
Sementara itu di sebuah kafe di kota Lampung, Gunawan mengajak Rustam untuk bertemu.
"Assalamualaikum, Malam, pak," sapa Rustam begitu sampai di sisi sang tuan. Dia mengenakan pakaian sederhana sebab ini bukan jam kerja biasanya.
"Wa'alaikum salam. duduklah, rustam!" Kata Gunawan dengan senyum yang dipaksakan.
"Malam sudah selarut ini, Kenapa Anda justru mengajak saya bertemu di sini, Tuan? apa tidak sebaiknya Anda istirahat saja di rumah?" kata Rustam sembari duduk di depan Gunawan. Nada suara pria ini berat, dan terdengar penuh kebijaksanaan. Ciri khas Rustam sejak dulu.
Gunawan mengulas senyum tipis di salah satu sudut bibirnya. Ekspresi menyedihkan tergambar jelas di wajahnya. Kemudian dia berkata, "Aku sudah tidak punya rumah lagi, rustam. Karena malam ini, aku memutuskan untuk menceraikan Clara. Jadi aku dipaksa meninggalkan semua hal yang diberikan Ayahnya."
Rustam terdiam. Kini dia mengerti kenapa sang Tuan terlihat sangat menyedihkan. Kini dirinya paham kenapa dia dipanggil tuh waktu yang selarut ini. Jadi sebagai pelayan yang baik dia harus mampu diam mendengarkan Tuannya mengungkapkan segala beban pikiran.
"Apa..., anda menyesali keputusan anda ini, Tuan?" tanya Rustam dengan sangat hati-hati.
"Tidak. Tentu saja aku tidak menyesalinya. tapi tetap saja ada beberapa hal yang sulit lepas dari dadaku mengingat sudah lama kami hidup bersama. Seberapapun bencinya aku padanya, perceraian tetaplah menyakitkan karena kami sudah merasakan banyak hal bersama," tutur Gunawan sembari menerawang keluar jendela cafe.
Pikirannya melayang mengingat semua kenangan yang sudah dilewati bersama Clara selama bertahun-tahun. Di usianya yang tidak lagi muda, pria dewasa itu kini terlihat sedikit berduka.
Perpisahan tetaplah memiliki sisi menyedihkan bagi setiap orang, tidak perduli seberapa tidak nyamannya kamu dengan pasanganmu. Begitu pula bagi Gunawan.
"Eemm, Tuan, bagaimana kalau kita fikirkan masalah perusahaan baru anda saja? Bukankah anda ingin mengembangkan perusahaan ini agar suatu saat layak untuk Anda wariskan kepada cucu anda?" ucap Rustam perlahan. Pria satu ini terlihat sangat berhati-hati saat berbicara meski dia sudah lama kenal dengan Gunawan.
Gunawan akhirnya tersenyum. Dia pun mematikan rokok yang dari tadi menemani kegundahan di hatinya. Apa yang dikatakan Rustam benar. Sudah cukup baginya menangisi Clara selama ini. Dia sudah memberikan tahun-tahun terbaiknya kepada wanita itu, dan pada akhirnya segalanya tetap tidak dihargai.
"Kamu benar, Rustam. Tidak perlu membahas lagi masalah yang sudah berlalu," ucap Gunawan terlihat lebih baik. Dia berkata, "Kalau begitu Apa kamu sudah membawakan berkas-berkas yang saya minta?"
"Tentu, tuan. Bahkan saya membawakan berkas extra tentang beberapa masalah yang terjadi di perusahaan," jawab Rustam sembari membuka tas jinjing warna hitam yang sejak tadi dia pegang.
"Masalah? Masalah apa lagi sekarang?" Sebelah Alis Gunawan terangkan, Dia terlihat tidak heran mendengar masalah yang sering muncul mengingat ini adalah perusahaan yang baru dirintis.
"Beberapa hari yang lalu pegawai mengeluh AC di ruangan mereka serentak rusak," jelas Rustam sembari membuka beberapa berkas. "Awalnya saya tidak mencatat masalah ini karena menurut saya ini adalah hal yang sepele, tapi kemudian banyak karyawan yang melaporkan hal ini dalam satu hari. Akhirnya saya mencatat di lantai, dan ada di divisi mana saja yang mengalami kerusakan," jelas Rustam.
