
Sinta mendekati Gunawan, dia tidak menyerah begitu saja. Dalam keputusasaan, Sinta berusaha membujuk Gunawan dengan sepenuh hati. Dia berbicara dengan suara lembut, mencoba meyakinkan Gunawan bahwa mereka bisa melewati masalah ini dan memulihkan hubungan mereka. Sinta memohon pada Gunawan untuk memberikan kesempatan kedua, berjanji akan berubah dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
Dia ingin membuktikan bahwa dia masih layak untuk tinggal di rumah yang dulunya mereka bagi. Namun, meskipun Sinta berusaha dengan segenap hati, Gunawan tetap teguh pada keputusannya. Dia menolak bujukan Sinta dengan keras, tidak tergoyahkan oleh kata-kata dan rasa penyesalan yang disampaikan oleh Sinta.
Gunawan, dengan sikap tegar dan tegas, melihat langsung ke dalam mata Sinta. Dia menjawab dengan lantang bahwa keputusannya sudah bulat dan tidak akan berubah. Gunawan menyampaikan bahwa dia telah memikirkan masalah ini dengan matang dan berbagai pertimbangan. Dia merasa bahwa hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki lagi dan memutuskan bahwa Sinta bukan lagi bagian dari keluarganya.
"Kamu udah buat malu saya, dan tidak ada gunanya lagi saya mempertahankan anak seperti kamu. Sudah cukup saya diam selama ini." Gunawan menahan untuk tidak berbuat kasar saking kesalnya pada Sinta yang terus membujuknya.
Gunawan menjelaskan bahwa kepercayaan dan ikatan yang mereka bangun selama ini telah terluka begitu dalam, sehingga sulit untuk dipulihkan. Dia merasa bahwa Sinta telah mengkhianati kepercayaannya dan mengorbankan nilai-nilai yang mereka anut sebagai keluarga.
"Ayolah pa, apa papa tidak mau memaafkan aku? Aku udah ngaku kalau aku salah, lagian aku juga udah dewasa. Papa nggak ada hak buat ngatur-ngatur aku."
Dengan tegas, Gunawan mengatakan bahwa dia ingin menjalani hidupnya tanpa beban masa lalu dan tanpa kehadiran Sinta di sampingnya.
"Cukup, Sinta! Sebaiknya kamu keluar dari sini, cepat!!" hardik Gunawan.
Meskipun hati Sinta hancur mendengar kata-kata tersebut, dia menyadari bahwa perjuangannya untuk kembali ke rumah tidak akan berhasil.
"Gini deh pa, aku mau melakukan apapun yang papa minta asalkan papa nggak usir aku dari rumah. Aku nggak mau jadi gembel di jalanan," ujar Sinta, tidak mau menyerah, dia mencoba sekali lagi.
Sinta, dengan keputus-asaan yang melanda hatinya, mencoba melakukan segala cara agar Gunawan mengizinkannya tetap tinggal di rumah. Dia merengek, memohon, dan mencoba meyakinkan Gunawan bahwa dia berubah dan siap melakukan apapun untuk memperbaiki hubungan mereka. Sinta menangis dan mengungkapkan penyesalannya atas kesalahan yang telah dilakukannya.
Dia berjanji akan belajar dari kesalahan, menjaga kepercayaan Gunawan, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya dalam perbaikan rumah tangga mereka. Namun, Gunawan tetap teguh pada keputusannya, tidak bergeming sedikit pun.
"Ayo dong pa, maafin aku pa. Papa mau aku sujud di kaki papa? Papa mau aku cium kaki papa? Atau papa mau aku tobat sekarang juga? Please pa, jangan usir aku. Aku nggak punya tempat tinggal lagi."
"Setelah apa yang kamu lakukan kamu masih mau tinggal di rumah? Kamu sudah dewasa, Sinta. Sudah waktunya kamu mandiri dan mencoba menyelesaikan masalah kamu sendiri tanpa bantuan dari papa sedikitpun! Papa tidak akan lagi bertanggungjawab atas kehidupan kamu!" sahut Gunawan.
"Tapi pa... "
"Tidak ada tapi-tapian, kamu sudah membuat malu. Jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di rumah lagi. Tidak ada rasa maaf untuk anak tak tau diri seperti kamu!" kali ini Gunawan benar-benar bertindak tegas kepada Sinta.
Setiap sudut rumah, setiap kenangan yang mereka bangun bersama, kini dipenuhi oleh rasa kecewa dan kehilangan. Gunawan merasa bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat kedamaian dan kebahagiaan telah tercemar oleh tindakan Sinta. Dalam keadaan emosi yang kuat, Gunawan menyampaikan bahwa tidak ada lagi tempat bagi Sinta bahagia dalam hidup dan rumahnya.
Gunawan, dengan hati yang terlanjur kecewa, mencoba mengungkapkan perasaannya kepada Sinta. Suaranya terdengar penuh dengan kekecewaan dan luka yang mendalam. Dia mengungkapkan bagaimana Sinta telah mengecewakannya dengan tindakan dan keputusan yang telah diambilnya. Gunawan merasa bahwa kepercayaan yang telah mereka bangun selama ini telah hancur berkeping-keping.
Dia merasa seperti seorang yang dikhianati dan terluka oleh orang yang seharusnya ia percayai sebagai seorang anak. Gunawan tidak bisa menutupi rasa kecewanya yang begitu mendalam. Dia merasa bahwa harapan dan impian yang mereka bangun bersama telah hancur berantakan. Dalam keadaan yang penuh dengan rasa kecewa ini, Gunawan berusaha mencari kekuatan untuk menghadapi realitas yang tak terelakkan.
"Sekarang kamu pergi dari sini, papa mau kerja dan jangan mengganggu papa!"
Gunawan, dengan penuh keputusasaan dan amarah, menyuruh Sinta untuk pergi dari hadapannya. Suaranya terdengar tegas dan keras, mencerminkan ketegasan hatinya saat ini. Dia menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi Sinta di kehidupannya lagi.
"Enggak, pa. Aku akan tetap ada di sini!"
Sinta bersikukuh, meskipun Gunawan berusaha menyingkirkan Sinta, Sinta menolak untuk pergi. Dia dengan penuh keteguhan dan keberanian menyatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan tempat yang seharusnya juga menjadi rumahnya. Sinta berjuang untuk mendapatkan haknya dan mempertahankan tempatnya di dalam kehidupan Gunawan, meskipun situasinya sangat sulit dan konflik antara mereka sangat memanas.
Sinta, dengan suara yang penuh kepedihan dan kekecewaan, menghadapi Gunawan dengan pertanyaan tajam, "Apakah seorang ayah benar-benar tega mengusir putrinya sendiri? Bagaimana bisa hatimu begitu dingin dan tidak mempertimbangkan segala kenangan dan ikatan keluarga yang pernah kita miliki?" bujuk Sinta. Pokoknya pantang bagi Sinta untuk menyerah begitu saja, meskipun Gunawan sudah menolak berulang kali.