Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP 2. Bab. 7


Hans menggandeng tangan Tia memasuki kafe yang penuh kenangan bagi mereka berdua.


"Tia, mau pesan apa, Sayang?" tanya Hans pada Tia yang selalu menatap ke arah pojok kafe.


"Mbak ..! Mas Hans tanya sama mbak Tia itu lho," tegur Aris yang tidak suka jika pertanyaan kakak iparnya tidak digubris oleh Tia.


"Oh, iya. Aku pesan makanan seperti biasa dulu aja mas," jawab Tia gugup.


"Mbak kenapa sih lihatin ke arah sana terus, emang ada siapa?" Tanya Aris sembari mengikuti ke mana mata Tia memperhatikan sesuatu.


"Tidak ... Tidak ada kok ...." Tia menunduk berbohong. Sebenarnya di pojok sana, dia tidak sengaja melihat sosok yang membuat hatinya berdebar kembali.


Aris memendarkan pandangannya, dia tidak melihat siapa-siapa, hanya ada dua orang sepasang kekasih yang sedang mengobrol. Namun sayang sekali, Aris tidak dapat melihat wajah keduanya karena tertutup oleh sekat yang ada dari arah tempat duduknya.


"Baiklah, kalau kamu pesan apa Aris?" tanya Hans pada adik ipar lelakinya itu. Hans sangat menyayangi Aris karena Hans sendiri tidak memiliki saudara. Dia anak tunggal, sang ibu sudah tidak bisa hamil lagi lantaran rahimnya harus diangkat karena ada kanker rahim yang bersarang di rahimnya.


"Aris pesan spaghetti saja, Mas. Sama es cappucino. Dah itu saja," jawab Aris sembari memainkan ponselnya. Dia sedang menghubungi teman nya yang pandai rukyah untuk menunggu di masjid yang akan mereka tuju.


"Okey. Ada lagi, kalau tidak aku berikan list ini pada pelayan," ucap Hans seraya menatap istri dan adik iparnya.


"Tunggu, Mas. Aku mau tambah menu. Sepertinya jika menu biasanya saja, perutku tidak kenyang. Mungkin efek di rumah tidak doyan makan, jadi mumpung ada di luar dan bisa makan dengan enak, Tia akan menambah pesanan lagi. Bolehkan?" Tanya Tia menatap Hans dengan tatapan memohon.


Hans melirik ke arah Aris. Apa yang keduanya duga benar adanya. Aris mengangguk tanda membiarkan Tia pesan makanan lagi.


"Baiklah, Sayang. Pesan sesukamu. Mumpung kau merasa enak makan dan minum," ucap Hans dengan tersenyum pada Tia.


"Terima kasih, Mas." Tia mengambil menu makanan dari tangan Hans.


Tia membolak-balik daftar menu itu, dia memilih menu makanan yang sedang diinginkannya.


"Mas, aku pesan: Nila bakar, steak ayam, spaghetti, nasi geprek dan otak-otak ikan bakar. Minumnya es lemon dan cappucino," ucap Tia sembari terus membolak-balik menu.


Hans dan Aris melongo sambil menulis pesanan yang Tia inginkan.


"Kamu sanggup menghabiskan semuanya, Sayang?" tanya Hans saat Tia sudah menutup buku daftar menu makanannya.


"Habis dong, Mas. Beberapa hari ini kan Tia tidak enak makan dan minum. Kalau pun bisa masuk, itu hanya sedikit. Jadi Tia ingin makan banyak, menggantikan semua yang kemarin itu," ucap Tia beralasan. Dia sendiri juga tidak tahu entah mengapa tiba-tiba jumlah makannya bertambah banyak.


"Pelayan," panggil Hans pada salah satu pelayan yang ada di kafe itu.


"Ini pesanan kami, tolong secepatnya ya karena istri saya sudah lapar," ucap Hans memberikan daftar menu kepada pelayan tersebut.


"Siap, Pak. Akan segera kami buatkan pesanannya," jawab sang pelayan dengan patuh.


Mereka bertiga mengobrol sembari menunggu makanan selesai dibuat.


"Tia bagaimana perasaan mu antara di rumah dan di luar rumah?" tanya Hans pada Tia. Lagi-lagi Tia tidak fokus dengan pertanyaan Hans karena sibuk mengawasi seseorang.


"Mbak Tia ..?!" Panggil Aris yang merasa geram pada kakak perempuannya itu


"Eh, Iya. Ada apa?"


"Mbak Tia kenapa sih? Dari tadi kok begitu? Aneh sekali! Siapa sih yang mbak lihat?" Aris lagi-lagi menoleh ke arah yang dituju oleh Tia.


"Gak ada siapa -siapa, tadi mas Hans tanya apa ya?" Tia menatap sang suami dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Mas tadi hanya bertanya bagaimana perasaanmu ketika berada di dalam rumah dan berada di luar rumah," ucap Hans dengan menahan segala geram di hati. Jujur, Hans sendiri pun juga geram dengan sikap sang istri yang sepertinya tidak fokus dengan apa yang ada di dalam hati.


"Mm ... Perasaan Tia baik-baik aja sih, Mas. Malah lebih senang di luar dari pada di dalam rumah. Di rumah itu kayak merasa gerah dan tidak betah aja. Apa kita harus pindah rumah ya Mas?" tanya Tia pada sang suami.


Ide Tia membuat Hans terkejut. Haruskah sementara ini mereka pindah rumah? Hans belum memikirkan terlalu jauh ke sana.


"Pindah rumah? Kamu ingin pindah rumah? Lalu bagaimana dengan rumah yang kita tempati sekarang ini sayang?" tanya Hans serius.


"Ya bisa aja dijual atau dikontrakkan. Kita bisa beli rumah yang lebih bagus atau lebih besar lagi," ucap Tia dengan begitu mudahnya. Memang untuk ukuran Hans, membeli rumah adalah hal yang mudah, akan tetapi tidaklah semudah itu. Banyak kenangan indah yang tercipta di rumah yang bernuansa klasik semi modern.


"Dijual? Bukannya di sana banyak kenangan kita, Tia. Anak-anak pun sudah merasa nyaman di rumah tempat mereka dibesarkan," ucap Hans dengan nada sedikit tinggi.


Aris yang mendengar kedua kakaknya itu mengambil napas dalam-dalam.


"Mas, Mbak ... Jangan berdebat. Aris akan mencoba mencari solusi yang tepat untuk masalah ini," ucap Aris menengahi kedua kakaknya yang bersitegang.