Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 38


"Pa ... Kami mau kok dijemput om Aris. Iya kan, Hasna?" Hasan menyenggol lengan sang adik.


"Iya, Pa. Kami mau kok dijemput om Aris. Kami kasihan mama dah capek masak," jawab si kecil Hasna dengan mimik wajah yang menggemaskan.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih Aris," ucap Hans mewakili anak dan istrinya.


"Sama-sama, Mas. Kalau begitu Aris balik ke kantor dulu ya, Mas. Sampai jumpa besok di kantor," ucap Aris pamitan.


"Terimakasih, Ris." teriak Tia yang terlanjur masuk ke dalam rumah. Ia mengira jika sang adik akan mampir terlebih dahulu, ternyata tidak.


"Sama-sama, Mbak," jawab Aris sambil melambaikan tangannya.


Hans, Tia, Hasna dan Hasan pun masuk ke dalam rumah.


"Kalian ganti baju dulu sama mbak Yuni ya, mama akan siapkan martabaknya," ucap Tia langsung menuju dapur.


"Okey, Ma," jawab Hasan dan Hasna bergegas masuk ke dalam kamar masing-masing untuk berganti pakaian.


Hans mendekat ke arah Tia, dia pun melingkarkan tangannya di perut Tia.


"Habis memberikan martabak ke Hasna dan Hasan, kamu langsung ke kamar ya, Sayang. Istirahat saja. Biarkan Hasan dan Hasna aku yang urus," ujar Hans berbisik di telinga Tia.


"Iya, Mas, iya. Terima kasih banyak karena telah menemani Tia hari ini." Tia mencubit dengan gemas pipi Hans dari arah samping.


"Mas, teruslah seperti ini, ya. Saling percaya dan melengkapi," ujar Tia tiba-tiba membuat Hans langsung mengerakkan kepalanya untuk melihat ke arah Tia. Namun beberapa detik berikutnya ia langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tia.


***


2 minggu berlalu, selama dua minggu pula Aris mengantar dan menjemput Hasna dan Hasan. Setengah jam jemput mereka tadi telah dikarenakan ia ingin melihat wajah dari guru mereka yaitu Bu Devi. Selama satu minggu ini juga ia mencari tahu tentang keluarga, kehidupan, dan karir Bu Devi.


Aris sudah mulai lumayan akrab dengan guru baru Hasna itu, bahkan ia sudah memiliki nomor ponselnya dan alasan ingin memberitahu jika sewaktu-waktu ia telat menjemput anak-anak. Tia sendiri sudah tahu jika Aris menaruh perasaan kepada Bu Devi.


Tentu saja dia sangat tenang adiknya itu bisa bangkit dari keterpurukan dan mencintai wanita lain yang sudah jelas baiknya. Lagian dengan adiknya menjemput anak-anaknya ia jadi terbantu dan dirinya tidak perlu lagi repot-repot untuk menjemput anak-anaknya.


Aris sudah memulangkan Hasna dan Hasan, dirinya kembali ke sekolah dikarenakan ingin menjemput Bu Devi. Tadi ia sempat janjian untuk pergi ke kafe dengan Bu Devi. Mereka sudah tidak se canggung lagi seperti awal pertemuan. Bahkan mereka berbicara dengan menggunakan aku kamu.


Sementara Bu Devi langsung masuk ke dalam mobil Aris, ia pun tersenyum kecil kearah Aris. Dengan segera Aris melajukan mobilnya menuju ke Cafe. Sesampainya di kafe mereka langsung menuju ke kursi yang dibooking oleh Aris.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Aris.


"Samain saja dengan kamu," sahut Bu Devi.


Aris merasa semakin dekat dengan Bu Devi. Apalagi ciri khas dari wanita itu yang lemah lembut. Setelah beberapa menit mengobrol akhirnya Aris memutuskan untuk mengucapkan niatnya. Tentu saja saat ini jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.


"Devi, aku ingin kita menjalani hubungan yang lebih serius bersama-sama. Aku merasa bahwa kita memiliki banyak kesamaan dalam pandangan hidup dan impian masa depan, dan aku ingin kita saling mendukung dan menginspirasi satu sama lain dalam perjalanan kita."


Bu Devi terkejut dengan perkataan Aris, dan dia langsung memerah. Dia tidak mengharapkan Aris untuk mengungkapkan perasaannya pada hari ini. Apalagi yang ia tahu Aris mengajaknya makan di Cafe dan tidak lebih dari itu.


"Aris, bukannya aku mau menolak tapi kita baru kenal beberapa minggu apakah kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?" tanya Bu Devi.


"Tentu saja aku yakin, selama ini aku berusaha untuk mencari tahu semua kehidupan kamu. Aku yakin aku tidak salah pilih dan kamu memang Tuhan takdirkan untuk aku," jawab Aris mencoba untuk menyakinkan Bu Devi.


