
Clara, Meri dan Gunawan menoleh ke arah pintu masuk.
"Papa?!" seru Meri.
"Cahyo?!" seru Gunawan, dia berdiri dari tempatnya duduk bersimpuh di depan Clara.
Cahyo berjalan menuju ke arah sang istri yang wajahnya sudah memucat. Cahyo tahu saat ini trauma sang istri pasti kambuh, peristiwa masa lalu memang sulit untuk disembuhkan dari diri Meri. Untuk itu Meri sulit menerima Tia karena wajah Tia sangat mirip dengan Gunawan.
"Iya, Nyonya Clara. Waktu itu memang saya meminta bantuan tuan Gunawan untuk mengambilkan alat saya yang tertinggal di rumah. Waktu itu bertepatan dengan tuan Gunawan mengikuti Anda menuju ke ruangan nyonya Clara. Seharusnya saya yang marah dan menuntut tuan Gunawan. Akan tetapi tuan dan Nyonya sedang melangsungkan pernikahan. Jika tidak mungkin tuan Gunawan sudah masuk ke penjara!"
Cahyo mengepalkan tangannya kuat, di tidak tega istrinya terlihat kambuh traumanya. Clara membulatkan matanya, tidak percaya jika apa yang dia lakukan bisa berakibat fatal pada suami dan nama baik keluarganya. Bisa dibayangkan jika Cahyo dulu melapor ke pihak yang berwajib, maka saat pernikahannya pastilah gempar karena pengantin laki-laki ditangkap oleh pihak yang berwajib.
"Ma ... Sudahlah jangan memperkeruh masalah, biarkan ini menjadi masalah kita berdua, jangan kau libatkan Meri yang hanya menjadi korban!" Gunawan memegang kedua bahu Clara agar sadar dan segera pulang.
"Baiklah, Pa. Tapi ingat di antara kita belum selesai! Aku tunggu kau di hotel!!" ucap Clara sambil menghentakkan kaki meninggalkan rumah Meri tanpa berpamitan.
Gunawan tidak mengejar istrinya, dia ingin meminta maaf dan mengucapkan terima kasih pada Cahyo yang selama ini tidak menuntut dirinya dan mau menerima Tia sebagai anaknya.
"Cahyo, maafkan kami. Kami sangat berterima kasih dan minta maaf atas apa yang menimpa istri dan keluarga mu. Semua ini kesalahan ku yang tidak mau tahu apa akibat yang telah aku lakukan. Aku kira uang sudah bisa menutup segalanya, ternyata masalah semakin berkepanjangan. Aku berjanji padamu Cahyo, aku akan menebus semua kesalahanku dengan berbuat yang terbaik untuk Tia dan keluarga ini. Aku permisi dulu!"
Cahyo hanya mengangguk, menggenggam janji yang diucapkan oleh Gunawan.
"Baiklah, Tuan. Saya pegang janji Anda. Saya harap Anda tidak mengingkari apa yang sudah Anda ucapkan!" balas Cahyo dengan tegas. Mengingat apa yang dilakukan oleh Gunawan berakibat goyahnya rumah tangga yang ia bina.
Bertahun-tahun Cahyo harus melihat sang istri terjebak dalam trauma yang sulit untuk dilupakan. Cahyo terpaksa harus bekerja paruh waktu karena dia juga harus mengurus Tia. Meri sama sekali tidak mau mengurus Tia.
Sering Cahyo terpaksa harus menitipkan Tia bayi pada tetangga karena takut Meri akan mencelakai bayi yang tidak berdosa itu. Meri juga tidak mau memberikan ASI nya pada Tia, terpaksa Tia harus minum susu formula dari belas kasih tetangga.
Masa-masa yang sulit Cahyo lalui saat membesarkan Tia. Cahyo harus bisa mengendalikan emosi sang istri jika dia kambuh traumanya. Keadaan mulai membaik saat Tai sudah remaja. Beruntung Tia anak yang patuh, hingga pertikaian antara ibu dan anak bisa dihindari.