"Yah, itu termasuk penting. Karena jika tempat kerja tidak nyaman, makan kinerja para karyawan pun tidak maksimal," sahut Gunawan sembari memeriksa berkas laporan kerusakan dari Rustam.
"Benar, tuan. Namun sejauh ini tidak ada kendala yang berarti bagi karyawan-karyawan kita. Bahkan, target penjualan bulan ini pun tercapai dengan maksimal. Jika progres perusahaan ini terus berjalan seperti ini, kemungkinan beberapa bulan lagi perusahaan baru kita bisa menyamai perusahaan Bu Clara," kata Rustam dengan senyum tipis di wajahnya.
Gunawan manggut-manggut. Secara langsung dia membenarkan ucapan Rustam. Dia melihat sendiri secara langsung bagaimana perusahaan yang baru saja dia keluar itu perlahan berkembang dengan signifikan. Bahkan, perkembangannya tergolong cepat dibandingkan perusahaan lain. Tidak sia-sia dia mempercayakan perusahaan ini kepada Rustam.
"Bagus. Kalau begitu bagaimana kalau 2 bulan lagi kita mulai menjual saham kepada beberapa perusahaan besar?" usul Gunawan sembari melihat ulang laporan progres perusahaan barunya selama beberapa bulan lalu.
Gunawan tersenyum kecil. Dia merasa ucapan Rustam terlalu berlebihan. Jadi dia berkata, "kamu lucu sekali, rustam. Justru untuk melukai seseorang dengan begitu dahsyat, kita harus memulai dengan orang-orang di sekitarnya.".
Rustam terdiam. Dia menatap Gunawan dengan sebelah alis terangkat, keheranan. Dia punya firasat, Gunawan akan menggaet perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan Clara. Cara ini terdengar sangat beresiko bagi Rustam.
"Apa Anda berpikir untuk menjalin kerjasama dan perusahaan yang selama ini menyokong perusahaan bu Clara, tuan?" tanya Rustam hati-hati. Dia khawatir pertanyaannya ini akan menyinggung Gunawan.
"Benar. Jangan khawatir. Meski mereka sudah lama bekerja sama dengan perusahaan itu bukan berarti mereka percaya begitu saja dengan semua orang yang terlibat di dalamnya. Tetapi aku sudah membuat kesan yang sangat mencolok di mata mereka, bahwa aku pribadi adalah rekan kerja yang sangat menjanjikan bagi mereka," tutur Gunawan dengan penuh kebanggaan di wajahnya.
Rupanya selama ini Gunawan sudah merencanakan segalanya. Dia sudah membentuk aliansi antara perusahaan secara diam-diam. Jadi selama ini dia membuat hubungan pribadi antara para pemimpin perusahaan-perusahaan itu untuk menciptakan hubungan yang baik antara dirinya dan para pemimpin perusahaan-perusahaan tersebut. Semua itu dilakukan di belakang Clara. Sebab Dia menduga hari pengusiran ini pasti suatu saat akan tiba.
Rustam menggelengkan kepala sembari bertepuk tangan kecil. Dia tidak menyangka Gunawan akan melangkah sejauh ini. Dia merasa bangga sebab telah bekerja pada sosok secerdas Gunawan.
"Anda memang orang yang hebat, tuan. Dengan ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Secepatnya perusahaan ini akan memuncaki tangga kesuksesan karena kinerja karyawan yang memuaskan, dan pola fikir pemimpinnya yang mengagumkan!" puji Rustam dengan senyum sempringah di wajahnya. Dia terlihat sangat kagum akan kemampuan Gunawan dalam menjalankan bisnis.
"Aku harap juga begitu, rustam. tapi tetap saja kita tidak bisa menganggap remeh segala masalah yang mendadak datang. Seperti halnya kerusakan AC. kita harus segera memperbaiki agar tidak menimbun masalah lain. Aku harap bulan depan akan ada laporan kepuasan karyawan juga darimu," tutur Gunawan dengan wajah penuh keseriusan saat memandang tajam mata Rustam.
