Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 85


Sepuluh menit yang lalu.


Ridho terbangun mendengar suara berisik dari arah balkon. Seperti ada orang yang sedang berbincang dengan keras. Ridho turun dari ranjang lalu berjalan mengendap -endap ke arah balkon. Dia berusaha menguping semua pembicaraan Rosie dengan sosok lelaki, entah itu siapa, yang Ridho tahu suara itu adalah suara laki-laki.



"Honey, kau tahu aku selalu kecewa dengan permainan tuh orang. Masa iya, cuman hanya di depan aja, gak bisa sampai ke dasar. Belum lagi, dia sudah keluar duluan dan aku belum apa-apa. Gimana aku bisa puas coba?"



Suara Rosie terdengar nyaring di telinga Ridho.



Deg ... Deg ....



"Jadi selama ini, mereka tidak merasa puas saat berhubungan badan denganku? Astagaa ... Benarkah semua ini? Tidaak ... Wulan saja bisa hamil, itu artinya aku bisa memberikan kepuasan pada Wulan. Mungkin hanya Rosie yang seperti itu, baiklah cukup Rosie! Kau sudah menghina harga diriku sebagai laki-laki!" geram Ridho di dalam hatinya.



Gegas Ridho menghampiri Rosie lalu dengan kasar Ridho merampas ponsel Rosie.



"Mas Ridho?! Apa-apaan kamu, Mas?!" gertak Rosie yang tidak terima ponselnya diambil begitu saja oleh Ridho dengan paksa.



Mata Ridho hampir melotot melihat Rosie yang berani sekali menghempaskan tangannya.



"Kamu yang apa-apaan, Rosie! Begitu ya di belakang ku? Katanya kau cinta dan mau menjadi istriku? Ternyata ... Kau hanya bersandiwara, hanya ingin hartaku saja!" teriak Ridho dengan penuh amarah. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Rosie.



"Hahaha ... Ternyata kau sudah tahu semua, Mas. Syukurlah ... Aku tidak perlu capek-capek untuk memberitahu mu. Kau ingin tahu m mengapa aku berkhianat padamu? Aku beri tahu ya, biar kau tidak mati penasaran. Aku berkhianat dan mencari kepuasan pada lelaki lain karena kau lemah, Mas! Ya ... Kau lemah, milikmu tidak panjang dan loyo! Aku heran mengapa kedua istrimu diam saja, atau jangan -jangan mereka juga selingkuh!" seru Rosie dengan suara yang keras, terdengar oleh penghuni yang lain.


Plak ....



Blam ....



Rosie menutup pintu dengan cara membantingnya. Dia begitu marah hingga memilih untuk meninggalkan Ridho dan menghapus semua tentang Ridho di dalam hidupnya, beruntung sebelum pergi, Rosie mengambil semua uang yang ada di dompet Ridho.



Para pengunjung lain pun terkejut hingga mereka keluar dari kamar mereka. Melihat Rosie yang berjalan dengan terburu-buru sambil menutupi wajahnya yang ditampar oleh Ridho.



Sementara itu Ridho duduk terpekur di kursi yang ada di balkon. Kata-kata Rosie yang terakhir berkelindan di kepala Ridho. Benarkah kedua istrinya dulu berselingkuh darinya hanya untuk mencari kepuasan.



Ridho menatap ke awan gelap, mencoba mengingat saat dia berhubungan badan dengan para istrinya. Tia, istri pertama tidak pernah mengeluh walaupun lampu selalu ia padamkan karena Ridho tidak pernah bernafsu jika melihat tubuh Tia.



"Tia mungkin masih polos karena tidak pernah protes. Sedangkan Wulan? Apakah dia juga merasa tidak puas dengan ku? Tidaak ... Tidak mungkin Wulan berselingkuh, dia hamil anakku. Hanya saja janin itu berkembang tidak pada tempatnya," gumam Ridho di dalam hatinya.



Untuk menenangkan hatinya, Ridho pun memilih untuk pulang. Dia ingin membuktikan rasa penasaran yang ada dalam hatinya. Perkataan Rosie mampu membuat dunianya jungkir balik.



"Lebih baik aku bergegas pulang, akan aku buktikan jika semua perkataan Rosie itu tidak benar. Semua salah, istriku sudah puas dengan keperkasaan ku!" ujar Ridho lirih sembari bersiap untuk pulang.



Deru mobil Ridho membelah panasnya jalan raya. Ridho memutuskan untuk mempercepat laju mobilnya agar segera sampai ke rumahnya. Lima belas menit kemudian, Ridho pun sampai di rumahnya. Suasana siang itu masih sepi. Mertuanya pasti sedang tidur siang semua, sedangkan Aris pergi kuliah.



Ridho masuk ke dalam rumah tanpa memerdulikan hal yang lain, dia segera menuju ke kamarnya untuk mencari sang istri.