"Aku tahunya kamu itu Paman dari Hasna dan Hasan, sama sekali tidak ada di pikiran aku bahwa kamu akan masuk ke dalam kehidupanku seperti ini karena aku menganggap kamu main-main saja dekat denganku seperti laki-laki pada umunya," ujar Bu Devi.


"Devi, untuk usia sekarang ini aku sudah tidak mau main-main lagi dan aku mau fokus sama satu perempuan saja yaitu kamu. Bahkan aku bisa menjamin sama kamu kalau aku itu tulus dan aku mengungkapkan ini dari hati yang paling dalam," sahut Aris.


"Aris, aku nggak bisa kasih kamu jawabannya sekarang tetapi jika kamu serius dengan perkataan kamu aku mau kamu datang ke rumah aku untuk meminta izin secara langsung kepada kedua orang tua aku. Insya Allah jika mereka menyetujui aku akan menerima tawaran dari kamu, lagian aku juga ingin serius dalam menjalin hubungan."


Aris tersenyum mendengar jawaban dari Bu Devi, ia sendiri tak sabar datang ke rumah Devi untuk menyatakan niat baiknya. Tetapi walaupun seperti itu ia tetap merasa grogi. Rupanya dirinya harus segera pulang untuk membicarakan masalah ini kepada kakak dan kakak iparnya.


***


Sementara dikediaman Hans, pasangan suami istri itu cukup bingung dikarenakan adik mereka meminta mereka untuk berkumpul di ruang keluarga. Katanya sih ada hal penting yang harus dia katakan. Jadi sekarang ini mereka bertiga sudah berkumpul di ruang keluarga kediaman Hans.


Malam ini Aris akan membicarakan niatnya untuk datang ke kediaman Devi. Dirinya akan mengatakan bahwa ia sudah menaruh perasaan kepada guru dari keponakannya itu. Katakan tanpa sepengetahuan Kakak dan kakak iparnya ia menyelidiki Devi seorang diri.


"Jadi kak, tadi aku sudah berbicara semua ini kepada Devi. Aku benar-benar mencintainya dan aku menginginkan dia menjadi istriku," ujar Aris.


"Dia mau, tetapi dia ingin aku datang ke kediamannya sebagai bentuk rasa serius. Dia menyerahkan keputusannya kepada orang tuanya. Terus aku mengatakan kepada dia bahwa aku akan segera mengunjungi rumahnya," sahut Aris.


"Astaga, kakak tidak menyangka Jika jodoh kamu itu ternyata guru dari Hasna. Seharusnya kamu berterima kasih kepada kakak karena kakak menyuruh kamu untuk menjemput Hasna di sekolah. Andai saja kakak tidak menyuruh kamu, dapat dipastikan kamu tidak akan menemukan jodoh kamu," sahut Tia dengan berbangga diri.


"Iya deh, kak, terimakasih banyak ya. Aku sendiri juga tidak menyangka akan menaruh perasaan sedalam itu kepada Devi. Bahkan setiap kali aku dekat dengan dia Jantungku berdebar-debar. Lalu muncul rasa marah ketika dia dekat dengan laki-laki lain," balas Aris.


"Kamu sudah dekat banget ya sama, Devi?" tanya Hans.


Aris menganggukkan kepalanya. "Iya, selama dua minggu ini aku mencoba mendekati dia dan ternyata dia sangat welcome terhadap orang yang mau dekat dengan dia. Apalagi kepribadian dia yang baik dan dia sangat sayang kepada anak-anak. Setiap aku menjemput Hasan dan Hasna, dia selalu menunggu kedatanganku di depan gerbang sekolah."


"Baiklah, besok kita akan datang ke rumah Devi. Nanti kakak yang akan menyiapkan semuanya untuk keperluan besok jadi kamu tinggal mempersiapkan diri saja. Kakak doakan semoga keluarga Devi menerima lamaran dari kamu, karena kebahagiaan kamu kebahagiaan Kakak juga," ucap Tia sembari tersenyum.


"Iya kak, terima kasih ya atas bantuan dan dukungannya. Kakak juga nggak perlu repot-repot untuk mendapatkan semuanya kok, kalau aku bisa pasti aku akan menyiapkannya sendiri," ujar Aris.


Tia dan Hans begitu senang, karena pada akhirnya adik mereka sudah menemukan perempuan baru yang bisa menggantikan posisi Alya di hatinya. Kita kan mereka juga sama-sama excited menunggu hari esok. Aris juga terlihat bahagia sejak dia kenal dengan Devi.


Bahkan sekarang ini dia jauh lebih terbuka daripada masih berpacaran dengan Alya. Devi memang membawa pengaruh yang baik untuk Aris. Gara-gara perempuan itu adik mereka bisa bangkit dari keterpurukan. Menurut mereka keputusan Aris benar-benar dewasa untuk datang langsung ke kediaman Devi guna melamar perempuan itu.


Bahkan mereka tidak yakin ada laki-laki seberani Aris. Alya pasti menyesal karena dia telah mengkhianati Aris, secara Aris itu orangnya baik dan dia penuh dengan tanggung jawab. Lihatlah, sekarang ini Adik mereka tersenyum bahagia. Tak sabar menantikan hari esok. Hans menyuruh asistennya untuk mempersiapkan hal-hal yang harus dibawa besok.


