
Ridho melotot. Dia geram melihat tingkah Hans yang semena-mena padanya. Menurut Ridho, pria licik itu hanya bersandiwara. Dia berpura-pura bersikap tenang di hadapan semua orang, dan menunjuknya sebagai orang jahat. Padahal sebenarnya Hans lah yang telah berbuat jahat padanya. Begitu menurut Ridho.
"Dia bohong! Dia lah yang berbuat licik, dan merebut istriku!" kata Ridho dengan nada suara yang langsung meninggi. Membuat orang-orang semakin berkumpul ingin tau masalah mereka.
Hans tersenyum semakin lebar melihat emosi Ridho yang mudah meledak. Dengan ini dia tidak perlu melakukan apapun, dan Ridho akan menghancurkan dirinya sendiri dengan tempramen seperti itu.
"Hans? Kok, dia ngomong kayak, gitu??" Reyhan menatap Hans dengan sorot mata heran. Pengusaha muda ini bahkan nyaris tidak percaya bahwa teman lamanya tega merebut istri pria lain.
Hans tersenyum semakin lebar. Lalu dengan perlahan menggelengkan kepala sebagai jawaban. Sebelum akhirnya berkata, "Apa menurutmu aku pria seperti itu, Rey?"
Wajah tampan Hans penuh dengan aura positif, dan ketenangan. Membuat Reyhan langsung percaya dengan ucapan teman lamanya itu.
"Tidak. Meski sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu aku kenal seperti apa tabiatmu," kata Reyhan sembari bernafas lega.
Melihat situasinya tidak menguntungkan, Ridho kembali naik pitam. Pria dengan emosi yang sudah tersuluy ini mulai panik, dan mencoba mencari alasan lain untuk menjatuhkan pria di hadapannya. Dengan suara lantang dia berkata, "Lihatlah, ini wahai pengunjung cafe! Pria yang terlihat tenang ini adalah seorang perebut istri orang! Istri yang sangat saya cintai dirayu, dan direnggut dari saya saat dia sedang hamil!"
Hans geleng-geleng kepala. Dia heran melihat Ridho dengan percaya diri membuat fitnah soal dirinya. Pria dewasa ini bahkan tidak terusik sedikitpun melihat Ridho yang kalut kesana-kemari memfitnah dirinya.
"Hans, kau akan membiarkan dia bersikap seperti itu?" tanya Reyhan.
"Biarkan saja. Untuk apa meladeni orang gila? sepertinya kamu yang harus mengambil tindakan tegas, mengingat dia masih karyawanmu," kata Hans dengan suara penuh kesabaran.
Reyhan tersenyum kecil melihat sikap dewasa, dan tenang dari teman lamanya tersebut. Kini dia yakin bahwa Hans tidak mungkin melakukan hal tercela seperti yang dituduhkan Ridho.
"Tuan, Rey! Anda harus percaya dengan saya! Saya sudah bekerja di sini selama beberapa bulan, jadi ucapan saya lah, yang pasti benar!" kata Ridho beralih pada sang boss. Pria dewasa itu bersikeras bahwa dirinyalah yang benar, dan Hans yang berdosa dalam hal ini.
Reyhan terdiam. Dia memasang wajah dingin saat bertatap muka dengan karyawannya ini. Lalu dengan tegas dia berkata, "kau dipecat!"
"HAH?!" Ridho, dan semua pengunjung lain yang menonton kerusuhan itu seketika bergumam kaget. mereka semua tidak menyangka Reyhan akan langsung mengambil langkah tegas pada karyawannya sendiri, dibandingkan dengan salah satu pengunjung.
"Hans, maaf atas keributan ini. Nah, apa ada dessert yang kau inginkan? Mari aku traktir," kata Reyhan yang langsung berubah sikap seratus persen saat berhadapan dengan Hans.
"Tunggu! Tunggu, pak! Anda tidak bisa mengambil keputusan sepihak! Dia bukan hanya pengunjung cafe ini, tapi dia juga lelaki durjana yang telah merebut istri saya! Tidak seharusnya dia diperlakukan baik, atau tempat ini akan kena kutuk, pak!" Ridho masih mencoba membela diri. Dia terus-terusan berteriak, dan menuding Hans tepat di depan wajahnya.
