
Jakarta,
Beberapa hari kemudian ....
Hari ini adalah jadwal Tia untuk memeriksakan kembali kandungan, dengan diantar oleh Hans, Tia mengantri di ruang praktek dokter kandungan.
"Mas ... Kenapa lama sekali antriannya, aku sudah tidak nyaman untuk duduk lebih lama lagi," keluh Tia yang merasa tidak nyaman karena terlalu lama duduk.
"Sabar, Tia. Sabar .... Sini mas bantu biar agar mereda nyeri punggung mu," ucap Hans menghibur hati sang istri.
Tia menarik napas dalam-dalam, berharap usapan Hans di punggungnya meredakan rasa tidak nyaman di punggung.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, tinggal dua antrian lagi. Kamu yang sabar ya," jawab
Hans yang merasa kasihan pada istrinya.
Tia mengangguk lemah, rasa gerah karena semakin besarnya kandungan.
"Nyonya Hans Permana," panggil seorang suster.
"Iya, Sus," jawab Hans.
"Ayo, Tia. Kita sudah dipanggil," ucap Hans membantu Tia untuk berdiri.
Tia dengan malas berdiri dan melangkah menuju ke ruangan sang dokter.
"Selamat pagi, Dok," apa Hans pada sang dokter yang sedang duduk menulis laporan pasien.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Hans. Bagaimana kabar ibu dan bayinya?" sahut sang dokter dengan memakai jilbab segitiga.
"Alhamdulillah, semua baik, Dok. Hanya sekarang duduk lama sudah tidak nyaman," jawab Tia menjelaskan semua keluhannya pada sang dokter.
"Baik, Nyonya. Semua adalah hal yang wajar jika kandungan sudah mendekati bulan kelahiran, sering buat jalan-jalan dan sujud yang lama. Sekarang kita lihat dulu dengan alat USG." Sang dokter bangkit dari duduknya dan meminta sang suster untuk membantu Tia naik ke bed.
Alat tranducer pun bergerak di atas perut Tia.
"Syukurlah, Dok. Semua baik-baik saja."
"Setelah ini, jadwal periksa jadi satu Minggu sekali ya, Tuan. Sebab, sudah mendekati hari lahir. Kita harus siaga dan tetap memantau pergerakan janin agar tidak sungsang. Tetap perbanyak jalan, sujud dan jongkok, Nyonya. Semua adalah upaya agar bayi tetap ada di jalan lahirnya."
"Siap, Dok. Kami akan selalu siaga dan menjalankan semua yang sudah disarankan oleh dokter." Hans mengangguk. Lelaki dengan kacamata minus yang bertengger di hidungnya itu tampak serius menyimak apa yang dikatakan oleh sang dokter.
"Baiklah, saya akan resepkan vitamin untuk nyonya agar tidak anemia dan bayi memiliki tulang yang kuat. Selain itu juga bagus untuk pertumbuhan otak bayi nantinya."
"Terima kasih, Dok." Hans merasa lega jika istri dan anaknya tumbuh dengan sehat.
Tidak ada kebahagiaan bagi seorang suami melihat anak dan istrinya sehat dan bahagia. Rasa letih dan lelah saat bekerja akan hilang ketika melihat sang istri dan anak menyambutnya.
Kebahagiaan Hans ternyata tidak bertahan lama, karena tiba-tiba Tia menjerit kesakitan.
"Aaarrgh ... Sakit!" jerit Tia.
"Tiaa ...!"
"Nyonya .!!"
Semua yang ada di ruangan itu panik. Dokter segera memerintahkan para suster untuk membawa Tia ke ruang tindakan.
"Sepertinya nyonya akan melahirkan, air ketubannya sudah pecah. Segera kita bawa ke ruang bersalin." Sang dokter memerintahkan susternya untuk membawa Tia ke ruang bersalin segera.
Hans yang masih syok, segera membantu menaikkan Tia di atas brankar menuju ke ruang bersalin.
"Maas ... Sakit!" jerit Tia memegangi perutnya.
"Sabar, bertahanlah Tia ... Mas ada bersama mu ...." Hans memegang tangan Tia untuk memberi kekuatan pada sang istri. Suasana menjadi tegang dan serius, wajah Hans menunjukkan kekhawatiran.