Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP. bab 25


Hans menghela napas panjang, ternyata sang anak keras kepala juga, tidak mau berterus terang pada dirinya.


"Hasan ... Sini, Nak. Papa ingin bertanya tapi papa minta kamu jawab yang jujur. Bagaimana apa kamu mau menjawab pertanyaan papa?" tanya Hans dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Dia juga membawa Hasan ke dalam pangkuannya.


Hasan diam tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Dia bingung harus bagaimana. Di satu sisi, dia takut pada ancaman Alya, dan di sisi yang lain dia tidak bisa menyimpan lebih lama lagi apa yang terjadi pada dirinya.


"Hasan, percaya pada papa. Papa akan menjaga rahasia ini, papa tidak akan mengatakannya pada siapapun jika Hasan jujur pada papa." Hans membujuk sang anak agar mau berterus teras pada dirinya. Hans tahu jika sang anak saat ini sedang berbohong. Ada sesuatu yang disimpan dan dirahasiakan oleh Hasan.


"Mmm ... Hasan takut, Pa. Jika Hasan menceritakan pada orang lain maka dek Hasna akan dilukai oleh orang itu," ucap Hasan lirih. Dia takut jika tiba-tiba Alya datang bersama sang paman.


Degh!


Degh!


Hans merasa gagal menjadi ayah yang bisa melindungi sang anak dari kejahatan seseorang.


"Kak Hasan ... Kakak kan anak yang pemberani, kakak kamu tidak cerita sama papa mana bisa papa akan menangkap siapa yang akan berbuat jahat pada dek Hasna? Kalau kakak berterus terang pastilah papa akan menangkap siapa yang akan berbuat jahat pada dek Hasna. Coba kakak ceritakan pada papa ciri - ciri orang itu," pinta Hasan pada sang anak laki-lakinya.


Hasan terdiam, mungkin dengan menyebut ciri- cirinya, sama saja Hasan tidak menyebut siapa orang itu.


"Papa ... Ciri-ciri orang itu berambut panjang, kulit putih, hidung mancung dan ada tahi lalat di atas bibirnya," jawab Hasan dengan logatnya anak usia tujuh tahun.


"Tante Alya?" tebak Hans.


Seketika Hasan diam dan menunduk. Jelas bisa disimpulkan bahwa tebakan Hans itu benar.


"Kak ... Jangan takut, papa berterima kasih pada kakak karena kakak mau berterus terang. Papa akan melindungi kalian berdua dari Tante Alya. Dan papa pastikan Tante Alya tidak akan bisa menyakiti kalian berdua. Sekarang kita obati dulu." Ajak Hans pada Hasan. Hans mengoleskan salep anti nyeri dan memar di lengan Hasan yang terlihat membiru.


"Pa, kenapa lengan Hasan jadi biru begitu? Dua -duanya lagi!" Tia yang sudah selesai mandi menghampiri Hans yang sedang mengoles salep pereda nyeri pada Hasan. Wajah Tia sudah menunjukkan raut wajah khawatir.


"Biarkan papa selesaikan dulu, nanti kita bicara di kamar saja," ucap Hans masih mengoles dan memastikan semua sudah terkena salep dengan baik.


"Baik, Pa," jawab Tia. Tia pun ikut memastikan luka Hasan tidak apa-apa. Hanya memar di bagian lengan saja.


"Mbak Yuni, tolong awasin anak bermain ya," titah Tia pada Yuni.


"Baik, Nyonya." Yuni mengangguk patuh dan pindah tempat agar bisa menjangkau kedua anak yang sedang asyik bermain itu.


Tia dan Hans masuk ke dalam kamar, sengaja mereka berbicara di kamar agar tidak terdengar oleh anak-anak mereka. Hans dan Tia tidak ingin anaknya mengetahui masalah orang dewasa yang tentu tidak baik jika diketahui oleh anak seusianya.


"Bagaimana, Mas?"


"Duduklah, dengarkan baik-baik. Kemarin mama mengamuk dan mengatakan jika Alya bukanlah wanita yang baik untuk Aris. Mama juga bilang kalau dia tidak merestui Aris dan Alya karena Alya sesungguhnya bukan wanita yang menyayangi anak- anak seperti yang kita kira selama ini."


"Maksud, Mas? Alya itu tidaklah seperti yang kita kenal selama ini. Jadi apa yang dikatakan mama pada waktu itu benar adanya?"


"Seperti itulah, mama mengatakan semua alasan mengapa mama bersikeras untuk tidak menerima Alya sebagai menantunya. Mama pernah memergoki Alya memu kul dan membe kap mulut seorang anak kecil yang menangis saat di rumah sakit. Selain itu mama juga pernah melihat Hasan dicubit oleh Alya di sekolah sewaktu mama jemput bersama supir. Saat itu kita sedang mengurus jenazah Wulan."


"Astaghfirullah ... Mengapa Alya menjadi wanita yang mengerikan seperti itu, Mas? Luarnya aja baik tapi di dalam mengerikan. Lebih baik kita laporkan pada pihak sekolah. Tia jadi takut jika Hasna disiksa oleh Alya. Mas! Besok kita harus ke sekolah Hasna dan Hasan!"


"Tenang, Tia. Mas pasti akan lapor ke pihak sekolah. Jika tidak ditanggapi maka mas akan memindahkan sekolah anak-anak kita. Kamu yang tenang., Sekarang kita berpikir bagaimana mengatakan semua ini pada Aris. Hasan sudah menjadi korban Alya. Lengan Hasan memar karena dipegang kuat oleh Alya saat memergoki Hasna dimarahi oleh Alya."


"Astaga ... Ternyata kita salah menitipkan anak-anak pada Alya. Bisa-bisa anak-anak kita akan mati terbunuh oleh Alya! Sungguh mengerikan sekali wanita itu!" Tia mengelus d4da karena tidak menyangka Alya akan mengerikan seperti itu.


