
Dua hari kemudian, Tia kembali dihadapkan dengan permintaan aneh dari Sinta baru juga dua hari Sinta tidak meminta sesuatu lagi. Namun, hari ini Sinta mulai berulah.
"Sinta, apa kamu mau turun?" tanya Sinta pada Tia yang biasa akan turun untuk monitoring semua pegawainya. Hal yang selalu dilakukan oleh Tia sebelum dia pulang di jam makan siang.
"Benar, aku mau turun untuk monitoring. Memang kenapa?" jawab Tia dengan sudut mata yang menyelidik.
"Mmm ... Maaf, aku pesan beberapa makanan karena pekerjaan ku banyak dan tidak bisa turun. Jadi ... tolong ya, kamu ambilkan sekalian. Kamu jangan khawatir, nanti uangnya aku ganti kok, sekarang aku tidak bawa uang." Sinta mengeluarkan tangan dari saku jasnya, menunjukkan pada Tia bahwa dia tidak berbohong kalau tidak bawa uang.
Tia berpikir mungkin jika hanya makanan sih masih tidak apa-apa lah. Berbeda dengan barang online shop yang tentu tidak boleh berbelanja lewat kantor.
"Baiklah kalau hanya makanan," jawab Tia dengan wajah datarnya. Tia pun turun ke lantai bawah dengan lift. Sinta tersenyum girang, lagi-lagi dia bisa memanfaatkan Tia. Sinta kembali ke dalam ruangannya dan melanjutkan pekerjaan yang sebenarnya bisa cepat selesai, akan tetapi karena Sinta malas, pekerjaan itu tidak selesai.
Tia mulai melaksanakan pekerjaannya. Tidak berapa lama kemudian datang seorang kurir delivery.
"Maaf, Nyonya. Ada kiriman makanan untuk nona Sinta," ucap sang kurir memberikan beberapa kantung plastik berisi box makan.
Tia menatap ke arah beberapa plastik besar tersebut. Alisnya berkerut melihat ke arah plastik itu. Akhirnya karena merasa tidak enak sudah ditunggu oleh sang kurir. Tia membayar semua tagihan dari restoran makanan itu hingga habis hampir satu juta.
Tia membawa semua pesanan Sinta ke dalam kantor dan memberikannya pada wanita itu. Sinta tersenyum senang dan menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Tia memperhatikan sesaat apakah benar makanan itu untuk dimakan sendiri, tetapi ternyata Sinta bagikan beberapa potong makanan dengan karyawan lain.
"Oh, kau belum pergi? Apakah kau mau satu?" tanya Sinta sembari mengeluarkan potongan makanan yang lain.
Tia menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak usah. Terima kasih."
Tia melenggang pergi begitu saja. Lagi-lagi Tia terpaksa harus menebalkan kesabarannya dalam menghadapi Sinta. Dia tidak ingin mencari keributan dan memilih untuk menghindar saja.
Setelah semua pekerjaan selesai, Tia pulang ke rumah seperti biasa dan melupakan semua beban pikiran di perusahaan. Tia menjadi ibu yang baik untuk kedua anaknya. Bermain bersama dengan bahagia.
Beberapa hari kemudian, hari yang sama pun terulang. Sinta lagi-lagi meminta Tia untuk mengambil pesanan makanannya di lobby. Makanan kali ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Tia sudah tidak bisa lagi menahan kesabaran. Dia berjalan cepat menuju ruangan Sinta.
"Kalau kau tidak memiliki uang, jangan berani memesan banyak makanan seperti ini. Apakah kau tidak berpikir kalau aku punya uang untuk apa? Aku punya dua orang bayi, dan uangku lebih banyak aku habiskan untuk menangani semua pesanan makananmu hampir tiap hari!," tegur Tia yang kesal. Masih berusaha menahan amarah dengan nada suara yang ditahan tidak keras.
Sinta berdecak kesal. "Kau lihat sendiri, aku tidak menghabiskan semua makanannya seorang diri. Aku berbagi dengan yang lain. Kau akan mendapatkan pahala yang banyak juga dari ini."
Sinta tampak senang melakukan itu tanpa merasa bersalah. Dia duduk santai di kursinya sembari menyantap potongan fizza di atas meja. Setelah jam istirahat berakhir, Sinta menyerahkan semua pekerjaannya kepada Dita.
"Tapi, Bu, ini pekerjaan yang harus kau lihat sendiri. Aku tidak berani mengerjakannya," tolak Dita dengan hati-hati.
"Sudahlah, kerjakan saja sebisanya. Lagi pula tugasku hanya mengizinkan atau tidak. Kau bisa mengecek sendiri dan memutuskan apa kau ingin menerimanya atau tidak, kan? Itu mudah sekali," sanggah Sinta sembari mengibaskan tangannya ke udara, sebagai isyarat memerintahkan Dita untuk keluar dari ruangannya.
