Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 49


Mobil Ridho yang dikemudikan oleh Rosie sudah sampai di hotel yang menjadi tujuan mereka. Sampai di lobi hotel, ternyata mereka tidak bisa menyewa satu pun kamar yang ada.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak bisa memberikan kunci kamar kalau nyonya dan tuan tidak bisa menunjukkan kartu nikah. Kami di sini hanya melayani pasangan yang sudah menikah saja. Maafkan kami, Nyonya!" ujar sang penjaga resepsionis. Hotel berbintang lima itu memang memiliki peraturan kalau hanya pasangan sah aja yang boleh menginap di situ.



"Heh! Kami lupa bawa surat nikah! Masa iya kami harus pulang dulu, padahal rumah kami di luar kota!" protes Rosie yang sudah mulai tersulut emosinya.



Dua orang penjaga resepsionis itu pun saling berbisik. Namun, mereka terikat akan peraturan yang dibuat oleh pemilik hotel tersebut.



"Maaf, Nyonya. Lebih baik Anda segera mencari penginapan lain. Kami tidak ingin dipecat karena melanggar aturan yang sudah berlaku. Ada hotel lain yang tidak memakai aturan seperti ini. Silakan Anda bisa mencarinya," ucap sang penjaga resepsionis dengan ramah namun juga tegas.



"Tidak! Aku akan pergi kalau sudah bertemu dengan manager hotel ini! Cepat kalian panggilkan dia!" teriak Rosie membuat keributan. Pengunjung yang lain mulai mengerumuninya.



Untuk menghindari kerumunan akhirnya salah satu penjaga itu pun memanggilkan sang manager agar tamu mereka segera di tangani.



"Maaf, Nyonya. Saya manager hotel ini. Bisa saya bantu?!" kata sosok lelaki dengan tubuh tinggi dan berkacamata tebal.



Rosie menoleh ke arah sang manager sembari masih memegangi Ridho yang tidak bisa berdiri dengan tegak karena mabuk.



"Manager, katakan pada anak buahmu itu untuk memberikan kunci kamar. Aku sudah capek membawa suamiku ini, surah nikah kami tertinggal di rumah! Aku minta kalian beri pengecualian pada kami. Kami akan membayar lebih dari tarif biasa, yang penting malam ini kami bisa secepatnya beristirahat!" cerocos Rosie mengundang lebih banyak pengunjung lain yang mendekat.




"Maaf, Nyonya. Yang namanya peraturan harus ditaati, kami tidak bisa seenaknya mengganti atau pun melanggarnya. Kami harap nyonya mau bekerjasama dengan kami. Agar suasana menjadi kondusif kembali," ucap sang manager tetap bersikeras dengan aturan yang dibuat oleh sang pemilik hotel.



Emosi Rosie semakin tidak terkontrol, dia mengamuk dengan melempar semua patung ornamen dan vas bunga yang menjadi hiasan di lobi hotel itu.



"Baiklah, lihat saja nanti. Hotel ini bakal tidak laku!!" Rosie berteriak karena kesal. Usahanya untuk membujuk sang manager telah gagal.



Security mengamankan Ridho dan Rosie. Mereka membawa kembali keduanya. Rosie dengan kesal melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia mencari hotel yang lain. Malam ini dia harus memiliki Ridho seutuhnya.



Sampai di hotel berikutnya Rosie bertanya dulu pada security yang berjaga di gerbang masuk. Dia tidak ingin malu untuk kedua kalinya.



Setelah mendapat jawaban yang diharapkan, Rosie membawa masuk Ridho dalam hotel tersebut. Mereka sekarang sudah berada di salah satu kamar termewah di antara kamar yang lain. Rosie sengaja memilihnya karena ingin merasakan hidup menjadi orang kaya.



"Mas, setelah ini kau tidak akan bisa lari dari Rosie si wanita malam ini. Dan akhirnya petualanganku di dunia malam akan berakhir, hahaha ...." Rosie tertera senang sembari melucuti semua pakaian Ridho dan pakaiannya.



Setelah tidak ada sehelai benang pun di tubuh mereka, Rosie mengambil ponselnya untuk mengabadikan semua moment indahnya bersama Ridho. Keringat yang membasahi badan dan stempel kepemilikan di tubuh Rosie tidak luput dari videonya.



Merasa lelah beradu peluh dan cairan kenikmatan. Keduanya tidur berpelukan. Semua itu tidak luput dari kamera video Rosie. Dengan rekaman itu, Rosie akan mendesak Ridho untuk menikahinya. Selain itu, sengaja Rosie tidak mengingatkan Ridho agar memakai pengaman. Rosie ingin kecebong milik Ridho tumbuh subur di dalam rahimnya.