Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP 2. Bab 41


Aris dengan senyum yang mencurigakan mendekati Devi yang sedang melepas jilbab yang menutup wajah dan rambutnya.


"Devii ...."


"Astaghfirullahal Adziim ... Mas, kaget ih!!" pekik Devi yang benar-benar terkejut saat tiba-tiba Aris sudah berdiri di belakangnya. Devi pun kembali memakai jilbabnya, tidak jadi melepasnya.


"Lhoh, kok gak dilepas?"


"Mas, malu ... Kita bukan muhrim!"


"Bukannya tadi pagi mas sudah mengucapkan ijab Qabul? Itu tandanya kita sekarang sudah muhrim dan bebas dong melihat aurat dari istri sendiri!"


Devi yang polos itu pun terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Aris. Sekarang dia dan Aris adalah muhrim karena tadi pagi mereka sudah menikah.


"Eh, iya ya, Mas. Tapi Devi malu ... Takut nanti mas terkejut wajah Devi tanpa jilbab. Devi tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan oleh mas Aris.


"Kok bilangnya begitu? Yang namanya suami istri pastilah akan menerima apa adanya kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan," jawab Aris meyakinkan sang istri. Memang Aris belum pernah melihat Devi tanpa jilbab yang menutupi rambutnya.


"Eh ... Iya, Mas. Maaf, selama ini tidak pernah bertemu lelaki tanpa jilbab. Jadi agak kaku gitu ... Ya udah, bantu Devi lepasin semua jarum pentul ini ya," ucap Devi meminta bantuan Aris untuk membawakan kumpulan jarum pentul yang digunakan untuk melekatkan jilbab dan aksesorisnya.


Setelah selesai, Devi melepas dalaman jilbabnya. Seketika rambutnya yang hitam sepinggang terjuntai indah. Aris yang melihatnya hanya melongo. Tidak menyangka jika sang istri memiliki rambut hitam yang indah karena terawat dengan baik.


Devi mengambil jepit rambut lalu mencepol rambutnya ke atas hingga terlihat leher jenjangnya yang putih mulus. Baru lah setelah itu Devi membersihkan make up nya dengan kapas dan pembersih wajah.


Wajah asli Devi sudah terlihat setelah semua make up yang menempel di wajahnya sudah bersih. Devi sosok wanita yang tidak menyukai make up yang berlebihan. Paling hanya celak alis dan bedak saja yang setiap hari ia pakai. Selain itu juga pelembab bibir agar tidak terlihat pucat dan kering.


Aris lagi-lagi hanya diam melongo melihat wajah asli sang istri. Menurut Aris tidak ada yang melebihi kecantikan alami sang istri. Tia sang kakak pun dianggapnya kalah. Hidung mancung, lesung pipi, dan mata yang bulat membuat Devi terlihat cantik apa adanya.


"Mas ... Kok diam? Wajah Devi jelek ya?" Devi menunduk karena takut mendengar jawaban Aris yang kecewa padanya.


Aris tersadar saat melihat sang istri menunduk dengan suara yang bergetar.


"Tidak ... Mm ... Maaf, maksud mas adalah kamu sangat cantik hingga mas tidak bisa berkata -kata apa lagi untuk memuji kecantikan wanita yang sekarang ini menjadi istri mas." Aris memegang dagu Devi dan mengusap air mata yang membasahi pipi putihnya.


"Benarkah? Devi tidak mengecewakan mas Aris?" tanya Devi dengan raut wajah yang mulai berbinar ceria. Memang Devi mudah terbawa perasaan dan juga mudah untuk memaafkan.


"Iya, Sayang. Mas tidak bohong."


Blussh ....


Pipi Devi merona merah saat Aris memanggilnya dengan kata sayang lagi. Sedari tadi saat di pelaminan, Devi merasa pipinya memerah bukan karena blash on melainkan karena selalu menahan malu. Seumur hidup Devi baru pertama kali dekat dengan lelaki hanyalah Aris saja.


Orang tua Devi yang selalu melarang keras anaknya untuk berpacaran telah sukses menjadikan putrinya sebagai wanita yang terhormat.


