
Ketukan demi ketukan Hans layangkan di pintu kamar sang ibu. Hans tidak ketinggalan berusaha memutar handle pintu sang ibu.
"Bu ... Ibu!"
"Mas, lebih baik pintunya kita dobrak saja. Takutnya ibu kenapa -kenapa." Tia semakin cemas karena sang ibu mertua belum juga membuka pintu. Mengingat kemarin malam mereka harus saja selesai disibukkan oleh hajatan akad nikah dadakan.
"Baiklah, sebaiknya kau minggir dahulu," balas Hans bersiap mengambil kuda-kuda untuk mendobrak pintu kamar sang ibu.
"Dalam hitungan ke tiga, aku dobrak pintu ini ya. Siaap ... Satu ... Dua ... Tiga!" Hans mendobrak pintu kamar sang ibu.
Bugh!
Tubuh Hans menghantam pintu kamar Ningsih, bukannya terbuka melainkan tubuh Hans terpental.
"Mas! Hati- Hati!" ucap Tia membantu Hans berdiri.
"Aduh! Tubuh mas sakit. Mungkin belum pulih benar jadi tidak bisa mendobrak pintu kamar ibu," ucap Hans beralasan.
"Iya, Mas. Lebih baik kita mencari cara lain," ucap Tia sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
Keduanya pun sibuk mencari kunci cadangan.
Klek ... Klek!
Handle pintu seperti sedang diputar dari dalam. Tiba-tiba Ningsih keluar dari kamar.
"Hans, Tia ... Kalian sedang ngapain? Ibu tadi mendengar suara seperti benda terjatuh. Apakah itu kalian?" tanya Ningsih dengan ekspresi wajah terheran melihat anak dan menantunya itu seperti sedang mencari sesuatu.
Tia dan Hans saling menatap, sejurus kemudian keduanya tertawa terpingkal-pingkal mengingat kekonyolan keduanya barusan.
"Ibu? Ibu tidak apa-apa?" tanya Hans setelah bisa menguasai dirinya.
"Iya, ibu tidak apa-apa?" sahut Tia ikut bertanya keadaan sang mertua yang dikiranya sedang dalam bahaya.
"Tidak, ibu tidak apa-apa. Ibu sedari tadi di kamar mandi, agak lama karena ibu harus buang hajat terlebih dahulu," jawab Ningsih tanpa bersalah telah membuat anak dan menantunya itu panik dan khawatir akan keadaannya.
Lagi-lagi Tia dan Hans saling melempar pandang, sejurus kemudian mereka tertawa lagi sambil berpelukan. Ningsih tersenyum melihat keduanya semakin dekat.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya mereka berdua bisa dekat. Semoga ini adalah takdir jodoh mereka," gumam Ningsih di dalam hati, dia sangat bersyukur melihat Hans dan Tia berpelukan.
Ningsih tersenyum dan tidak berapa lama kemudian tertawa saat mendengar cerita Tia tentang Hans yang terpental.
"Kalian ada-ada saja. Tapi, ibu mengucapkan terima kasih karena telah mengkhawatirkan ibu. Oh, ya. Kalian sudah rapi mau kemana ?" tanya Ningsih melihat Hans yang sudah rapi dengan kemejanya, walau kusut karena habis mendobrak pintu kamar sang ibu.
"Ah, ini. Bu. Kita mau ke kantor pengadilan agama untuk mengambil akta cerai milik Tia. Hari ini sudah bisa diambil. Dan setelah itu baru ke KUA melengkapi surat-surat yang diperlukan, Bu," jawab Hans sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia malu karena usahanya gagal mendobrak pintu kamar sang ibu.
"Baiklah, kalian berhati-hati di jalan," imbuh Ningsih berkesan pada sang anak.
"Terima kasih, Bu. Tia, mas ganti baju dulu ya, malu kalau sampai dilihat para karyawan," ucap Hans berlalu meninggalkan Tia dan ibunya untuk berganti pakaian.
Setelah Hans pergi, Tia mendorong kursi roda sang ibu ke meja makan. Walau Ningsih memakai kursi roda, namun dia tidak mau merepotkan siapapun saat mandi atau buang hajat. Semua fasilitas yang memudahkan dirinya untuk mandi dan buang hajat sudah disediakan oleh Hans
"Tia, terimakasih. Kau sudah membuat Hans bisa tersenyum kembali. Ibu bersyukur kau masuk dalam kehidupan, Hans. Jika tidak Hans akan menjadi sosok yang dingin. Semoga kalian bisa saling menerima dan mencintai satu sama lain." Ningsih menggenggam tangan Tia, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Sama-sama, Bu. Kami berdua masih saling belajar untuk menerima dan mencintai satu sama lain. Apa yang terjadi pada kami berdua sama-sama membuat kami lebih berhati-hati lagi," timpal Tia dengan tersenyum.
"Tia, ayo kita berangkat," ajak Hans yang sudah rapi dengan kemeja dan jas hitamnya. Tidak lupa kacamata minus menghiasi hidungnya yang mancung.
"Baik, Mas. Bu, kami pamit dahulu. Assalamu 'alaikum," ucap Tia berpamitan.
"Wa'alaikum salam," jawab Ningsih melepas keduanya dengan doa di hati, agar anak dan menantunya selalu dalam lindungan Allah.
***
Sementara itu, keributan terjadi di kantor Ridho. Saham perusahaan itu tiba-tiba anjlok drastis. Sang sekretaris berulang kali menghubungi sang bos, namun tidak ada jawaban.
"Kemana si Bos. Keadaan genting begini susah dihubungi," gerutu sekretaris Ridho. Terus mengulang menekan ponselnya untuk menghubungi Ridho.
Tuut ... Tuut ....
'Nomer yang Anda hubungi sedang berada di luar servis area'
Suara monitor terdengar, menandakan ponsel Ridho sedang tidak aktif.
"Ayolah, Bos! Dewan komisaris sudah pada ngamuk!!"