biar saya yakin jika itu adalah Steve menantu saya!" Clara kembali mendesak Wulan.


"Baiklah, lihat!!" Wulan memperlihatkan video tersebut pada Clara.


Clara ingin memastikan apakah yang ada dalam video itu benar-benar Steve. Dengan serius Clara menyaksikan video-video yang ada di dalam ponsel Steve.


"Dari mana kau dapatkan ponsel Steve, apakah kau mencurinya!" Clara mulai sadar bagaimana Wulan bisa mendapatkan ponsel Steve.


"Saya tidak mencurinya, saya hanya menemukan di hotel karena ponsel itu tertinggal saat Steve panik pergi begitu saja!" elak Wulan dengan mimik wajah yang sudah teramat geram dengan Clara.


"Itu sama saja kau mencurinya, karena menemukan barang sudah tahu siapa yang punya tapi tidak dikembalikan!" tuduh Clara. Clara menyesali kebodohan lelaki yang masih menyandang status sebagai menantunya itu.


"Beda, Nyonya. Saya tidak mencurinya, hanya memanfaatkannya saja. Tapi cukup! Anda mau bayar atau ingin video ini saya viralkan!" gertak Wulan yang sudah bosan dengan perdebatan dengan Clara.


"Jelas! Sekarang cepat katakan, Anda pilih yang mana!! Saya tidak mau membuang waktu lagi!" sahut Wulan dengan nada yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


"Baiklah ... Amar, kemari!" Bukannya mengikat kerja sama dengan Wulan, Clara malah memanggil lelaki yang datang bersamanya.


Wulan mengernyitkan alisnya lantaran melihat Clara memanggil seseorang. Lelaki yang semula duduk tidak jauh dari meja Wulan dan Clara, berdiri dan menghampiri Clara.


"Siap, Tante!" ucap lelaki yang dipanggil Amar oleh Clara.


"Sudah kau kerjakan tugasmu?" tanya Clara pada lelaki tersebut.


"Sudah, Tante." Amar menjawab dengan tegas. Lelaki berperawakan tinggi besar khas seorang anggota kepolisian menjawab sambil mengangguk.


"Bagus! Oh ya, Wulan. Kenalkan dia adalah keponakanku yang bekerja di kepolisian. Dia sudah merekam semua pembicaraan kita. Dan asal kau tahu, semua yang kau lakukan padaku sudah termasuk dalam pasal pidana karena mengancam dan merampok. Bagaimana? Sekarang tentukan saja! Pilih kau tetap viralkan video itu atau kau akan merasakan dinginnya lantai penjara!"


Clara berkata dengan seringai yang membuat Wulan terkejut bukan kepalang.


Glek!


Wulan menelan kasar ludahnya, sekarang dia dalam kebingungan. Bukannya mendapatkan apa yang ia inginkan, akan tetapi malah mendapat ancaman.


"Bagaimana Wulan? Satu lagi, pasal pencemaran nama baik juga patut untuk dipikirkan. Berapa tahun kau akan merasakan dinginnya lantai penjara, itu semua terserah padamu," ucap Clara dengan sinis.


"Gawat! Bagaimana ini? Rencana ku gagal semua! Ternyata keluarga mertua Steve adalah keluarga yang memiliki pengaruh di kota ini," gumam Wulan di dalam hati. Sesekali dia melirik ke arah Amar yang berpenampilan layaknya seperti seorang anggota kepolisian.


Wulan masih terdiam, belum memberikan pilihannya.


"Satu lagi, Wulan. Aku akan memberikan kejutan untukmu. Lima menit lagi kau pasti akan merasa menjadi menantu yang paling beruntung," ucap Clara lagi.


Wulan semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang seumuran dengan ibunya itu.


"Ma ... Maksud Anda apa, Nyonya?" tanya Wulan dengan tergagap karena adanya rasa takut yang mulai menyelinap di dalam hatinya.


Clara berdiri dari duduknya, lalu mendekat ke kursi Linda.


"Tidak usah takut, tenang saja. Pasti kau akan bahagia dengan kejutanku kali ini," ucap Clara setengah berbisik di dekat telinga Wulan. Sejurus kemudian dia menepuk bahu Wulan yang terlihat sudah merasa tidak nyaman di tempat duduknya.


Keringat dingin sudah membasahi dahi Wulan, entah kejutan apa yang akan di dapatkan dari Clara. Wulan mengaitkan jemarinya untuk menenangkan dirinya. Apa yang sudah ia bayangkan sebelumnya ternyata hanya ada di angan saja. Kenyataan tidaklah seindah apa yang dibayangkan.


"Hai, Kakak!" teriak perempuan hampir seumuran dengan Clara memanggil dari arah pintu masuk. Wanita itu datang bersama seorang lelaki yang usianya lebih tua darinya. Mungkin itu adalah suami dari wanita itu.


"Hai, ke sini lah, Kau. Kita ada di sini!" sahut Clara dengan melambaikan tangannya. Senyum kemenangan terbit di sudut bibir Clara. Tidak percuma dirinya mengirim ongkos perjalanan pada sang adik ipar.


"Wulan, kejutan untukmu sedang berjalan ke sini. Lihatlah siapa yang datang," ucap Clara dengan nada mengejek.


Wulan menoleh ke arah yang dimaksud oleh Clara. Seketika mata Wulan membulat tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh netranya itu. Wulan menggosok kedua mata dengan kedua tangannya.