
Sinta terpukul dan tak bisa berkata-kata. Tubuhnya membeku dan matanya menatap tak percaya pada lelaki yang lebih tua di sebelahnya.
"Teman-teman semua yang mengenal saya sebagai pemilik perusahaan garment terbesar di kota ini, saya menyatakan dengan tegas bahwa saya tidak punya hubungan darah dengan wanita yang ada di samping saya ini. Sampai di sini saja, maaf jika saya mengganggu acara kalian," ujar Gunawan dengan tegas. Kemudian, tanpa menoleh ke arah Sinta, Gunawan pergi meninggalkan tempat itu.
Sadar bahwa Gunawan pergi, Sinta berlari mengejarnya.
"Papa... Papa... Tunggu!" teriak Sinta, tetapi sayangnya, Gunawan tidak bergeming. Sinta berhenti karena tidak bisa meninggalkan Sherly yang masih menangis.
"Maamaaa... Mamaaaa...." tangis Sherly memanggil Sinta, sang ibu.
Sinta kembali ke mana Sherly berada bersama dengan Laras dan Galih. Sinta mendekati putrinya dan menggendongnya.
"Maaf, Bu Laras. Anak saya sudah menangis, mungkin dia sudah mengantuk. Ijinkan saya pamit, kasihan anak saya!" pinta Sinta dengan wajah sedih.
Laras menghela napas berat; sebagai ibu, dia paham bagaimana jika anak sudah tidak bisa diajak kompromi, apalagi keinginan untuk memviralkan selingkuhan suaminya sudah tercapai. Laras senang bisa membalas perbuatan suaminya yang berkhianat di belakangnya.
"Baiklah, silakan pergi! Tapi ingat, jika saya mendengar Anda masih berhubungan dengan suami saya, saya bisa pastikan bahwa Anda akan berakhir di dalam sel tahanan!"
"Baik, Bu. Saya akan ingat apa yang ibu katakan. Izin pulang ya!" pamit Sinta, berharap masih ada kesempatan untuk mengejar Gunawan di lobby mall.
"Wanita tanpa malu! Sukanya mengganggu suami orang!" gumam Laras menatap punggung Sinta yang berlalu meninggalkan restoran.
"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu. Semua ini tidaklah seperti yang kamu kira. Aku dan Sinta hanyalah partner bisnis biasa. Tidak lebih! Tadi kami hanya sedang membicarakan bisnis sambil makan malam biasa!" rayu Galih berharap istrinya mau mendengarkannya.
"Cukup, Mas. Mulai besok dan seterusnya, perusahaan ini akan aku pegang! Terserah kamu mau jadi pengangguran atau gembel sekalian, aku tidak peduli lagi!" seru Laras dengan tegas.
Sementara itu, Gunawan melajukan mobilnya menuju keluar mall.
"Kurang ajar! Ternyata Sinta sudah berani menipuku dan juga mengkhianati kepercayaan yang kuberikan. Ternyata dia sama saja dengan ibunya! Tidak tahu malu dan tidak punya rasa terimakasih. Seharusnya kesempatan yang kuberikan tidak digunakan dengan sia-sia saja!" geram Gunawan yang sangat kecewa dengan Sinta yang telah dianggapnya sebagai anak kandungnya. Akan tetapi, Sinta tidak memperdulikan hal ini.
Gunawan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin terjadi apa-apa pada dirinya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, kemampuannya untuk mengemudikan mobil dengan baik adalah sebuah anugerah yang disyukurinya.
Gunawan mengingat sejarah hidupnya di mana ia selalu dikhianati oleh orang yang ia sayangi, termasuk Clara dan Sinta. Namun, hal yang tidak bisa dipahami oleh Gunawan adalah mengapa Clara dan Sinta tidak memahami kasih sayang tulus yang ia berikan kepada mereka.
Sebagai manusia biasa, Gunawan tidak bisa menahan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Alhamdulillah ya Allah, di atas semua yang Engkau ujikan, aku masih memiliki seorang putri yang baik. Walau dari hasil yang tidak Engkau ridhoi, tapi dia bisa tumbuh menjadi sosok yang begitu membanggakan," ujar Gunawan tersenyum mengenang wajah cantik putrinya.
Mobil terus melaju hingga Gunawan tiba di rumahnya. Dia memanggil semua pekerja yang ada di rumah itu.
"Bik! Kumpulkan semua pekerja di sini, sekarang!" perintah Gunawan sesampainya di dalam rumahnya.
"Baik, Tuan," jawab sang ibu rumah tangga dengan wajah cemas, antara terkejut, bingung, dan khawatir dipecat oleh Gunawan.
Para pekerja berkumpul di ruang tengah dengan wajah gelisah karena takut dipecat.
"Dengarkan baik-baik perintah saya! Keluarkan semua barang Sinta yang ada di kamarnya! Jangan sampai ada yang tertinggal. Setelah itu, letakkan di luar rumah dan kunci pintu! Jika ada yang membuka pintu untuk Sinta, maka besok kalian bisa pasti sudah tidak akan bekerja lagi di sini! Paham?" teriak Gunawan dengan muka memerah karena amarahnya.
Para pekerja saling pandang, lalu mereka berbisik-bisik. Ada yang merasa kasihan pada Sinta, namun tidak bisa berbuat banyak karena mereka membutuhkan pekerjaan mereka saat ini. Ada juga yang merasa senang dengan ketegasan Gunawan. Ketegasan yang sejak lama mereka harapkan.
"Baik, Tuan!" jawab para pekerja dan pelayan serentak.
"Lakukan sekarang juga!" tegas Gunawan lagi. Para pekerja bergegas ke kamar Sinta untuk mengambil semua barang milik Sinta tanpa terkecuali.
"Tuan, semua sudah selesai," ucap salah satu pelayan Gunawan sambil menarik koper Sinta.
"Bagus! Sekarang secepatnya kalian bawa keluar semua barang! Jangan sampai ada yang tertinggal! Setelah itu, tutup dan kunci semua pintu dan jendela! Aku tidak ingin Sinta kembali ke rumah ini lagi!!" perintah Gunawan dengan tegas.
"Baik, Pak. Kami akan membawa semua tas di depan," jawab sang pelayan.
Para pelayan mulai menarik roda koper satu per satu hingga semua barang milik Sinta keluar dari rumah Gunawan. Setelah selesai, mereka menutup semua pintu dan jendela, kemudian masuk dan mengunci dari dalam.
Tin... tin...
Sebuah mobil berwarna hitam dan berlogo aplikasi mobil online memasuki halaman rumah mewah Gunawan. Mobil itu memberikan klakson berharap ada yang membukakan pintu gerbang, namun tidak ada satupun pelayan yang keluar seperti biasanya saat menyambut kedatangan tamu.
"Saya turun di sini saja, Pak. Sepertinya mereka tidak mendengar mobil kami," ucap Sinta pada pengemudi mobil online.
"Siap, Nyonya. Harap hati-hati karena Sherly sepertinya sudah mengantuk," peringatkan pengemudi mobil online.
Setelah selesai membayar, Sinta membuka gerbang rumah Gunawan.