
Tia melongo karena menginap di hotel tidak ada dalam rencana. Dia tahu pasti semua ini hanya akal-akalan dari Hans saja.
"Mas ... Acara menginap ini pasti sudah kau rencanakan dari awal bukan?" tanya Tia dengan mata menyipit.
Hans tersenyum kecut, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tia, hari sudah larut malam, jadi lebih baik kita menginap di sini. Ibarat kata kita mencicil malam pertama kita, hehehe ... Boleh 'kan mas meminta hak mas malam ini?" tanya Hans dengan suara parau.
Sisi maskulinnya meminta hak untuk dilepaskan. Belum lagi cacing gilig di bawah sana sudah meronta untuk dikeluarkan dari sarangnya. Sungguh peliharaan yang aneh.
"Ada syaratnya!"
"Syarat apa, Tia?" Hans bersemangat saat sang istri mulai mau menerima dirinya.
"Syarat mudah, mulai malam ini mas tidak boleh berbicara panjang lebar dengan wanita manapun!" ucap Tia, dia tidak ingin miliknya diambil orang lagi.
"Hei ... Bagaimana kalau mas harus berhadapan dengan klien wanita?" Protes Hans yang merasa tidak mungkin jika berbicara terlalu singkat dengan kliennya.
"Mas bisa kan meminta sekretaris mas untuk mewakili mas bicara! Tidak semua hal harus dibicarakan dengan pimpinan. Bisa saja menyuruh sang sekretaris untuk mengurus semua masalah klien!" celoteh Tia tanpa bersalah.
Hans merasa Tia sedang cemburu kepadanya, apabila tidak diikuti maka dia akan merasa tidak dihargai sebagai seorang istri. Hans pun akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Baiklah, Tia. Aku akan mengikuti syaratmu, jadi boleh dong kalau malam ini aku mau minta hakku padamu?" tanya Hans menggoda Tia.
" Mmm ... Itu baiklah, tapi aku mau mandi dulu, Mas. Badanku sudah gerah semua." Tia masuk ke kamar mandi, dia lupa kalau tidak membawa baju ganti.
Hans yakin setelah selesai pasti Tia akan berteriak memanggil dirinya. Kesempatan itu nanti, tidak akan Hans sia-siakan.
15 menit pun berlalu.
Apa yang dipikirkan oleh Hans terjadi juga. Tia memanggil Hans dengan suara yang lantang. "Mas ... mas bisa minta tolong? Tia lupa bawa baju ganti! Gara -gara mas juga, pakai acara nginep di hotel mendadak!" gerutu Tia.
Hans tertawa terbahak-bahak mendengarkan kicauan sang istri yang sedang marah. Dengan senyum devilnya, Hans mengambil paper bag yang berisi beberapa baju, termasuk baju dinas malam untuk istrinya. Tidak Tia ketahui kalau sang suami saat dirinya melakukan perawatan di salon, Hans sudah mempersiapkan segalanya.
Dari baju dinas malam hingga baju ganti untuk dipakai besoknya serta beberapa dalaman sudah ada di dalam paper bag tadi. Hans berjalan menuju ke kamar mandi, kemudian mengetuk pintu kamar mandi tersebut dengan perlahan.
Tok ... Tok ...
Klek
Tia membuka pintu dan mengeluarkan satu tangannya untuk mengambil baju. Hans memberikan paper bag di tangan Tia. Lima detik kemudian, Tia menutup kembali pintu kamar mandinya.
"Mas, Hans ternyata baik juga. Sudah menyiapkan baju ganti untukku," ucap Tia tersenyum memandangi paper bag berwarna pink cerah itu.
Dengan terburu Tia membuka paper bag tadi dan mengeluarkan isinya. Alangkah terkejut dirinya melihat seperti apa baju yang diberikan oleh Hans.
"Ini baju apa?" gumam Tia. Dia pun membentangkan baju tersebut hingga bisa dilihat secara utuh. Mulut Tia menganga, matanya mendelik, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
"Ba ... Baju apa ini?!" ulang Tia lagi. Dia tidak habis pikir mengapa Hans memberikan baju kurang bahan itu. Baju yang tidak bisa menutupi aset tubuhnya. Selama ini Tia memakai baju yang longgarr agar tidak terlihat lekuk tubuhnya. Ridho saja belum pernah melihatnya. Ridho selalu mematikan lampu kamar jika sedang menggauli Tia.
"Mas ...! Ini baju apa?!" teriak Tia dari dalam kamar mandi.
"Gaun untukmu Tia, gaun spesial untuk malam ini," jawab Hans asal dengan menahan tawa. Hans hanya ingin melihat wanitanya memakai baju yang memperlihatkan semua aset yang dimiliki. Dulu sewaktu bersama Wulan, Wulan selalu memakai lingerie untuk membuatnya tergoda pada Wulan.
"Mas!! Apa tidak ada yang lain!!" teriak Tia lagi. Tia merasa kesal dengan baju yang tidak pernah dipakainya itu.
"Tidak, Tia. Hanya ada itu saja," ucap Hans berbohong. Memang baju untuk malam ini hanya itu saja. Sedangkan yang satu lagi untuk besok pagi.
"Mas!! Jangan bercanda deh! Tia kan malu!!" protes Tia lagi.
"Malu sama siapa? Kita kan sudah sah menjadi suami istri. Apa yang ada dalam tubuh istri itu adalah hak suami. Boleh dong kalau terlihat oleh mas. Gak dosa, malah berpahala," jawab Hans yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Maaas ..!!" Tia berteriak semakin kencang, namun Hans malah bertambah kencang tertawanya.