
Tangan Tia bergetar memegang ponselnya, bahkan ponsel itu hampir jatuh. Tidak terlintas di dalam benaknya jika sang adik ipar yang menurutnya baik itu, ternyata suka membicarakan dirinya di media sosial walaupun tidak menyebut nama.
"Sayang, kamu kenapa?" ucap Hans mengulang pertanyaannya pada sang istri.
"Mm ... Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya saja Tia teringat Hasan. Sedari pagi meninggalkan Hasan bersama mbak Yuni, membuat pikiran Tia tidak tenang," jawab Tia terpaksa berbohong. Dia tidak ingin Hans tambah kepikiran dengan yang dia rasa. Toh hanya postingan yang tidak menyebut nama, Tia memilih untuk tidak menanggapi ataupun menggubris postingan itu.
"Sudahlah, lebih baik kita berdoa demi kesembuhan anak kita. Hasan akan membaik karena memiliki ibu yang sangat perhatian padanya," ucap Hans memberi semangat pada istrinya.
"Terimakasih, Mas. Tia bahagia memiliki suami sepertimu. Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kita," ucap Tia bergelayut di lengan Hans.
Taksi online itupun akhirnya sampai di rumah Tia. Mereka berdua bergegas masuk setelah membayar ongkos taksi online tersebut.
"Mama ... Papa ...." Hasna menyambut kedatangan ibu dan ayahnya.
"Assalamu 'alaikum, Hasna," ucap Tia. Secara tidak langsung dia ingin menegur sang anak agar mengucap salam jika kedatangan tamu.
"Wa'alaikum salam, Mama. Maaf Hasna lupa. Hasna terlalu senang karena mama dan papa pulang juga," ucap Hasna dengan senyum yang sangat menggemaskan.
"Alhamdulillah, Sayang. Allah masih melindungi mama dan papa. Oh, Iya. Bagaimana kakak?" tanya Tia pada anak perempuannya.
"Kak Hasan sedang tidur, Ma. Tadi habis makan bubur buatan bi Inah, minum obat lalu tidur deh," jawab Hasna bercerita tentang apa yang dilakukan sang kakak.
"Syukurlah jika kakak mau makan dan minum obat. Mama yakin sebentar lagi kakak pasti sehat dan kita bisa bermain lagi," tandas Tia menggandeng tangan Hasna menuju ke kamar anak lelakinya.
***
Hari pun berganti, Tia melihat perkembangan pada Hasan yang semakin hari semakin membaik, kini demamnya sudah turun. Hasan pun sudah tidak merasakan sakit di tenggorokannya.
Dua hari setelah kejadian Hans di jebak oleh Merlyn membuat Tia tidak fokus, terkadang Tia harus ekstra menjaga keluarga nya. Sampai lupa jika dirinya sedang mengandung dan harus banyak istirahat, menjadi seorang istri dan ibu sekaligus tidak mudah tapi Tia sanggup melakukan itu setiap harinya. Hal itu karena Tia mencintai keluarga kecilnya begitu juga dengan sang suami.
"Kak mau makan sesuatu?" tanya Tia pada Hasan yang tengah menikmati kegiatan bermain game di ponselnya.
"Sop buahnya aja ya, Hasan, jangan dingin nanti tenggorokan nya sakit lagi." sahut Tia tidak mengizinkan karena Hasan baru saja sembuh dari sakit nya.
Hasan meletakkan ponselnya di atas meja makan, dia mendongak menatap sang ibu. "Tapi Hasan mau yang dingin, Ma." Hasan memasang wajah cemberut nya.
Tia menggeleng, ibu jarinya bergerak ke kanan ke kiri. "Kalau Hasan mau sop buah, Mama buatkan tapi kalau Hasan mau sop buah dingin tidak akan Mama buatkan. Pilih yang mana?" Tia memberi tawaran sambil berkacak pingga, ia tidak mungkin menuruti kemauan Hasan yang memaksa ingin di buatkan sop buah dingin.
"Kalau tidak dingin bukan sop buah namanya, Ma." ujar Hasan mengerucutkan bibirnya.
"Atau mau wedang jahe aja, kak?" ucap Tia sengaja memberi tawaran pada Hasan jika tidak mau sop buat yang biasa saja ia akan memberikan nya wedang jahe.
"Gak apa-apa sop buah yang tidak dingin aja, Ma." Hasan pasrah akhirnya nurut pada sang Mama, sebenarnya Hasan sudah tidak merasakan sakit lagi di tenggorokan nya maka dari itu ia sangat menginginkan sop buah dingin.
"Tunggu sebentar, Mama buatkan." ucap Tia sambil mengelus puncak kepala Hasan lalu melangkahkan kakinya ke dapur.
Hasan baru saja menyelesaikan kegiatan makan bubur yang di buatkan oleh Bik Inah di temani Tia, selain liburan Hasan juga memanfaatkan waktu libur sekolah nya bersama keluarga nya. Hanya saja ada insiden dirinya terserang demam saat berenang, namun hanya beberapa hari sebelum akhirnya Hasan merasakan tubuhnya kembali vit.
Tia tengah berkutik pada dapur pribadi nya yang biasa Bik Inah dan Mbak Yuni melakukan kegiatan memasak di sana, tapi saat ini dapur sedang sepi dan hanya dirinya seorang diri.
"Memang siang begini enak jika makan sop buah dingin." guman Tia sambil mencuci beberapa buah di wastafel.
Tia mulai memotong buah-buahan yang tersedia di dalam tempat pendingin. Ia mengambil Apel, Jeruk, Stroberi, Anggur, pear dan susu, yogurt serta keju sebagai saus dan taburan di atas sop buah. Sepertinya ini lebih cocok jika di jadikan salad buah tapi Tia akan mengubahnya menjadi sop buah.
Mulai menyalakan kompor, Tia memanaskan susu full cream ke dalam wajan panci. Lanjut ia memotong buah-buahan nya.
"Mama sedang buat apa, kenapa sendirian di dapur. Mbak Yuni sama Bik Inah dimana?" tanya Hasna menghampiri sang Mama, anak perempuan yang Tia dan Hans punya itu baru saja mengambil air mineral dari dalam kulkas di dapur dan menemui Tia yang sedang fokus berkutik pada barang-barang dapur.
"Hasan minta sop buah, jadi Mama buatkan. Hasna mau juga tidak?" tawar Tia pada Hasna, tangan halusnya memotong-motong buah di atas talenan.
"Mau, Ma. Tapi kenapa Mama buatnya sendirian tidak minta bantu Mbak Yuni?" tanya Hasna lagi, dia menarik kursi di samping Tia lalu menduduki nya.
"Mama memang mau membuat nya sendiri, Hasna tau? Sop buah buatan Mama rasanya sangat enak. Kali ini Mama buat sop buah sepesial." ucap Tia seraya menyunggingka senyuman pada sang buah hati.
"Benarkah! Hasna jadi tidak sabar mencobanya." sahut Hasna dengan mata berbinar.
"Iya, makanya Hasna bantu Mama buat sop buahnya ya."
"Okee, Ma." Hasna mengangguk semangat.
Hasna mulai memarut keju dan menaruhnya di mangkuk kecil, kini dia beralih menuangkan yogurt di atas buah yang sudah Tia potong-potong kedalam mangkuk besar. Setelahnya Hasna meraih wajan panci berisi susu yang baru saja Tia panaskan, tangan Hasna sedikit susah meraih nya.
Brak.
"Hasna." panik Tia saat mendengar benda jatuh buru-buru menutup air keran wastafel dan menghampiri Hasna.