
Udara dingin yang terasa masuk tulang tidaklah Gunawan hiraukan. Gunawan berhenti di sebuah warung yang ada di pinggir jalan. Warung kopi dengan berbagai macam makanan khas daerah tempat itu.
"Selamat pagi, Tuan. Silakan mau pesan apa, Tuan?" tanya sosok wanita separuh baya sebagai penjual.
"Selamat pagi, Bu. Ada kopi hitam dengan gula sedikit saja?" jawab Gunawan sembari duduk di kursi bagian tepi. Di samping Gunawan ada beberapa lelaki dengan jaket hoodie berwarna hitam. Mereka nongkrong sembari merokok.
Gunawan mengambil pisang goreng untuk sekadar menghilangkan rasa dingin dan lapar yang melanda. Tidak sengaja Gunawan mendengar obrolan dari dua orang lelaki yang tampak serius.
"Bang, jatahmu jaga nanti malam aku ganti ya. Aku harus mengantar si bos siang ini. Jadi nanti malam aku baru bisa jaga. Siang ini kau yang jaga dulu," ucap lelaki bertato bunga mawar di punggung telapak tangannya itu.
"Enak sekali kau diajak melihat gadis cantik!"
"Enak apanya, Bang? Emang bisa lihat yang bening-bening akan tetapi pada endingnya melihat mereka dipaksa untuk naik kapal, beeuuh ... nangis pisan. Mereka tidak sadar jika diri mereka itu dijual ke cukong-cukong kaya untuk dijadikan budak!" sahut pria bertato itu lagi. Sepertinya dia orang Sunda, bukan asli Lampung.
Gunawan mencuri dengar pembicaraan kedua orang itu. Dari yang awal tidak peduli, lama-lama Gunawan tertarik.
"Apa mereka anggota sindikat penjual wanita?" batin Gunawan lagi.
Gunawan semakin penasaran dan berusaha mempertajam pendengarannya. Dia mengambil posisi yang bisa mendengar lebih jelas.
"Ben ... Kamu sudah tahu belum, kalau semalam bos Leo membawa wanita yang sangat cantik. Rambutnya hitam sepinggang, mata bulat, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Ada tahu lalat di atas bibirnya. Dia mabuk dan minta bos Leo untuk membawanya pergi jauh. Nah, bos Leo sangat gembira karena tanpa susah mencari, dia datang sendiri!" ujar lelaki teman pria bertato bunga mawar di punggung telapak tangannya itu.
"Bang Alex! Jangan ngaco kamu, Bang! Mana ada wanita yang suka rela menyerahkan dirinya untuk dijual?!" tanya Beni, lawan bicara Alex.
"Benar! Kata bos Leo si wanita itu yang datang sendiri kepadanya. Merek bertemu di sebuah club termahal di kota!" jawab Alex meyakinkan temannya.
"Wah, baru pertama kali ini ada gadis sebodoh dia, Bang! Dia tidak tahu kalau bos Leo seorang penipu!" sambung Beni lagi.
Deg!
"Club' termahal di Lampung? Bukan kah itu tempat yang sering Sinta datangi dulu? Di situ pula aku pernah menarik paksa Sinta untuk pulang karena sudah dicari Clara!" gumam Gunawan di dalam hati. Gunawan semakin ingin tahu apa yang dibicarakan kedua lelaki itu lagi.
"Sudahlah itu urusan bos Leo, kita gak boleh mengganggunya," ucap Beni. Sosok anak buah yang setia pada sang majikan.
"Benar, yang penting kita melaksanakan tugas dengan baik dan tetap gajian!" sahut Beni dan mendapat anggukan dari rekannya-- Alex.
Beni beranjak dari tempat duduknya mendekati sang penjual untuk melakukan pembayaran.
"Bu, semua habis berapa?" tanya Beni pada sang pemilik warung sembari mengeluarkan dompet dari dalam saku belakang celana panjangnya.
"Semua 40 ribu, Bang," jawab wanita pemilik warung itu.
"Baik, Bu." Beni mengeluarkan selembar uang kertas 50 ribu dan menyerahkannya pada wanita berusia paruh baya itu.
"Terimakasih, Nak Beni," ucap pemilik warung dengan senyum yang mengembang. Dua pria itu adalah langganan tetapnya. Setiap dini hari tiba, mereka akan mencari secangkir kopi hitam agar tidak mengantuk.
Setelah selesai melakukan pembayaran, kedua pria anak buah Leo itu pergi.
"Maaf, Bu. Berapa yang harus saya bayar?" tanya Gunawan pada wanita itu.
"Anda hanya kopi hitam dan dua potong pisang goreng?"
