
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Dengan fokus Hans mengemudikan mobil dengan fokus. Tia sudah tidak sadarkan diri, Yuni pun panik dan meminta Hans segera melajukan mobilnya dengan cepat.
"Tuan ... Nyonya pingsan! Bisakah lebih cepat lagi?" Pinta Yuni pada Hans.
"Baik, Mbak. Ini hanya tinggal sebentar lagi. Tia ... Tolong bertahan sebentar lagi, kita akan segera sampai," ucap Hans dengan mempercepat laju mobilnya.
Tidak berapa lama kemudian, mobil Hans pun sampai di depan ruang UGD. Hans turun dan setengah berlari menuju ke pintu ruang UGD.
"Suster ... Dokter, tolong istri saya," teriak Hans panik.
"Baik, Tuan!" jawab sang suster lelaki yang bertugas di ruang UGD. Para perawat itupun mengambil brankar dan mendorongnya mendekati mobil Hans.
Hans membantu sang perawat mengangkat sang istri ke atas brankar. Tanpa menunggu lama lagi, mereka segera mendorong brankar itu masuk ke dalam ruang UGD.
"Cepat kalian pasang oksigen dan infus," teriak salah satu dokter yang menangani Tia.
Para perawat dan dokter jaga tampak sibuk menangani Tia. Sedangkan Hans menunggu di luar dengan perasaan cemas dan khawatir.
"Bagaimana, Dok?" tanya Hans pada dokter yang bertugas menangani Tia.
"Masih kita observasi, Tuan. Pasien sepertinya mengalami dehidrasi berat. Apa pasien sering begadang dan kurang tidur," tanya sang dokter pada Hans.
Hans mengangguk pelan lalu menjawab, "Benar, Dok. Akhir-akhir ini istri saya sulit tidur. Seperti ada yang ia pikirkan," ucap Hans yang mengalahkan dirinya karena tidak perhatian pada sang istri. Karena lelah bekerja, Hans sering tidur duluan. Ia mengira istrinya tidak apa-apa ternyata ada apa -apanya dengan tubuh sang istri.
"Baiklah, Tuan. Kita akan observasi pasien hingga penyakitnya bisa terdeteksi. Lebih baik pasien menginap terlebih dahulu di sini. Agar bisa kita observasi dengan sempurna," ucap sang dokter menjelaskan pada Hans tentang kondisi Tia yang belum ditemukan penyakitnya.
"Baiklah, Dok. Saran dokter akan saya ikuti. Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok," pinta Hans pada sang dokter.
"Baiklah, Tuan. Kami akan memantau dan mengawasi pasien dengan intensif. Silakan tuan melakukan pendaftaran di loket pendaftaran pasien untuk mencari kamar terlebih dahulu," ucap sang dokter.
"Baik, Dok. Saya akan segera mendaftarkan istri saya," ucap Hans menerima surat rujukan rawat inap dari sang dokter.
Setelah semua urusan selesai, Tia pun dibawa ke kamar rawat inapnya. Sepanjang menuju ke kamar rawat inap, Hans mengenang dulu bagaimana sang istri saat hamil anak kembarnya juga harus dirawat karena tiba-tiba pingsan. Hans juga berharap semoga kali ini Tia juga hamil anak mereka yang ketiga.
Do'a dan impian bolehlah dilangitkan, terkabul atau tidaknya semua menjadi urusan Sang Maha Pencipta.
Keesokan harinya.
Tia sudah terbangun dari tidurnya, dia terkejut karena saat bangun dia tidak berada di kamarnya, melainkan di kamar dengan nuansa putih dan berbau obat. Tia menoleh ke arah samping, dia melihat sang suami yang tidur dengan nyenyak-nya. Terlihat gurat kelelahan pada wajah sang suami.
"Mengapa aku ada di sini? Apa yang terjadi pada diriku?" tanya Tia dalam hati. Dia tidak mengerti mengapa dirinya dibawa ke rumah sakit.
Tia teringat bagaimana dirinya tidak bisa tidur beberapa hari ini. Setiap kali hendak tidur, mata Tia sangat sulit untuk terpejam. Seperti ada yang mengganjal, dan membuat dirinya tidak merasakan mengantuk.
"Selamat pagi, nyonya Tia?" Sapa sang suster yang bertugas mengecek kondisi pasien dan melaporkannya pada dokter yang bertanggung jawab.
"Selamat pagi, Sus."
"Bagaimana keadaan Anda, Nyonya? Apa ada yang dikeluhkan?"
