Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. bab 15


Berhubung Tia tidak mengangkat teleponnya, Hans berinisiatif untuk menjemput Tia untuk makan siang. Sudah lama dirinya tidak meluangkan waktu untuk makan siang bersama dengan sang istri.


Tok!


Tok!


Tia dan Nigam yang semula tertawa bersama karena ada hal lucu yang membuat mereka tertawa, namun setelah mendengar ketukan pintu tawa mereka tiba-tiba berhenti. Kedua orang itu saling bertatapan, sejurus kemudian Tia bangkit dari kursinya hendak membuka pintu. Dia heran mengapa sekretarisnya tidak menelepon dirinya lewat interkom.


Tia berjalan ke arah pintu dan membuka pintu perlahan.


"Mas Hans?!" Tia terkejut karena tidak menyangka jika Hans datang ke kantornya dan dalam situasi yang pasti akan menimbulkan salah paham.


Mendengar Tia menyebut nama Hans, seringai terbit di sudut bibir Nigam. Dia pun bangkit dari duduknya membalikkan badannya menghadap ke arah Hans.


"Hallo, Hans ... Apa kabar?" ucap Nigam sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Nigam? Kau ada di sini?! Tia ... Apa yang kau lakukan dengan Nigam?!" ucap Hans dengan rahang yang mulai mengeras. Dia sangat mengenal Nigam dengan baik.


"Hans ... Aku menyapamu baik-baik, mengapa kau marah? Apa kau tidak suka jika istri cantikmu ini dekat denganku? Ayolah, Hans ... Kau masih ingat kan bagaimana dulu kita bersahabat?" Nigam berjalan ke arah Hans lalu menepuk pundak Hans.


Hans mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan segala gejolak amarah yang ada di dada.


"Apa maumu, Nigam?!"


"Santai, Bro! Kau tidak ingin menanyakan bagaimana kabarku terlebih dahulu?" Nigam dengan senyum sinisnya mencoba memancing Hans.


"Apa kalian saling mengenal?" tanya Tia bersuara juga setelah dirinya terdiam karena terkejut melihat siap yang datang.


"Tentu saja, Bu Tia. Kami berdua adalah sahabat masa kecil. Kami berdua tumbuh bersama, hingga takdir memisahkan kami tentunya!" jawab Nigam dengan kilat mata yang penuh dendam.


Untuk bisa dekat dengan tujuannya, Nigam telah banyak berkorban. Tidak terhitung lagi berapa jumlah harta yang harus dia keluarkan, sedangkan keluarganya sendiri dalam keadaan yang tidak mampu. Semua cara dan jalan ia tempuh untuk bisa mencapai posisinya saat ini.


"Nigam! Secepatnya kau pergi dari sini! Aku sudah tidak Sudi lagi mengenalmu!!" seru Hans dengan nada semakin naik. Tia kembali terdiam, sepertinya dia di posisi serba salah. Satu sisi adalah suaminya dan di sisi lain adalah rekan bisnisnya, di mana mereka berdua sudah saling menandatangani kontrak kerjasama.


"Jangan begitu, Bro! Kau sangat tahu aku bagaimana? Apapun yang aku inginkan maka harus aku dapatkan, entah itu dengan cara yang benar ataupun sesat sekalipun!" kata Nigam dengan nada penuh penekanan.


"Sebenarnya ada apa antara mas Hans dan Nigam di masa lalu? Mas Hans tidak pernah bercerita apapun padaku!" Tia bergumam di dalam hati. Dia sangat penasaran apa yang terjadi antara Hans dan Nigam.


"Aku sudah tidak ingin berurusan denganmu lagi, Nigam! Pergilah dari kehidupan kami! Jangan kau ganggu keluarga kami!" ucap Hans membalas dengan nada penuh penekanan juga.


Prok!


Prok!


"Tuan Nigam, cukup ..!! Lebih baik sekarang Anda pulang saja. Pembicaraan bisnis kit sudah selesai, selebihnya nanti aku serahkan pada sekretarisku?" ucap Tia menghindari situasi yang tidak kondusif dan kemungkinan akan lebih tidak terkendali.


