
Bab. 44.
Aris dan Hasan bermain bersama di ruang tengah hingga Hasan tertidur di samping Aris.
"Hmm ... Semua pasti sudah tidru, lebih baik aku pindahkan Hasan ke kamar," ucap Aris menggendong tubuh kecil Hasan menuju ke kamar di mana Hasna juga tidur.
Setelah selesai menempatkan Hasan di tempat tidurnya, Aris kembali ke kamar. Aris merasa gelisah melihat selimut Devi yang tersingkap.
"Astaghfirullah ... Ya Allah kuatkan hamba Mu ini, sangat berat menahan gelora yang ada di dalam dada," gumam Aris mondar-mandir di depan ranjangnya.
Dengan langkah frustasi, Aris memilih ke kamar mandi untuk mandi dan meredam semua hasr4t kelelakiannya.
"Aris kamu harus sabar, tunggu hingga tujuh hari mendatang!" Aris bermonolog di bawah guyuran air dari shower. Setelah tubuhnya merasa dingin, Aris menyelesaikan mandinya dan berpakaian.
Klek!
Aris keluar dari pintu kamar mandi, badannya sudah terasa lebih segar. Aris mengambil selimutnya dan memilih untuk tidur di sofa. Aris bersikap demikian karena Aris tidak ingin khilaf, melanggar aturan agama.
Keesokan harinya ....
Pagi yang cerah menyinari bumi, menandakan aktivitas pun akan dimulai. Aris sudah bangun duluan dan segera menyiapkan sarapan pagi untuk istri dan keponakannya. Setelah selesai semua, Aris kembali ke kamar dan membangunkan istrinya.
"Sayang ... Mas berangkat kerja dulu, semua sudah mas siapkan dan kamu tinggal mengurus dua bocil itu kalau mereka sudah bangun," ucap Aris mengusap wajah sang istri yang masih tertidur. Hal biasa yang dilakukan saat masih belum menikah, jikalau sedang berhalangan sholat pastilah akan bangun siang.
"Hoaam ...." Devi menggeliat dan membuka matanya.
"Ssst ... Sudah, tenanglah ... Mas sudah menanak nasi dan bikin lauk telur dadar," ucap Aris menenangkan sang istri.
"Aduh, Mas. Devi jadi malu, seharusnya Devi yang siapin semua. Tapi malah mas Aris. Eh ... Tunggu dulu, mas mau kemana kok rapi sekali? Sudah pakai kemeja dan jas?" tanya Devi panik. Pasalnya sebagai istri dia merasa gagal, tidak melayani kebutuhan lahir dan batin sang suami.
"Tidak apa-apa, mas sudah terbiasa menyiapkan semua sendiri. Kamu cukup menggantinya satu Minggu lagi, okey?" ucap Aris mengedipkan mata sebelah kanannya.
Devi melongo, belum paham apa yang dimaksud sang suami.
"Kenapa musti harus menunggu satu minggu lagi, Mas?" tanya Devi yang benar-benar polos.
"Semua hak ku akan mas tagih nanti setelah satu Minggu lagi. Untuk itu selama seminggu ini mas yang akan melayani mu dan satu Minggu yang akan datang kau harus melayani mas sewaktu - waktu mas pingin," ucap Arus sembari mengerling nakal.
Devi menunduk malu mendengar keinginan Aris. Dia tidak menyangka Aris yang dulu Devi kira dingin, ternyata begitu nakal nya.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Devu melangkah mengiringi langkah Aris yang juga hendak pergi meninggalkan rumahnya.
Devi kembali masuk berniat ingin membangunkan Hasan dan Hasna. Langkahnya terhenti tatkala merasa ada yang mengawasi dirinya. Devi menoleh ke belakang dan seketika terlihat olehnya bayangan yang berkelebat.
"Siapa itu?!" teriak Devi dengan lantang. Tidak ada yang membuat dirinya takut kecuali mama dan papanya.
Tidak ada Jawaban dan bayangan tadi bersembunyi entah kemana. Devi pun melangkah keluar, dicarinya sosok orang yang dianggapnya mencurigakan.