Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 188


Hari ini Tia berencana untuk liburan bersama dengan suaminya. Hanya mereka berdua, anak-anak ia tinggal di rumah bersama dengan baby sitter. Sebenarnya dirinya ingin menghabiskan waktu berdua hanya dengan suaminya saja tanpa ada orang lain. Hitung-hitung mengingat kembali moment honeymoon setelah menikah.


Saat ini dia sedang menyiapkan keperluannya untuk liburan bersama dengan suaminya satu hari ini. Ia membawa 1 koper saja, di dalam koper itu sudah ada perlengkapan dan keperluannya dan juga Hans. Rasanya tidak sabar sekali dengan liburan kali ini. Atau jika liburannya memang seru mungkin ia akan pulang 2 hari atau lagi.


Itu juga jika suaminya tidak memiliki pekerjaan dalam 3 hari itu, semoga saja tidak ada yang mengganggu liburannya kali ini. Mereka pergi dengan mobil saja, keluar kota karena supaya tidak berpergian terlalu jauh. Apalagi mereka meninggalkan anak mereka di rumah ini walaupun sebenarnya ada banyak sekali orang yang akan menjaga anak mereka.


"Mas, udah siap semua. Aku juga udah buat stok susu buat baby," ujar Tia.


"Kita liburan 2 hari saja, sama perjalanan pulang dan berangkat. Pokoknya kita liburan cuma mau melepaskan stres dan penat saja ya. Tapi kalau misal kamu mau belanja di sana juga terserah kamu."


"Iya mas, siap."


"Yaudah, yuk berangkat sekarang aja. Nanti keburu macet, langsung aja karena anak kita masih tidur takutnya kita malah ganggu terus dia nangis lihat kita mau berangkat."


"Yaudah, kita langsung berangkat saja," sahut Hans. Mereka lalu berjalan menuju ke mobil mereka.


***


Sesampainya di penginapan, mereka sedang ada di pinggir kolam renang menikmati suasana sore hari di penginapan ini. Di tangan mereka sudah ada minuman yang berwarna merah, dan di sampingnya atau lebih tepatnya di atas meja kecil terdapat beberapa sajian makanan dan cemilan.


Mereka memilih penginapan yang ada di dekat pantai supaya mereka bisa melihat matahari tenggelam. Memang melihat pemandangan indah yang ada di sini membuat mereka sejenak merupakan masalah-masalah yang ada dalam diri mereka. Mereka menatap ke satu arah yang sama, bahkan tadi tangan mereka saling bergenggaman satu sama lain.


"Mas, Gimana kalau ada yang mau rebut kamu dari aku? Apakah kamu akan menerima orang baru itu dan meninggalkan aku sama anak kita?" tanya Tia.


"Kenapa kamu bisa memiliki pemikiran seperti itu? Tentu saja aku akan memilih kamu, mana mungkin juga aku memilih orang lain yang jelas-jelas tidak aku kenal. Apalagi kita itu sudah saling kenal dan bahkan kita sudah menikah, aku merasa pernikahan kita tidak bisa dibuat ajang bercanda. Jika Awalnya aku sudah mengatakan Aku akan serius kepada kamu maka aku tidak akan menghianati perkataanku sendiri."


Tia menghela nafas lega mendengar jawaban dari suaminya. "Syukurlah kalau begitu, Aku cuma takut ada yang suka dengan kamu dan berakhir kamu meninggalkan aku dan anak kita. Tapi setelah kamu mengatakan itu Aku percaya kamu tidak akan berani melakukan hal-hal yang sudah jelas-jelas dilarang oleh agama. Jika kamu dapat membuktikan perkataanmu sendiri maka aku juga akan membuktikan perkataanku sendiri."


"Kamu juga harus berjanji kepada aku, kamu tidak boleh merespon cowok-cowok lain yang ada di luaran sana. Bahkan kamu nggak boleh malu mengakui kalau kamu itu udah menikah dan aku adalah suami kamu. Pokoknya aku mau rumah tangga kita langgeng sampai maut memisahkan. Dan aku mau kita berdua membesarkan anak-anak kita berdua seperti Keinginan kita dulu."


"Iya mas, pokoknya kamu tenang saja. Lelaki kamu tidak merusak kekecewaan aku maka aku juga tidak akan merusak kekecewaan kamu."


Sebenarnya yang mengajak liburan kali ini adalah Tia, dia mengatakan mau membersihkan pikirannya dengan cara traveling bersama Hans. Apalagi dirinya sehabis memiliki masalah besar dengan Luna. Dirinya yakin suaminya itu tidak berbohong, jika suaminya berbohong maka akan terlihat jelas dari matanya.


Yang Tia takutkan adalah suaminya itu termakan dengan godaan yang diberikan oleh Luna. Sampai sekarang Hans masih belum tahu kenapa Luna sudah tidak terlihat lagi di rumah.


"Mas, kok kamu nggak tanya sih ke mana Luna pergi? Bukannya kamu udah lihat kalau dia jarang sekali ada di rumah?"


"Iya, tapi emangnya apa urusannya sama aku? Aku juga nggak peduli mau dia nggak ada di rumah atau enggak. Apa kamu sudah memecat dia?"


"Ya begitulah, aku sudah memecat dia karena ada beberapa hal yang tidak aku suka dari dia dan aku harap sih mas paham sama alasan aku itu."


Hans mengangguk paham dengan penjelasan dari istrinya itu, mereka menikmati es di suasana ini. Hans mengajak Tia untuk ke pinggir pantai saja sambil bermain air, awalnya Tia menolak. Tapi laki-laki itu memaksa dirinya hingga akhirnya membuat ia mau berjalan ke depan untuk semakin dekat melihat senja.


Mereka berdua duduk di atas pasir menghadap ke arah Pantai dan sekarang ini suasana terlihat begitu orange. Seperi biasa, tangan mereka tidak mau dilepaskan satu sama lain. Karena bagi mereka ini adalah bukti kecintaan mereka terhadap satu sama lain.


"Senja itu indah banget, walaupun habis setiap sore ada dan cantik-cantik banget tapi hampir semua orang nggak pernah bosan kalau soal senja. Begitu juga dengan kamu, setiap hari aku memang melihat kamu tapi aku nggak akan merasa bosan karena melihat kamu terus-menerus," ucap Hans.


"Ada lagi nggak? Tentang kamu yang cinta dengan senja?"


"Senja itu berikan aku rasa tenang, jauh lebih tenang ketika ada kamu di sebelah aku. Terkadang aku berpikir bahwa bagaimana jadinya jika Tuhan mengambil salah satu nyawa di antara kita berdua. Sementara kita sendiri masih belum bisa untuk hidup tanpa satu sama lain." Hans menceritakan apa yang membuat dirinya ketakutan selama ini.


"Mas, kita harus sama-sama berjanji. Bahwasanya kita akan terus bersama dalam suka maupun duka, kita akan bersama-sama membesarkan anak kita nanti."


"Iya, dan itu pasti."


Akhirnya mereka menikmati senja ini, sembari minum es kelapa dan menikmati pemandangan indah yang ada di sini. Pantai ini ombaknya begitu tenang, warnanya juga oranye seperti senja. Bagi mereka liburan ini sangat berarti, seperti mengenang momen di saat mereka belum memiliki anak.



Yang jelas mereka sangat bahagia, jika anak mereka sudah besar mereka pasti akan mengajaknya ke sini. Lalu sama-sama menikmati senja bersama dengan keluarga kecil mereka. Impian yang begitu indah bukan.