
Hans membulatkan matanya mendapat pelukan dari sang istri. Baginya, wanita itu memang unik, hanya memenangkan permainan seperti itu saja bukan main girangnya.
"Duuh ... Mesranya, begitu dong jadi suami istri haruslah selalu mesra dan rukun. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri kalian. Oh, ya, Hans. Nanti malam ibu akan mengadakan tasyakuran dengan mengundang anak yatim dan anak santri di pesantren ustadz yang menikahkan kalian kemarin. Sudah ibu pesan kan untuk catering dan buah tangannya. Nanti kamu tinggal transfer aja ke pihak catering dan penyedia buah tangan," ucap Ningsih.
Hans dan Tia saling berpandangan, mereka sangat senang dengan kegiatan tasyakuran yang di rencanakan oleh sang ibu.
"Tentu, Bu. Kirim aja nomer rekeningnya ke nomer WA Hans. Nanti biar Hans transfer. Hari ini Hans akan ke kantor sebentar untuk menandatangani surat pembelian saham di perusahaan baru ini. Biar Tia nanti bantu ibu, benarkan, SAYANG?"
Hans melirik ke arah sang istri yang terkejut saat dipanggil sayang oleh sang suami di depan mertuanya.
Untuk menutupi perasaan canggung dan malunya, Tia mengangguk sambil merapikan anak rambut yang menutupi matanya.
"Iya, Bu. Nanti Tia akan bantu-bantu ibu untuk mempersiapkan acara nanti malam. Tia sangat senang jika ada kegiatan yang melibatkan anak-anak. Apalagi anak yatim, tentu kita akan mendapatkan pahala yang lebih melimpah," ucap Tia dengan senyum yang merekah.
Tia sangat bersyukur memiliki mertua yang sangat baik seperti Ningsih. Saat bersama Ridho dulu, belum pernah Tia mendapat perlakuan baik dari sang mertua, semua disebabkan Ridho tidak pernah mengajaknya untuk bertemu sang mertua. Hanya pada saat Ridho menikah dengan Wulan saja, Ridho mengenalkan kalau istrinya adalah Wulan.
Tia mengusap matanya perlahan seraya berkata, "Tidak apa-apa, Bu. Ini adalah air mata haru. Tia merasa sangat terharu dengan kasih sayang ibu pada Tia. Baru saat ini Tia merasakan memiliki mertua yang baik."
"Oh, Syukurlah. Tapi tunggu, apa maksud dari kata-kata 'Baru saat ini memiliki mertua yang baik', apa benar kau baru pertama ini memiliki mertua? Bukankah seharusnya kau memiliki dua mertua, yang pertama mertua dari pernikahanmu dengan Ridho, lalu yang kedua adalah ibu kan?" tanya Ningsih yang penasaran dengan maksud kata-kata Tia.
Deg ...
Tia menatap sendu pada sang ibu mertua. Kenyataan pahit karena dulu tidak di akui sebagai menantu mengalir indah di bibir Tia. Ningsih pun menyimak apa yang diceritakan oleh sang menantu.
"Jadi hanya Wulan yang dikenalkan pada orang tua Ridho? Sungguh terlalu lelaki itu. Jika sudah memutuskan untuk hidup berpoligami, seharusnya bisa berbuat yang adil. Mertuamu itu seharusnya juga menanyakan pada sang anak, bagaimana ia hidup di kota ini sendiri, tapi susah juga untuk membuat mertua sadar jika dirinya sendiri pun sudah berbuat tidak adil pada menantunya."
Tia tersenyum mana kala mendengar penuturan sang mertua. Kisah tentang mertua jahat sepertinya tidak Tia alami kali ini.
"Terima kasih, Bu. Sungguh beruntung Tia mendapatkan sosok mertua seperti ibu ini," ucap Tia seraya memeluk Ningsih.
Sementara itu di hotel biasa Ridho dan Rosie menghabiskan malam, terjadi keributan. Bagaimana tidak, Ridho mendengar pembicaraan Rosie dengan kekasih gelapnya.