Tia terdiam sejenak, dirinya tidak merasakan sakit apapun dan dia bersyukur tadi malam dia bisa tidur. Tia sendiri pun heran, di rumah sakit semua rasa sakit yang biasa dia rasakan setiap bangun tidur hingga tidur lagi tidak ia rasakan.
"Nyonya kemarin pingsan dan dibawa oleh suami Anda ke rumah sakit," jawab sang suster sembari memeriksa tekanan darah Tia.
"Oh, begitu. Kemarin saya hanya merasa tidur saja, ternyata pingsan ya?" Tia ingin mempertegas apa yang terjadi pada dirinya.
"Benar, Nyonya. Mungkin Anda terlalu lelah hingga tidak sadarkan diri. Nyonya, tekanan darah Anda normal. Saturasi oksigen dan suhu tubuh juga normal. Saya permisi dulu, Nyonya," ucap sang suster berpamitan setelah selesai memeriksa Tia. Sesungguhnya sang suster sendiri juga heran, semua normal, akan tetapi mengapa pasiennya bisa tidak sadarkan diri, lemas dan tidak berdaya.
"Iya, Sus. Terima kasih," jawab Tia sambil tersenyum.
Setelah sang suster itu pergi, Tia memanggil Hans suaminya.
"Mas ... Mas Hans ... Bangun, ayo sholat subuh terlebih dahulu," panggil Tia pada sang suami yang masih nyenyak tertidur.
"Hoaam ...." Hans menguap sambil menggeliatkan tubuhnya.
Krek ... Krek ....
Suara tulang sendi Hans terdengar saat dia melakukan peregangan otot.
"Tia, kau sudah bangun?" tanya Hans menoleh ke arah sang istri yang sudah tidak terlihat pucat lagi. Wajah Tia sudah kembali segar dan bugar, tidak seperti kemarin-kemarin.
"Alhamdulillaah, sudah, Mas" jawab Tia dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, syukur kalau begitu. Oh ya apa ada rasa sakit yang kau rasakan?" Lanjut Hans menanyakan keadaan Tia. Dia masih khawatir jika sang istri merasakan sakit lagi.
"Alhamdulillaah, sudah tidak, Mas. Aku juga heran mengapa tubuh ini menjadi lebih bugar dibanding dengan kemarin - kemarin," jawab Tia jujur apa adanya. Dia memang sudah tidak merasakan keletihan lagi seperti sebelumnya.
"Alhamdulillaah, kalau begitu, Sayang. Mas kemarin khawatir melihatmu begitu pucat dan tidak sadarkan diri," ucap Hans sambil duduk di sofa yang bisa dijadikan tempat tidur untuk keluarga yang menunggu pasien.
"Maafkan Tia yang selalu merepotkan mas ya. Tia bersyukur karena Tia mendapatkan suami yang setia dan pengertian seperti mas Hans." Tia tersenyum pada sang suami yang terlihat tampan jika bangun tidur.
Hari pun berlalu, hasil diagnosa pemeriksaan Tia telah keluar. Keadaan Tia pun semakin membaik dan diperbolehkan untuk pulang.
"Terima kasih, Dok. Saya sangat senang mendengarnya. Semoga istri saya sehat terus," ucap Hans saat sang dokter memberi tahu bahwa istrinya bisa diajak pulang ke rumah. Walau tidak ada kabar gembira mengenai bertambahnya momongan, tidaklah membuat Hans kecewa. Saat ini yang terpenting adalah Tia sehat dan tidak mengidap suatu penyakit.
"Sama-sama, Tuan. Sudah saya buatkan jadwal kontrol, silakan Anda daftar lewat online dan datang sebelum dokter mulai periksa," ucap sang dokter memberikan jadwal periksa pada Hans.
"Siap, Dok. Terima kasih," ucap Hans dengan senyum.
Hans dibantu mbak Yuni membawa Tia pulang. Sesampainya di rumah Tia rebahan di kasur. Dia kembali merasakan tubuhnya merasa tidak enak dan lemas. Namun, Tia tahan. Dia beranggapan mungkin karena proses tubuh yang lepas dari infus.
"Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Hans yang melihat sang istri hanya tiduran, tidak seperti waktu di rumah sakit yang sudah bugar dan sehat.
"Tidak apa -apa, Mas. Mungkin pengaruh dari dilepaskan cairan infus," jawab Tia dengan senyum yang dipaksakan.
"Baiklah, cepatlah tidur, jangan sampai begadang lagi. Sekarang pantangan untukmu adalah tidak boleh begadang. Okey?"
"Okey, Mas. Tia tidak akan begadang lagi," jawab Tia patuh. Dia pun mulai memejamkan paksa matanya. Anehnya ia tidak bisa juga.