Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 11


Lampung, keesokan harinya.


Setelah mengetahui kabar Sinta yang dihamili oleh pria tidak dikenal, Gunawan segera pergi ke penjara tempat para penjahat penculik wanita itu dihukum untuk mencari tahu siapa pelaku itu. Dia tidak terima atas apa yang menimpa Sinta. Meskipun Sinta hanyalah anak tirinya saja, tetap rasa sayangnya sudah seperti pada anak sendiri.



Gunawan sudah bertanya pada Sinta siapa pelakunya, tetapi Sinta yang saat itu tidak sadarkan diri, tidak tahu siapa pria keji yang menanamkan benih di rahimnya.


Gunawan datang ke kantor polisi untuk mencari tahu pelakunya. Langkahnya dengan berani, tanpa ragu. Beruntung pelaku itu sudah berhasil dijebloskan ke penjara sindikat khusus penjualan wanita. Namun, Gunawan tidak tahu siapa tepatnya pelaku pemerkosa Sinta.


Salah satu polisi yang ada di belakang meja pun menyambut Gunawan. "Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya ingin menemui narapidana pemerkosa putriku yang ada di tahanan khusus sindikat penjualan wanita," ucap Gunawan tanpa basa-basi. Dia sudah menyusun rencana agar bisa membuat pelaku itu mengaku


"Tahanan yang mana? Siapa namanya?" tanya polisi itu.


"Saya tidak tahu yang mana pelakunya, tapi aku ingin dia mengaku sendiri. Apakah bisa, saya berhadapan langsung dengan para tahanan di dalam sel?" Gunawan mencoba bernegosiasi.


Kasus pemer kosaan Sinta, sebelumnya sudah dilaporkan. Namun, polisi agaknya lambat dalam menangani proses ini dengan banyak alasan yang membuat Gunawan geram. Akhirnya, Gunawan memutuskan untuk mencari sendiri pelaku itu.


"Baiklah. Setelah kami pertimbangkan, Anda boleh berhadapan dengan mereka di bawah pengawasan kami." Polisi itu menyanggupi permintaan Gunawan.


Mereka bangkit dan berjalan bersama menuju sel tahanan khusus. Aroma busuk, pengap, dan sesak pun Gunawan rasakan ketika langkah kakinya perlahan semakin masuk ke dalam pintu lorong kecil, hingga berjajar di pandangan matanya belasan sel jeruji besi bak sangkar burung.


Gunawan memandangi setiap sel tahanan yang dia lewati. Mata bengis nan tajam, penuh amarah dan ketidaksukaan, terpancar dari beberapa orang dalam tahanan itu. Masing-masing sel berisi enam sampai sepuluh tahanan dengan pakaian khusus berwarna orange.


Beberapa orang tahanan, memiliki tato yang cukup banyak di bagian tangan, leher, kaki, dan juga wajah. Gunawan tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya ketika mereka membiarkan secara sadar benda tajam yang menggores tinta di sana.


"Ini tahanan khusus sindikat penjualan wanita," ucap polisi yang mengantarkan Gunawan.


Gunawan berdiri tepat di depan sebuah sel yang berisi sembilan orang tahanan. Mereka duduk santai di dalam, tak bergeming sedikit pun dengan kedatangan Gunawan.


Ada salah satu tahanan yang Gunawan yakini sebagai pelaku pemer kosa Sinta. Menurut teman Sinta-- Rara, terakhir kali Sinta pergi, bersama dengan pria itu. Namanya Leo. Pria itu duduk di lantai, salah satu sudut sel dengan tatapan mata tajam pada Gunawan.


Meskipun begitu, Gunawan tidak bisa menuduh sembarangan. Dia tidak memiliki bukti atau pun saksi yang menyatakan bahwa Leo adalah pelakunya.


"Aku akan memberikan sejumlah uang untuk siapa saja yang berani mengaku sebagai ayah dari anak di dalam kandungan wanita bernama Sinta!" teriak Gunawan di hadapan semua tahanan itu.


Para tahanan tampak tertarik mendengarnya. "Berapa yang akan kau tawarkan?" tanya salah satu diantara mereka.


"50 juta," ucap Gunawan.


