Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 71


"Baik, sebelumnya sudah membuat janji dengan Pak Hans?" tanya Vera lagi lebih menyelidik.


"Sehari sebelum saya ke kantor ini, sekretaris saya sudah melakukan jadwal pertemuan pada Pak Hans." ucap Vian yang mana membuat Vera kembali bingung.


"Loh … buat perjanjian dengan orang penting seperti Pak Hans kenapa tidak melewati aku dulu, tidak mungkin Pak Hans melakukan jadwal pertemuan dengan orang asing sendirian." ucap Vera dalam hati semakin curiga.


"Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya ini sekretaris Pak Hans, tapi tidak ada sekretaris bapak yang menghubungi saya. Em … kalau saya boleh tahu, tujuan bapak kesini untuk apa?"


"Perusahaan saya ingin menjalani kerjasama dengan perusahaan Pak Hans, sekretaris seperti kamu tidak mungkin tidak mengenal pebisnis sukses seperti saya." ucap Vian setengah menyombongkan diri.


"Sombong, sebelas duabelas sekali dengan Mak Lampir Merlyn itu." Vera memaki Vian dalam hati untuk kedua kali.


"Kalau begitu, mari saya antar ke ruang Pak Hans." Akhirnya Vera mengantar Vian menuju ruangan Bos nya itu, meski masih menyimpan rasa curiga.


Tok!


Tok!


Vera mengetuk pintu ruang kerja Hans, kemudian membuka pintu dan segera masuk atas izin dari Bos nya.


"Permisi, Pak. Diluar ada tamu-"


"Jangan suruh masuk kalau itu Merlyn!" Belum sempat Vera melanjutkan ucapannya, Hans memotong perkataannya dengan sangat tegas.


Vera menghela nafas pelan."bukan Pak, ini seorang pria, katanya sudah membuat perjanjian untuk bertemu bapak." ucap Vera menjelaskan pada Hans.


Hans tampak berpikir." Suruh menghadap padaku." perintah Hans di angguki oleh Vera.


"Silahkan masuk, Pak Hans sudah menunggu." Vera mempersilahkan Vian untuk segera masuk dan menemui Bos nya di dalam.


Vian tidak mengucapkan sepatah katapun, melenggang masuk begitu saja. Vera hanya menatap pintu Bos nya yang tertutup rapat.


"Kejadian Mak Lampir kemarin bikin perusahaan ini trauma saja." ucap Vera setengah mengejek, mengingat kejadian di ruangan Hans bersam Merlyn.


Clek!


Vian menekan cnop, membuka pintu ruangan Hans dengan perasaan yang sulit di artikan. Mengingat apa yang Merlyn katakan tadi pagi membuat dirinya menahan amarah.


Hans mengalihkan fokusnya dari layar laptop, melihat siapa yang datang menemui dirinya di ruang kerja.


"Silahkan duduk." Hans menyuruh Vian duduk menunjuk kursi di hadapannya menjadi kan meja jarak di antara keduanya.


"Aku ingin mengajak perusahaanmu untuk bekerja sama dengan perusahaan ku, sepertinya lebih enak kita membicarakan event ini di tempat lain saja, Pak Hans. Biar diantara kita semakin akrab dan lebih mengembangkan perusahaan yang kita bangun ini. Dan kalau kau belum tahu perusahaan apa yang ku bangun, aku bisa menunjukkan nya terlebih dahulu. Agar kau mau menjalin kerjasama kita." Vian berucap sedemikian rupa meyakinkan Hans supaya pria itu tidak menaruh rasa curiga dan tergiur oleh ajakan Vian.


"Dimana anda ingin membicarakan soal kerjasama ini?" tanpa menaruh rasa curiga, Hans seolah menyetujui ajakan Vian. Dari data yang dia lihat memang Vian seorang pembisnis sukses.


"Bagaimana di Caffe dekat sini?" ajak Vian memberi usul, hal itu juga disetujui oleh Hans.


Di Caffe yang tidak terlalu jauh jaraknya dari kantor Hans, Vian memberikan secarik kertas yang akan Hans tanda tangani. Dengan semua buaian yang Vian lontarkan membuat Hans tergiur menjalin kerjasama dengan perusahaan Vian.


