Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 158


Hans tidak berhenti memanjatkan doa agar sang istri bisa melahirkan dengan lancar. Tia semakin melemah, dokter pun cepat bertindak.


"Maaf, Tuan. Sepertinya nyonya tidak bisa lahir dengan cara normal, kita harus segera melakukan operasi Cesar. Kami tidak mau ambil risiko, jika terlambat melakukan operasi." ujar sang dokter sambil memasang semua alat kesehatan yang diperlukan ke tubuh Tia.


"Lakukan apapun yang menurut dokter baik untuk istri dan anak saya, saya mendukung semua keputusan dokter," tegas Hans menyerahkan semua pada sang dokter.


"Baik, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan nyonya dan bayi Anda," ucap sang dokter.


Para dokter dan suster perawat bergegas melakukan persiapan operasi. Hans terus menyemangati istrinya hingga sang istri lelap dalam bius dari pegawai anestesi.


Operasi pun dilakukan, Hans dengan setia menunggui sang istri dengan doa yang terus terucap di bibir Hans. Baru pertama kali ini Hans benar-benar merasa khawatir yang teramat sangat, semua rasa lelah dan letih sudah tidak ia hiraukan lagi.


Hans teringat akan apa yang dia janjikan pada sang ayah mertua untuk mengabari jika Tia lahiran. Hans mengambil ponselnya untuk mengabari sang ayah mertua.


Tuut ....


Tuut ....


"Hallo, Assalamu 'alaikum, Hans. Ada apa?"


Suara bariton Hans terdengar dari sebrang.


"Wa'alaikum salam, Ayah. Tia saat ini sedang operasi Cesar ayah, saat periksa kandungan, tiba-tiba dia kesakitan dan air ketubannya pecah. Dokter menganjurkan untuk segera dilakukan operasi. Ayah bisa datang segera ke rumah sakit?" tanya Hans.


Lelaki dengan kacamata minus itu tampak khawatir, lampu operasi belum padam, pertanda operasi belum selesai.


"Baiklah, Hans. Ayah akan segera datang ke rumah sakit. Semoga masih dapat tiket pesawat," jawab Gunawan yang juga khawatir.


"Aamiin ... Semoga Allah melancarkan semua urusan kita," sahut Hans.


"Aamiin. Ayah siap-siap dulu, Hans. Kamu jangan khawatir, berdoa agar Tia dan anakmu baik-baik saja." Gunawan memberi dukungan pada Hans agar tidak terlalu khawatir, berserah diri pada Allah.


"Insyaallah, Yah. Hans akan kuat demi Tia dan anak Hans." Suara Hans melemah, dia tidak sanggup untuk menahan air mata yang hendak menetes di pipi.


Hans menutup panggilan teleponnya saat lampu tanda operasi berjalan sudah padam. Hans merasa lega, namun hatinya belum tenang jika belum tahu keadaan sang istri.


"Tuan Hans, silakan masuk," panggil sang suster pada Hans.


"Iya, Sus." Hans memenuhi panggilan sang suster. Dia berjalan ke arah sang suster masuk ke dalam ruang operasi.


"Selamat, Tuan Hans. Putra dan putri Anda sudah lahir dengan selamat dan sehat," ucap sang dokter memberi selamat pada Hans sambil menyalaminya.


Hans tersenyum lega, dia sangat bersyukur anaknya lahir dengan selamat.


"Alhamdulillah, bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Hans bertanya pada sang dokter tentang keadaan Tia.


Dokter perempuan itu tersenyum lalu berkata, "Nyonya Tia masih dalam pengaruh obat bius, sebentar lagi pasti akan sadar. Kita akan terus memantau kondisi nyonya, Tuan."


"Maksud, Dokter?"


Hans tidak kuasa, dia mengerti akan arti senyum sang dokter. Hans mundur selangkah, berpegangan kuat pada kursi.


"Mari, Tuan. Saya antar ke ruang ICU. Nyonya sudah dipindah ke sana untuk mendapatkan perawatan intensif."