Dita dengan terpaksa keluar, membawa semua berkas yang seharusnya dikerjakan oleh Sinta. Bertepatan dengan itu, Tia yang kebetulan membutuhkan tanda tangan persetujuan dari Sinta pun melihat Dita membawa berkas.
"Itu semua berkas yang sudah disetujui oleh Bu Sinta?" tanya Tia penasaran. Dita hanya menjawab dengan gelengan kepala saja karena takut dimarahi oleh Sinta jika suaranya terdengar ke dalam.
Tia membuka pintu ruangan Sinta begitu saja dan mendapati Sinta tengah asik tertawa memandangi layar komputer. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Sinta tampak kikuk dan mematikan layar komputer. Tia sempat mendengar suara dialog berbahasa korea dari dalam komputer. Dia yakin bahwa Sinta sedang menonton drama korea. Bisa-bisanya di saat jam kerja.
Tia melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mendekati Sinta. "Apakah kau bersantai menonton drama korea dan tidak mengerjakan pekerjaanmu?"
"Aku mengerjakan pekerjaanku. Kau lihat saja sendiri!" tunjuk Sinta ke atas mejanya.
Tia terkekeh sembari melipat kedua tangannya di atas dada. "Kau bergurau? Aku tidak melihat apapun di sini. Mejamu kosong tanpa ada satu pun berkas."
Sinta tidak menyadari itu. Dia terkejut karena semua pekerjaan hari ini dikerjakan oleh Dita. "Ah, sudah diambil Dita ternyata."
Sinta tampak salah tingkah. Namun, Tia tidak ingin mendengarkan alasan Sinta. Dia segera keluar dari ruangan kerja Sinta dan memilih untuk ke dalam ruangannya. Tia sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Tia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi nomor telepon Gunawan. Tak lama kemudian, nomor telepon sang ayah pun tersambung. "Hallo."
"Tia? Ada apa, Sayang?" tanya Gunawan dari sebrang sana.
"Ayah, aku tidak habis pikir dengan Sinta. Dia tidak bekerja dengan baik. Dia hanya bersantai dan bersenang-senang saja. Memanfaatkan jabatannya untuk memerintah seenaknya. Aku tidak ingin menceritakan ini, tetapi hari ini dia sudah keterlaluan," adu Tia pada Gunawan. Dia menceritakan semua sikap Sinta kepadanya selama ini yang selalu memerintah.
"Baiklah, Ayah akan ke sana dan memperingatkannya. Ayah saat ini juga sedang ada di Jakarta. Nanti ayah akan peringatkan Sinta" jawab Gunawan dan mengakhiri sambungan telepon.
Tia merasa lega setelah meluapkan semua benak di dalam hatinya. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas, sudah waktunya dia untuk pulang ke rumah. Dia sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan pekerjaan.
Tepat di jam dua belas ketika jam istirahat tiba, Tia segera pulang ke rumah. Bertepatan dengan itu juga, Gunawan datang ke perusahaan dan langsung menemui Sinta yang hendak pergi ke kantin untuk makan siang.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Sebentar saja," ucap Gunawan. Sinta mengangguk setuju dan menepi ke samping jalan agar tidak menghalangi karyawan lain.
"Aku sudah dengar bagaimana kinerjamu beberapa hari ini dari Tia dan dari karyawan lain bahwa kau tidak bekerja dengan baik. Aku hanya ingin memberi peringatan lisan kepadamu untuk tidak mengulangi kesalahan ini lagi. Kalau sampai kudengar keluhan tentangmu kembali, aku akan memberikan peringatan pertama secara tertulis!" ancam Gunawan dengan nada suara yang tegas dan berwibawa, tanpa adanya nada menghakimi sedikitpun.
Sinta hanya menganggukkan kepala dengan lemas sembari menahan amarah di dalam hati. Dia merutuki Tia yang sudah berani mengadukannya pada Gunawan. Setelah mengatakan itu, Gunawan pamit pergi, Sinta karena ada rapat yang harus dilakukan setelah jam istirahat di luar nanti.
"Kurang ajar Tia! Berani sekali dia mengadukan semua pada papa. Awas kau, Tia!" geram Sinta di dalam hati. Bukannya menyadari kesalahannya malah menyalahkan orang lain. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Di sisi pintu lain sebelum pulang, Tia tertawa menyeringai. Dari pengalaman yang sudah dia alami semenjak hidup dengan Wulan, Tia tidak mau percaya pada orang lagi. Sudah cukup kebaikan yang ia berikan pada Sinta. Tia tidak suka jika kepercayaan yang ia berikan dikhianati oleh orang lain.
"Sinta kau salah jika menilaiku mudah dimanfaatkan, aku bukan Tia yang dulu lagi. Aku hanya menunggu kapan waktu yang tepat untuk membalas perbuatan kalian yang ingin merebut semua yang aku miliki! Kita hitung mundur, semua kedokmu di depan ayah akan terbongkar!" ucap Tia di dalam hati, dia pun bergegas meninggalkan tempat dimana dia mendengar dan menyaksikan ayahnya menegur Sinta.