Malam semakin larut, Hans dan Tia berada di kamar mereka. Aris sudah pulang ke rumah, jadi di rumah ini hanya tinggal mereka dan anak-anak mereka saja. Semenjak kejadian itu mereka sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan Alya. Mau kemanapun perempuan itu melangkah mereka juga tidak peduli.


"Mas, Aris pasti seneng banget kalau keluarga menerima lamaran dari dia. Tetapi bagaimana jika keluarga Devi tidak suka dengan Aris? Aku yakin Aris pasti akan kecewa dengan hal ini," ujar Tia.


"Jangan berpikir seperti itu, sayang. Kita harus berdoa supaya keluarga Devi menerima lamaran dari Aris. Nanti kita telepon saja kalau Devi itu guru dari anak-anak kita dan artis itu adik kita, Insya Allah lamaran dari Aris akan diterima oleh pihak keluarga Devi," balas Hans.


"Iya mas, aku juga berharap hal yang sama. Aku juga nggak bisa membayangkan kalau semisal lamaran itu ditolak oleh keluarga Tia," ujar Tia.


"Udahlah, lebih baik kita tidur saja. Besok kita harus datang ke kediaman Devi, nanti kita akan ajak Hasna dan Hasan juga. Pasti mereka senang datang ke rumah guru mereka. Katanya asisten aku persiapannya sudah hampir 100 persen, merek lembur universitas mempersiapkan semua ini," ungkap Hans.


"Syukurlah, jadi besok kita tinggal berangkat saja."


***


Setelah merencanakan semuanya dengan matang, Aris berangkat menuju rumah Devi untuk meminta izin kepada orang tua Devi untuk melamarnya. Ia merasa tegang karena tahu bahwa ini adalah langkah penting dalam hidupnya. Ia didampingi oleh Tia dan Hans.


Ketika sampai di rumah Devi, Aris disambut hangat oleh orang tua Devi. Mereka duduk bersama di ruang tamu, sambil menikmati segelas teh yang disediakan oleh ibu Devi.


Setelah mengobrol beberapa saat, Aris akhirnya mengutarakan niatnya kepada orang tua Devi. Ia menjelaskan bahwa ia sangat mencintai Devi dan ingin meminta izin untuk melamarnya.


"Kami sangat menghargai niat baikmu, Aris," ujar ayah Devi dengan suara lembut.


"Kamu adalah seorang pemuda yang baik dan memiliki masa depan. Sebenarnya saya menerima baik niat kamu itu. Pertama-tama Saya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah datang ke rumah saya. Coba saja kamu tanya kepada Devi, ketika dia mau memiliki hubungan dan ikatan sakal dengan kamu maka saya akan menyetujuinya."


Ibu Devi menganggukkan kepala dengan keputusan ayah Devi.


Aris pun berdiri dan mengeluarkan cincin dari saku jasnya. "Devi, maukah kamu menikah denganku dan menjadi pasangan hidup selamanya?" tanyanya sambil membuka kotak cincin.


Devi melihat cincin itu dengan penuh harap dan akhirnya mengangguk. "Ya, Aris. Aku mau," jawabnya.


Aris pun tersenyum bahagia dan menempatkan cincin itu di jari manis Devi. Keduanya pun berpelukan erat dan merayakan momen bahagia mereka.


"Aku sangat bahagia, Devi," ujar Aris sambil menatap mata Devi dengan penuh cinta. "Aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu dengan baik."


Devi tersenyum dan membalas tatapan Aris. "Aku juga akan selalu mencintaimu, Aris. Kita akan menjalani hidup ini bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain."


Semua orang yang ada di sini merasa lega karena Devi mau menerima lamaran dari Aris. Hans dan Tia sampai terharu, bahkan mereka tidak menyangka jika takdir yang diberikan Tuhan akan seindah ini setelah badai yang berlalu. Mereka benar-benar bahagia.


"Jangan sedih, seharusnya kita berbahagia dengan momen ini. Lebih baik kita makan saja, saya sengaja masak yang spesial untuk menyambut kedatangan kalian."


Mereka makan bersama-sama untuk mempererat tali persaudaraan ini. Karena sudah mendapatkan izin dari orang tua Devi, Aris semakin dekat dengan Devi. Bahkan kedua orang itu seperti perangko yang saling melekat satu sama lain. Orang tua Devi juga sangat baik dan menyambut mereka selayaknya keluarga.


"Aris, Devi, selamat ya atas lamaran kalian. Kita berdua juga ikut senang karena acara ini berlangsung sangat lancar. Semoga kalian terus bersama-sama sampai maut memisahkan, kita butuh sesuatu kalian jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada kami," pesan Tia.


Aris dan Devi tersenyum, Devi pikir Aris tidak akan jadi datang ke sini. Tapi ternyata dia benar-benar membuktikan ucapannya untuk datang ke sini.