Gunawan menepuk pundak Cahyo, meyakinkan bahwa dirinya tidak akan mengingkari janji yang sudah ia ucapkan. Gunawan pun pamit, saat hendak melangkah meninggalkan rumah Meri. Dirinya terdiam melihat foto pesta ulang tahun Wulan yang dirayakan.
Rasa haru tiba-tiba menyeruak di dalam hati Gunawan, melihat Tia di dalam foto itu hanya melihat dari kejauhan. Gunawan pun tergerak untuk tahu kapan ulang tahun Tia.
"Dua bulan lagi, tepatnya tanggal 20, Tuan." Cahyo menjawab pertanyaan Gunawan sembari mendorong kursi roda Meri menuju tempat Gunawan berdiri.
"Dua bulan lagi? Bukankah seharusnya bulan ini? Karena Sinta juga lahir bulan ini, mereka seharusnya lahir di bulan sama sebab kata Clara aku harus menikah dengan dirinya karena perbuatan yang aku lakukan di hari yang sama dengan aku melakukannya pada Meri. Sungguh aku bingung, mengapa Sinta lebih tua dari Tia?"
Tangan kanan Gunawan berkacak pinggang sedangkan tangan kiri memijat dahinya. Dia berpikir keras untuk mengingat semua kejadian di malam itu.
"Meri bisa tahu kalau Tia bukan anak kandung saya karena bulan itu saya tidak berhubungan dengannya karena kami memang belum ingin memberikan adik untuk Wulan. Dan Tia lahir juga sesuai dengan hari perkiraan lahir dari dokter."
Gunawan semakin bingung, mengapa Sinta dan Tia bisa selisih dua bulan dengan Tia. Lebih tua Sinta daripada Tia. Harusnya sama, karena setelah menikah dengan Clara, Gunawan juga tidak menyentuh Clara alasan Clara tidak enak badan dan akhirnya hamil. Selain itu, Clara seolah ingin menjauhkan diri Gunawan dengan dirinya dengan alasan pekerjaan.
"Cahyo, bolehkah aku minta salinan akta kelahiran Tia?" tanya Gunawan. Hati dan pikirannya menangkap sebuah keganjilan.
"Boleh, Tuan. Sebentar saya ambilkan terlebih dahulu."
Cahyo meninggalkan Meri dan Gunawan sendirian, dia pergi mengambil berkas salinan akta kelahiran Tia.
Meri hanya diam sambil meremas tangannya. Dia tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
"Meri ... Kamu jangan takut, aku tidak akan berbuat kasar padamu. Yakinlah jika aku melakukan itu padamu karena aku dalam kondisi tidak sadar. Maukah kau berteman denganku. Aku ingin menebus semua dosa-dosa ku pada mu dan pada Tia. Aku berharap kau mau memaafkan semua kesalahanku."
Meri hanya terdiam membisu, dia tidak berani membalas kata-kata Gunawan. Tidak berapa lama kemudian, dari arah pintu tampak Tia membawa beberapa paper bag dan kantong plastik besar penuh dengan oleh-oleh.
"Assalamu 'alaikum, Ma ... Ayah! Ayah di sini?!" seru Tia yang terkejut melihat sang ayah ada di rumahnya.
"Wa'alaikum salam, Tia. Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana baby moonnya, apakah menyenangkan?" tanya Gunawan menyambut kedatangan sang putri.
Tia melangkah masuk menuju ke arah Gunawan. Gegas Gunawan membantu Tia membawa beberapa kantung plastik dan paper bag.
"Begitulah, Yah. Tia di Jogja hanya makan gudeg aja. Tidak jalan-jalan kemana-mana?!" jawab Tia dengan ekspresi wajah yang ditekuk seraya menyalami ayah dan ibunya. Tia tampak merasa kesal, entah apa yang terjadi saat ia dan Hans pergi ke Yogyakarta. Tia masih belum mau bercerita. Perhatiannya teralihkan dengan kedatangan sang ayah kandung ke rumah di mana mama dan papanya juga sang adik tinggal.
"Oh, Ya. Ma, di mana papa? Kok gak kelihatan dan ayah kenapa bisa ada di sini?" tanya Tia tanpa jeda pada kedua orang tua kandungnya itu.