
Keesokan harinya ...
Di Lampung, perusahaan Clara.
Semua karyawan diminta berkumpul di lobby karena adanya pengumuman yang akan disampaikan oleh pemilik perusahaan. Mereka semua saling berbisik satu sama lain, mencoba untuk menebak kabar apa yang akan didengar. Sampai akhirnya diam, ketika Clara berdiri tepat di hadapan mereka.
"Baiklah, aku tidak akan membuang banyak waktu. Tujuanku mengumpulkan kalian karena ingin menyampaikan sesuatu bahwa ... Rai, bisakah kau berdiri di sampingku?" tunjuk Clara pada Rai dengan nada suara yang sopan. Rai menurut dan berdiri tepat di samping Clara.
Clara mengulurkan tangan kanannya ke samping, menunjuk pada Rai. "Aku meminta Rai untuk mengurus perusahaan, menggantikan tugas Gunawan. Untuk itu, aku harap kalian bisa lebih bersemangat bekerja dengan atasan yang baru dan merubah keadaan menjadi lebih baik."
Rai terkejut. Ini semua belum dibicarakan sama sekali oleh wanita paruh baya itu. Namun, Rai juga merasa senang mendapatkan kenaikan jabatan. Dia berdiri tegak dan melangkahkan kakinya sedikit ke depan. "Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi mohon bantuannya."
Clara mengulurkan tangannya ke depan, disambut hangat oleh tangan Rai. Mereka saling berjabat tangan dengan hangat, lalu semua orang pun bertepuk tangan sebagai bentuk peresmian.
"Rai, aku berharap kau bisa mengatasi masalah perusahaan dengan baik. Aku percayakan semuanya padamu," ucap Clara dengan nada suara yang lembut. Membuat Rai mengembangkan senyum manisnya.
Clara terkesima melihat senyum pria hampir paruh baya di hadapannya itu. Senyum yang sejak dahulu tidak pernah berubah dan masih menggetarkan hatinya, membuat Clara menjadi salah tingkah. Dia membawa Rai ke dalam ruangan kerja CEO tempat Sinta dahulu di sana.
"Sekarang, ruangan ini menjadi milikmu. Nanti, Dita akan memberitahukan apa saja yang harus kau lakukan, seperti contohnya menandatangani berkas yang dia berikan. Namun, kau harus berhati-hati dalam menandatangani berkas itu karena tidak semua berkas dapat ditandatangani. Kau harus bisa memilih mana yang baik untuk perusahaan kita," tutur Clara menjelaskan sedikit bagaimana pekerjaan Rai nanti.
Clara juga memberitahu berkas apa saja yang masih tertinggal di meja kerja Sinta. Dia menunjukkan statistik saham yang perusahaan milikki saat ini. Rai tampaknya begitu tertarik dan memperhatikan dengan baik. Itu membuat Clara merasa yakin bahwa pilihannya tepat.
Hari terus berganti. Perusahaan di bawah kepemimpinan Rai awalnya berjalan sedikit lebih baik. Saham yang sempat menurun, mulai naik sedikit. Clara merasa senang karena berpikir bisa mengatasi masalah yang mereka hadapi. Rai bahkan membeli beberapa saham baru dengan alasan sedang dijual dengan harga rendah dan berpotensi meningkat yang tentunya akan membuat perusahaan mereka pun turut meningkat.
Belum genap satu minggu Rai mengurus perusahaan, bukannya semakin maju dan berkembang, malah semakin memburuk. Beberapa saham baru yang terus dibeli oleh Rai, justru yang paling banyak mengalami penurunan drastis. Saham sebelumnya yang dimiliki oleh perusahaan, mengalami kerugian mencapai ratusan juta karena tidak kunjung meningkat.
"Rai, apa ini? Kita malah semakin mundur!" keluh Clara melalui sambungan telepon sembari memijat keningnya yang terasa sakit.
Clara kesal. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia memutus sambungan telepon. Beberapa berkas yang Dita serahkan kemarin, begitu mengejutkannya. Betapa tidak, saham yang perusahaan miliki sudah tidak ada kesempatan untuk bertahan.
"Kalau terus begini, perusahaan bisa bangkrut. Aku harus melepas semuanya agar tidak menimbulkan kerugian besar," gumam Clara. Dia melirik ke arah jarum jam. Rai baru selesai rapat di luar kantor. Dia harus menunggu kurang lebih setengah jam lagi untuk berbicara langsung dengan pria paruh baya itu.