Hans tidak kuasa menahan air matanya, satu sisi dia merasa bahagia atas kelahiran putra dan putrinya dengan selamat dan sehat, di sisi yang lain dia bersedih mendengar kondisi sang istri.


Dengan langkah gontai, Hans berjalan menuju ruang ICU. Setelah berganti pakaian khusus steril, Hans memasuki ruang ICU.


Hati Hans merasa dicubit melihat Tia yang terlihat pucat, dia mengalami pendarahan. Sudah habis dua kantong darah masuk ke dalam tubuh Tia.


"Sayang, bertahanlah ... Mas yakin kamu adalah wanita yang kuat. Mas belum siap jika harus merawat sendiri buah hati kita. Tia, sadarlah ... Mas dan anak kita membutuhkanmu!" Hans menggenggam tangan Tia, menatap penuh harap agar mata Tia terbuka dan membalas tatapannya.


Air mata Hans sudah menganak sungai. Lelaki yang tangguh dan hebat mengurusi semua bisnisnya itu terlihat rapuh. Separuh nyawanya sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Tiaa ... Bangun, Sayang! Ayo kita lihat bersama, putra kita sangat tampan. Dia sangat mirip denganmu, Sayang. Kamu tidak tega kan melihat dirinya tumbuh tanpa seorang ibu? Ayo bangkit dan lawan semua rasa sakit. Kami bertiga menunggumu," ucap Hans di dekat telinga Tia.


Dua jam berlalu, Hans masih setia duduk di samping sang istri yang masih menutup matanya. Hans terus berdzikir dan berdoa agar sang istri segera sadar.


"Hans, bagaimana Tia, Nak?" tanya Gunawan yang sudah sampai di rumah sakit dan langsung menyusul ke ruang ICU.


"Ayaaah ...."


Hans bangkit dari duduknya dan seketika memeluk sang ayah mertua. Gunawan membalas pelukan sang menantu, memberi kekuatan agar Hans bisa tetap kuat.


"Hans, sudah jangan menangis. Jika kau menangis bagaimana Tia akan bersemangat melawan semua rasa sakitnya. Kamu adalah penyemangat Tia, tidak boleh lemah begini!" ujar Gunawan dengan suara yang bergetar karena sesungguhnya diri Gunawan sendiri juga menahan kesedihan.


Hans menyeka air mata dan mengusap wajahnya agar tidak terlihat kusut.


"Tidak, Ayah. Hans kuat ... Hans bukan suami yang lemah! Hans harus kuat!" Hans terus menyeka air matanya yang masih mengalir tanpa persetujuan Hans.


"Iya, Hans. Kau adalah sosok suami sekaligus ayah yang kuat. Ayah yakin, Tia akan segera sadar dan mengatakan bahwa suaminya adalah sosok yang kuat." Gunawan menepuk pundak sang menantu.


Kedua lelaki yang jago berbisnis itu sama-sama terlihat kacau, tidak ada yang mengira jika mereka sebenarnya sosok yang lemah.


Hans mengangguk, dan segera dia menyeka semua air mata dan membersihkan ingus yang keluar dari hidungnya.


Hans tersenyum seolah ingin mengatakan bahwa dirinya adalah sosok suami yang kuat dan tegar. Setelah Hans terlihat sudah bisa menguasai emosinya, seorang suster datang mendekat.


"Tuan, Hans. Ada yang ingin kami sampaikan. Putra Anda terus menangis, mungkin jika digendong oleh ayahnya dia akan tenang," ucap sang suster.


"Baik, Suster. Saya akan ke sana," sahut Hans menyetujui permintaan sang suster.


"Ayah, Hans tinggal sebentar. Tolong jaga Tia untuk Hans," ucap Hans berpamitan pada Gunawan.


"Tenang saja, Hans. yakinlah semua pasti akan baik-baik saja," sahut Gunawan dengan senyum yang menguatkan.


Hans berjalan keluar dari ruang ICU mengikuti sang perawat. Di dalam hati Hans tiada henti-hentinya untuk berdoa agar sang anak baik-baik saja. Hans melangkah dengan tegap, dia ingin menunjukkan bahwa ia adalah sosok ayah yang bisa diandalkan.