Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 86


Hari pun beranjak malam, Tia duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Hans mendekati Tia.


"Ada yang ingin aku katakan pada mas. Tapi ini hanya dugaan ku saja," ucap Tia merapikan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.



"Masalah apa, Sayang?" Hans ikut duduk di samping Tia.



"Mas ... Tia tadi mengikuti Cloe sampai ke rumahnya ...."



"Cloe? Siapa Cloe?"



"Cloe itu sekretaris Merlyn, wanita yang kemarin menjebak mas Hans!"



"Kamu mengikutinya? Terus ..?"


"Tia mengikuti Cloe sampai ke rumahnya. Dan asal mas tahu, ternyata Cloe itu adiknya Clara. Mas ingatkan siapa Clara itu?" tanya Tia mencoba mengingatkan kembali tentang Clara.


"Clara? Bukannya dia itu ibu tiri kamu, Sayang?" tanya Hans.



"Benar. Nah, itu mas ... Cloe itu adiknya Clara. Jadi bisa disimpulkan, apa yang terjadi pada mas Hans itu, jangan-jangan ada hubungannya dengan Cloe."



"Kenapa kamu berkesimpulan seperti itu, Sayang?" Hans mengerutkan dahinya. Mencoba memahami hubungan antara Cloe dengan kejadian yang dia alami saat dia jebak oleh Merlyn.




"Mm ... Jadi di balik kejadian penculikan kemarin ada campur tangan Cloe? Dan Cloe melakukan ini semua karena dia ingin balas dendam pada mu?" ucap Hans menarik kesimpulan atas apa yang ia katakan.


"Benar sekali, Mas. Seperti itulah maksudku. Kita harus berhati-hati dengan Cloe, Tia sudah tahu rumahnya dan sekarang Tia akan lebih waspada lagi. Tia akan memberitahu ayah kalau ternyata Cloe sekretaris Merlyn adalah adik Clara. Ayah pasti juga akan memikirkan hal yang sama," tandas Tia lagi.


"Memang sebaiknya ayah tahu karena Clara ada di Jakarta bukan di rumah sakit Jiwa di Sumatra sana. Mungkin juga ayah belum tahu jika Clara sudah dirawat jalan oleh adiknya," timpal Hans.



"Bisa jadi ayah tidak tahu jika mantan istrinya itu sudah dibawa keluar dari rumah sakit jiwa oleh Cloe.Ini sudah malam, mungkin ayah sudah tidur. Semenjak Sinta tidak ada, ayah tidur lebih awal," ucap Tia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Gunawan.



"Ya sudah, besok saja. Sekarang kamu juga harus istirahat, Sayang. Mas tidak mau kamu kecepekan, apalagi kamu sedang hamil anak ketiga kita," ucap Hans sembari mengusap perut sang istri yang sudah membuncit itu.


"Iya, Mas. Tia bersyukur karena kehamilan kedua ini, Tia tidak merasa lemas seperti kehamilan sebelumnya. Mungkin karena tidak kembar jadi lebih ringan dan tidak terlalu banyak mengambil nutrisi dari tubuh Tia. Tia berharap nanti saat lahiran Tia bisa melahirkan secara normal," jawab Tia ikut mengusap perutnya sendiri.


"Aaamiiin, kita jangan lelah untuk selalu berdoa demi anak-anak kita. Semoga kita semua diberi kesehatan. Sekarang ayo kita tidur, jangan pikirkan apa-apa lagi. Semua kita pikirkan besok lagi." Hans merapikan selimut Tia sampai ke atas dada.



"Aamiin ... Terimakasih, Mas. Mas juga istirahat, seharian bekerja tentu membuat mas juga lelah," sahut Tia.


Sepasang suami istri itu tidak lama kemudian sudah berada di alam mimpi.


Ketika semua berada di alam mimpi. Seorang wanita cantik duduk di depan seorang wanita yang tidak bisa tidur di malam hari.


"Kak, Cloe lelah!! Cloe ingin istirahat. Kakak juga butuh istirahat," ucap Cloe ingin segera sang kakak tidur. Namun, perkataan Cloe sama sekali tidak digubris oleh wanita yang ia ajak bicara.


Clara masih menatap kosong ke arah jendela. Bayang - bayang bagaimana dulu sebelum kedatangan Tia, semua masih baik -baik saja. Gunawan masih dalam kendalinya dan keluarganya juga masih utuh.



"Kak, hanya kakak satu-satunya saudaraku yang masih hidup. Cloe tidak ingin kehilangan, semua dendam mu perlahan sudah aku balaskan." Cloe semakin kesal karena perkataannya tidak lah membuat Clara merasa senang.