Orang-orang mulai berbisik-bisik mendengar ucapan Ridho. Sebagian dari mereka setuju pada ucapan pelayan di cafe itu. Para pelanggan cafe itu jelas berpikir bahwa ridhollah pria yang baik, sebab selama ini Ridho melayani mereka dengan begitu baik.
Reyhan yang melihat situasi semakin runyam memberi isyarat pada satpam untuk membawa Ridho keluar. Dia sudah muak dengan omongan Ridho yang terdengar semakin konyol.
"Sekali lagi aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu, Hans. Tadinya aku pikir dia pria yang baik karena selama ini kinerjanya sangat bagus," kata Reyhan begitu Ridho dikeluarkan dari cafenya. Pria satu ini terlihat sangat menyesal pada Hans.
"Tidak masalah, Rey. Tadinya aku juga tidak berharap kau memecat dia dari cafe, tapi sikapnya baru saja memang sangat keterlaluan. apalagi dia sampai menyumpahi cafe-mu seperti itu," sahut Hans dengan penuh ketenangan di wajahnya.
"Ah, itu tidak masalah. Cepat atau lambat kebusukan seseorang akan terbongkar juga," kata Reyhan final.
Akhirnya setelah sedikit berbincang-bincang Hans pun pamit pergi. Ada banyak urusan lain yang harus segera dia kerjakan. Pria dewasa ini sempat saling merangkul dengan teman lamanya itu sebelum akhirnya dia keluar dari cafe.
Saat sampai di parkiran mobilnya, terlihat seorang pria duduk di dekat pintu mobilnya. Pria itu menunggu kedatangan Hans dengan wajah penuh amarah.
Tanpa basa-basi dia bangkit dan langsung melayangkan pukulan kepada Hans. Untungnya Hans selalu siaga. Dia bukan hanya berhasil menangkis serangan lawan, Tetapi dia juga langsung memelintir lengan musuhnya ke belakang, dan mendesaknya ke mobil.
"Sialan, kau Hans!" Umpat pria itu saat dia berhasil dikunci oleh Hans.
"Sejak awal aku sudah memperingatkanmu, Ridho. Jangan main-main denganku. Hanya karena aku diam bukan berarti aku tidak bisa memberimu pelajaran. Kini, kau bukan hanya kehilangan Tia untuk selamanya. Tapi kau juga kehilangan kejayaanmu karena kecerobohanmu sendiri.
Seharusnya kau intropeksi diri, bukannya malah menyalahkan orang lain!" kata Hans dengan suara dingin. Suami kedua Tia itu langsung mendorong tubuh Ridho hingga terjatuh ke tanah yang dingin.
"Aargh!
Ridho memekik dan menjerit kesakitan. Badannya terhempas mengenai tanah. Seluruh tubuh Ridho serasa remuk. Melihat diri Ridho yang sudah tidak berkutik lagi, Hans pun pergi meninggalkan begitu saja. Hari ini dia sudah cukup merasa senang sudah membalaskan dan memberi pelajaran pada Ridho. Sebelum pergi Hans kembali memberi peringatan pada Ridho.
"Ingat, Ridho! Kau akan lebih merasakan sakit dibanding hari ini, jika sampai aku melihat kau mendekati Tia, camkan itu!!
Hans berlalu dan tidak menoleh lagi. Dia kembali pulang ke rumah, di dalam hatinya ia berjanji akan terus mengawasi Ridho agar tidak kembali mendekati Tia.
Di dalam mobil, Hans sibuk menghubungi salah satu anak buahnya. Dia adalah orang kepercayaan Hans, selama ini tidak ada yang tahu jika Hans juga memiliki anak buah yang selalu melindungi dirinya. Namun, semua itu ia sembunyikan dari semua orang.
"Hallo, Tuan."
"Kau awasi laki-laki itu! Jangan kasih ampun jika dia masih berusaha menemui istriku. Bagaimana kau sudah mengobrak -abrik rumahnya?"
