
Hans terhenyak mendengar perusahaan siapa yang akan di jual sahamnya.
"Mengapa perusahaan itu ingin menjual saham mereka?" tanya Hans pada sekretarisnya itu.
"Kabar yang saya dengar, para pemilik saham berbondong bondong menarik kembali saham mereka. Selain sang direktur terbukti menggelapkan uang perusahaan, ternyata direktur itu viral di media masa karena perselingkuhan," jawab Vera sang sekretaris.
"Apa! Direktur itu viral karena perselingkuhan dan menggelapkan uang perusahaan?!" pekik Hans terkejut. Hans tidak menyangka jika perusahaan Ridho terancam bangkrut karena berita perselingkuhan dan penggelapan dana.
"Benar, Tuan. Begitulah berita yang saya terima," ucap Vera sembari menyerahkan berkas-berkas yang harus Hans tanda tangani.
"Baiklah, Vera kau atur semua, kita beli 50% saham perusahaan itu," titah Hans pada sang sekertaris.
Walaupun sebenarnya Vera tidak mendukung keputusan Hans, akan tetapi tugasnya sebagai sekretaris membuatnya mau tidak mau harus melakukan perintah Hans.
"Baik, Tuan," jawab Vera padat dan singkat.
Hans pun bergegas menyelesaikan semua pekerjaannya secepat mungkin. Dia tidak ingin meninggalkan Tia dalam waktu yang lama.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya Ridho untuk kembali ke hotel menjemput Tia. Di dalam hatinya jelas dia ingin segera untuk berjumpa dengan istri barunya. Namun, di tengah jalan, mobil Hans terpaksa harus berhenti. Kecelakaan lalu lintas membuat mobil Hans terpaksa mengantri di antara mobil lain.
"Astaga ... Ada apa ini? Mengapa jalanan begitu macet? Apa yang terjadi?" ucap Hans menggerutu di dalam hati.
Suara klakson bersahutan, semua pengemudi yang lain tidak sabaran untuk bisa melalui jalan tersebut.
"Pak, apa yang terjadi?" tanya Hans pada penjual asongan yang berada di tepi jalan.
"Ada kecelakaan lalu lintas, Tuan. Sebuah mobil menabrak pembatas jalan," jawab pedagang asongan tersebut.
"Dimana sih, Tia! Lama sekali angkat teleponnya!" gerutu Hans yang mulai gelisah dan tidak sabar untuk keluar dari barisan mobil yang macet. Berbagai pikiran buruk mulai menyerang alam pikir Hans. Sifatnya yang posesif mulai memdominasi.
"Dasar istri tak patuh!! Kemana dia?!" gerutu Hans sembari memukul gagang kemudi.
Tiiin ... Tiiin ....
Terlalu fokus pada Tia yang tidak menjawab panggilan teleponnya, membuatnya Hans tidak sadar kalau jalan sudah terbuka dan bisa dilalui kembali. Para pengemudi dari arah belakang pun mulai membunyikan klakson mereka.
"Ya, Maaf," ucap Hans melongok di luar jendela sambil melambaikan tangan tanda minta maaf.
Hans melajukan mobilnya dengan terburu-buru, otak Hans memerintahkan untuk secepatnya kembali ke hotel. Tas khawatir Hans membuatnya terburu-buru dalam bertindak.
Lima belas menit kemudian, mobil Hans sampai juga ke hotel, secepatnya dia bergegas untuk naik ke lantai di mana kamar mereka berdua berada.
"Tia ... Tia ... di mana kamu??" teriak Hans mencari keberadaan Tia.
"Ada apa, Mas? Kok mas teriak-teriak begini?"
"Tia, katakan dengan jujur kamu habis dari mana?!" tanya Hans dengan suara agak tinggi. Mata Hans sudah memerah menahan marah. Memang Hans pendiam tapi sifat posesifnya akan keluar kalau berhubungan dengan segala sesuatu yang menjadi miliknya.
"Kamu kenapa sih mas, teriak -teriak tidak jelas begini?" Sungut Tia. Bagaimana tidak datang-datang bukannya uluk salam tapi langsung masuk dan berteriak tidak jelas.
"Tidak jelas bagaimana? Mas tanya kamu dimana? Sedari tadi mas telepon kamu tidak kamu angkat!" ucap Hans berdiri sambil berkacak pinggang. Begitulah Hans yang memiliki sisi negatif. Trauma dari pernikahannya dengan Wulan membuat dirinya sedikit keras dengan wanita.