"Wow ... Anda sudah mengusir saya, Bu Tia. Baiklah, saya kira sudah cukup penjelasan dari saya, untuk lebih jelasnya tanyakan sendiri pada suami Anda itu!!" Nigam menunjuk ke arah Hans yang wajahnya sudah memerah.


"Tuan Nigam, ini adalah kantor saya! Saya harap Anda menghormati saya sebagai pemilik kantor ini! Anda harus tahu batasan Anda sebagai rekan bisnis! Jika ada masalah pribadi lebih baik kalian bicarakan di luar!" tegas Tia untuk mencegah terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan bersama.


"Hahaha ... Baiklah, kali ini saya akan pergi karena saya menghormati Anda sebagai pemilik kantor ini. Saya undur diri dulu, Bu Tia. Ingat kerjasama kita bukan karena lelaki itu!!" Nigam menjelaskan agar Tia tidak salah paham dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasamanya dengan Nigam.


"Terserah Anda, Tuan Nigam! Saya hanya berharap Anda menjaga batasan Anda saja! Masalah kerjasama akan kita kaji ulang lagi!" seru Tia yang sudah pusing dengan keadaan yang menurutnya menegangkan itu.


"Saya permisi dulu, Bu Tia yang cantik dan memesona," ucap Nigam sengaja menunjukkannya pada Hans.


Tia tidak menjawab pujian dari Nigam. Tia tahu, saat ini tidaklah mungkin dia akan bisa bebas dalam berbicara dengan siapapun.


"Nigam! Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah kau ganggu keluargaku termasuk istriku, Tia!!" ancam Hans pada sosok yang menjadi bagian masa lalu Hans. Selama ini Hans dan ibunya tertutup jika membahas masa lalu.


"Santai, Bro! Aku hanya tanya saja! Kalau tidak mau menjawab ya sudah, aku permisi dahulu," jawab Nigam dengan sinisnya menatap ke arah Hans.


Hans ingin sekali memukul Nigam agar segera pergi dari kantor Tia. Akan tetapi, Tia mencegahnya. Tapi tidak ingin ada keributan di kantornya hanya karena masalah pribadi.


Nigam mengedipkan matanya pada Hans. Dia sengaja ingin membuat Hans semakin marah dengan dirinya. Nigam dengan tanpa berdosa, berlalu begitu saja di depan Hans dan Tia. Hari ini dia sudah cukup puas bisa melampiaskan sebagian dari dendamnya.


"Sonya, sebentar lagi kakakmu ini akan mencapai apa yang sudah mas harapkan. Kita hitung mundur kehancuran orang yang sudah membuatmu malu dan berakhir di rumah sakit jiwa!" kata Nigam di dalam hati sembari melangkah pergi meninggalkan Hans.


Sementara itu, Tia meminta penjelasan pada Hans mengenai Nigam. Bagaimana bisa Hans terlibat dengan Nigam.


"Mas, ada rahasia apa yang kau sembunyikan dari ku, Mas? Katakan bagaimana kau bisa mengenal Nigam! Dan mengapa Nigam begitu marah melihat dirimu, Mas? Kalau tidak ada apa-apa tidaklah mungkin Nigam dan mas akan begitu!" cecar Tia.


Hans mengambil napas dalam -dalam, dia tidak menyangka masa lalu yang susah payah ia kubur kini datang kembali. Hans berpikir apakah Nigam adalah dalang di balik berubahnya sang istri. Hans paham bagaimana Nigam sejak dahulu. Nigam adalah sosok yang begitu berani menempuh berbagai cara untuk bisa menggapai tujuannya.


"Maaf, Tia. Mas belum bisa menceritakannya sekarang. Terlalu rumit dan aku yakin kau pasti akan marah dengan mas!" jawab Hans yang menutup kepalanya dengan kedua tangannya. Rasa bersalah muncul kembali di hati Hans dan membuat Hans yang semula emosinya sudah stabil mendadak kembali seperti dahulu sebelum mengenal Tia.