"Masa sih, Mas. Jangan berlebihan dalam memuji Devi, karena Devi takut menjadi wanita yang tinggi hati. Merasa diri paling cantik dibanding dengan wanita lain," timpal Devi yang merasa sang suami berlebihan dalam memuji dirinya.


Aris semakin kagum dengan akhlak yang dimiliki oleh wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Benar apa yang dikatakan oleh sang kakak jika kita ikhlas dalam melepaskan sesuatu maka akan mendapatkan ganti yang lebih baik.


"Baiklah. Sekarang ... Apakah boleh mas meminta hak mas sebagai seorang suami pada istrinya? Jika kamu belum siap maka kita bisa menundanya terlebih dahulu sampai kau benar-benar siap," ucap Aris gugup.


"Bagaimana? Apa kamu belum siap, Sayang," tanya Aris mengulang lagi pertanyaannya sambil menangkup wajah Devi yang berubah menjadi gelisah.


"Mmm ...."


Tok ... Tok ....


"Om Aris ... Tante ... Hasna mau pipis ...." teriak Hasna tiba-tiba mengetuk pintu kamar Aris.


Hasna masih terbiasa dibantu oleh mbak Yuni, terpaksa mengganggu sang paman di saat yang tidak tepat.


"Mas ... Maaf ya, aku bantu Hasna terlebih dahulu." Devi melepas tangan Aris yang tiba-tiba melemah mendengar dirinya dipanggil oleh sang keponakan.


Aris menghela napas panjang, terpaksa dia mengijinkan Devi untuk meninggalkan dirinya di kamar.


"Baiklah, tapi segera kembali ya, kamu belum menjawab pertanyaan saya," ucap Aris yang masih penasaran dengan jawaban Devi.


"Oh itu, anu mas ... Maaf, Devi sedang haid. Hari ini baru hari pertama, mungkin tujuh hari lagi baru suci," jawab Devi pada Aris dengan senyum yang seakan menertawakan Aris yang sangat berharap akan tetapi zonk.


"Huft! Mungkin di simpan untuk bulan madu saja!" gerutu Aris sambil melihat ke arah bawah.


Devi membuka pintu dan mendapati Hasna yang masih mengantuk berdiri di depan pintu kamarnya.


"Hasna, ayo tante antar ke kamar mandi," ajak Devi pada Hasna sambil menggandeng tangan Hasna.


"Terimakasih, Tante. Maaf merepotkan tante," ucap Hasna sambil menatap sang tante yang terlihat cantik dengan rambut tergerai.


"Sama-sama, Hasna kau juga adalah malaikat penolong tante," balas Devi dengan senyum yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya.


Devi mengajak Hasna untuk masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur Hasna dan Hasan. Setelah selesai, Hasna mengajak Devi untuk bermain sebentar.


"Tante ... Hasna ingin berganti baju. Apa mama sudah mengantar baju untuk Hasna?" tanya Hasna pada sang istri dari pamannya itu.


"Tadi mama sudah kirim pesan pada tante, jika supir yang mengantar baju kalian sudah berangkat. Kita tunggu saja, paling sebentar lagi supir suruhan mama datang. Kita tunggu sampai supir itu datang. Sambil menunggu bagaimana kalau kita masak omlet?" ajak Devi pada keponakan sang suami.


"Omlet? Wah ... Sepertinya enak tuh, Tante. Ayo kita buat bersama," jawab Hasna.


Kedua manusia yang berbeda usia itu pun menuju ke dapur sambil menunggu baju yang akan dikirim oleh sang ibu.


"Tante , apa telur ini diadumk?" tanya Hasna yang dikit-dikit melihat bagaimana sang ibu memasak.


"Iya, Sayang. Aduk yang kencang tapi hati-hati jangan sampai tumpah," pinta Devi sambil tersenyum.


"Baik, Tante. Hasna akan mengocoknya dengan hati-hati," balas Hasna dengan tersenyum riang.


"Kalau sudah diapain Tante?" Tanya Hasna yang sudah selesai mengaduk telur yang dia pecahkan.


"Kalau sudah nanti kamu masukkan daun bawang ini ke dalam adonan tadi." Devi mengambil irisan daun bawang lalu mengaduknya lagi.