"Kau boleh memikirkan nya terlebih dahulu, Pak Hans." Selagi Hans membaca dan akan menandatangani kontrak, diam-diam Vian mengeluarkan obat tidur di dari kantong celananya dan menaburkan di minuman Hans.


"Baik. Saya sudah menandatangani kontraknya, dan semoga kerjasama antara kita berjalan lancar." Setelah Hans menyelesaikan tanda tangan. Dia meminum kopi yang sudah di racik Vian tanpa sepengetahuan Hans.


"Baguslah!"


Vian menelepon anak buahnya untuk membawa Hans kesebuah hotel, dia akan akan menghubungi Merlyn bahwa rencana yang wanita itu suruh berhasil.


Tentu saja mendapatkan kabar baik dari rekannya. Merlyn tersenyum penuh kemenangan, dengan senang hati dia menunggu laki-laki pujaannya di hotel.


"Vian pintar, bagus sekali kerjanya, Hans … tidurlah yang nyenyak dan tunggu kedatangan ku." ucap Merlyn bergegas menemui Hans di kamar hotel yang sudah dia pesan.


Sedangkan otak dalang dari semua rencana ini adalah Cloe, berkat tangan kanan wanita bule itu. Merlyn dapat ide semua ini dan menjalankan rencana semua ini lewat bantuan Vian.


Vera melongo saat melihat Hans dipapah beberapa orang keluar dari caffe tersebut. Memang sedari tadi Vera sengaja mengikuti bosnya karena merasa ada yang janggal dengan tingkah Vian.


"Loh ... Loh! Mau dibawa kemana si Bos! Kurang ajar! Feeling ku benar kalau ada yang tidak beres dengan lelaki menyebalkan tadi! Dasar lelaki culas! Aku tidak akan membiarkan kau mendapatkan apa yang kamu mau! Aku akan terus mengikuti kemana pun anak buahmu membawa pergi si Bos!" gumam Vera yang bersembunyi di dalam mobilnya yang tidak jauh dari mobil milik Vian.



Mobil anak buah Vian yang membawa pergi Hans berlalu dari cafe tersebut, Vera pun mulai mengikuti kemanapun mobil itu pergi.



"Kemana anak buah lelaki jahat itu membawa si Bos? Aku harus menjaga jarak agar anak buah si jahat itu tidak curiga. Ada saja yang berniat buruk pada si Bos, padahal bos itu orang yang baik!" gumam Vera sembari memegang kemudi.


Mobil yang membawa Hans berhenti di lobi hotel. Vera membulatkan matanya dengan sempurna. Dia menghentikan mobilnya di tepi depan hotel tersebut. Menunggu sampai anak buah Vian membawa Hans masuk.


Setelah terlihat mobil anak buah Vian sudah melaju meninggalkan hotel itu, Vera masuk dan menghentikan mobilnya di lobi, meminta pegawai parkir mobil hotel untuk memasukkan mobilnya ke tempat parkir.



"Pak, tolong parkirkan mobil saya! Ini kunci mobilnya," ucap Vera memberikan kunci mobilnya pada sang pegawai hotel.



Keringat dingin membasahi dahi Vera, sebenarnya dia meras sangat takut. Akan tetapi demi bisa menyelamatkan bosnya dia harus kuat dan beranikan diri mengikuti anak buah Vian.



Vera pura-pura duduk di sofa loby sembari terus mengawasi anak buah Vian yang bertugas membawa Hans masuk. Saat menunggu, mata Vera dikejutkan oleh kedatangan Merlyn.



"Astagaaa ... Itukan Mak lampir! Kenapa dia juga ada di sini? Jangan-jangan semua ini adalah rencana nenek lampir itu!" pekik Vera menutup mulutnya sendiri agar tidak menimbulkan suara.



Merlyn berjalan mendekati anak buah Vian. Kedua anak buah itu memberi hormat pada Merlyn.



"Kerja kalian sungguh bagus! Ternyata Vian patut diandalkan!" ucap Merlyn tersenyum puas melihat Hans yang dibawa anak buah Vian dengan kursi roda. Merlyn senang karena Vian yang dibutakan oleh cinta dengan suka rela membantu dirinya untuk membalaskan dendamnya pada Hans.