"Baiklah, cukup 20 ribu saja, Pak." Wanita itu menjawab dengan ramah.
"Okey, ini uangnya. Kembaliannya untuk ibu saja," ucap Gunawan menyerahkan yang seratus ribu satu lembar pada pemilik warung itu.
Gunawan yang melihat hal itu pun gegas segera melakukan pembayaran dan mengikuti kemana langkah kedua pria tersebut.
Cuaca di pagi dini hari itu tidak menyurutkan langkah Gunawan mengikuti langkah kedua pria yang usianya jauh lebih muda dari dirinya. Entah mengapa Gunawan ingin mengikuti kedua lelaki itu. Mobil Gunawan tidak ia bawa karena takut dua pria itu akan curiga.
Selama sepuluh menit Gunawan berjalan mengikuti lelaki bernama Beni dan Alex itu hingga sampai di sebuah rumah yang besar dan mewah. Melihat tidak ada yang bisa ia lakukan karena pagar dan gerbang rumah itu sangat tinggi dan besar.
Gunawan ingin kembali mengambil mobilnya terlebih dahulu baru melanjutkan penyelidikannya. Setelah dirasa aman Gunawan berjalan dengan cepat kembali menuju ke tempat dimana mobilnya berada.
Gunawan berjalan sambil menghubungi sang sekretaris-- Rustam melalui ponselnya.
"Rustam, cepat kau susul aku dengan beberapa anak buahmu di lokasi yang aku share ini! Jangan lupa beritahu polisi jika kondisi tidak kondusif," titah Gunawan pada sang sekertaris.
"Siap, Bos!" jawab Rustam dengan semangat.
"Bagus!" Gunawan mematikan panggilan dan berjalan cepat menuju mobilnya. Dengan napas tersengal, Gunawan sampai juga di tempat mobilnya diparkirkan. Gegas Gunawan naik ke dalam mobil dan melajukan mobilnya kembali ke rumah yang ia curigai tadi.
Gunawan turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah dengan pagar tembok yang tinggi menjulang. Baru berjalan tiga langkah, sebuah mobil box khusus untuk hewan ternak keluar dari rumah itu. Mobil box berisi beberapa wanita yang akan mereka jual ke luar negeri.
Dari dalam mobil box khusus untuk membawa hewan ternak itu terdengar beberapa teriakan dari para wanita yang memberontak ingin keluar.
"Tolooong .... Toloong ....!" teriak beberapa wanita yang memberontak ingin keluar.
Gunawan menoleh ke arah bagian belakang mobil. Bagian belakang yang hanya ditutup terpal itu sangat jelas terlihat beberapa wanita yang diikat.
"Bukankah itu Sinta?" gumam Gunawan menatap salah satu wanita yang duduk lemas. Seorang ayah yang sudah mengasuh anak sedari kecil pasti akan hafal dengan postur tubuh sang anak.
Gunawan berlari ke arah mobilnya dan melajukan mobil itu mengikuti kemana arah mobil box itu pergi. Gunawan terus mengejar dan segera menghubungi Rustam untuk menyusulnya dan melapor pada pihak yang berwajib.
Jam menunjukkan pukul empat pagi, matahari sudah terbit dari ufuk timur. Gunawan masih mengejar mobil box dari belakang. Sepertinya mobil itu menuju ke dermaga pelabuhan Bakauheni.
"Hallo, Rustam. Sepertinya mobil box itu menuju ke pelabuhan, laporkan pada pihak yang berwajib agar memblokir jalan menuju pelabuhan!" ucap Gunawan melalui panggilan teleponnya.
"Baik, Tuan. Kami akan segera bergerak menghadang dari arah pelabuhan. Target sudah dikunci oleh pihak yang berwajib. Semoga usaha kita dipermudah oleh Allah," ucap Rustam memberi angin segar pada Gunawan.
"Aamiin ... Baguslah, semoga para penjahat itu segera bisa ditangkap!" Balas Gunawan dengan napas lega.
"Semoga, Tuan. Sampai bertemu kembali," ucap Rustam yang ikut dalam mobil polisi.
Mobil Gunawan melaju dengan kecepatan tinggi dan terus mengikuti mobil box yang berisi wanita yang akan dijual ke luar negeri. Sepertinya sopir mobil box itu tahu jika mereka sedang diikuti hingga mereka menambah kecepatan mobil itu.
Ciiit ....
Gunawan mengerem mobilnya karena mobil box yang dia ikuti tiba-tiba berhenti. Gunawan diam di kursi kemudinya, mengamati dari belakang mobil itu. Seorang pemuda dengan wajah yang garang turun dari mobil. Ia berjalan mendekat ke arah mobil yang dikemudikan Gunawan.