"Mulai sekarang jangan pernah meminta Alya untuk mendekati anak-anak. Secepatnya kita harus memberi tahu Aris. Jangan sampai Aris salah memilih pasangan! Aris anak yang baik, kasihan sekali jika memiliki istri seperti Alya! Aku yakin jika Alya masih menyimpan rahasia dari Aris!"


"Benar, Mas. Besok Tia akan memberitahu Aris agar memutuskan Alya. Tapi jika Aris menolak bagaimana, Mas?" tanya Tia khawatir jika Aris menolak untuk memutuskan Alya.


"Nah, itulah yang mas pikirkan. Jika cinta sudah berbicara. Keburukan pasangan pun tidak akan terlihat. Hanya Allah saja yang bisa memisahkan keduanya," imbuh Hans yang juga khawatir jika Aris menolak nasihat dari sang kakak.


"Kita harus mencari bukti, Mas. Mungkin apa yang terjadi pada Hasan bisa kita jadikan bukti. Aris sangat menyayangi Hasan. Pasti dia akan memikirkan apa yang kita sampaikan jika itu menyangkut keselamatan Hasan," usul Tia.


"Usulmu bagus, Sayang. Kita foto dan kirimkan luka Hasan ada Aris. Semoga Aris mau mendengarkan, minim akan mencari bukti sendiri akan kebenaran yang dia dapatkan dari kita," ucap Hans.


"Semoga Aris terbuka hati dan pikirannya. Hoaaam ... mas aku mengantuk, entah mengapa akhir-akhir ini aku sering cepat mengantuk, padahal waktu itu tidur aja susah. Hoaam ...." Tia Kemabli menguap lalu berpindah ke tempat tidurnya.


"Mas ... Pinggangku pegel, tolong pijitin ya ...." rengek Tia dengan manja.


"Iya, sini mas pijitin," jawab Hans memijit perlahan pinggang Tia.


"Mas ... jangan berhenti sebelum Tia pulas!" pinta Tia sambil memejamkan matanya yang sudah lengket. Dia ingin tidur sambil dipijit Hans.


"Sssst ... Dah tidurlah, mas akan tungguin kamu sampai lelap," jawab Hans, tapi yang diajak bicara sudah tertidur pulas.


"Hmm ... Wajahmu sangat menggemaskan kalau tidur. Sungguh di usiamu kini kau masih terlihat cantik. Rasanya aku tidak ingin kau bekerja dan memiliki relasi lain jenis," gumam Hans sambil merapikan anak rambut Tia.


Triing ....


Triing ....


Ponsel Tia berdering. Hans beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang malam-malam telepon.


"Sharma Qatar? Siapa dia?" gumam Hans yang membaca nama kontak yang memanggil Tia. Hans ragu tapi juga penasaran ingin mengangkat panggilan tersebut. Hans pun menekan tombol hijau.


"Hallo?"


"Hallo?"


Tuut ....


"Aneh! Diterima malah dimatikan! Awas saja kalau ganggu Tia!" gumam Hans yang merasa kesal dengan Sharma.


Malam semakin larut, Hans pun merebahkan dirinya di samping sang istri. Hans memeluk sang istri dari belakang.


"Hmm ... Alhamdulillah Tia semakin sehat dan bertambah berat badannya. Pe rutnya dah terasa dipegang, berbeda dengan dulu yang rata kalau dipeluk," ucap Hans yang merasa semakin mencintai Tia.


***


Keesokan harinya.


"Tia ... Sayang, ayo bangun ... Dah pagi," ucap Hans membangunkan Tia dengan lembut.


"Hoam ... Ya mas, Tia sholat subuh dulu," ucap Tia menggeliat. Dia menjalankan aktivitas sama seperti hari -hari biasanya.


Tia dan Hans seperti biasa melaksanakan semua tugas dan kewajibannya sebagai orang tua dan juga pebisnis sukses.


"Ma ...."


"Ya, Kak," jawab Tia sambil membuat teh manis untuk sang suami.


"Hasan tidak masuk sekolah ya ... Takut nanti di sekolah bertemu dengan Tante Alya," ucap Hasan yang masih takut dengan Alya.


"Kak ... Kelas kakak kan berbeda, nanti kakak tidak usah keluar kelas atau mending mainnya sama teman di dalam kelas. Nanti biar mama bilang pada guru kakak agar jaga kakak di kelas. Papa juga sudah bilang ke mama kalau papa akan minta perlindungan untuk kakak, biar dijauhkan dari Tante Alya."


"Tapi, Ma ... Kakak takut jika adek kenapa-kenapa." Hasan ternyata juga memikirkan keselamatan adik satu-satunya.


Tia terdiam, dia lupa membicarakan semua pada sang suami tentang rencana jika di sekolah.


"Sebentar, mama bilang papa dulu bagaimana enaknya. Kamu sekarang mandi dan bersiap untuk sarapan. Biar mama bicara dulu sama papa," ucap Tia membelai kepala sang anak.


"Okey, Ma. Kakak mau mandi dan bersiap sarapan dahulu," jawab Hasan dengan wajah yang menggemaskan.


Tia segera menyelesaikan membuat teh dan bergegas menghampiri sang suami di kamarnya.


"Mas ...." Tia mendekat ke arah sang suami.


"Ya, Sayang," jawab Hans sambil menyisir rambutnya.


"Mas, anak-anak bagaimana sekolahnya? Tadi Hasan bilang kalau dia takut ke sekolah. Dan dia juga takut kalau Hasna kenapa -kenapa karena Hasna murid dari Alya," tanya Tia dengan raut wajah penuh kekhawatiran.