Clara menggulir layar ponselnya dam melihat kembali harga di pasar saham. Benar-benar tidak sesuai dengan harapannya di awal. Sementara perusahaan yang dikelola oleh Gunawan, semakin meningkat. Dan itu, membuat aliran darah di tubuh Clara terasa panas.
"Sial, aku tidak boleh kalah darinya!" Clara menutup ponselnya di atas meja dan bersandar di kursi sembari memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan pikiran.
Tak berapa lama kemudian, Dita mengetuk pintu ruangannya dan memberitahu bahwa Rai sudah kembali. Clara segera menemui Rai dan menunjukkan grafik pasar harga saham terbaru.
"Kau lihat ini? Saham yang kau beli, jauh di bawah harga pasar dan tidak kunjung meningkat. Sementara beberapa saham yang seharusnya kau pertahankan, kau jual dan sekarang mengalami peningkatan. Aku pikir, kau bisa mengatasi ini, Rai!" cerca Clara dengan mata yang berkilat.
Rai menghela napas panjang. "Kau tenang saja, harga pasar selalu berubah tiap detiknya. Ini tidak akan lama. Hanya perlu kesabaran saja. Ada satu saham baru yang grafiknya terus meningkat. Apakah kau ingin coba untuk membelinya?"
Clara mengusap wajahnya dengan kasar. "Astaga, Rai. Perusahaan sudah banyak mengalami kerugian. Kita harus menjual saham-saham yang sudah anjlok, bukan malah membeli saham baru. Apa kau tidak dengar bahwa beberapa klien dan investor perusahaan sudah mengajukan pengunduran dari kontrak kerja sama?"
Rai hanya diam. Dia memang sudah tahu itu karena berulang kali diminta untuk menandatangani berkas pengajuan dari klien daan investor itu. Namun, dia masih bersikap tenang karena merasa yakin bisa mengatasi masalah ini.
Rai bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat, perlahan pada Clara yang sedang tertunduk sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Hei, tenangkan dirimu."
Rai memegang dagu Clara dan menengadahkan wajah wanita itu untuk bertatapan dengannya. "Jangan terlalu banyak pikiran. Kau bisa stres dan membuat kecantikan wajahmu berkurang. Tenang saja, aku pasti bisa mengatasinya. Bukankah karena itu juga kau mempercayakan perusahaanmu padaku?"
Clara terdiam. Memang benar, dia yakin bahwa Rai bisa mengatasi perusahaannya. Clara menatap lekat wajah Rai. Mata indah Rai, mampu menghipnotis Clara. Perlahan, wajah keduanya saling berdekatan dan dengan hitungan detik saja sudah saling bersentuhan. Tanpa tahu waktu, mereka saling bertaut dengan tidak peduli bila akan ada karyawan yang melihat.
Clara cukup merasa sedikit lebih tenang setelah bertautan dengan Rai. Dia menarik napas dalam-dalam dan menenangkan hati. "Ya, aku percayakan semuanya padamu, Rai."
Rai mengangguk dan menjalankan kembali tugasnya. Dia membeli saham yang diyakininya akan terus meningkat seperti dalam grafik. Dua hari sampai satu minggu, grafiknya memang terus meningkat. Clara semakin yakin bahwa pilihannya memilih Rai mengurus perusahaan memang tidak salah.
Namun, saham yang mengalami kerugian besar, terus menurun sampai melebihi ketentuan seharusnya. Rai tidak mengindahkan perintah Clara untuk menjual saham yang buruk itu, tetapi masih mempertahankannya sehingga membuat pemasukan perusahaan menjadi semakin buruk.
"Maaf, karena kami tidak kunjung menerima balasan dari pengajuan yang disampaikan sebelumnya, kami terpaksa harus memutus kontrak secara sepihak. Mohon pengertiannya karena kami tidak ingin mengalami kerugian besar seperti perusahaan Anda," ucap salah satu investor yang bekerja sama dengan perusahaan pada Clara melalui sambungan telepon.
Bukan hanya satu atau dua saja, tetapi hampir semua investor sudah angkat tangan dan memutus kontrak. Clara memijat keningnya yang terasa sakit. Kepalanya seakan hampir pecah. "Sial, aku harus bagaimana sekarang? Perusahaanku akan bangkrut."