Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 55


Bab 55


"Selamat pagi menjelang siang semuanya. Maaf atas keterlambatan saya. Istri saya baru dirawat di rumah sakit karena ada masalah dalam kandungannya, berdasar keputusan dokter terpaksa janin itu diangkat dari rahim istri saya. Jadi saya minta maaf dan mohon pada dewan komisaris semua untuk memaklumi kondisi saya," ucap Ridho memberikan alasan akan keterlambatannya.



Semua anggota riuh berkasak-kusuk membicarakan Ridho.



"Selamat pagi menjelang siang kembali, Tuan Ridho. Saya sebagai ketua dewan komisaris bersama anggota dewan yang lain datang untuk meminta penjelasan pada tuan Ridho mengenai video yang sedang viral tadi pagi. Kami takut jika semua itu memengaruhi bursa saham bisnis kita. Tolong klarifikasi dan segera pulihkan kredibilitas perusahaan ini. Katakan jika semua itu bukan Anda dan hanya editan saja."



Salah satu di antara para dewan komisaris yang menjabat sebagai ketua, meminta penjelasan dari Ridho. Keringat dingin kembali tumbuh di dahi Ridho. Wajahnya mulai tegang. Bagaimana ia akan menjelaskan bahwa semua itu adalah nyata, bukan rekayasa semata.



"Siaal ...! Aku harus jawab apa?!"geram Ridho di dalam hati. Ridho merasa semua ini gara-gara ulah Rosie.



"Ah, maaf. Begini, Tuan. Mmm ...." Ridho gugup dan menghentikan ucapannya. Dia benar-benar bingung harus menjawab apa lagi. Ternyata para dewan komisaris itu tidak sedang main-main.



"Bagaimana, Tuan Ridho. Jawab kami dengan jelas. Jangan membuat kami tidak percaya lagi pada perusahaan Anda! Harga saham yang semakin ke sini semakin turun, tentu saja membuat kami semakin khawatir untuk masih terus menanamkan modal di perusahaan ini. Terakhir keuntungan yang dibayarkan pada kami sangat sedikit, berbeda dengan enam bulan yang lalu."



Sang ketua dewan komisaris terus mendesak Ridho. Ia juga tidak ingin kehilangan saham yang sudah ditanam di perusahaan Ridho.



"Ah, Maaf semua, video itu memang benar, tapi bukan begitu kejadian yang sesungguhnya. Saya bisa jelaskan dan membawa kemari wanita itu," ucap Ridho membela diri.



Semua kembali terlihat berbisik-bisik sembari menatap ke arah Ridho.



"Bagaimana dengan saham kita? Kami semua tentu tidak ingin rugi. Kami ingin saham kami kembali!" teriak salah satu anggota yang lantang berbicara.




"Baiklah, semua saham akan saya kembalikan. Tapi tolong beri saya waktu satu Minggu," ucap Ridho meminta kelonggaran waktu.



Semua anggota kembali berunding. Mereka pun bersedia memberi waktu pada Ridho untuk mengembalikan saham mereka.



"Baiklah, kami akan memberi waktu untuk Anda mengembalikan saham kami seminggu lagi. Jika hal itu tidak Anda tepati maka kami akan mengambil jalan hukum. Akan kami laporkan Anda sebagai pelaku tindak pidana korupsi dan penggelapan dana perusahaan!!" Sang ketua dewan komisaris mengumumkan hasil rundingan dari para anggota.


Glek!


Ridho menelan ludahnya kasar. Dia bingung harus mencari uang dalam jumlah besar di mana, terlebih hanya dalam waktu satu minggu.



"Bagaimana, Tuan Ridho?" tanya sang ketua kembali.



Ridho mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan-pelan. Saat ini dadanya bagai tertindih beban berpuluh kilogram. Belum selesai masalah dengan Wulan, kini masalah perusahaan ikut membebani pikirannya.



"Baiklah, Tuan. Saya akan memenuhi permintaan kalian. Saya akan mengembalikan semua saham kalian satu Minggu lagi," ucap Ridho memberikan janji pada para anggota dewan komisaris.


Setelah mendapat kepastian dari Ridho, para anggota dewan pun meninggalkan kantor Ridho. Sedangkan Ridho terduduk lemas di kursinya.


"Ya Tuhan, dari mana aku mendapatkan uang segitu banyak. Hartaku hanya tersisa rumah dan mobil saja. Aha! Aku ingat ... aku pernah membeli tanah bersama Tia. Aku bisa menjual tanah itu untuk membayar semua hutangku," ucap Ridho tersenyum lega. Dengan tanah dan rumah itu, aku bisa membayar hutangku," gumam Ridho sambil menyeringai.



Ridho membayangkan berapa Milyar dari penjualan rumah dan tanahnya. Daripada dia harus merasakan dinginnya lantai hotel prodeo.



"Yes! aku sudah menemukan solusi untuk masalahku! Tidak perduli keluarga Wulan mau tinggal di mana. Hal yang terpenting saat ini adalah bebas dari penjara," gumam Ridho dengan senyum smirk di ujung bibirnya.