Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 172


Hari merangkak sore, waktunya Hans pulang ke rumah. Sesibuk apapun semenjak memiliki anak Hans selalu pulang tepat waktu menyisakan sedikit waktu untuk bermain dengan kedua anaknya.


Tiin ... Tiin ....



Bunyi klakson tanda mobil Hans sampai di rumah terdengar oleh Tia. Tia menyambut Hans di depan rumah bersama kedua anaknya yang ditaruh di kereta dorong.



"Assalamu 'alaikum, apa kabar dua jagoan papa hari ini?" Sapa Hans pada kedua anak dan istrinya.



"Wa'alaikum salam, Papa. Kami semua baik- baik aja," jawab Tia mewakili kedua anaknya. "Papa sebaiknya cuci tangan dahulu sebelum menggendong Hasna atau Hasan, takutnya papa bawa kuman dan akhirnya membuat Hasna dan Hasan sakit," ujar Tia mengingatkan sang suami untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menggendong kedua anaknya.



"Baiklah, papa akan cuci tangan terlebih dahulu," jawab Hans sembari berjalan masuk menuju rumah, Hans meletakkan tas kerjanya di bangku ,tidak sengaja bertabrakan dengan pengasuh anaknya yang baru.



"Maaf, Tuan. Maafkan, saya tidak sengaja tadi saya terburu mengambil topi untuk Hasan dan Hasna," ucap pengasuh baru pada Hans. Wanita itu mencuri pandang pada Hans. Namun, kekecewaan yang ia dapatkan karena Hans sama sekali tidak menatapnya.



Hans mengangguk saja, dia tidak berbicara sepatah kata pun Hans kalau dengan orang lain yang baru ia kenal, maka dia cenderung untuk jadi orang yang pendiam.



Hans bergegas mencuci tangannya agar bisa segera menggendong bayi-bayi yang sangat dia rindukan setiap harinya, kelucuan Hasna dan Hasan membuat Hans selalu ingin pulang cepat.



Setelah selesai mencuci tangan Hans pun berlalu menuju tempat di mana anak dan istrinya menunggu. "Wah ... Haruum ... anak-anak papa sekarang sudah wangi. Coba papa cium bau mama, Hmm ... Sama harumnya! Jadi hanya papa nih yang bau acem?" celoteh Hans bercanda dengan anak dan istrinya. Sesekali dia mengecup pipi anak dan istrinya bergantian. Kebahagiaan terlihat jelas di antara mereka.



"Huum ... Papa bau acem ya dek? papa mandi dulu sono gih!" seloroh Tia menirukan suara anak kecil.



"Oke deh! Papa mau mandi dulu, biar wangi seperti kakak dan adek," ujar Hans mengecup kening kedua anaknya.



"Oke, Papa. Yang bersih ya," sahut Tia sambil menggendong Hasna.



Sepasang mata terus mengawasi kehangatan kasih sayang keluarga cemara itu. Rasa iri menyeruak di dalam hatinya.



"Seharusnya aku yang berada di posisi mu, Tia!!"



Luna menatap benci pada wanita yang asyik bercanda dengan kedua anak dan suaminya itu.




"Ayah? Ayah tumben sore-sore datang kemari?" tanya Tia dengan raut wajah yang bahagia.



"Tentu saja, Ayah mau berpamitan pada cucu -cucu ayah yang ganteng dan cantik ini," ucap Gunawan.



"Eeiit ... Awas ayah, kalau mau gendong ayah harus cuci tangan terlebih dahulu," potong Tia menghindarkan anaknya dari tangan Gunawan yang ingin menggendong Hasna.



"Hmm ... Baiklah. Cucu-cucu ku tunggu kakek cuci tangan ya, habis itu kita main lagi," ucap Gunawan. Gegas Gunawan mencuci kedua tangannya agar bisa menggendong sang cucu.



"Di mana, Hans?" tanya Gunawan setelah kembali dari cuci tangan.



"Mas Hans sedang pergi mandi, Yah," jawab Tia yang menggendong Hasan. Selama tidak bekerja, Tia fokus pada sang anak.



"Oh, dia sedang mandi? Lalu di mana pengasuh tadi?" tanya Gunawan celingukan mencari wanita yang bekerja sebagai pengasuh sang cucu.



"Dia sedang membawa Hasna jalan -jalan. Itu, dia!" Tia menunjuk ke arah di mana Luna sedang bercanda dengan Hasna di taman yang tidak jauh dari teras.



"Oh di sana," sahut Gunawan datar.



"Memang ada apa, Ayah?" tanya Tia penasaran dengan ekspresi wajah sang ayah.



"Tia, berhati-hati lah. Awasi dia, sepertinya ayah kurang percaya dengan dirinya. Akan tetapi ini hanya firasat saja, semoga tidak benar adanya," jawab Gunawan sembari meminta Hasan dari gendongan Tia.


Alis Tia bertaut menjadi satu, mencerna apa yang dikatakan oleh sang ayah.


"Maksud ayah?" tanya Tia belum paham dengan maksud perkataan sang ayah.



"Maksud ayah, jagalah Hans walau ayah tahu sifatnya tidak mudah tergoda, tapi tetaplah sebagai istri kamu harus waspada. Jangan beri kesempatan orang ketiga masuk ke dalam hubungan kalian. Kau tentu sudah tahu maksud ayah. Jangan terlalu baik dengan orang. Waspada dan jangan mudah percaya atau kasihan pada orang lain," jawab Gunawan dengan Hasan dalam gendongannya.



"Baik, Ayah. Tia akan mengikuti apa yang ayah sarankan. Mulai sekarang Tia akan lebih hati-hati. Untuk sementara Tia percaya sambil mencari pengasuh lagi yang baru. Semoga Allah selalu melindungi kami," ucap Tia di akhiri dengan doa.