"Sudah, Tuan. Saya sudah mengobrak -abrik rumah lelaki itu, rumah yang di dekat Anda bukan?"
"Benar! Baguslah kalau begitu, segera beri tawaran untuk membeli rumah itu. Paksa dia untuk menjual rumahnya! Aku tidak ingin dia tetap tinggal di situ!" perintah Hans pada anak buahnya.
Apa yang Ridho lakukan sudah membangkitkan sisi gelap Hans. Sebagai bos besar, tidaklah sulit untuk menyingkirkan orang yang ia anggap sebagai hama yang akan merusak tanaman yang ia rawat dengan baik.
"Baik, Tuan. Saya akan berusaha untuk memaksanya menjual rumah itu!"
"Bagus! Aku akan transfer sesuai jumlah yang kau inginkan!" ucap Hans, dia pun menutup ponselnya.
Hans melajukan mobilnya menuju ke rumah. Hari sudah merangkak sore, Hans tidak ingin Tia mengkhawatirkan dirinya.
Sesampai di jalan depan rumah, Hans melirik ke rumah sebelah yang ditempati Ridho. Selama ini Tia tidak tahu jika Ridho diam-diam tinggal di sebelah mereka.
Bisa dilihat dari depan, beberapa vas bunga di rumah Ridho pecah berserakan. Hans tersenyum. Di dalam hati dia bergumam, "Kau telah membangunkan singa yang tidur, Ridho. Selama ini aku diam, kini tidak lagi. Semua yang mengganggu Tia maka akan berhadapan dengan Hans.
Hans memasukkan mobilnya ke dalam garasi mobil, penjaga di depan rumah pun menutup kembali gerbang masuk.
"Assalamu 'alaikum, mas pulang ...." Hans berteriak di depan pintu masuk.
"Wa'alaikum salam, Mas."
Tia datang menyambut kedatangan sang suami.
"Sudah, Mas. Seharian ini Tia dan bik Inah berkemas. Semua obat, vitamin, baju ganti, pengikat perut sudah disiapkan. Kita jadi berangkat besok kan, Mas?" jawab Tia dengan balik bertanya.
Hans melepas dasinya lalu duduk di sofa untuk melepas kedua sepatunya. "Benar, Sayang. Besok kita akan berangkat ke Yogya. Bukannya kamu ngidam pengen makan nasi gudeg? Mas akan menuruti semua keinginan mu dan bayi kita. Sebagai permohonan maaf mas yang sudah meragukan kalau dirimu benar-benar mencintai lelaki kasar ini!"
Hans duduk bersandar di kursi sofa sambil menatap sendu wajah sang istri yang pipinya mengeluarkan semburat merah. Tia tersenyum menahan malu, dia tidak betah dan akan salah tingkah berlama-lama dipandang orang lain.
"Terima kasih ya, Mas. Kau memang suami yang terbaik untukmu!" ucap Tia duduk di samping Hans. Pemilik Surai hitam sebahu itu menatap penuh cinta ke arah sang suami.
"Untukmu, jangan kan harta, nyawa pun pasti akan aku berikan." Hans mengacak rambut hitam Tia dengan gemas.
"Mas sudah makan?" tanya Tia teringat jika hari sudah malam dan waktunya untuk makan malam.
"Mas mau makan kamu saja! Habis semakin buncit semakin menggemaskan, hahaha ...." Hans tertawa melihat sang istri yang memang semakin menggemaskan dengan perut yang semakin membuncit itu.
"Ck! Menyebalkan sekali!" Tia mencebik kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eeeh ... Jangan maarah! Mas hanya bercanda kok! Tapi memang benar sih kau tiap hari semakin cantik aja. Kata orang terdahulu jika ibu hamil semakin cantik itu artinya anak yang dikandungnya adalah perempuan. Kalau nanti benar anak perempuan yang lahir maka akan aku beri nama, Hanita Permana."
Tia mengerutkan alisnya, heran mengapa Hans memilih nama itu. "Mengapa mas beri nama Hanita?" tanya Tia.