Beberapa diantara tahanan itu terkekeh. "Dilihat dari penampilanmu, sepertinya kau cukup kaya. Kenapa hanya menawarkan uang 50 juta saja?"


"Resiko yang akan diterima oleh orang yang mengaku menghamili wanita itu, pasti lebih besar dari sekadar uang 50 juta. Kau bercanda?" Tahanan lain mengejek Gunawan.


"Jadi, berapa uang yang akan kau minta jika kau sebagai pelakunya?" Gunawan mengatakan itu tertuju pada Leo.


Namun, Leo tampak diam. Justru tahanan lain berlomba saling menyebutkan nominal tertinggi seolah mereka mau mengaku sebagai pelakunya.


"Bukankah itu uang yang sedikit untukmu? Kau pasti bisa memberikannya, mengingat resiko yang akan ditanggung pelaku jika sudah mengaku," cetus salah seorang tahanan bertubuh tinggi.


"200 juta." Gunawan mengambil nominal tertinggi. "Aku akan memberikan pelaku pemer kosa putriku, uang 200 juta."


Gunawan merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Dia memiliki salah satu foto bersama Sinta ketika masih bersama Clara. Dia memperbesar foto Sinta dan menunjukkannya kepada semua tahanan.


"Ini adalah putriku, Sinta. Jika diantara kalian pemer kosanya, tentu saja tahu dengan wanita ini, kan?" tanya Gunawan.


Gunawan mengangkat wajahnya dengan angkuh. "200 juta." Dia menegaskan kembali nominal uang yang akan pelaku dapatkan.


Semua diam. Tahanan yang tadi ribut menawar nominal itu saling berpandangan karena mereka tidak merasa memper kosa wanita bernama Sinta.


"Jadi, siapa diantara kalian pelakunya?" tanya Gunawan.


"Bukan aku. Aku tidak mengenal wanita itu," ucap tahanan berambut ikal.


"Aku juga tidak pernah bertemu dengan wanita itu," timpal tahanan lain. Hingga semuanya menggelengkan kepala, kecuali Leo yang tetap diam di pojokan sana.


Gunawan mendekat ke jeruji besi dan memicingkan matanya. "Kau, tahanan di sudut sana!"


Mata Leo berkilat penuh amarah. Tangan kanannya mengepal kuat. Mereka saling berpandangan satu sama lain selama beberapa saat. Gunawan semakin yakin bila Leo adalah pelaku pemer kosa Sinta.


Gunawan melipat kedua tangannya di atas dada. "Apakah kau pelaku pemer kosa Sinta?"


Leo mendelikkan mata, lalu bangkit. Dengan angkuh berjalan mendekati jeruji besi pembatas. "Kalau aku orangnya, memang apa yang akan kau lakukan?"


Leo berdecak kesal. Dia memanglah pelaku pemer kosa Sinta saat dalam keadaan mabuk. Jika bukan karena Gunawan, Leo sudah berhasil menjual Sinta ke luar negeri. Namun, usahanya digagalkan oleh Gunawan hari itu yang membuatnya kini mendekam di penjara.


Dugaan Gunawan ternyata benar. Amarah yang sudah berusaha ditahannya sejak berhadapan dengan Leo, membuat dadanya terasa sesak. Seluruh darah di dalam tubuh seakan naik menumpuk di kepala. Namun, Gunawan harus tetap tenang karena dia bersama polisi yang mengawasi.


Rahang Gunawan mengeras. "Jadi, kau mengakui perbuatanmu? Kau ayah dari anak yang dikandung Sinta?" tanya Gunawan sambil mencengkeram kerah Leo.


Leo mendengkus kesal, namun apa yang ditawarkan Gunawan ternyata juga menarik hatinya. Selain mendapat uang itu, pasti dia akan dibebaskan oleh Gunawan. Leo yakin, Gunawan pasti akan membebaskan dirinya agar bisa menikah dengan wanita yang ia per kosa kemarin.



"Benar. Aku yang sudah membuat ankamu hamil, malam itu ingin sekali aku menjual anakmu setelah aku nodai, akan tetapi kau sudah menggagalkan semua rencana kami! Dasar sial!!" Leo mengumpat dengan keras. Karena ulah Gunawan, dia terpaksa harus mendekam di penjara untuk beberapa lama.