"Baik, tuan! saya mengerti! Secepatnya segala kendala di perusahaan akan diselesaikan. Anda akan menerima laporan yang lebih memuaskan bulan depan," jawab Rustam dengan penuh keyakinan. Dia tidak gentar sama sekali saat ditatap tajam oleh Gunawan. Justru dia menganggap itu adalah penyemangat baginya untuk bekerja lebih baik lagi.
Gunawan tersenyum puas. Dia senang sekali dengan cara kerja Rustam. Membicarakan bisnis dengan pria satu ini selalu bisa mengembalikan semangat dalam hidup Gunawan. Dia pun kembali memeriksa berkas laporan yang lain. Selagi dia memeriksa, Rustam meminum kopi yang sudah tersedia. Meski ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka, Rustam tetap merasa senang. Sebab dia bisa berguna bagi Gunawan yang telah banyak membantunya selama ini. Kini, begitu ada kesempatan, dia akan senang hati membalas jasa sang tuan.
"Oh, iya! Selain itu saya juga ingin mengusulkan bonus untuk para karyawan, mengingat kinerja mereka sangat bagus selama beberapa bulan ini meski terkendala alat dan relasi," tutur Rustam sembari membuka berkas baru lagi.
"OH! benar!! Itu juga perlu ditingkatkan. Mengingat kita mendapatkan karyawan-karyawan yang sangat memuaskan dalam bekerja,"senyum Gunawan mengembang saat mengingat hal ini. Meski karyawannya belum seberapa tapi kinerja mereka sangat luar biasa. Karena itu mereka pantas mendapatkan bonus atas kinerja mereka.
Rustam pun mengangguk senang saat mendengar keputusan Gunawan. Dengan ini dia bisa membawakan kabar gembira kepada karyawan-karyawan kantor agar mereka semakin semangat dalam bekerja. Rustam pun mengambil cangkir kopi di atas meja dan mulai menyesapnya perlahan. Menikmati sensasi kopi yang melegakan bersama suasana hatinya yang sedang penuh kegembiraan.
"Aku harap..., Suatu saat Tia mau menerima perusahaan ini," lirih Gunawan terdengar kembali pundung. Setiap kali mengingat Tia, kesedihan yang sangat besar terlihat jelas di wajahnya. Bahkan kesedihan itu melebihi rasa sakit yang diciptakan oleh Clara.
Rustam segera meletakkan cangkir kopi. Dia duduk di kursi dengan santai sembari menatap keluar jendela cafe. Kelihatannya pria satu ini sedang memilah jawaban terbaik untuk dia ucapkan pada Gunawan.
"Yahh, saya tidak bisa menjamin nona Tia akan menerima pemberian sebesar ini. Tetapi, saya ikut mendo'akan. Semoga nona Tia mau menerima perusahaan ini suatu hari nanti. Dan semoga, dengan hadiah ini, segala luka yang tanpa sadar anda goreskan di hatinya akan hilang sepenuhnya," kata Rustam dengan suara halus, menenangkan. Membuat senyum di bibir Gunawan lagi-lagi mengembang.
"Berarti perjalanan kita masih panjang. Aku harus membuat perusahaan ini semakin besar maka dia tidak akan sanggup menolaknya," tutur Gunawan terdengar kembali bersemangat.
Malam itu, mereka lembur membicarakan soal mengambangkan perusahaan baru mereka.
Tidak lupa mereka merencanakan program-program baru untuk membuat perusahaan semakin dikenal oleh banyak orang. Ditambah lagi Gunawan mulai mencatat rencananya untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan yang selama ini bekerja dengan perusahaan Ayah Clara.
Gunawan harus mencatat banyak rencana besar itu agar dia tidak mudah melupakan. Rustam di sisinya dengan senang hati memberikan saran maupun kritik demi kelangsungan perusahaan.
Sesekali mereka akan berdebat karena merasa pemikiran mereka lebih baik di atas yang lain. Namun pada akhirnya perdebatan itu tidak menemukan jalan keluar hingga akhirnya rencana pun dicoret dari daftar. Seperti dugaan dusta malam itu menjadi malam yang cukup panjang bagi mereka. Sebab selain membahas pekerjaan Gunawan juga seringkali minta nasehat kepada Rustam.