"Hanita itu kepanjangan dari Hans dan Ita. Bagus bukan? Nama kita ada di nama buah hati kita. Mengingatkan akan perjuangan kita untuk mendapatkannya," jawab Hans sambil merapikan anak rambut Tia yang menutupi mata Tia.
"Benar juga ya? Bagus juga namanya. Hanita Permana, semoga dia menjadi anak yang Sholihah, cerdas dan cantik. Aamiin .... Tapi kalau ternyata yang lahir laki-laki. Kita beri nama apa, Mas?" tanya Tia lagi.
"Apa ya?" Hans tampak berpikir keras. Belum terlintas nama untuk anak laki -laki."
Kedua orang itu duduk sambil bertopang dagu. Mereka memikirkan nama yang pas untuk bayi mereka jika lahir laki-laki.
"Mas, bagaimana kalau kita beri nama Satria Permana?" Tia menemukan ide entah dari mana asalnya. Setelah ia mengutak atik dari nama Hans dan Tia tetapi tidak ketemu juga.
"Bagus juga itu. Satria Permana, baiklah. Kita tetapkan jika lahir anak perempuan maka namanya Hanita Permana, dan jika yang lahir anak laki-laki maka namanya Satria Permana. Nanti jika salah satu di antara kita berdua ada yang lupa, maka kita harus saling mengingatkan."
"Benar, Mas. Semoga kita berdua selalu ingat akan nama mereka. Tia akan mencatatnya di Handphone Tia biar tidak lupa."
Tia bergegas membuka ponselnya lalu menyimpan nama-nama anaknya di folder catatan.
"Sudah, oh ya ... Mas mau makan dulu apa mau mandi dulu?" tanya Tia.
"Mas mau makan dulu, dah lapar berat. Nanti sebelum tidur mas mau mandi," jawab Hans bangkit dari duduknya. Mereka berdua menuju ke meja makan.
***
Rumah Clara - Lampung.
"Pa, besok jadi ke Jakarta lagi?" tanya Clara sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Suasana makan malam kali ini terasa hangat di rumah Clara.
"Iya, Ma. Besok sore berangkat, karena siangnya papa masih ada meeting di kantor," jawab Gunawan yang asyik mengaduk rendang dengan nasi di piringnya.
"Baiklah, mama akan bersiap. Mama boleh ikut 'kan? Mama mau menemui teman lama mama saat kuliah dulu," ujar Clara yang terbiasa ikut jika Gunawan ada perjalanan bisnis ke Jakarta.
Gunawan tersenyum, tidak mungkin baginya untuk melarang Clara ikut kemana ia pergi. Clara seolah mengunci kebebasan Gunawan.
"Iya, gak apa-apa mama ikut. Toh bukan kali ini saja, mama selalu ikut setiap papa ada perjalanan bisnis ke Jakarta," sindir Gunawan membuat Clara terdiam.
Sinta sang anak yang duduk di samping sang ibu pun paham, jika di antara ibu dan sang ayah ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.
"Iya, benar, Pa. Mama akhir-akhir ini selalu ikut kemanapun papa pergi. Terutama kalau papa mengadakan perjalanan bisnis ke Jakarta. Pasti mama selalu ikut," seloroh Sinta membuat sang ibu salah tingkah.
"Hush! Kamu itu Sinta. Apa yang mama lakukan hanyalah untuk menjaga keharmonisan mama dan papa. Itu saja, selain itu mama juga ingin berbelanja semua kebutuhan skincare mama, karena hanya di Jakarta skincare mama dijual. Terpaksa deh mama beli di sana sekalian," ucap Clara beralasan. Dia tidak ingin semua tahu jika dia ke Jakarta punya maksud tertentu.
Sinta hanya tersenyum mendengar alasan sang mama. Terlepas apapun alasan sang ibu, Sinta tahu bahwa ibunya punya tujuan tersendiri.
"Oh ya, Sinta. Bagaimana proses perceraian mu dengan Steve. Apakah semua berjalan dengan lancar?" tanya Gunawan pada Sinta. Semua proses perceraian Sinta sudah mereka serahkan pada pengacara keluarga Clara.