Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 93


Aris mendapati sang ibu dan sang ayah tengah beradu mulut dengan Wulan.



"Sudahlah, Mah. Hentikan ... Tidak perlu mamah meladeni mbak Wulan!" Aris melerai ibu dan kakaknya yang sedang beradu mulut.



"Memang kakakmu, anak tidak tahu diuntung! Dengan ayahnya sendiri dia berani!" ucap Meri mengadu pada Aris.



"Mama itu yang selalu membuat Wulan pusing! Dasar kalian semua adalah benalu di rumah ini!" Wulan berkata nyaring sembari masuk ke dalam kamar. Dia sudah pusing dengan uangnya yang hilang, ditambah kedua orang tua yang bawel menurut Wulan.



"Dasar anak kurang ajar! Pedas sekali mulutnya! Menyesal mengapa aku dulu memanjakan dirinya!!" gerutu Meri dengan napas yang tersengal.



Aris menghela napas, pusing menghadapi adu mulut antara ibu dan kakak perempuannya. Tiada hari tanpa adu mulut, sang ibu sudah tersadar dan kini tahu bagaimana watak asli Wulan.



"Sudahlah, Mah. Jangan dimasukkan dalam hati. Ingat akan kesehatan mama. Nanti kalau mama sudah setuju ikut mbak Tia, pasti tidak akan merasakan lagi hal seperti ini," ucap Aris menenangkan sang ibu.



Meri terdiam, hal yang menyangkut Tia pasti akan membuatnya diam. Hati Meri masih belum bisa mengakui akan kebaikan Tia, walau sudah banyak bukti kalau Tia masih sangat menyayangi dirinya.



"Ma ... Aris mohon. Jangan seperti ini. Mbak Tia sosok anak perempuan yang tulus sayang pada mama. Dia juga yang selama ini membiayai hidup kita. Lihatlah, ini undangan pernikahan mbak Tia. Sengaja Aris belum kasih ke mama mengingat mama masih enggan melihat mbak Tia sekarang menjadi wanita sukses. Asal nama tahu, Aris ditawari pekerjaan oleh mbak Tia. Namun belum Aris ambil karena masih harus mengurus mama," ucap Aris sembari jongkok di depan kursi roda sang ibu.



Meri terkejut, ternyata Tia akan menikah lagi. Siapa yang akan menjadi suami Tia, Meri belum tahu.



"Tia mau menikah lagi? Dengan siapa?" tanya Meri penasaran pada Aris.



"Adalah, Mah. Mamah kalau sudah bisa menerima mbak Tia. Besok Aris akan mengajak mama untuk menghadiri pesta pernikahan mbak Tia. Lihat mbak Tia juga kirim baju senada dengan ibu mertuanya. Sebenarnya mbak Tia ingin datang sendiri untuk minta restu dari mama, akan tetapi mbak Tia takut jika mama akan murka dan kembali kena serangan jantung."



Aris memberikan gaun pesta yang dikirim Tia melalui kurir untuk sang ibu.



"Bagus sekali," gumam Meri melihat gaun pemberian Tia. Hati Meri mengakui kalau gaun yang diberikan Tia itu bagus, namun egonya tetap saja memandang gaun itu tidak bagus.



"Ma ... Mengapa mama melempar begitu saja gaun ini, Ma? Mama tidak mau datang ke pesta pernikahan mbak Tia?" Alis Aris berkerut, dia heran mengapa hati sang ibu masih begitu keras. Belum mau menerima Tia.




"Sudahlah, Aris. Jangan kau paksa mama untuk menerima Tia sebagai putri kandungnya. Rasa sakit itu masih bertahta di dalam hati mamamu. Kamu harus memberi mamamu lebih banyak waktu untuk bisa menerima Tia," ujar Cahyo sembari menepuk bahu anak laki -laki bungsunya itu.



Aris menghela napas dalam-dalam, usahanya untuk mendekatkan Meri dengan Tia ternyata belum berhasil. Aris berpikir entah sampai kapan keadaan ini akan berlangsung.



Cahyo membawa masuk istrinya ke kamar. Kedua sepasang suami istri itu merasa lelah setelah berdebat dengan Wulan.


Di kamar Wulan.


Wulan membanting semua barang yang ada di meja riasnya. Amarah sudah menguasai diri Wulan, andai saat ini Ridho ada di rumah, sudah jelas akan menjadi sasaran amarah Wulan.



"Mas Ridho! Dimana kamu, Mas? Argh ...!" teriak Wulan memanggil sang suami.



Prang ....



Wulan melempar vas bunga ke arah lemari pakaian yang ada kacanya. Suara kaca hancur pun menggema hingga sampai di kamar Meri. Meri merasa khawatir jika sesuatu terjadi pada Wulan.



"Papa ... Coba kamu lihat, Wulan. Apa yang sedang ia lakukan. Aku takut jika Wulan melukai dirinya sendiri," ujar Meri pada Cahyo.



"Tenang, Ma. Biarkan Wulan melampiaskan semua amarahnya. Mungkin hari ini adalah hari terberat untuknya. Kita beri waktu pada Wulan untuk bisa menenangkan dirinya. Papa akan menengok Wulan nanti setelah Wulan reda," ucap Cahyo pada sang istri.



"Bagaimana bisa tenang, Pa. Walaupun Wulan seperti itu, mama masih menyayanginya." Lirih suara Meri mengungkapkan bahwa dirinya masih sangat menyayangi putri sulungnya itu. Wulan lah yang telah menemaninya selama waktu penyembuhan.



"Biarkan saja dulu, semoga sebentar lagi putrimu sudah selesai amarahnya," ucap Cahyo pada sang istri. Meri pun akhirnya memilih untuk percaya pada Cahyo.



Praaang ....



"Aaargh!!"